
"Sudahlah Za, jangan berlarut-larut dalam kesedihan mu. Apa kamu mau ikut ke pasar?" Rinda mengelus punggung Iza.
"Iya mbak, mendingan kita shoping saja yuk" Aku ikut bersuara.
"Aku belum dikirim uang."
"Aku yang traktir deh khusus hari ini asalkan tidak lebih dari seratus ribu" aku berusaha mengajak Iza supaya tidak terlalu galau hari ini.
"Benarkah?."
Seratus ribu di Jawa itu sangat banyak, beda jika di belanjakan di Kalimantan. Tempe goreng tepung yang di Kalimantan lima ribu dapat empat di Jawa hanya lima ratus rupiah satu bijinya.
"Iya mbak, tapi mbak harus menikmati liburan ini. Tidak boleh sedih lagi." Itu syarat dari ku.
Akhirnya Iza membasuh mukanya, kemudian memoles sedikit wajahnya dan bersiap untuk ke pasar bersama kami. Wajah Iza sedikit sembab namun terlihat lebih fresh.
Aku, Rinda, dan Iza sudah duduk manis di teras kantor pusat. Tak berlangsung lama Dayat masuk ke kantor pusat bersama Dhani dan Rizky. Mereka membawa kardus berisi sesuatu yang belum ku ketahui isinya.
"Kita makan dulu ya, aku membeli sesuatu yang sangat spesial untuk kalian. Ini makanan kesukaan Nera" kata Dayat.
"Apaan sih Kak, kok tidak bilang dari tadi."
"Namanya juga kejutan. Ayo makan dulu". Ajak Dhani
"Makan? Berarti makanan dong. Isinya apa sih Dhan?."
"Kepo banget deh. Sabar saja dulu" cetus Dhani.
"Biasa saja kenapa, tidak usah rahasia-rahasia-an" aku mulai merajuk. Bibir ku saja sudah manyun begini.
"Namanya juga kejutan" sahut Dayat.
"Iya, sambil nunggu ba'dha Dzuhur kita ke pasarnya" Rizky mulai bersuara.
"Kamu juga punya pita suara ya, dari tadi diam doang" cetusku asal. Semoga saja Rizky tidak tersinggung, hehehe.
"Elaaah, ini orang. Tidak yang laki tidak yang perempuan sama songong-nya. Dikiranya aku bisu apa" Rizky merajuk tapi bercanda.
"Lagian dari tadi diam, seperti tidak ada nyawa saja. orang mati saja nyawanya masih nunggu di atas jasad" sahut ku lagi.
"Ya Allah maafkan pasangan gila ini, semoga dunia-Mu tetap tenang dengan adanya anak cucu mereka" Rizky menengadahkan tangannya ke atas, mempraktekkan doa dengan khusyuk.
"Amiin ya Allah, semoga saja Adik ku tidak mengacaukan dunia persilatan" lanjut Dayat.
"Ternyata selama ini aku salah, kamu orang baik Ra" Iza mengungkapkan kata yang tidak pernah aku duga sebelumya.
"Sampean saja belum tahu keburukan ku mbak, makanya bilang aku baik."
"Nera itu bukan orang baik, tapi orang aneh yang pernah mengacaukan banyak hal" sambung Dhani.
"Tapi memang dia orang baik, aku salah menilai." Iza masih kukuh membenarkan jika aku orang baik.
__ADS_1
Orang baik itu bukan hanya di ucapkan atau bahan pujian. Orang baik itu yang menilai sekitar kita. Bagaimana pengaruh kita kepada orang banyak di sekeliling kita, apakah baik atau buruk. Dari situ kita dapat menyimpulkan baik buruknya seseorang.
Sesampainya di ruang makan, Dayat mengeluarkan bungkusan besar seperti gunung. Kemudian memberikan kuah kepada Rinda untuk di panaskan. Kebetulan kompor dan gasnya ada.
Inilah yang paling spesial. Air liurku hampir keluar ketika Dayat membelahnya.
"Ini murah banget Ra, hanya enam puluh delapan ribu" ungkap Dayat.
"Mahal, di sini hanya tiga puluh enam ribu saja tapi ukuran lebih kecil sedikit" sahut Rizky.
"Di Kalimantan ini sembilan puluh ribuan" Timpal Dhani.
"Murah, tidak bisa membuat sendiri" sahut ku sekenanya.
"Iya deh, iya. Apa sih yang tidak untuk kesayangan ku" Dhani sudah mulai menyuap telur puyuh isian bakso lava tersebut.
"Sejak kapan sih kamu sayang aku" niat ku hanya ingin memberi informasi tersirat kepada Iza bahwa aku sudah kenal sejak lama.
"Aku sudah mencintaimu ketika kamu lolos ke Palangka Raya mewakili kabupaten Seruyan" sahut Dani tanpa menoleh ku.
