
Esok adalah hari pertama di mana aku sekolah, namun seragam ku belum jadi. Aku mendapat keringanan untuk memakai pakaian keseharian atau baju asrama. Sarung di padukan dengan tunik dan kerudung segi empat sederhana.
Ponpes ini penuh toleransi.
"Ra, kenapa bengong?" Ida membuyarkan lamunanku.
"Eh, anu, tidak. Kenapa?" Aku kepergok melamun.
"Kamu rindu rumah kah?" Ida memicingkan matanya.
"Tidak, aku rindu seseorang."
"Jangan, simpan saja rindumu itu" kata Ida.
"Kenapa?"
"Jangan, kalau kamu rindu nanti tidak betah mondok. Boleh rindu, tapi jangan melamun. Nanti kalau kamu boyong aku sama siapa? Karena mu aku berusaha beradaptasi. Dan satu hal, aku juga pindah jurusan ke Busana Butik juga karena mu." Rupanya Ida sudah mulai merasakan nyaman di Ponpes ini.
"Oh, rupanya kamu jatuh cinta juga sama aku."
"Jangan ngaco deh Ra, disini ada yang suka sama jenis" kata Ida dengan santainya.
"Jangan sembarangan deh."
"Kamu nanti bakal tahu sendiri."
Tidak kebayang kalau aku akan mengetahui sendiri. Benar atau tidaknya perkataan Ida barusan. Aku hanya manggut-manggut menanggapi Ida.
...***...
Malam semakin larut, namun mata ku masih susah untuk terpejam. Rindu ini sangat menyiksa ku, aku rindu Fian. Aku ingin mendengar kabarnya, apakah dia masih setia?
"Oy, anak kembar! Tidur! Sudah malam, kalian ingin ku beri ta'ziran?" seorang Senior menghardik seseorang, namun hanya aku dan Ida yang sedang duduk di teras kamar.
"Kami?" kata ku menunjuk diri ku sendiri.
"Iya, siapa lagi?!"
"Okey, Tapi satu hal kita bukan kembar!" Kata ku tak kalah tegas.
"Kamu ngelawan?" Senior itu sudah melototi ku.
"Tidak Mbak, hanya membenarkan" Ida hanya diam memperhatikan.
Aku dan Ida langsung ke terpal alias kasur yang di bentangkan di atas terpal. Itu akan menjadi tempat tidur ku selama di sini, mungkin.
Ida masih diam tanpa kata. Aku juga tidak tahu apa yang dipikirkannya.
Tubuh ku sudah berselimut dan siap tidur.
"Da, kamu kenapa sih, diam saja" aku berbisik di hadapan Ida.
"Aku heran aja, kamu berani banget melawan Mbak tadi."
"Aku tidak melawan, hanya bersuara lantang, he he."
"Sama saja Ra, kamu pasti bakal tidak di sukai dan banyak lawan. Mbak tadi sepertinya banyak kawannya. Aku takut kamu kena buli" Ida menjelaskan.
"Memang di Ponpes ada pembulian?"
"Tergantung santrinya. Kalau memang mereka dari kalangan begajul ya bisa jadi, hahaa" Ida tertawa lepas.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Aku jadi penasaran, apakah seorang Nera menerima pembulian begitu saja."
"Dosa kamu, mendoakan ku di buli" aku memanyunkan bibir ku.
"Maaf, lagian kamu sangat pemberani. Mau apa-apa juga tidak harus ada yang menemani. Lihat saja di sini, setiap ke kamar mandi atau ke kantor, ke sumur, atau mengambil jemuran tidak ada yang sendiri, minimal berdua" Ida menjelaskan panjang lebar.
Memang benar, semua santri ingin melakukan apa pun pasti ada kawannya. Benar kata Ida.
"Sudah lah, ayo tidur. Aku akan menyiapkan mental untuk besok" aku membalikkan badan membelakangi Ida, karena punggung ku sudah capai menghadap Ida.
