Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 61 KSD_Kehadiran Dhani


__ADS_3

"Hay Ra, temani aku makan bakso yuk. Di depan sana."


"Di sini saja bagaimana?"


"Ini kan masjid, tidak enak juga kalau makan di sini" ujar Reyhan sembari bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kursi yang ada di taman masjid. Spontan aku mengikutinya.


"Ra, aku boleh minta nomor WA mu tidak?"


"Iya" sahut ku sembari menyodorkan ponsel ku.


"Terimakasih. Ayo di makan dulu baksonya."


Reyhan menyajikan untuk ku sebelum isya berkumandang.


Seusai makan aku berpamitan dengan Reyhan sebelum Rani sadar jika dirinya di tinggalkan seorang diri di teras masjid, aku juga khawatir jika terjadi apa-apa dengannya. Akulah orang pertama yang wajib di salahkan.


"kamu sudah bangun?" Aku melihat Rani sedang memainkan ponselnya.


"Iya, Dhani membangunkan ku" sahut Rani tak berpaling dari ponselnya.


"Dhani? Si bocah tengil? Apa dia ke sini?" aku terkejut dengan ungkapan Rani.


"Iya, dia sedang menemui Kak Angga" jelasnya.


Tak berselang lama adzan isya berkumandang, semua yang akan mengikuti jama'ah sedang antri berwudhu ada juga yang sudah siap duduk di barisan shaf sholat.


Seusai jama'ah aku dan Rani kembali ke asrama, Riah sendiri tidak kembali setelah di bawa oleh Ferdian.


"Malam kamu ingin makan apa?" Rani melipat mukenanya dan di masukkan ke dalam tas, semua sudah di bereskan karena esok akan kembali ke asrama.


"Aku malas keluar, pasti Dhani akan menemui ku. Aku malas berurusan dengannya."


"Ya sudah, tidur saja kalau begitu."


Tok... Tok... Tok...


Suara pintu terketuk. Setelah ku buka ternyata Dhani yang datang.


"Ran ada tamu, aku ada janji keluar dengan Reyhan" aku langsung pergi tanpa kembali lagi, karena ponsel dan dompet sudah standby di saku jaket yang ku kenakan.


"Reyhan?" Dhani bergumam namun aku masih bisa mendengarkan. Arah pandangnya mengikuti langkah ku.


"Reyhan siapa sih Ran?"


"Coba susul gih."


Aku melihat menggunakan ekor mata ku jika Dhani sedang mengikuti ku.


"Aduh, bagaimana ini. Aku akan menemui siapa, apa Reyhan juga ada di luar. Bagaimana kalau dia tidak terlihat" batin ku.


Pucuk di cinta ulam tiba, Reyhan sedang duduk di taman masjid seorang diri, tanpa berpikir panjang aku menghampirinya.


"Hay Rey, kamu sedang apa?"


"Tidak sedang apa-apa. Kamu sendiri ada apa kok keluar sendiri?"


"Tidak ada sih, hanya jenuh saja."


"Memangnya ke mana yang lain."

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak perduli."


"Kamu sedang merajuk dengan siapa?"


"Sok tahu sekali kalau aku merajuk."


"Aku sudah hafal dengan karakter wanita, jadi jangan ngelak lagi. Kamu merajuk dengan teman-teman mu?" Reyhan terkekeh.


"Sok tahu kamu" aku mengeluarkan ponsel ku dan memainkannya.


"Hay, kamu nera ya?" Tanya seorang gadis manis, kemudian duduk di samping Reyhan.


"Iya, hallo. Maaf, Mbak siapa ya?" Tanya ku balik.


"Aku Hanna, Istrinya Reyhan" sahutnya gamblang.


"Oh ya?" Ku tatap Reyhan kemudian gadis tersebut, Reyhan hanya tersenyum.


"Lalu, kenapa tadi kamu meminta ku menemani memakan bakso?" Aku masih heran dengan apa yang terjadi.


"Iya, aku tidak boleh makan pedas untuk sementara ini, dia sangat cerewet. Padahal si utun ingin makan pedas, aku jadi ngambek. Eh, tak tahunya Ayahnya sedang berduaan dengan perempuan cantik" jelas Hanna panjang. "Ayah mu memang gila nak" lanjutnya sembari mengelus perut ratanya.


Aku baru tahu jika si utun adalah jabang bayi mereka.


"Loh, katanya kamu masih sekolah Rey?" Ku tatap mereka bergantian.


"Iya, ini namanya pernikahan rahasia.Halal dong, lagian sebentar lagi lulus" ujar Reyhan tak kalah gamblang.


"Sok lulus kalian."


"Bukannya di doakan malah di ledek" sahut Reyhan.


Pasangan sejoli itu menatap ku aneh. Mungkin karena baru malam ini mereka melihat Dhani.


"Makanya, kalau tidak memiliki janji itu tidak usah sok-sokan menghindar. Taunya sudah memiliki Istri" celetuk Dhani tanpa memikirkan perasaan ku di hadapan mereka.


"Huuuh...." ku buang nafas kasar.


"Siapa ya, perasaan rombongan Nera tidak ada kamu" tanya Hanna.


