Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 32 KSD_Liburan Berakhir


__ADS_3

Pagi hari di asrama, sudah ada yang kembali yaitu mereka para pengurus yang mendapat tugas menerima santri yang kembali.


Rinda dan pengurus lainnya sudah siap di depan gerbang menunggu santri yang kembali.


Aku masih asik menonton televisi. Aku baru ingat jika liburan ini tidak memberi kabar apa pun ke pada Fian, karena tidak ada notifikasi tentangnya.


Apa aku masih di inginkan apa hanya sebatas hiburan. Aku juga teringat aku benar-benar lupa dengannya. Apa ini pertanda buruk antara aku dengannya. Hati ku juga cuek-cuek saja.


"Ra, kamu mau ke mana?" Tanya Iza.


"Ke kamar Mbak."


"Nanti dulu lah, temani aku nonton televisi dulu."


"Sudah ramai, aku ingin yang sepi. Ke koperasi yuk, minta ijin ke pengurus."


"Ayo, aku juga sudah mendapat kiriman."


Aku dan Iza bersiap ke koperasi. Sebelumnya, aku meminta ijin dahulu ke pada pengurus. Kebetulan yang jaga Rinda.


"Mbak, ke koperasi dulu ya. Masih boleh apa sudah di penjara lagi" tanya ku pada Rinda.


"Boleh, jangan lama-lama" Shofa yang menjawab.


"Okey deh."


Aku dan Iza langsung nyelonong begitu saja. Tujuan ku ke koperasi membeli perlengkapan bulanan, karena belum sempat belanja alias lupa. Mumpung masih boleh ke koperasi jadi bisa membeli apa saja yang ku inginkan.


"Mbak, aku ingin makan pentol bakar di sana loh" aku menunjuk warung seberang koperasi yang berjualan pentol bakar tempat Dayat membeli.


"Sudah tidak boleh ke sana, liburan mu sudah habis" kata Kang Jefri kebetulan di koperasi juga.


"Tolong belikan dong Kang, aku ingin makan pentol. Entah beberapa bulan lagi aku bisa makan pentol bakar."


"Tidak usah lebay Nera, mana uangnya ku belikan" Kang Jefri menawarkan diri.


"Dari tadi kek, tidak usah pakai basa-basi."


"Beli berapa?"


"Tiga puluh ribu saja, nanti dua puluh ribu nya untuk membeli bensin."


"Tidak usah hiperbola kalau bicara, seberang jalan itu pakai kaki bukan pakai motor."


"Untuk membeli sandal saja kalau begitu."


"Ada saja kamu Ra" Iza menimpali.


Aku duduk di emperan koprasi bersama Iza sambil menunggu kang Jefri membawa pesanan ku.


Tak berselang lama, pesanan datang. Tanpa banyak basa-basi kami langsung kembali ke asrama. Semua sudah mulai di batasi karena liburan telah berakhir.


Sesampainya di asrama, aku menyimpan dua puluh tusuk pentol bakar di kamar, lebih tepatnya di atas lemari. Sepuluh tusuk lagi ku nikmati bersama Iza. Satu tusuk sate pentol berisi empat biji. Jadi lumayan kenyang meski di makan berdua.


"Panggilan kepada Tenera Alivia di harapkan mengambil kiriman di depan gerbang" terdengar panggilan untuk ku, siapa gerangan yang mengirim ku paket.


"Sekali lagi, panggilan kepada Tenera Alivia di harapkan mengambil kirimannya di depan gerbang" kali ini Rinda yang bersuara.


"Awas saja jika aku di kerjain" maki ku pada sang pemanggil.


"Di lihat saja dulu" saran Iza.


Aku bergegas ke depan kantor dan mengambil kardus berisi berbagai macam makanan ringan atau kebutuhan bulanan saja, aku tak tahu pasti.

__ADS_1


"Tuh kan, ada beneran" kata Iza.


"Iya Mbak, setiap bulan kalau yang beginian aku selalu mendapat paket."


"Oh ya, dari siapa?" Iza seperti penasaran.


"Dari yang terkasih."


"Dari siapa?" Iza makin penasaran.


Aku tertawa mendengar pertanyaan Iza "Mbak kepo banget sih" aku masih tertawa.


"Kepo kan tidak dosa."


"Sama saja ingin tahu urusan orang."


"Lebay kamu mah, bener kata kang Jefri."


"Apa katanya?"


"Kamu lebay."


"Heleh."


...***...


