Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 16 KSD_Benci Dan Cinta


__ADS_3

Ya Allah, semoga saja Nera membuka hatinya untukku. Apakah Nera memang memiliki seseorang disana. Semoga Istiqomah ku tidak sia-sia. Aku benar-benar mencintainya karena Allah. Tapi jika Allah merencanakan yang lebih baik aku bisa apa?


...***...


Aku dan Ida kembali ke asrama, Rani sudah duluan karena tidak tahan ingin membuang hajatnya.


"Sok jaim sekali si Nera di depan Dhani, bisa sulit aku menyingkirkannya".


Suara seseorang sedang menyindirku menggunakan bahasa Inggris.


"Jangan patah semangat, kamu pasti bisa". Seseorang lagi menanggapi dengan bahasa yang sama.


"Ya, aku akan melakukan apa pun untuk memiliki Dhani".


Mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Aku sedikit ragu dengan suara yang tak asing. Rasa penasaranku membuatku membalikkan badan.


"Oh, ya. Perjuangkan saja jika memang Dhani mencintaimu". Ku tatap mata indah itu.


Marissa merasa gugup ketika aku menatapnya.


"Kau mengerti artinya?". Wajah Marissa merah menahan malu.


"Tidak, aku tidak mengerti apa maksudmu ingin melakukan apa pun. Jika Dhani memang mencintaimu tidak usah susah-susah melakukan apa pun. Dia akan mendekat dengan sendirinya. Tapi jika dia tetap mencintaiku, apa yang kamu lakukan akan sia-sia. Jadi marilah bersaing dengan sehat". Ku tekankan setiap kata-kataku. Marissa hanya diam terpaku.


"Okey, kita berjuang bersama. Dan lihat akhirnya". Marissa berlalu meninggalkanku dan Ida.


"Hajar Ra!". Ida tersungut-sungut.


"Panggilan kepada Tenera Alivia diharap mengambil kirimannya di depan kantor". Suara mbak jaga gerbang memanggilku.


"Ada apa gerangan?". Kata Ida sambil mengikuti langkahku.


"Siapa yang mengirimiku? Apa hanya sebuah lelucon?".


"Kita lihat saja dulu".


Sesampainya didepan gerbang memang ada kardus.


"Katanya ada kiriman mbak?". Ucapku ragu.


"Iya, ini". Kardus itu diserahkan padaku.


Aku heran saja siapa yang iseng mengerjaiku. Sangat penasaran dengan isinya, aku membawa kardus ini ke ruang makan. Aku juga memanggil Dahlia, kebetulan sedang antri mandi di asramaku.


"Apa isinya Ra". Dahlia juga penasaran.


"Aku juga tidak tahu".


"Waw!". Ida takjub dengan isinya. Dahlia juga berbinar.


Kardus Bimoli berisi berbagai macam cemilan. Ada sabun, bedak, ada buah juga. Ada parfum, ada pembalut siang malam beserta pantilinernya. Dan masih banyak lagi.


"Heran saja siapa yang ngirim".


"Ada surat". Ida membuka kertas itu.


"Aku menunggu kalian di surga". Ida membaca agak lantang, kemudian tertawa.


"Hanya itu?". Dahlia mengambil kertas dari Ida.


Aku yang mendengar hanya tersenyum. Siapa lagi kalau bukan si Dhani. Memang tidak malu membeli pembalut segala. Membayangkannya saja sudah bahagia.


"Apakah dia benar-benar mencintaiku?". Batinku. "Lalu bagaimana dengan Marissa".

__ADS_1


Semenjak kejadian tadi aku jadi tidak suka dengan Marissa. Licik juga rupanya. Sungguh sayang menyakiti hatiku, kehilangan orang tulus yang menggemarinya.


"Siapa ya kira-kira?". Cetus Dahlia.


"Heheee". Aku hanya terkekeh.


"Kamu pasti tahu orangnya, jangan bilang ....". Ida menggantung kata-katanya.


"Ya, dia pengirimnya". Aku tersenyum bahagia. Entah mengapa, hatiku sangat bahagia.


Kemudian aku menceritakan percakapanku dengan Dhani pada Ida dan Dahlia.


"Semoga kalian berjodoh. Supaya kita menjadi saudara". Ida sangat senang akan hal ini.


"Kita kan saudara sesama muslim". Sahutku.


"Yey, bukan itu juga kali". Ida memanyunkan bibirnya.


"Ada kak Angga pasti nyosor kamu Da".


"Husss....". Dahlia menegurku. Aku dan Ida hanya tertawa.


...***...


Pov Marissa


"Sialan, aku kira Nera tidak bisa bahasa Inggris. Apa jadinya jika Nera memberitahukan kepada Dhani, sudah jelas Nera pacarnya Dhani". Ku maki diriku sendiri.


"Sudahlah, Nera menantangmu bersaing dengan sehat. Secara, kamu lebih sering bertemu dibandingkan dengan Nera". Mira menasehatiku.


"Benar juga sih, tapi apa aku akan mendapatkan perhatiannya?". Aku tertunduk lesu.


Teringat bagaimana Dhani berbicara dengan Nera tadi di halaman ketika latihan upacara. Mereka sangat dekat. Bahkan mereka berbicara dengan jarak sangat dekat sudah terbiasa, pasti mereka sudah mengenal lama.


"Gitu dong, baru yang namanya Marissa. Putri terpandai di Balekambang". Mira selalu setuju denganku.


Selain alumni, aku juga mantan ketua OSIS ketika Mts. Aku juga dekat dengan keluarga ndalem.


