Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 51 KSD_Ngaji Bareng Gus Ashif


__ADS_3

"Woy! Seksi Mading!" Yang terpanggil menoleh, aku berlari kecil mendekati Ida. "Kamu tidak memberitahu ku tentang OSN" kata ku lagi.


"Baru saja di tempel" sahut Ida.


"Baru apanya, kemarin sudah ada kok kata Rani."


"Iya, baru kemarin pendaftarannya juga hari ini" jelasnya.


Aku hanya manggut-manggut mengerti.


"Ya sudah, ayo daftar dulu" Rani menarik lengan ku meninggalkan Ida yang tersenyum sangat manis.


Sesampainya di gedung SMK putri TU SMK sedang duduk di teras bergabung dengan santri lain. Sebuah kebetulan yang menguntungkan.


"Mbak, aku mau daftar OSN dong" aku nyempil di antara santri mendekati Roha.


"Tidak usah nyempit-nyempitin orang duduk juga kali" ketus Rika santri kelas sebelas.


"Ya maaf Mbak, lagian kan ada kepentingan" sahut ku sekenanya.


"Pendaftaran belum di buka" kata yang lain lagi.


"Katanya hari ini di buka, bagaimana Mbak kok diam Bae!" Ku tatap Roha yang sedari tadi diam saja.


"Iya nanti, berhubung kamu sudah berdebat sekarang juga tidak apa-apa" sahut Roha lembut.


"Iya gitu dong Mbak dari tadi tidak usah menunggu debat."


Roha terkekeh. "Mapel apa yang ingin kamu perjuangkan?" Tanya Roha lagi.


"Matematika ada tidak Mbak?"


"Tidak!" Rika ketus lagi.


"Loh, kok aneh sih" aku menggaruk kepala ku bagian belakang padahal tidak gatal.


"Adanya MTK!" Kata Rika lagi.


"Mbak lagi pms ya, hayo marah mulu" Rani menggoda.


"Lagi kumat dia" sahut temannya.


Roha telah menulis nama ku di kertas yang Roha bawa. setelah tidak ada urusan lagi aku berterimakasih kemudian menjauh dari Roha. Takut saja tiba-tiba Rika makan orang.

__ADS_1


Aku membentangkan sajadah persiapan jama'ah dhuha bersama Rani, karena Ida sudah lebih dulu duduk di shaf bagian depan ku.


Pukul tujuh kurang lima belas menit kami jama'ah Dhuha, di lanjut membaca Asmaul Husna, doa belajar, Al-Fatihah, dan di tutup dengan sholawat.


Kami ingin memasuki kelas masing-masing namun di cegah oleh Roha. Biasanya jika di cegah seperti ini akan ada pengumuman.


"Mbak jangan masuk dulu, ada pengumuman" kata Roha.


Santri SMK putri langsung duduk kembali di halaman yang kami gunakan untuk jama'ah tadi.


"Bagi santri yang minat dan berpartisipasi dalam OSN segera mendaftarkan diri ke saya, pendaftaran di tutup sampai jam dua belas siang. Dan persiapkan segala materinya, karena tiga hari lagi akan di adakan seleksi" ujar Roha menghela nafas panjang. "Sampai sini sudah faham?" Lanjutnya.


"Paham Mbak" sahut kami serempak.


"Kalian boleh ke kelas" perintahnya mengakhiri pembicaraan ini.


Setelah kepergian Roha, para santri antri untuk menaiki tangga menuju kelas masing-masing. Bagi santri yang berpartisipasi sedang mendaftar di bawah dengan Roha. Terlihat sekilas Marissa sangat antusias dengan perlombaan ini.


Ku letakkan tas di atas meja tanpa menyentuh kursi ku, menuju bagian paling belakang kursi yang sengaja di buat sedikit longgar agar nyaman karena di jadikan markas untuk kelas kami.


Tidur atau sekedar tiduran saja sudah menjadi kebiasaan santri di sini ketika jam kosong atau menunggu guru yang akan masuk untuk mengajar.


...***...


Teng...Teng...


"Mbak, ngaos Gus Ashif" teriak Rinda.


Setiap malam Kamis kami rutin ngaji bersama Gus Ashif namun tidak mengurangi semangat bagi santri putri. Mau bagaimana pun tokoh idola tetaplah menjadi idola.


Setelah menaruh mukenah dan berganti dengan kerudung segi empat sederhana aku membawa kitab matan Safinatunnajah yang di karang oleh Syekh Salim bin Syekh Samir Alhadhrowiy menurut Imam Syafi'i rohimahullohu ta'ala.