Pov Dhani


"Riz, pagi ini santri putri kembali kan?" Aku meyakinkan Rizky.


"Iya, kenapa memang?"


"Ke koperasi yuk, aku belum membelanjakan Nera. Besok sudah tidak bisa ketemu lagi harus curi-curi pandang."


"Apa hubungannya membelanjakan sama curi-curi pandang?"


"Lebay kamu mah, ayo belanja mumpung masih jam sembilan. Agak siang sedikit sudah ramai santri putri ke koperasi. Nanti kamu malah tebar pesona mulu."


"Ayolah kalau begitu."


Semakin mendekat ke koperasi semakin jelas punggung Nera dan Iza menenteng keresek besar. Pasti dia sudah belanja.


Di emperan koperasi ada kang Jefri duduk sambil minum kopi.


"Banyak uang Kang minum kopi segala."


"Dapat traktiran dari Nera."


"Wah, kok bisa."


"Dia ngidam pentol bakar. Sekarang sudah tidak boleh ke warung luar, jadi aku yang membelikannya. Dapat bonus deh, kembaliannya."


"Alhamdulillah, rejeki itu mah" timpal Rizky.


"Iya, ini kalau mau kita bisa join."


Di Pondok Pesantren sudah biasa satu gelas bersama. Bahkan satu gorengan juga sering di makan bersama. Jadi dengan senang hati aku mencomot gorengan yang ada di tangan Jefri dan menyeruput kopinya hingga setengah.


"Ini Kang ada bonus juga" aku memberi beberapa lembar uang dua puluh ribuan.


"Banyak juga uang mu."


"Ini titipan dari Allah."

__ADS_1


"Orang Kalimantan uangnya banyak-banyak ya."


"Ini bukan uang ku, hanya titipan."


"Terimakasih lah Dhan, sering-sering ya supaya uang jajan ku bisa di tabung."


"Kalau keseringan aku yang tekor Kang."


Aku belanja kebutuhan Nera selama sebulan. Kali ini aku hanya membeli perlengkapan mandi, pembalut beserta pentiliner-nya, dan sepiring telur mentah. Di atas telur juga ku beri keterangan jika telurnya masih mentah.


Aku memasuki gerbang dan menemui santri yang berjaga. Kebetulan Rinda juga berjaga.


"Mbak Rinda, ini ada kiriman untuk Nera."


"Sekarang sudah tidak liburan ya Dhan" Rinda menegur ku.


"Iya Mbak, kalau masih liburan aku langsung masuk. Tidak perlu bantuan sampean."


"Baguslah, semangat ya ngajinya."


"Iya Mbak, iya."


Rizky hanya menyimak tanpa bersuara.


...***...


Aku membuka kiriman misterius meski hati ku sudah menebak siapa pengirimnya.


Benar saja ada note ketika kardus terbuka.


^^^^^^Ini telur mentah ya, sayang. Jangan kebanyakan ta'ziran supaya tidak terlalu menghabiskan tenaga untuk itu.^^^^^^


Aku hanya tersenyum membaca kertas kecil tersebut, ada saja kelakuannya.


"Tumben tidak ada makanan dan es krim" gimana ku.


Aku menaruh kiriman ke dalam kamar, di bawah lemari.


Tak berselang lama, Ida datang dengan kresek besar menghampiri ku.


"Ini pesanan mu, tapi aku lupa membeli telur. Uang gantinya nanti untuk membayar bulanan ku saja."


"Okey, telur mentah sudah di belikan oleh Dhani."


"Liburan di Pondok bagaimana rasanya?"


"Nano-nano pokoknya. Liburan depan kamu wajib liburan di Pondok."


"Insyaallah lah, siapa yang menemani mu di sini selama ini?"


"Kakak ku datang, menemani ku ke pasar. Kami ijin ke pada Abah pergi ke pasar Mayong."


"Berdua dengan Kakak mu?"


"Kami berenam. Aku, Kakak ku, Mbak Rinda, Mbak Iza, sama Rizky."


"Apa!! Iza liburan di Pondok! Bahkan dia pergi bersama mu? Apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak, aku sudah baikan dengannya. Dia orang baik kok, tidak seperti yang kalian kira. Bahkan hari-hari ku selalu bersamanya."


"Aku tidak yakin, Tom and Jerry liburan bareng."


"Siapa Tom Jerry maksud mu?"

__ADS_1


"Kamu dan Iza lah, siapa lagi."


"Sudahlah, semua sudah berlalu. Alhamdulillah saja musuh ku berkurang."


__ADS_2