"What!! Kamu sudah mencintaiku sejak aku belum mengenal cinta?!!" malah aku yang terkejut.
"Ya."
"Jangan bercanda."
"Dasar ya, kamu mencintaiku sejak itu, tapi kamu cemen tidak mau mengungkapkannya."
"Pak Adi juga berkata aku cemen, makanya aku menyusul mu. Aku mendapat informasi sekolah tujuan mu memohon kepada Pak Adi, dan atas bantuan istrinya aku mendapatkan alamat pondok ini. Bahkan aku di bilang pengecut oleh beliau" Dhani menatapku. "Jadi, apakah kamu mau menerimaku?" Dhani mengangkat alis kanannya.
"Tidak usah lebay ya" aku tidak bisa berkata-kata, mungkin pipiku sudah seperti kepiting rebus.
"Mumpung ada Kakakmu, jangan permainkan perasaanku." Dhani dengan pedenya berbicara di depan kita semua. Otomatis Iza, Rinda, dan Rizky juga mendengarnya.
"Okey, ku akui perjuanganmu sejauh ini. Aku akan terima. Semoga kita berjodoh."
Dhani mengulurkan tangannya"Dil?" dan aku menjabatnya tanda sebuah persetujuan.
"Dil!" sahut ku mantap.
"Waduh" Rizky menepuk dahinya "Bakal kacau pondok ini" lanjutnya.
Seusai makan kami berenam jama'ah Dzuhur kemudian pergi ke pasar menggunakan mobil milik Rizky. Hanya Dayat yang memiliki SIM, jadi dia pemegang kendali setir. Rizky duduk di depan sebagai penunjuk jalan.
Aku, Iza, dan Rinda duduk di bangku tengah. Sedangkan Dhani duduk di paling belakang sambil tiduran.
...***...
"Riz ke ATM dulu ya, aku mau tarik tunai" ucap ku.
__ADS_1
"Okey."
"Ra tadi katanya mau transfer Kakak, di tarik tunai saja ya."
"Iya, minta berapa?."
"Seikhlasnya saja, berapa saja mau kalau kasih".
"Maksudnya mau semua jumlah yang mau aku transfer apa mau berapa saja."
"Mau di kasih berapa sih."
"Lima saja ya jangan kebanyakan, hehe" aku nyengir ketika Dayat melihatku melalui kaca spion dalam mobil.
"Itu tidak sebanding dengan kerjaan ku" protes Dayat.
"Itu satu produknya, kakak menyelesaikan lima jadi di kali lima" jelas ku.
"Ya sudah, aku minta tiga saja."
Akhirnya aku menarik tunai lima juta tanpa sepengetahuan teman-temanku. Itu sudah batas maksimal penarikan dalam sehari. Tiga juta ku berikan kepada Dayat dan dua juta masuk kantong.
Itu semua tanpa sepengetahuan teman-temanku, karena Dayat menemaniku turun dari mobil ke ATM.
"Terimakasih ya Ra, oh ya kamu sudah siap untuk novel selanjutnya kan?" tanya Dayat sebelum sampai di mobil.
"Sudah, dua novel. Tidak sempat nulis banyak, kegiatan ku penuh. Dua bulan lagi aku juga mau mewakili even pencak silat tingkat kecamatan."
"Baguslah kalau begitu, novel mu banyak yang membaca, sebelum selesai satu novel sudah mendapatkan hasil maksimum. Jadi setelah mendapat dua puluh juta aku tidak terlalu semangat untuk menulis, jadi aku menyuruh temanku,hehe."
"Pantas saja minta banyak bayaran, ternyata membayar orang lain juga" sindir ku, Dayat hanya terkekeh.
Tapi tidak masalah, selama aku mondok akan ku serahkan kepada Dayat dan rekannya. Supaya tidak di turunkan level ku. Alhamdulillah masih bisa menulis di asrama.
...***...
"Ini, untuk belanja nanti" Aku menyodorkan uang dua lembar ratusan kepada Iza dan Rizky. "Mbak Rinda minta sama calon suami saja ya" Aku melirik sekilas kepada Dayat. "Berikan jatahnya Kak."
Dayat memberikan lima lembar ratusan kepada Rinda.
"Terimakasih ya" ucap Rinda sembari menerima uang dari Dayat.
"Sekalian bayar sewanya ke Rizky Kak" pinta ku pada Dayat.
"Nanti saja sama orang tua ku" sahut Rizky.
"Hai suami, kamu tidak memberi uang belanja istrimu" ku tengok Dhani yang masih santai tiduran sambil memainkan ponselnya.
"Kamu mau berapa?" sahut Dhani tanpa menolehku.
"Elaaah, hp terus."
__ADS_1
"Hehehe" Dhani hanya terkekeh.