
Sesampainya di ndalem aku langsung memasang selimut sebagai alas tidur. Iza mampir dulu ke ndalem karena di timbali Abah.
Pov Iza
"Za ke ndalem ya" Abah memanggil ku yang sedang duduk di samping sumur bersama Nera, kami hanya berdiri sambil tertunduk ketika Abah rawuh.
"Nggeh Bah."
Kemudian Abah masuk lagi dan aku mengikutinya, sedangkan Nera kembali duduk di tempat sebelumnya.
Abah duduk di sofa, kemudian aku bersimpuh di lantai samping sofa tempat Abah duduk. Lebih tepatnya Paman ku.
"Bagaimana Bah?"
"Ini ada kiriman dari Ayah mu. Semenjak kamu mengenal Nera kehidupan mu menjadi lebih baik. Kamu seperti sadar dan bangun dari keterpurukan."
"Nggeh Bah, Alhamdulillah."
"Ini ada titipan dari Ayah mu untuk Nera juga, Ayah mu merasa sangat berterimakasih kepada Nera dan ini sebagai hadiahnya. Tapi jangan bilang terlalu detail takutnya bisa menyinggung perasaan, bilang saja oleh-oleh."
"Nggeh Bah."
"Sudah."
"Nggeh Bah" aku bangkit dari duduk ku dan mundur tiga langkah kemudian berbalik dan berjalan.
"Ke ruang makan temui Bibi mu, tadi masak udang asam manis."
"Nggeh Bah."
Bibi yang di maksud Abah adalah Umi. Sebenarnya aku sungkan mengingat kelakuan ku selama ini, aku hanya terdiam di pintu dapur melihat Umi yang sedang mencuci piring.
"Ada apa za?" Tanya Umi pada ku.
"Assalamualaikum Mi" ku cium punggung tangan kanannya, kemudian telapak tangannya, kembali lagi ke punggungnya.
"Tadi tidak salim sama Paman" tiba-tiba Abah ada di belakang ku.
"Hehee" aku terkekeh kemudian salim pada Abah. Abah masih mahram ku karena Adik kandung Ayah ku.
"Ini Mi, bawakan dua ekor udangnya biar di makan bersama Nera."
"Oh, ada Tenera juga suruh makan di sini saja."
"Nggeh Mi."
Aku memanggil Nera ke belakang, karena kami tidur di asrama belakang ndalem. Biasa di singkat BN.
...***...
"Ra ayo masuk di timbali Umi" kata Iza.
"Ada masalah apa aku di bawa-bawa."
"Ada rejeki untuk kita."
"Wah, semangat kalau begitu."
Aku terkejut saja tiba-tiba di ajak ke ndalem oleh Iza apa lagi Umi yang meminta. Ini hal yang sangat langka, bahkan ketika liburan juga tidak pernah di panggil ke ndalem.
Aku nurut saja kemana langkah Iza.
Ternyata benar, aku di tujukan ke meja makan yang sudah terhidang nasi putih di temani udang entah di masak apa aku belum mencicipi, di lengkapi dengan buah-buahan segar.
"Silahkan di nikmati Nak" Umi mempersilahkan ku yang sedang berdiri di ambang pintu.
Iza sudah duduk sambil menuang air putih ke gelas.
__ADS_1
"Nggeh Mi."
Dengan penuh rasa sungkan akhirnya aku duduk di samping Iza.
"Tenera ini yang liburan tidak pulang ya" ujar Umi.
"Nggeh Mi."
"Lain kali kalau tidak pulang main-main ke ndalem jangan di asrama saja."
"Nggeh Mi."
Selesai makan, mencuci bekas yang kotor, kemudian kembali ke tempat tidur.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh tujuh menit sesuai arloji yang melingkar di lengan kiri ku.
"Ra, liburan besok kamu pulang atau di Pondok lagi?" Tanya Iza pada ku.
"Insyaallah di Pondok lagi Mbak."
"Kalau kamu di Pondok lagi aku ikutan ya."
"Iya Mbak, teman-teman sampean kalau mau ikut sekalian juga tidak apa-apa biar ramai."
"Ada, si Arum katanya ingin merasakan liburan di Pondok."
"Coba nanti aku ajak si Ida dan Rani, siapa tahu mau juga."
"Iya, semoga saja lebih ramai" Iza menarik selimutnya untuk tidur.
...***...
Waktu menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh tujuh menit dini hari. Biasanya setengah tiga sudah di bangunkan oleh Mbak Janggem persiapan masak.
"Mbak, ayo masak" tiba-tiba Mbak Janggem berdiri di samping sumur. "Kalau belum tahajjud, tahajjud dulu ya."
Seusai tahajjud aku dan Iza menuju dapur, di sana sudah ada dua Mbak Janggem dan santri Mts.
