
"Hanya anak dan Ibu saja memangnya Ayahnya ke mana?" Canda Gus Ashif.
"Ayahnya sedang ngaji di sini."
"Wah, kalian pandai sekali membuat hati saya berbunga-bunga, jadi awet muda nanti saya."
"Setelah lulus ya Gus, undangannya" ujar santri dengan suara lantang.
"Patah hati se-Pesantren coy!"
"Sakit hati Adik, Bang!"
"Poligami ya Gus."
Suasana aula semakin gaduh, namun Gus Ashif hanya tersenyum menanggapi candaan santrinya.
"Ekheem" Gus Ashif menetralkan suaranya. "Lanjut sedikit lagi ya ngajinya" suasana mulai tenang.
"Nggeh Gus."
"Tadi itu gambaran sahnya berjama'ah, sekarang yang membatalkan jama'ah atau di larang menjadi imam dan ma'mum."
"Wa tabtulu lan batal opo manut, fii arba'i ing ndalem papat. Yang membatalkan ma'mum atau berjama'ah itu ada empat."
"Sawiji iku qudwatu rojulin manute wong lanang, bim roatin kelawan wong wadon. Yang pertama laki-laki yang menjadi ma'mumnya seorang perempuan, karena sampai kapan pun laki-laki baligh tetap menjadi imam."
"Banci juga kan sampai kapan pun imam Gus" ujar seorang santri dengan polosnya.
"Kamu mau menjadi ma'mumnya banci sampai kepada Allah?" Gus Ashif bertanya balik namun mengundang gelak tawa seluruh santri yang ada.
"Jangan dong Gus" sahut santri yang tadi, Gus Ashif hanya terkekeh.
"Wa qudwatu rojulin lan manute wong lanang, bikhuntsaa kelawan wandu. Yang nomor dua yang membatalkan sebuah jama'ah apabila laki-laki menjadi ma'mumnya seorang wandu."
"Jika ada dua orang laki-laki dan wandu ingin berjama'ah harus lelaki tulen yang menjadi imamnya."
"Pesan satu dong Gus, yang tulen."
"Matur Abah!" Sarkas Gus Ashif, kemudian hening. Gus Ashif melanjutkan ngajinya.
"Wa qudwatu khuntsa lan manute wong wandu, bim roatin kelawan wong wadon. Yang nomor tiga akan tidak sah sebuah jama'ah apabila ada wandu yang menjadi ma'mumnya perempuan."
"Wa qudwatu khuntsaa lan manute wong wandu, bikhuntsaa kelawan wong wandu. Yang terakhir apabila ada dua orang wandu yang satunya akan menjadi ma'mum dan satunya lagi menjadi imam itu tidak boleh."
"Gus" seseorang mengangkat tangan, Gus Ashif menunggu kata selanjutnya dari santri tersebut sambil meluruskan pandangannya. "Banci boleh menjadi imamnya perempuan tetapi kenapa banci tidak boleh menjadi imamnya banci juga, pada dasarnya banci kan lelaki Gus" lanjutnya.
__ADS_1
"Saya akan menjelaskan, banci menurut istilah ulama adalah orang yang tidak di ketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, sebab dia memiliki dua alat kelamin yang semuanya berfungsi."
"Dalam as-Syarh al-Mumthi' di nyatakan banci (al-Khuntsa) adalah orang yang tidak di ketahui apakah dia laki-laki atau perempuan. Mereka adalah yang memiliki dzakar (kelamin laki-laki) dan farji (kelamin wanita), dia kencing dari kedua saluran itu bersamaan. (As-Syarh al-Mumthi', 4/223)."
"Jika sampai baligh tidak di tentukan mana alat kelamin yang dominan, ulama fiqh menyebutnya al-Khuntsa al-Musykil (banci yang tidak jelas)."
"Jadi jika ada laki-laki lekong dia bukan banci menurut fiqh karena jelas jenis kelaminnya dzakar dan jelas fungsinya. Banci menurut fiqh yaitu manusia yang memiliki dua jenis kelamin dan keduanya sama-sama berfungsi" Gus Ashif menegaskan.
"Sampai sini sudah paham?"
"Sudah, sahut kami serempak."
"Wallahu 'alambishowab, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh" salam penutup Gus Ashif sembari menutup kitabnya dan di cium kemudian bangkit dari duduknya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut kami di lanjut melantunkan doa setelah ngaji. Setelah doa berakhir kami berhambur.
Seperti biasa aku yang sudah siap dengan piring menitip santri lain yang akan ke kamar, sedangkan imbalannya mengantrikan mengambil jatah makan malam yang ku titipi kitab.
...***...
