Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 35 KSD_Menang Sebelum Bertanding


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu saja. Minggu berganti bulan namun perasaan ini masih sama, mencintai dua pria yang belum tahu siapa yang akan menjadi takdir ku. Bahkan tidak ada yang tahu apakah di antara dua pria itu atau orang lain lagi yang akan menjadi jodoh ku.


Ingatlah, bahwa Allah sudah mencatat itu semua. Kami hanya bisa berencana sesungguhnya ketentuan hanya milik Allah.


Teng...teng...


Suara kelonteng di asrama putri menjelang jama'ah Isya.


"Mbak, ngaos Safinatunnajah Gus Ashif" Rinda memberi pengumuman kepada santri putri SLTA.


Ngajinya di ganti kitab Safinatunnajah untuk alasannya hanya Allah dan Gus Ashif yang tahu.


Setelah memberikan pengumuman Rinda berdiri di pengimaman di susul iqomah oleh salah satu santri putri yang berdiri di shaf paling depan.


Seusai jama'ah Isya para santri berbaris di aula menunggu kedatangan Gus Ashif.


"Ra, jangan lupa membawa piring sekalian" Ida mengingatkan ku.


"Siap!" Sahut ku singkat, kemudian duduk manis di teras aula.


Sambil menunggu kedatangan Gus Ashif para santri mengumandangkan nadhom imriti. Suara yang serempak dan menggema membuat hati ku adem ayem.


Tak berseling lama, aula menjadi tenang pertanda Gus Ashif sudah duduk di tempatnya mengaji.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" salam Gus Ashif.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut para santri siap dengan kitab dan pena untuk memberi makna pada kitabnya masing-masing.


"Langsung saja a'udzubillaahiminassyaitoonirrojiim, bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi robbil 'alamiin wabihi nasta'iinu 'ala umuriddunyaa waddin wa shollallaahu 'ala sayyidina muhammadin khotamin nabiyyiina wa'aalihi wa shohbihi ajmaiin, wa'ala haula walau quwwata illaa billaahil 'aliyyil adhiim."


Suara indah nan fashih membuat hati makin adem, ayem, tentram.


"Alhamdu utawi sekabehe puji, iku lillahi kagungane Allah, rabbil 'alamiina kang mangerani wong alam kabeh, wabihi lan ing Allah, nasta'iinu nyuwun pitulung siro, 'alaa umuriddunyaa ingatase perkoro dunia, waddiini lan perkoro agama, wa shollallaahu lan mugo-mugo paring Rahmat, sinten Allahu Allah, 'alaa sayyidina ingatase Gusti kito, sopo muhammadin kanjeng nabi Muhammad, khotaminnabiyyina kang dadi pungkasan poro nabi, wa'aalihi lan kaluwargane nabi, washohbihi lan sahabate nabi, ajmaina sekabehane."


"Walaahaula lan ora ono daya den sumingkir saking duroko, walaaquwwata lan ora ono kekuatan, illaa billaahi Anging kelawan pitulung saking Allah, Al aliyyii kang maha luhur, Al adhiimi tur kang maha agung" pembukaan singkat Gus Ashif.


"Amiin" sahut santri serempak.


Semua pembukaan kita baru alias baru memulai ngaji atau di awal pengajian pasti ada semacam itu.


"Fashlun utawi pasal suwiji, arkaanul islami utawi piro-piro rukun islam, iku khomsatun lima, syahaadatun sawiji iku nekseni setuhune kelakuan, laailaaha illallahi ora Ono pangeran kejobo Gusti Allah, wa anna muhammadan lan setuhune kanjeng nabi Muhammad iku rosuulullaahi utusane Gusti Allah."


"Bab pertama menerangkan tentang rukun Islam. Rukun Islam itu ada lima, yang pertama membaca dua kalimat syahadat. Yaitu asyhaadu 'allaa ilaaha illaallah, wa asyhaadu Anna muhammadarrosulullaah."


"Tiada tuhan selain Allah, dan nabi Muhammad itu utusan Allah."


Gus Ashif menatap semua santri, yang di tatap matanya fokus pada kitab namun telinganya siap mendengarkan pengajian malam ini.


"Wa iqoomussholaati lan jenengaken ing sholat, rukun Islam yang kedua melaksanakan sholat wajib lima waktu yaitu sholat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya."

__ADS_1


"Wa iitaa uzzakaati lan aweh zakat, yang ke tiga membayar zakat sesuai ukurannya masing-masing."


"Wa shoumu romadhoona lan puasa bulan romadhon, yang ke empat puasa wajib di bulan romadhon."