"Calon suaminya."


"Ganteng gitu di anggurin" timpal Reyhan.


"Ganteng-ganteng brengsek!" Aku bangkit ingin segera meninggalkan mereka, sakit yang kurasakan semalam muncul lagi apalagi setelah melihat cincin melingkar di jari manis Dhani.


"Jangan gitu dong, nanti jodoh woy!" Reyhan sedikit berteriak karena aku semakin menjauh.


Pov Dhani


"Jangan sia-siakan Nera pesaingnya sangat ketat, Istri ku saja sampai jatuh cinta" kata Reyhan sembari mencekal lengan ku yang ingin segera beranjak mengejar Nera


"Semangat berjuang" Hanna ikut menyemangati ku.


Sebelum pergi aku menyempatkan bertukar nomor WA dengan Reyhan, semoga di lain kesempatan bisa bertemu lagi.


Nera seperti ingin memasuki kamarnya, aku pun ingin masuk ke kamar Angga. Namun ketika aku ingin masuk Nera malah duduk di kursi depan kamarnya sembari mengangkat telepon.


Saking seriusnya menerima telepon sampai tak sadar jika aku menunggu di sampingnya. Dari percakapannya di sedang berbicara dengan Dayat.

__ADS_1


"Ra" ucap ku ketika Nera menutup panggilannya.


"Apa!" sahutnya. Dia bukan tidak sadar aku di sini, namun dia tidak perduli.


"Aku cinta kamu."


"Apa aku masih menjadi yang nomor tiga?"


Aku bukan menjawab namun mengikuti ide gila dari Eli. Aku mencuri cium di pipi dekat bibir Nera, bahkan mengenai sedikit bibirnya.


"Apa aku menjadi yang nomor tiga?" Pertanyaan datar yang di lontarkan kedua kalinya.


"Kamu mau menjadi yang nomor satu?" Aku menaik turunkan alis ku berniat untuk menggoda. Namun siapa sangka, Nera masuk ke dalam kamar meninggalkan ku begitu saja.


Meskipun begitu aku tidak bisa menghilangkan senyum di bibir ku. Gemas rasanya melihat Nera memanyunkan bibirnya.


"Tanpa di sangka Nera sedang melompat kegirangan di dalam kamar sampai membuat Rani terbangun dari tidurnya" kata author.


Aku tidak jadi masuk ke kamar Angga, tetapi menghubungi Ayah ku.


"Assalamualaikum, Ayah?"


"Ada apa lagi?" Sahut Ayah dari seberang sana.


"Siapkan semuanya, aku akan melakukan saat liburan sekolah ini. Aku juga ingin cepat lulus dengan sekolah paket saja."


Tanpa salam aku menutup telepon dan kembali ke kamar Angga.


...***...


Waktu berlalu begitu cepat, seminggu kepulangan dari kabupaten aku mendapat banyak hadiah dari orang-orang terdekat ku. Anisa juga sudah membelikan ku dua buah sarung yang di janjikan.


Seiring berjalannya waktu, persiapan OSN juga sudah lebih baik dan tiga minggu lagi akan di lombakan di kecamatan.


"Yang makin hari makin sibuk, kamu jadi ikut lomba Pramuka tidak?" Wilda membuka kitab hafalannya.


"Sepertinya tidak, dua minggu lagi kan lombanya?"


"Iya sih, kamu kapan berangkat ke kecamatannya?"


"Insyaallah tiga minggu lagi."


"Semangat ya, semoga bisa go kabupaten dan seterusnya."


"Amiin, terimakasih doanya."


Untuk lanjutan atlit akan di laksanakan setelah tahun ajaran baru meski belum di tentukan tanggal dan bulannya.


Hari-hari ku hanya ku habiskan untuk belajar, mengaji, hafalan, di selingi menulis dalam sehari harus mendapat satu bab minimal supaya Dayat dan tim tidak kehabisan naskah. Ini salah satu penghasilan untuk menambah uang jajan. Setelah lelah hanya istirahat dan tidur.


Untuk ta'ziran Alhamdulillah sudah tidak serapat sebelumnya, aku berusaha abai terhadap orang-orang yang suka mencari emosi ku meski hanya melalu kalimat sindiran. Aku harus bisa mengontrol emosi untuk kesehatan fisik dan batin ku. supaya hari-hari di masa SMK tidak melulu tentang ta'ziran. Kan tidak lucu jika anak cucu hanya mendengarkan kenakalan neneknya di masa muda.


Jadi membayangkan bagaimana anak cucu esok. Apa aku masih mengalami masa itu atau sudah dahulu kehabisan stok usia.


"Semoga saja kami di beri umur panjang ya Allah" batin ku.


Jum'at sore, Waktunya sholat ashar dan persiapan latihan atlit. Rani sudah siap dengan seragamnya di depan kamar karena sedang haid, aku sendiri baru selesai melaksanakan jama'ah ashar dan harus menyelesaikan wirid terlebih dahulu.


Meski ngantuk menyerang harus tetap semangat, karena belum tidur siang. Dari jam satu terlalu asik mengerjakan soal hingga menjelang ashar hingga lupa waktu tidur.

__ADS_1


__ADS_2