
Pukul dua lebih sepuluh menit menjelang sore kami berangkat. Keringat dingin ku mulai keluar, rasa gugup mulai menyeruak, hari ini aku akan meminang gadis pilihan ku. Sesuatu yang menjadi cita-cinta ku sejak dulu.
"Ya Allah bukakanlah pintu hati Tenera Alivia berikanlah rahmat dan hidayah-Mu, dan jadikan dia sebagai istri sholehah ku kelak ya Allah, amiin ya Allah" ku usap wajah ku sembari menghembuskan nafas berat.
Semoga saja tidak berakhir setelah lamaran ini, aku ingin sampai berjodoh dengannya.
Sesampainya di rumah Nera kami di sambut oleh keluarga inti dari Nera, dan beberapa orang asing yang mungkin sanak saudara atau kerabatnya.
Di sana aku juga di tatap intens oleh seorang gadis yang sedikit berisi dari pada Nera. Dia juga melempat senyum sambil mengedipkan mata kanannya. Aku membalas senyumnya tanpa menanggapi godaannya.
Acara ini adalah acara tanpa sepengetahuan Nera. Meski tidak di ketahui banyak orang juga bukan rahasia sehingga menimbulkan banyak pendapat dari orang sekitar.
Jika yang sependapat mereka akan memaklumi, namun jika yang tidak suka di jelaskan sampai mulut berbusa pun tidak berguna.
"Assalamualaikum" kami di persilahkan masuk, dan di sambut hangat oleh keluarga Nera.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah" sahutan dari dalam.
"Silahkan duduk" Pak Abdul berdiri memeluk Ayah, hal yang sama di lakukan oleh Bu Sari pada Ibu ku.
"Ayo duduk dulu" timpal Bu Sari setelah melepas pelukannya.
Eli sudah duduk setelah menyalami orang-orang yang ada dan mengobrol dengan gadis yang menggoda ku tadi.
"Perkenalkan ini Uwanya Nera bersama anak istrinya Kakak kandung dari istri ku"
Pak Abdul memperkenalkan suami istri yang sedari tadi ikut bergabung dengan kami. Rupanya gadis yang sedari tadi mengganggu pandangan ku adalah sepupu Nera.
Acara malam ini hanya mengantar hantaran saja. Tak lupa cincin tunangan yang di terima Bu Sari, beliau juga memakaikan satu cincin pada jari ku. Milik Nera akan di berikan jika dia pulang dari Pondok ketika liburan.
Bu Sari juga mengambil gambar sebanyak-banyaknya.
"Sudah Bu, jangan kebanyakan di foto" Pak Abdul menegur istrinya.
"Iya Pak, ini juga bakal Ibu cetak supaya Nera tahu meski tidak menyaksikan secara langsung."
"Iya Bu, sekalian sama Bang Dhaninya dong di foto. Sayang banget gantengnya tidak terlihat" pinta Eli.
"Baiklah" Bu Sari mengarahkan ponselnya pada ku. "Senyum dong" imbuh beliau.
Aku tersenyum kikuk, mungkin jika Nera ada di sini dia akan melototi ku dengan tatapan membunuh. Bisa juga dia tersipu dan jika Bu Sari menekan tombol kameranya aku akan cepat-cepat mencuri cium. Pasti aku akan di damprat oleh Ayah ku juga Ayahnya Nera.
Aku tersenyum sambil membayangkan jika saja Nera ada di sini pasti suasananya akan berbeda, mungkin lebih baik atau bisa saja menjadi kacau. Memang tidak bisa di tebak.
"Bagaimana mungkin aku berfikir seperti ini" batin ku terus saja meracau seakan tidak percaya dengan apa yang sedang ku lakukan.
"Maafkan aku Sayang" batin ku lagi.
Seusai acara kami tidak langsung pulang, Ayah dan para orang tua sedang mengobrol, Eli masih sibuk dengan ponselnya di kursi teras, aku memilih berjalan-jalan melihat sayuran segar dengan penerangan lampu yang membuat lebih terkesan indah.
"Hay" sapa seseorang.
"Iya, halo" sahut ku kikuk.
__ADS_1
"Kenalin aku Ayu" gadis yang sedari tadi menatap ku aneh, dia mengulurkan tangannya.
"Iya" sahut ku tanpa menjabat tangannya, aku hanya menangkupkan tangan di dada.
"Dhani ya?"
"Iya."
"Dengar-dengar kamu di jodohin ya?"
"Kenapa kalau di jodohin?" Aku tak berpaling dari sawi sendok yang mekar segar.
"Kalau Nera tidak menerima kamu bisa berpaling pada ku" katanya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Tapi maaf, Nera pasti akan menerimanya meski hanya perjodohan" sahut ku tegas, kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
Aku mendengar Ayu membuang nafas kasar sambil berlalu ke dalam melewati pintu dapur.