Tak lupa membawa piring untuk persiapan makan malam setelah ngaji. Biasanya ketika sedang jama'ah Isya Gus Ashif sudah standby di kantor pusat menunggu selesai jama'ah dan persiapan mengaji. Saking rutinnya mengaji setengah tahun sudah hampir khatam kitab ini.


Tak berselang lama setelah santri duduk, dan masih ada yang merapikan kerudungnya bahkan baru membaca basmalah ingin sholawatan sambil menunggu namun yang di tunggu sudah duduk di atas sajadah yang memang di sediakan untuk Gus Ashif.


Di depan Gus Ashif ada meja yang di beri taplak sajadah juga. Tentu saja para santri berebut agar sajadahnya menjadi tempat duduk atau taplak untuk ngalap barokah atas ngaji malam ini. Saking tidak ingin tertinggal ngaos balahan ada yang masih mengenakan mukenahnya.


Ngaos balahan adalah sebutan untuk ngaji kitab apa saja yang di lakukan setelah isya atau ketika liburan di Pondok. Terkadang seluruh santri libur sekolah formal saja dan masih tetap di Pondok. Biasanya ketika anak kelas dua belas sedang ujian.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" salam Gus Ashif.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut kami serempak, kemudian fokus pada kitab masing-masing.

__ADS_1


Tangan juga sudah siap dengan pena untuk memberi makna pada kitab agar tidak tertinggal oleh bacaan Gus Ashif yang lumayan cepat.


"Bismillahirrahmanirrahim, faslun utawi ikilah fasal, shuwarul qudwati utawi piro-piro gambarane dadi ma'mum, iku tis'un songo, tashihhu kang ashoh opo manut, fii khomsin ing ndalem limo."


"Beberapa gambaran ma'mum itu ada sembilan. Lima di antaranya itu yang sah atau di perbolehkan."


"Mau dong menjadi ma'mumnya" teriak santriwati di ujung.


"Cie, meleleh hati Adik" sahut yang lain lagi.


"Ini ma'mum dalam sholat bukan ma'mum menuju surganya Allah" sahut Gus Ashif, netra Gus Ashif tertuju pada santri kelas dua belas yang hanya menampakkan senyum manisnya saja, Ulya.


"Kan sholat sama saja menuju surganya Allah Gus" sahut santriwati di samping Ulya sembari menyenggol lengan Ulya, Gus Ashif hanya tersenyum kemudian melanjutkan ngajinya.


Semua santri juga kembali fokus pada kitabnya masing-masing.


"Sawiji iku qudwatu rojulin manute wong Lanang, birojulin kelawan wong lanang. Yang pertama laki-laki menjadi ma'mumnya laki-laki."


"Wa qudwatum roatin lan manute wong wadon, birojulin kelawan wong lanang. Yang nomor dua perempuan menjadi ma'mumnya laki-laki."


"Seperti siapa Gus?" Tanya santri yang memang usil.


"Seperti saya dan Istri saya dong" jawaban Gus Ashif membuat seisi aula menjadi ricuh.


"Amiin" sahut santri yang lain lagi.


"Setelah lulus ya Gus."


Gus Ashif hanya tersenyum "Wa qudwatu khuntsaa lan manute wong wandu, birojulin kelawan wong lanang. Yang nomor tiga seorang wandu atau banci ma'mum kepada laki-laki."


"Wa qudwatum roatin lan manute wong wadon, bikhuntsaa kelawan wong wandu. Selanjutnya perempuan yang menjadi m'mumnya wandu atau banci, tapi dengan syarat memang tidak ada lelaki selain banci tersebut, juga harus taat dan tahu minimal tata cara sholat atau menjadi iman sholat."


"Wa qudwatum roatin lan manute wong wadon, bimroatin kelawan wong wadon. Yang terakhir perempuan yang menjadi ma'mumnya seorang perempuan."


"Sampai sini faham yang di maksud sah menjadi ma'mum atau berjamaah?" Gus Ashif menyapu seluruh pandangannya.


"Kalau kita memiliki anak laki-laki bagaimana Gus?" Tanya salah satu santri dengan serius.


"Kita?" Tanya balik Gus Ashif.


"Maaf, maksudnya seorang muslimah yang memiliki anak laki-laki."


"Jika anaknya belum baligh Ibunya yang menjadi imam, namun jika anak laki-laki tersebut sudah baligh harus bisa menjadi iman sholat bagi Ibunya. Namun jika anak tersebut sudah yakin dengan bacaan sholatnya tidak harus menunggu baligh menjadi imam bagi Ibunya. Paham?"

__ADS_1


"Paham Gus."


__ADS_2