Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 60 KSD_Kehadiran Reyhan


__ADS_3

Ini seperti teguran untuk ku, biarlah Dhani memilih yang lain. Sudah jelas pacaran itu haram, masih saja aku melakukannya. Benar kata Ibu, aku tidak boleh kepincut gombalan pria mana pun.


"Pagi buta sudah bengong!" Rani menghardik ku. "Sholat gih" lanjutnya.


Aku bergegas bersuci kemudian sholat subuh.


Seusai sholat aku duduk di samping Riah yang sedang membaca Al-Qur'an dari aplikasi di ponselnya, Rani juga sedang murajaah juz ammanya sembari rebahan. Rani melirik ku sekilas kemudian fokus lagi dengan hafalannya.


Aku akan membuka lembaran baru kedepannya, anggap saja tidak ada yang terjadi, jika Dhani bersikap seperti biasanya mungkin itu bentuk apresiasinya bahwa kita pernah satu sekolah sebelumnya.


Anggap saja seperti biasanya, bahwasannya dia hanya pria yang suka tebar pesona.


"Kamu kenapa sih Ra?" Ucap Rani tanpa menoleh ku.


"Memangnya kenapa?"


"Aneh saja senyum-senyum sendiri padahal tadi pagi murung. Terus kenapa hp mu retak begitu?"


"Iya, nanti ku perbaiki" ku lirik Riah yang masih menatap ponselnya, Rani berlalu ke kamar mandi.


"Mbak besok nitip di perbaiki hp ku ya, nanti ada tips deh" ku elus lengan Riah.


"Aku masih memiliki suami yang bisa menafkahi memberi semua kebutuhan dan keinginan ku tanpa harus dari tips mu."


"Ya Allah, gitu saja sewot!"


"Hehee ... lagian kamu itu apa tidak sayang sama hp mu habis di jatuhin di benerin lagi nanti retak lagi. Lagian ya, itu cuma retak masih bisa di pakai dan masih bening tuh tidak ada goresan yang menutup layar mu" kata Riah panjang.


"Iya sih, masih jelas tapi retak."


"Makanya kalau pacaran tuh jangan fokus sampai lupa dzikir, akhirnya hp yang terdzolimi."


"Loh!" Aku terkejut dengan ucapan Riah, ngena banget di hati. Apakah dia semalam nguping, bukankah tadi malam dia sudah tidur?


"Kenapa bengong?"


"Tidak Mbak."


"Ya sudah, move on kali" Riah menarik selimutnya sampai dada.


"Mbak nguping ya?"


"Kamu saja yang tidak lihat situasi dan kondisi. Mengumpat tuh dosa ya" Riah memperingati ku.


"Fix ini mah, dia mendengar semuanya. Betapa malunya aku" batin ku terus berprasangka.


"Kenapa bengong, mending siap-siap kamu kan masuk final. Intinya sekarang fokus mau tanding, urusan Dhani serahkan pada Allah jika berjodoh tuh tidak kemana" tutur Riah.


"Iya Mbak" aku manggut-manggut, Riah mengelus pucuk kepala ku, ia terlihat keibuan.


Riah melanjutkan lantunan ayat sucinya, Rani masih di kamar mandi.


Waktu berlalu begitu saja. Aku dan Riah menuju ruangan kemarin, begitu juga Angga dan Rani. Suasananya sedikit sepi karena yang tidak masuk final sudah pada pulang.

__ADS_1


"Ra, kamu mau ikut ke pengesahan Angga tidak?"


"Kapan Mbak, memangnya boleh ya kan status ku di Pondok."


"Matur Abah dulu, itu pun kalau di ijinkan karena kamu tidak ikut di sahkan."


"Oh, begitu ya?"


Pertandingan kali ini cukup menguras tenaga dan alhamdulillah aku masuk harapan satu esok akan menjadi penentunya.


Sekarang waktunya istirahat sebelum persiapan sholat Maghrib.


Leganya hari ini aku bisa melupakan Dhani si brengsek. Beraninya dia mempermainkan perasaan ku, andai Mahen tahu apa jadinya dia di buat.


Apa dia tidak tahu jika aku paling anti dengan yang namanya sakit hati. Aku harus move on dan tidak lagi jatuh cinta sebelum Allah yang benar-benar mengirimnya untuk ku.


"Persetan dengan cinta!" Ucap ku lirih, namun masih geram dengan Dhani.


Andai saja waktu bisa di ulang kembali, aku tidak akan pernah mengenal yang namanya Dhaninur. Andai saja, ya Allah berikanlah aku iman yang kokoh dari godaan pria brengsek atau sejenisnya.


Tak berselang lama adzan Maghrib berkumandang.


"Bagaimana dengan perasaan mu, apakah sudah membaik?" Riah berjalan beriringan bersama ku menuju mushola, sedangkan Rani berada sepuluh meter di depan, karena ia ingin mengambil shaf bagian depan.