"Mbak, tolong di iris terongnya seperti contoh ya" perintah Mbak Janggem pada ku.
Tanpa merespon ucapannya aku langsung mengambil pisau untuk mengiris terong.
"Neng Iza mencuci beras ya."
"Iya Mbak."
Iza mengangkat ember yang berisi beras ke tempat cucian. Ada beberapa ember yang harus di cuci karena untuk mengenyangkan kurang lebih empat ribu perut.
Aku sendiri memotong terong bersama dua anak Mts sampai di perintah untuk berhenti.
"Mbak Nera, sampean masak toh?" Suara tidak asing menyapa ku.
"Eh, Mia. Iya nih, kalau tidak masak ngapain lagi di sini."
"Kalau tahu sampean yang masak, semalam aku tidur bareng sampean" kata Mia lagi.
"Kapan-kapan lagi kalau aku masak aku akan mencari mu."
"Mbak itu Kang Dhani."
Aku langsung berbalik, benar saja Dhani masih adzan subuh. Padahal ta'ziran untuk ku hanya satu Minggu tapi untuk Dhani hampir setengah tahun.
"Oh, ini Mbak Nera yang pacarnya Kang Dhani toh" ucap santri Mts temannya Mia.
"Iya Ret, mereka sangat cocok ganteng dan cantik."
"Iya Ya, tapi aku menjadi sedih."
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya ku heran.
"Aku tidak bisa ngefans lagi sama Kang Dhani."
"Ret siapa nama mu?" Ku pegang bahu temannya Mia.
"Retno Mbak" sahutnya masih tertunduk.
"Kamu masih boleh ngefans, itu tandanya kamu menggemari kan?" Tanya ku pada Retno.
Aku khawatir saja jika kasus ini akan sama dengan kasusnya Marissa. Kalau sekedar menggemari atau mencintai tidak menimbulkan masalah aku pribadi tidak masalah.
"Iya Mbak."
"Dhani itu banyak yang menggemari dari dulu, jadi kamu masih boleh menggemari."
"Oh ya, berarti Mbak kenal sama Kang Dhani sudah lama ya?"
"Sudah. Kalau kamu ingin kenal dekat dengan Dhani kamu liburan di sini. Liburan setelah ujian insyaallah tidak pulang."
"Kok Mbak tahu?"
"Iya, liburan Idul Adha Mbak Nera sama yang lainnya liburan di Pondok Ret."
"Beneran Mbak?" Mata Retno berbinar, ia sangat bahagia.
"Iya, nanti kalau Dhani tidak liburan di sini ku kabari lagi."
"Siap deh Mbak, aku jadi ngefans sampean juga. Orangnya baik."
"Iya Ret, mbak Nera baik, padahal aku jahat tapi Mbak Nera sudah maafin aku sebelum aku minta maaf" Mia menimpali.
"Satu hal lagi, baik buruknya aku itu orang yang merasakan, jadi kamu rasakan dulu aku baik apa tidak, jangan asal menilai orang. Baik bagi Mia belum tentu baik oleh mu."
"Ada saja Mbak ini" Retno tak hentinya tersenyum.
Setelah adzan subuh kami bergantian sholat, dan melanjutkan membantu menyiapkan makan.
Pukul lima kurang sebelas menit semua sudah siap, kami tinggal mencuci bekas-bekas yang kotor sisa memasak sambil menunggu santri yang akan mengambil jatah makan.
...***...
Semuanya sudah mengambil jatah makan pagi, waktunya aku dan Iza kembali ke asrama.
"Mbak, mampir ke koperasi yuk beli es krim."
"Siap!"
Hanya es krim, setelah membeli es krim kembali ke asrama.
Sesampainya di asrama, suasana sedikit sunyi. Hanya sebagian santri yang menonton TV, sisanya sedang belajar karena besok sudah ujian semester ganjil.
Aku ingin mandi namun kamar mandi masih penuh, biasanya hari Jum'at kamar mandi banyak yang kosong.
Sambil menunggu kamar mandi kosong aku duduk santai di taman kecil depan kamar mandi sambil menghabiskan sisa es krim ku.
"Ra, kamu di suruh masak" tiba-tiba Tifa santri MA mendekati ku bersama Rinda.
"Di suruh siapa?" Tanya ku.
"Kamu mendapat ta'ziran" sahutnya sedikit lantang.
"Ta'ziran yang mana?" Perasaan ku ini seperti jebakan, karena dua Minggu ini aku tidak berkelahi.
Ta'ziran yang selalu ku dapatkan karena hasil kelahi, bukan melanggar aturan atau tidak melakukan kegiatan Pondok. Setengah tahun ini ta'ziran ku seputar tentang kelahi saja, sisanya mah aman.
"Telat jama'ah tadi malam" kata Tifa.
__ADS_1
"Perasaan tadi malam aku jama'ah deh" batin ku.