
"Apa kamu memang mencintai Dhani?" Tanya Marissa lagi.
"Seperti pada umumnya orang pacaran" sahut ku asal.
"Ku harap kamu tidak mempermainkan Dhani, karena dia pria sejati yang tak akan melirik wanita mana pun" entah mengapa Marissa berbicara seperti itu. "Aku memang menyukainya tapi serasa tidak bisa di perjuangkan, maka kamu cintailah sepenuh hati mu. Aku tidak akan mengganggu mu lagi aku sadar aku takkan pernah bisa menjangkaunya" lanjutnya.
"Ha?" Aku hanya menatap heran, mengapa Marissa berbicara seperti itu. "Apa ini jebakan?" Batin ku. Dia terlalu sering membuat ku emosi, menjadikan hati ini keras dan selalu berprasangka buruk terhadapnya.
"Iya, aku serius. Memang aku tetap tidak bisa menjangkaunya. Bahagialah kamu yang di pilih oleh Dhani."
"Kamu tidak ingin mencobanya lagi?"
"Aku hanya akan menyakiti perasaan ku sendiri jika itu terjadi. Aku menyerah. Aku ingin menjadikan kita yang baru mengenal dan berteman."
"Apa? Dia mengajak ku berteman? Aku tidak salah dengar kan?" Batin ku, sembari menatapnya dalam.
"Jika kamu tidak mau berteman dengan ku maka jadilah orang yang tidak mengenal. Aku lelah di ta'zir dan akan membuat nilai kita buruk."
"Okey, jika kau ingin berteman dengan ku."
"Terimakasih Nera" Marissa memeluk ku, dengan sedikit ragu aku menepuk punggungnya pelan. "Don't worry with my self."
"Iya, aku akan berusaha" sahut ku.
"Nah, begitu kan cakep. Tidak melulu ketos dan sekertarisnya yang selalu membuang sampah" celetuk Anissa tanpa dosa.
"Hehee" Marissa terkekeh.
Aku hanya tersenyum kemudian membuka pesan masuk di ponsel.
[Nah, begitu kan tentram asrama putri]
Pesan masuk dari Dhani, ternyata dia memperhatikan ku dari jendela.
Aku hanya tersenyum ke arahnya tanpa membalas pesan darinya.
Sesuai adegan Teletubbies dengan Marissa aku kembali ke kamar. Sebentar lagi ashar dan akan di laksanakan belajar bersama di taman.
Padahal peserta lain banyak yang sudah menenteng buku dari tadi, dan kami baru akan belajar setelah ashar sebelum malam kita gunakan untuk istirahat dan buka-buka buku sekilas.
Agenda ku setelah sholat isya juga akan langsung tidur. Esok selepas subuh saja membaca sekilasnya. Semoga saja esok sekolah kami bisa lolos dan go kabupaten.
...***...
Pov Marissa
"Alhamdulillah ya Allah, aku sudah beranikan diri berbaikan dengan Nera. Ternyata dia langsung menerima ku menjadi teman. Tidak sia-sia aku persiapkan seminggu ini untuk menghampiri Nera. Sampai aku lupa meminta maaf" aku tersenyum mengingat kegugupan ku di depan Nera.
"Sa, kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?" Baru kali ini Nera menegur ku di iringi senyuman.
"Tidak apa-apa aku sedang bahagia saja" ku taruh mukena di atas nakas yang tersedia, kebetulan kami baru saja selesai jama'ah ashar.
"Semoga bahagia selalu ya?"
"Iya Ra, terimakasih."
"Ayo ke taman, Ibu Bapak pembimbing sudah di depan" teriak Anissa sambil keluar kamar membawa buku. " Aku menunggu di depan ya" lanjutnya.
"Iya" aku menjawab bersamaan dengan Nera.
__ADS_1
Entah mengapa setelah berbaikan dengan Nera beban di hati sangat berkurang. Nafas juga terasa ringan. Yang jelas hati ku benar-benar bahagia. Satu harapan ku, semoga saja aku mendapat jodoh yang lebih baik dari Dhani.
"Aamiiin ya Allah" batin ku. Aku tak lepas dari senyum bahagia ini.
Kami berjalan beriringan dengan Nera, dan Dhani selalu saja di samping Nera. Aku menepis rasa cemburu ini supaya pertemanan ku tidak retak lagi dengan Nera.
...***...
Ada rasa lega setelah Marissa mengucapkan kata pertemanan.
"Ada yang baru baikan nih" bisik Dhani.
"Biasa saja sih" sahut ku.
"Setidaknya aku bisa bertegur sapa tanpa harus acuh lagi, dia kan sudah tidak memiliki perasaan pada ku."
"Dasar ya, Bapaknya buaya!" Ku pukul keras pinggung Dhani sebelum dia lari sambil tertawa.