Rani memang selalu ingin di belakang imam jika di asrama, sedangkan sekarang ia ingin berada di shaf paling depan bagian perempuan.


"Sudah lebih baik" sahut ku sekenanya, meski aku akan sulit berpaling dari Dhani yang sudah menempati hati ku sebagai penggemar awalnya.


"Semangat semoga saja kita bisa go nasional" Riah berseru.


"Kamu harus lebih maksimal lagi Ra supaya bisa go nasional, dan ini yang pertama setelah sekian tahun aku di Balekambang."


"Oh ya?"


"Iya, semoga saja kita lolos" Riah sangat antusias.


"Beri aku hadiah jika lolos" tantang ku.


"Okey, apa yang kamu minta. Asalkan jangan meminta ku membujuk Dhani untuk mu jika dia sudah meminang wanita lain."


"Cih!" aku mendengus kesal. "Apakah tidak ada topik lain selain si brengsek itu?"


"Kamu mau ku carikan?"


"Tidak, aku tidak ingin berkomitmen pada pria mana pun aku sudah gagal yang kedua kalinya."


"Gagal kedua kali seperti rumah tangga saja."


"Sama saja, gagal seleksi."


"Berarti mereka bukan untuk mu."


"Aku tidak ingin berkomitmen dengan pria mana pun" tegas ku, membuat Riah manggut-manggut.

__ADS_1


Seusai jama'ah Maghrib aku duduk di teras mushola sambil menikmati langit yang bertabur bintang pertanda esok tidak akan turun hujan. Tentu saja di temani oleh Riah yang sedang membaca Al-Qur'an di aplikasinya, serta Rani yang hanya tiduran sembari memejamkan mata menikmati semilirnya angin malam.


"Hay, Nera ya?" Sapa seorang lelaki.


"Hallo, iya" sahut ku tanpa balik bertanya meski sekedar nama.


"Kenalin aku Reyhan" ia menyodorkan tangannya ingin menjabat tangan ku, namun aku hanya menangkupkan kedua telapak tangan ku di depan dada.


"Oh, maaf" Reyhan salah tingkah.


"Tidak masalah" sahut ku kikuk.


"Selamat ya kamu masuk harapan satu, semoga saja menjadi nomor satu dan go nasional."


"Amiin ya Allah."


"Hmm, aku boleh meminta nomor mu?" Reyhan menyodorkan ponselnya, tanpa pikir panjang aku memberitahukan nomor ku kemudian ia menelpon.


Lagian tidak ada lagi hati yang harus ku jaga, toh sekedar berteman. Bahkan delapan puluh persen teman ku laki.


"Terimakasih ya Ra, sampai jumpa" Reyhan meninggalkan ku sembari melambaikan tangannya, aku hanya tersenyum menanggapi.


Aku belum berminat menyimpan nomor Reyhan biarkan saja masih terdaftar di panggilan tak terjawab.


"Tuh, sudah ada tanda-tanda" Riah menyenggol lengan ku menggunakan sikunya, aku hanya bisa menatap datar kepergian Reyhan.


"Sudahlah, aku tidak ingin hal yang menyakitkan terulang lagi."


"Okey."


"Siapa tahu Ayah ku memiliki kenalan yang tajir melintir memiliki anak tampan. Meskipun tidak memiliki perusahaan setidaknya memiliki CV, minimal punya kerjaan lah untuk ku makan."


"Eh, selera mu ngeri juga ya."


"Lagian jodoh siapa yang tahu, menghayal dulu kan boleh."


"Boleh sih."


"Kita menunggu sampai masuk waktu isya atau pulang dulu?" Rani bangkit dari rebahannya.


"Gimana Mbak?" Aku meminta pendapat Riah, ia melirik jam di ponselnya.


"Nanggung, dua puluh menit lagi isya" sahut Riah.


"Ya sudah aku tidur dulu, nanti bangunin ya kalau sudah adzan" Rani kembali merebahkan badannya, kali ini ia melepas mukenah dan melipatnya.


Tak menunggu waktu lama nafas Rani mulai beraturan serta mendengkur halus pertanda sudah terlelap.


"Dia kenapa sih, banyak diam?" Tanya ku pada Riah.


"Kurang tahu, tapi sepertinya kurang enak badan tadi siang minum obat" jelas Riah.


"Oh" aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan singkat dari Riah.

__ADS_1


Ingin rasanya ikut Rani merebahkan diri, namun baru saja memiliki niat dari kejauhan Reyhan memasang senyumnya. Langkah dan pandangannya tertuju ke sini mungkin akan menghampiri ku atau orang di dekat ku. Aku tak ingin kepedean dulu. Takutnya tidak menghampiri ku membuat ku malu sendiri.


Bersamaan dengan Ferdinan memanggil Riah. Setelah kepergian Riah dan Ferdinan, Reyhan duduk di samping ku.


__ADS_2