__ADS_1
...***...
Pov Fian
"Ah! Telinga ku gatal" Fian bergumam pada kawan lemburnya.
"Mungkin ada yang sedang membicarakan mu."
"Tidak tahu juga."
Aku asik memainkan ponsel ku kembali. Sekedar menonton di YouTube, atau bermain sosial media sekilas. Sebenarnya aku sangat rindu Nera. Apa dia benar-benar akan menjaga hatinya untuk ku.
Dia masih muda dan cantik. Mahir dalam segala hal, bahkan dia juga seorang atlit pencak silat yang aku sendiri tidak sanggup untuk meluluskan latihannya hingga menjadi seorang pelatih.
Aku hanya lelaki tua yang lemah, dan hanya bisa pasrah di tinggal wanita yang ku sayangi. Nera, aku mencintai mu.
"An, kamu masih bisa tidak merokok?" Si Gembul teman ku lembur menyulut sebatang rokok di hadapan ku.
"Ingin Mbul, tapi pacar ku tidak menyukainya."
"Pacar saja kok, belum tentu jodoh" Gembul meremehkan cinta ini.
"Iya sih" aku hanya bisa pasrah.
Ku ambil sebatang rokok dan mulai menyulutnya. Meski sedikit terbatuk, tetap ku coba hingga batang rokok ku semakin pendek.
...***...
Di pagi yang cerah, sekitar pukul tiga lebih empat puluh lima menit dini hari waktu setempat.
Aku memasuki kamar mandi kosong namun ada peralatan mandi milik seseorang. Tanpa pikir panjang aku mandi dengan secepat kilat. Hanya mandi, tidak keramas.
Tok...tok....tok...
Kamar mandi yang ku tempati di ketuk dari luar.
"Siapa di dalam?"
"Nyelah qondil Mbak" sahut ku dari dalam. Qondil ini adalah buang air besar. Mereka menyebutnya demikian.
Dua menit kemudian aku keluar kamar mandi, sudah di hadang oleh santri Senior di depan pintu. Kebetulan santri yang nyolot ketika aku di kira anak kembar.
"Antri dong! Asal nyelah mandi."
"Qondil Za, jangan marah-marah. Kasihan santri baru" seseorang membela ku. Dia yang selalu bersama Iza.
"Kok bawa alat mandi."
"Kalau di luar hilang Mbak" jawab ku asal. "Mbak bisa lihat sendiri wajah ku, kalau mandi pasti segar, ini masih ada beleknya" aku merem-merem yang jelas sedang akting.
Sengaja tidak ku basuh wajah ku, supaya tidak ketahuan nyelah mandi. Jelas kusutnya.
"Sudah Za" kata temennya lembut.
"Iya,maaf."
"Aneh, lembut sekali Iza bicara" batin ku, baru tahu jika namanya Iza.
Biarlah, mungkin hanya dengan ku saja suka teriak-teriak.
Setelah mandi aku langsung mengambil tunik ku padukan dengan sarung yang senada, dan kerudung segi empat sederhana.
Ini seragam sekolah ku selama seragam ku belum selesai di jahit.
...***...
Hari ini adalah hari pertama ku sekolah. Hari yang cerah, aku berjalan beriringan dengan Ida menuju gedung SMK. Gedung nya terletak di seberang jalan asrama ku.
"Da, aku bahagia sekali. Ini adalah hari dimana aku sangat menunggu. Aku ingin sekali mondok."
"Benarkah? Aku juga bahagia. Aku semangat mondok setelah mengenal mu" Ida sangat bersemangat. Beda dengan hari pertama datang ke Pondok Pesantren, ia terlihat sangat murung.
"Kalian sudah datang?" Dahlia duduk di antara kami.