Hari berlalu begitu saja, aku sudah mengerjakan beberapa contoh soal yang seharusnya keluar di OSN nantinya. Tidak lupa aku mengerjakan bentuk soal yang menggunakan bahasa Inggris, karena pengalaman ku ketika SD aku mengikuti OSN tingkat nasional dan lima puluh persen soalnya menggunakan bahasa Inggris. Dari situ aku minat sekali belajar bahasa Inggris.
Kali ini aku tidak ingin kesulitan itu terulang lagi. Aku jadi teringat ketika SMP aku sangat menyesal tidak mengambil kesempatan untuk mengikuti OSN padahal guru mata pelajaran yang menunjuknya langsung. Sungguh penyesalan yang tidak berguna.
Kami sudah berkumpul di dalam ruangan, santri putra berada di baris bagian kanan bersandar tembok begitu juga santri putri yang berada di bagian kiri.
Semuanya berjumlah tujuh belas santri.
Kami di bagikan lembar soal beserta lembar jawab yang masih kosong. Benar saja, setelah ku baca sekilas tiga puluh persen menggunakan bahasa Inggris.
Lima puluh persen ku kerjakan dengan lancar, dua puluh persen sungguh menguras pikiran ku, dan tiga puluh persen lagi aku buntu, dan ku pilih asal jawabannya karena memang baru mengerjakan semalam di ajari oleh santri kelas dua belas, dan ini bervariasi.
Di sudut ruangan terlihat Dhani sedang fokus tanpa ada tampang kebingungan di wajahnya.
"Apa kali ini aku bisa berangkat bersama dia?" Batin ku.
Dengan sisa waktu aku mengecek dan mengerjakan ulang tiga puluh persen soal yang ku jawab asal, aku bertekad ingin berjuang dan insyaallah akan memperjuangkan sekolah ku dan tidak ada penyesalan nantinya.
Dua puluh menit kemudian kami mengumpulkan lembar jawab karena sudah dua jam sejak masuk.
Setelah semuanya usai aku berjalan beriringan dengan yang lain menuju kelas karena harus mengikuti pelajaran seperti biasa.
Sekarang jam pelajaran ke empat dan ke lima dan hampir memasuki jam istirahat ke dua. Kami menggunakan waktu untuk istirahat sejenak, dan akan masuk mengikuti pelajaran jam pelajaran ke enam dan ke tujuh setelah ishoma, istirahat sholat makan.
"Bagaimana hasilnya?" Rani dan Ida kembali ke kelas bersama ku, sebelumnya kami mampir ke kantin terlebih dahulu.
__ADS_1
"Belum keluar, hasilnya besok pagi" sahut ku sesuai pemberitahuan sebelum keluar ruangan ketika tes.
"Soalnya susah kah?" Ida menimpali.
"Ya lumayan susah" sahut ku masih bimbang dengan hasilnya antara terpilih atau tidak.
Peserta mata pelajaran matematika sebayak sepuluh orang, tiga orang lagi mata pelajaran IPS, kimia dua orang dan fisika dua orang.
Hanya tujuh puluh persen saja harapan ku untuk terpilih, mengingat soal-soal yang menguras banyak pikiran.
"Semoga saja kamu yang mewakili" kata Ida.
"Jangan sampai kamu melepas Dhani pergi bersama Marissa, kamu juga harus ada di sana" Rani menimpali.
"Ngomong-ngmong Dhani ikut tidak Ra?" Kata Ida lagi.
"Ikut, dia ambil IPS."
"Semoga saja kalian berangkat bersama, aku tidak rela jika Marissa seenaknya memiliki Dhani" Ida semakin geram.
"Minta saja sama Allah, semoga kami di berikan yang terbaik."
"Amiin ya Allah" sahut Ida keras, aku hanya meng-amiin kan di dalam hati saja.
...***...
Malam Jum'at adalah malam kebahagian bagi para santri Balekambang khususnya santri putri SLTA, kamu sedang melaksanakan al-Barzanji sebelum akhirnya makam malam dan di lanjut menonton televisi di barengi dengan bukanya kantin.
Seusai makan malam sebagian santri ke aula, dan sebagian lagi ke kantin.
"Malam ini nonton tv atau film ya?" Ucap seseorang di antrian kantin.
"Kayanya kita hampir tidak pernah menonton tv deh, tapi film terus yang di tonton" sahut yang lainnya lagi.
"Iya juga sih."
"Halo Nera, kamu sudah melihat hasilnya belum?" Tanya santri kelas sebelas.
"Hasil apa Mbak?"
"Hasil tes tadi pagi, aku sudah melihat di mading asrama."
"Oh ya, bukannya besok ya Mbak hasilnya."
"Tidak jadi, tadi sudah di tempel."
__ADS_1