"Wa hijjul baiti lan munggah haji ing baitullah, sopo manistathoo'a wong kang kuasa, ilaihi maring baitullah, opo sabiilaa dedalan."


"Rukun Islam yang terakhir melaksanakan ibadah haji ke baitullah bagi yang mampu. Sampai di sini saya yakin kalian faham semua."


"Bismillahirrahmanirrahim, fashlun itawi pasal suwiji, arkaanul iimaani, Wallahu 'alaam bishowab" kemudian Gus Ashif bangkit dari duduknya di susul doa setelah mengaji dari seluruh santri.


Ketika berdoa semua santri duduk tenang, namun begitu doa berakhir semua menjadi gaduh. Ada yang mengambil alat makan, ada yang berlari antri membeli es atau gorengan, ada yang berlari ke ruang makan antri mengambil jatah makan malam sama seperti ku.


Seusai makan malam di lanjut belajar.


...***...


Suasana sore mendung sangat cocok untuk latihan di lapangan. Tidak terlalu lelah dengan suasana dingin.


Sesampainya di depan gerbang sudah ada Riah dan Ferdinan di temani oleh Angga.


"Tumben berkumpul di sini Kak, jadi terlihat beda" kata Rani.


"Iya, kami ke ndalem matur Abah karena dua minggu lagi kalian akan berangkat ke Kecamatan untuk bertanding" jelas Ferdinan.


"Kita memberitahu Abah siapa-siapa saja yang akan berangkat. Supaya di siapkan kebutuhan yang di perlukan" timpal Riah.


Aku hanya diam menyimak, kemudian jalan beriringan ke ndalem. Sesampainya di halaman ndalem Abah sudah duduk di sofa yang sengaja di taruh di teras.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut Abah sambil menerima setiap uluran tangan para pria.


"Bah, ijin memanggil Mia" kata Riah.


"Ya" sahut Abah singkat.


Kami duduk lesehan di teras sambil menunggu Riah yang sedang memanggil Mia.


Tak berseling lama mereka datang.


"Jadi segini yang kan berangkat, berapa orang kalian?" Tanya Abah.


"Sembilan orang Bah" Ferdinan yang menjawab pertanyaan dari Abah.


"Sembilan yang lomba apa dengan pendampingnya?"


"Tujuh orang yang lomba, dua pendamping."


"Oke, nanti biar di sopir Jefri, temui di koperasi suruh ke sini."


"Nggeh Bah."

__ADS_1


"Hari apa akan berangkat?"


"Dua minggu lagi."


"Ya sudah, sana di lanjutkan aktivitas kalian."


"Nggeh Bah."


"Jangan lupa panggil Jefri ya."


"Nggeh Bah" sahut Ferdinan yang ke sekian kalinya. Hanya nggeh saja dari tadi.


Kami langsung menuju lapangan Mts untuk latihan seperti biasanya.


...***...


Hari Rabu tepat dimana aku dan kawan seperjuangan ku berangkat ke Kecamatan untuk bertanding.


"Tidak terasa ya Ra, setelah pulang dari lomba beberapa hari ke depan kita sudah ujian semester ganjil" kata Rani.


"Iya, sebentar lagi semester dua saja" sahut ku.


"Nanti setelah lulus dari sini pasti kita tidak akan pernah bertemu lagi" Rani terlihat sedih.


"Berdoa saja, semoga kita di pertemukan lagi setelah menjadi alumni."


Hanya memakan waktu dua puluh menit kami sampai di gedung wanita, di situlah lomba akan berlangsung. Meskipun hanya peserta lomba yang datang bersama beberapa pendamping, namun terlihat sangat ramai.


Aku menyimak dengan seksama dari awal pembukaan, aku tidak boleh meremehkan ucapan panitia yang sedang menyampaikan aturan mainnya.


"Ra, kamu bisa santai hari ini" kata Riah.


"Kenapa Mbak, apa tidak ada lawannya?"


"Benar, tidak ada lawan untuk kali ini."


"Terus?"


"Biasanya bulan depan langsung ke Kabupaten."


"Ini mah menang sebelum bertanding."


"Lebih baik kita memberi semangat Mia saja dari pada kurang kerjaan di sini" usul Riah.


Mia tampak gugup dengan pertandingan perdananya.


"Tidak usah gugup Ya, kamu tatap saja mata lawan mu seperti kamu melototi ku ketika pertama kenal" ucap ku sambil menepuk bahu Mia.


"Mbak Nera ini loh, sampean kok tidak membenci ku?" Mata Mia terlihat sendu.

__ADS_1


"Untuk apa aku benci, aku hanya tidak suka dengan cara pikir mu waktu itu."


"Maaf ya Mbak."


__ADS_2