Dahlia datang mepet waktu berdoa. Karena kamarnya ada di lantai tiga gedung SMK jadi tidak takut telat kena catat. Bagi santri yang telat sekolah dan di catat oleh santri yang piket jaga gerbang, siap-siap saja hari Jum'at mendapat ta'ziran.
__ADS_1
"Sudah, dong" aku dan Ida bersamaan.
Aku memperhatikan suasana asri Ponpes ini.
"Eh, itu kan Angga" para santri Senior pada heboh melihat santri putra yang ku duga bernama Angga.
"Iya, dengar-dengar Adik Sepupunya mondok di sini."
"Sama gantengnya."
"Tapi Adiknya lebih manis, kemarin aku papasan di koperasi."
"Mau jadi Kkak-Kakakannya."
"Aku juga mau jadi Adiknya Kak Angga."
Sepertinya Angga santri idola para santri putri. Dilihat dari tampangnya memang rupawan. Jadi penasaran seperti apa Adiknya.
"Kakak-Kakakan itu apa sih Mbak?" ku lirik Dahlia tak menghiraukan Angga.
"orang sepesial tapi bukan pacar. Tapi perhatiannya bisa melebihi pacar" kata Dahlia.
"Sampean punya Kakak atau Adik gitu?" Ida ikut bicara.
"Ada, anak MA Agama santri kelas sebelas namanya Ana. Kalian berdua juga Adik ku."
"Nanti Adik mu itu cemburu punya Adik baru" yang di maksud Ida adalah Ana.
"Cemburu?" Seorang Adik mana mungkin cemburu dengan Adik yang lainnya.
"Ya, ini berlaku. Adik disini melebihi seorang pacar manjanya" jelas Ida.
Aku hanya manggut-manggut mencoba mengerti. padahal masih bingung, semuanya begitu aneh.
Tak berselang santri SMK putri yang tidak sedang haid (datang bulan) membentangkan sajadah siap untuk melakukan jama'ah Dhuha di halaman yang berlapis paving. Bagi santri yang sedang haid berbaris lebih tepatnya duduk, di barisan paling belakang. Seusai jama'ah, membaca Asmaul Husna, di lanjut sholawat, doa akan belajar dan Al-Fatihah.
Suara santri SMK saja menggema, apa lagi semua santri.
Aku duduk satu meja dengan Ida.
"Ra, kenapa tidak di kursi depan saja?" Ida mendaratkan bokongnya di kursi.
"Di depan susah nyontek" jawab ku sekenanya.
Padahal aku paling anti dengan nyontek. Baca sekilas langsung nyantol. Inilah nikmat Tuhan yang tidak bisa di dustakan. Otak jenius ini perlu di pelihara.
"Dasar deh, kamu ya" Ida memajukan bibirnya.
Satu kelas berisi 34 santri, dan semuanya putri.
...***...
Hari yang sangat melelahkan. Hari pertama masuk di jam kedua sudah langsung mulai pembelajaran.
Sesampainya di asrama aku langsung merebahkan badan ku meregangkan otot-otot yang sebenarnya malas untuk beraktifitas. Bukan lelah.
"Ra, makan yuk" Ida menenteng piring.
"Bentar, lagi malas."
"Nanti keburu masuk."
Ini bukan waktunya pulang tetapi jam ishoma, istirahat sholat makan.
Mengingat waktu, aku menyusul Ida yang sudah menuju ke ruang makan. Sebenarnya hanya sebuah ruangan tanpa atap di sediakan untuk makan. Bersebelahan dengan dua buah sumur beratap untuk mencuci baju dan jemuran. Sebagian jemuran ada atapnya. Mungkin antisipasi jika hujan.
Menu makan siang sayur glumbyar-glumbyar. Sayur bening maksudnya. Sama tempe goreng tanpa tepung.
"Ra, kamu ingin ke kantin tidak?"
"Tidak, aku masih kenyang. Baru saja makan."
"Langsung ke kelas saja yuk."
"Okey."
__ADS_1