"Bahagia ya Ra" ucap Marissa.
"Biasa saja kok Sa, kelihatannya saja sangat bahagia."
"Kamu beruntung."
"Semoga saja seperti yang kamu duga."
Sesampainya di taman, kami fokus dengan mata pelajaran masing-masing. Para guru pembimbing hanya duduk sambil mengawasi dan menjawab setiap soal yang kurang faham. Tapi diantara kami tidak ada yang perlu di tanyakan.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh belas kurang dua belas menit waktu Indonesia bagian barat. Kami kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan persiapan jama'ah Maghrib.
Sambil menunggu Maghrib aku ingin menelpon Ibu, sudah lama rasanya tidak ada kabar.
Dalam deringan pertama langsung di angkat oleh Ibu.
"Wa'alaikumsalam Nduk, apa kabar?"
"Alhamdulillah sehat, Ibu apa kabar. Semua sehat kan?"
"Alhamdulillah. Lagi di mana ini kok membawa hp sepertinya bukan di asrama."
"Di Kecamatan Bu, besok lombanya."
"Sama siapa saja berangkatnya."
"Halo Ibu, saya Marissa. Ibu masih muda banget" Marissa mendekat tanpa ku minta.
"Halo juga nak, kalian baik-baik saja ya di sana."
"Iya Bu, doakan semoga menang ya Bu" Marissa masih berbincang dengan Ibu, biarlah mereka berkenalan.
"Iya nak, sama siapa saja lombanya."
"Sama Mbak Anissa sama Dhani juga. Dhani temannya Nera dari Kalimantan."
"Ada Dhani juga toh, yang akur di situ ya nak jangan suka kelahi. Apa Nera suka berantem?"
"Tidak Bu, Nera anak yang baik."
"Syukurlah kalau dia baik. Mana Nera nak?"
__ADS_1
"Iya Bu" aku mengambil ponsel ku dari Marissa.
"Marissa teman dekat mu ya Nduk?"
"Iya Bu. Kami berteman baik meski hari-hari dia lebih sering dengan Mira teman ku yang lain."
"Memang hari-hari kamu dengan siapa kalau tidak dengan Marissa?"
"Lain waktu aku kenalkan deh, sama Ida dan Rani. Sama Mbak Dahlia juga."
"Iya deh, sudah dulu ya Nduk Ibu sedang sibuk di warung. Banyak Ibu-Ibu ingin belanja."
"Oke Bu, salam sama Ayah ya."
"Iya, nanti Ibu sampaikan. Sudah dulu ya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh" ku tutup teleponnya.
Lega rasanya mendengar kabar jika mereka sehat. Tidak kepikiran aku di sini.
Adzan Maghrib berkumandang. Kami persiapan untuk jama'ah Maghrib.
Setelah jama'ah Maghrib di lanjut makan malam. Sambil menunggu waktu isya aku ngaji sebentar.
Di teras mushola aku dan Marissa serta Anissa duduk sambil menikmati angin malam. Sejuk sekali rasanya, bintang juga hadir menghiasi langit malam ini.
"Nera, maaf ya aku terlalu banyak salah sama kamu" Marissa tiba-tiba berkata demikian.
"Iya, aku sudah memaafkan mu jauh-jauh hari."
"Oh, ya? Terimakasih banyak ya. Aku senang kamu tidak memiliki dendam dengan ku."
"Iya sama-sama."
"Malam kesayangan" Dhani datang menghampiri.
"Malam juga" sahut kami serempak.
"Aduh, kesayangan ku semua ini" ucapnya sembari mengedipkan mata kanannya pada ku.
"Dasar, buaya."
"Elaah, ganteng gini di bilang buaya. Ada saja kamu ini."
"Makanya jangan suka ganjen. Kamu ingin menjadi penerus Fian?"
"Jelas tidak toh, aku tidak mau terkena sepak lalu masuk rumah sakit."
"Astaghfirullah, masih ingat juga rupanya" aku menggelengkan kepala.
"Makanya punya bini galak jangan suka tebar pesona" timpal Anissa.
Kali ini Marissa hanya tersenyum mendengarkan kami bercanda. Berubah lebih anggun lagi. Tapi pikiran ku menjadi negatif lagi. Apa jangan-jangan itu trik selanjutnya untuk mendapatkan Dhani.
Gara-gara tingkah sebelumnya aku masih sulit untuk merubah jalan pikir ku menuju ke arah positif. Semoga saja dia memang tulus untuk berubah.
"Tidak, aku hanya menyapa. Lain lagi kalau tebar pesona."
"Terserah mu saja lah, yang penting kamu bahagia."
__ADS_1
Adzan isya berkumandang.
Seusai jama'ah kami kembali ke kamar, dan aku langsung tidur.