Ku genggam jemari yang bercincin, aku tidak ingin melepaskannya setelah acara berakhir. Aku akan memberi tahu Nera apakah aku pantas memakai cincin atau tidak.
"Kamu tidak tahu bagaimana aku memperjuangkan wanita sesulit Nera, dengan mudahnya kau ingin membuat ku berpaling. Itu sesuatu yang tidak mungkin dan aku akan berusaha menjomblo jika Nera menjadi jodoh orang lain. Camkan Ayu" ku hembuskan nafas ku yang sesak.
Masih terngiang di mana aku di tertawakan Angga ketika aku menyatakan cinta di depan umum, dan aku masih malu jika mengingatnya.
...***...
Ting...
Pesan masuk dari yang terkasih.
[Malam kesayangan]
[Malam]
Langsung centang dua biru.
[Vc yuk]
Tanpa membalas aku langsung menelpon Dhani. Tak berselang lama muncul wajah segar pertanda telepon sudah di angkat.
"Ada apa?" Tanya ku.
"Aku rindu" Dhani menarik turunkan alis kananya.
"Rindu siapa, hm?"
"Rindu kamu lah. Oh ya, lihat ini" Dhani menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Apa itu?!" Tanya ku setengah mengintimidasi.
__ADS_1
"Cincin."
"Anak TK saja tahu kalau itu cincin, dalam rangka apa kamu memakainya? Kamu tunangan dengan orang lain!"
Aku tak sanggup menduga-duga, tangan ku bergetar kaki ku terasa lemas. Aku tidak sanggup jika dia tunangan dengan wanita lain.
"Apakah itu Eli?" Batin ku.
Deg!
Bukankah wanita setelah Ibunya adalah Eli yang menempati urutan nomor dua yang sering dia sebut. Lalu apa gunanya memberi tahu ku tentang ini. Apa hanya meyakinkan jika aku hanya wanita nomor tiga. Sungguh, aku tak mampu berprasangka baik.
"Kok bengong?" Suara Dhani membuyarkan lamunan ku.
"Brengsek!" Ku matikan sepihak sambungan ini.
Ponsel ku terjatuh dan membuat goresan di layarnya meski tidak sampai rusak. Apa artinya ponsel ku turut berduka atas saksi ini. Lalu bagaimana dengan ku yang rapuh seperti ini.
"Ah!!" Ku acak rambut ku kasar, ku biarkan ponsel tergeletak di lantai.
Andai Dhani sampai menikah dengan Eli apa artinya aku harus berakhir sampai di sini.
"Sialan!" Aku tak bisa mengontrol emosi ku kali ini.
Awalnya aku ingin memberikan kabar jika aku berhasil masuk final, namun ini yang ku dapat. Yang tadinya aku bahagia, namun akhirnya kecewa, sedih, hancur sudah. Memang benar kata Ibu, lebih baik tidak usah pacaran.
Dua kali memiliki pacar aku putus dengan cara tragis semua.
"Mulai sekarang Nera jomblo dan tidak boleh mencintai pria lain selain Ayah dan Kakak" ucap ku lirih.
Dengan penuh kesedihan aku terlelap, tidak perduli masuk final intinya aku sedang tidak baik-baik saja.
Andai dunia tahu mungkin aku akan di bangunkan beberapa tahun ke depan agar tak merasakan sakit yang berkelanjutan.
"Ya Allah jika Dhani bukan jodoh ku maka berikan aku kesempatan untuk mengaguminya tanpa ada rasa sesakit ini" ku pejamkan mata ku, hingga terlelap.
Hingga aku di kujutkan oleh teriakan histeris dari Rani.
"Ra, bangun" Riah mengguncang lengan ku sehingga aku mengerjapkan mata berusaha untuk membukanya.
"Apa sih!"
"Ra, lihat ini!" Rani menunjukkan ponsel ku yang sudah retak ringan.
Aku teringat, semalam aku memaki tidak jelas, padahal sudah pasti keharamannya, dan di jelaskan dalam Al-Qur'an.
"Maka janganlah kamu berkata kepada orang tua kedua 'hus' "(QS. Al-Isra':23).
Memaki, memukul, dan sebagainya terhadap orang tua itu haram, perbuatan yang di samakan dengan haramnya berkata 'hus' atau 'cis'.
Berkata 'hus' yang tercantum dalam ayat tersebut adalah sebagai pokoknya. Sedangkan memaki-maki dan memukul adalah sebagai cabangnya yang di qiyaskan.
Intinya sama saja, jangan suka memaki.
__ADS_1
"Maaf ya Allah" batin ku.