"Semangat Marissa". Ku semangati diriku sendiri. Siapa lagi kalau bukan aku. Semangat dari dalam hati adalah penyemangat terbesar.


...***...


"Ra, kamu yakin akan bersaing dengan Marissa? Apa kamu tidak akan takut kehilangan jika memang Dhani memilih Marissa". Ida ragu dengan tantangan ku untuk Marissa.


Aku terlalu percaya diri jika Dhani akan memilihku. Apa aku tidak akan kehilangan?


"Tenang saja Nera, Fian masih ada untukmu". Rani mengingatkan seseorang disana.


"Iya kalau Fian tidak selingkuh". Ida tetap mendukungku bersama Dhani, atau hanya membuatku bimbang karena mengingatkan ku tentang ini.


"Entahlah, berdoa saja semoga Allah memberikan ku yang terbaik".


"Amiin". Sahut Ida dan Nera bersamaan.


Aku tidak tahu bagaimana rasaku pada Fian kali ini, aku tidak merasakan apa pun. Semua terasa biasa saja, rindu juga tidak. Apa aku sudah terobsesi dengan Dhani si pria tukang tebar pesona.


Apa Dhani hanya merayuku seperti merayu orang lain? Itu hobinya sejak SMP. Aku juga merasa cemburu jika dia melakukan hal itu. Apa cinta akan tumbuh begitu saja jika sering bersama, atau aku hiperbola.


"Ya Allah, berikan yang terbaik untukku". Batinku.


Tak terasa hari makin berlalu, geladi bersih juga sudah terlaksana. Aku lelah.


Ku tatap Marissa sedang berbincang dengan Dhani. Satu hal yang membuat Dhani berbeda, dia jadi acuh. Berbicara dengan Marisa tapi malah menatapku dari sana. Apa dia sedang pamer padaku, banyak wanita yang menggemarinya.

__ADS_1


"Sabarkan aku ya Allah, aku ingin yang terbaik untukku". Batinku, aku hanya bisa tertunduk menahan sesak.


Apa yang mereka bicarakan aku juga tidak tahu. Mengapa aku jadi sensitif, apa kabar Nera yang galak?.


"Ra, apa kamu baik-baik saja?". Dhani sudah jongkok di depanku.


"Tidak".


"Mengapa?".


"Aku tidak suka kamu dekat dengannya".


"Oh, ya? Kamu sudah mulai mencintaiku?".


Aku tersadar dari keterlepasan kata-kataku. Aku tidak mengontrol bicaraku.


"Eheem.... Bukan juga, aku hanya tidak ingin kamu playboy". Sahutku gugup.


"Apa kamu sudah mencintaiku? Baguslah, aku suka". Dhani berbicara sangat dekat membuatku semakin gugup.


"Ya Allah bukakanlah pintu hati Tenera Alivia berikanlah Rahmat dan hidayahmu dan jadikan dia sebagai istri solehahku kelak, amiin ya Allah".


Kata-kata yang diucapkan Dhani tepat di telingaku, seperti sangat lancar di bibirnya. Bukankah doa itu hampir sama dengan doa yang ku panjatkan untuk Fian, mengapa Dhani sangat hafal.


"Dhan, jangan terlalu dekat dengan santri putri". Marissa datang.


"Okey, aku memang selalu menjaga jarak".


"Lalu, mengapa kamu begitu dekat dengan Nera?".


"Ya, karena aku memang sangat dekat dengannya".


"Apa pacarmu tidak marah?".


"Pacarku sangat senang denganku, dia tidak akan marah".


"Apa kamu berselingkuh dengan Nera?".


"Aku punya banyak wanita".


Marissa menatapku tajam.


"Kenapa kamu menatap Nera begitu, kamu juga mau menjadi selingkuhan ku? Aku memiliki wanita diluar sana, namanya Endang, dan Eli. Aku sangat mencintai mereka. Dan Nera adalah nomor tiga. Jika kamu bersedia menjadi yang nomor empat, bisa di rekomendasikan".


Marissa bingung namun tetap mendengarkan.


Aku hanya menahan tawa, Endang itu mamanya, tapi siapa Eli? apakah neneknya, atau wanita muda yang cantik dan telah menempati hatinya sejak lama? Apa Dhani masih sama, playboy?. Aku jadi sedih.


"Kalau kamu mencintaiku, kamu bisa ku jadikan yang nomor empat. Kamu akan ku nikahi setelah anakku dengan Nera usia dua tahun".


"Gila kamu ya, kalau kamu mau memiliki banyak istri jangan jadikan aku salah satunya. Lebih baik aku menikah dengan Mahen, sahabatmu". Aku berlalu meninggalkan mereka.


"Ra, Nera!". Dhani setengah berteriak memanggilku. "Mahen bukan sahabatku, tapi sahabat kita". Dani berteriak lebih keras, namun aku sudah tidak perduli.


Apa kamu hanya mempermainkan hatiku. Aku memang sudah mulai mencintaimu, tapi kamu menghancurkan cinta ini.


"Ra, tunggu". Ida berlari menjajariku, aku tetap diam namun memelankan langkahku. "Dhani tersenyum ketika kamu pergi".


"Ya, karena dia bangga memiliki banyak penggemar. Dasar pria playboy. Mulai hari ini aku akan membencinya".


"Jangan begitu, benci dan cinta itu beda tipis".


"Aku memang sudah mulai mencintainya, tapi dengan seenak udel dia menghancurkan begitu saja. Aku benci Da, aku sangat membencinya".

__ADS_1


__ADS_2