
"Banyak juga ya bakatnya Nera" kata Pak Sohib lagi.
"Iya, Aku juga kagum. Semua bisa di lakukan."
"Empat sehat lima sempurna pokoknya deh."
"Bapak kira makanan, cepat habis dong. Coba pakai perumpamaan yang lebih awet gitu supaya tidak basi."
"Ada-ada saja kamu itu."
Seusai jama'ah dhuhur kami mencari makan siang di kulineran tadi.
Makan siang kali ini menunya mencari sendiri di stand yang kami inginkan masing-masing. Aku memilih mie ayam saja, sedangkan Nera memakan pentol kuah tanpa mie di tambah sosis. Porsinya memang banyak jika dia makan.
"Kamu makan banyak tapi selalu kurus, apa rahasianya?" Tanya Anissa.
"Rahasianya hanya satu, olahraga ketika bangun tidur. Tidak usah banyak-banyak, push up dua puluh lima, sit up dua puluh lima, sit down dua puluh lima, sudah itu saja sih" jelas Nera.
"Besoklah ku coba, tapi ajari caranya ya" pinta Anissa.
"Siap, yang penting sampean harus bangun sebelum subuh. Jam dua minimal."
"Jam dua, setengah tiga bagaimana?"
"Jam dua bangun, olahraga, kalau masih ada waktu lari mengelilingi halaman asrama, istirahat sebentar sampai keringat hilang kemudian tepat pukul tiga mandi dan sholat malam. Setelah itu belajar atau ngaji terserah tidur lagi tidak apa-apa sambil menunggu subuh. Yang penting jangan tinggalkan jama'ah subuh, bisa di ta'zir nanti."
"Kalau kamu setelah sholat apa yang kamu kerjakan?" Marissa menimpali.
"Tergantung suasana hati, kalau sedang badmood ya tidur lagi" sahut Nera sekenanya.
"Pantas kamu tidak pernah meributkan mandi, ternyata setiap pagi dapat mandi" Marissa menimpali.
"Iya sih, aku juga membangunkan Ida dan Rani walaupun nanti tidur lagi."
"Aku mau dong, walaupun tidak mandi sore kalau mandi pagi terus kan tidak apa-apa. Di Pondok begini dapat mandi sekali sehari sudah bersyukur" kata Marissa lagi.
"Iya sih" Nera masih asik dengan obrolannya sampai lupa dengan pentol kuah yang semakin dingin.
"Ra, kamu lupa makan?" Tanya ku.
"Oh iya, lupa. Lagian asik bicara" Nera cengengesan.
Seusai makan siang kami gunakan waktu untuk istirahat. Malam ini masih menginap di sini, karena menunggu pengumuman esok pagi.
"Apa acara mu siang ini, Ra?" Tanya ku pada Nera.
"Aku ingin tidur sampai menjelang ashar. Kapan lagi coba kita bisa tidur" sahut Nera asal.
"Astaghfirullah, tidak sampai menjelang ashar juga Nera. Lebih baik kamu duduk sama aku."
"Idiih, aku lelah Dhani. Sebaiknya aku istirahat saja dulu. Aku ingin jalan-jalan nanti sore. Dan satu lagi, kamu siapin uang belanja ku ya. Hehee" ujar Nera tanpa malu. Aku sih senang jika Nera mau meminta ku.
"Berapa kamu butuh."
__ADS_1
"Entah nanti, aku hanya ingin kulineran sih sebenarnya."
"Okey, selamat tidur sayang ku."
"Iya, see you next time."
"Happy nice dream, honey."
Nera melenggang dengan senyum merekah, semoga saja selalu seperti ini hubungan ku dengan Nera.
Setiap hubungan pasti ada masalahnya meski bukan dari hubungan itu sendiri dari arah lain pasti ada saja yang bermasalah. Seperti aku saat ini, masalah cinta ku baik-baik saja namun masalah perusahaan yang sangat membutuhkan ku membuat ku harus belajar lebih giat dan harus cepat lulus. Otomatis membuang sedikit waktu untuk Nera.
...***...
Sesuai permintaan Nera, kami sedang kulineran. Nera sudah mencicipi banyak sekali jenis makanan, meski dalam porsi sedikit namun jika di hitung sudah lebih dari sepuluh jenis makanan. Untuk minuman hanya meminum jus buah naga di botol besar yang ku bawa. Sesekali aku juga meminumnya.
"Serasa memiliki istri ngidam" celetuk ku.
"Elaah, bos! Baru juga segini sudah ngedumel. Kagak ikhlas nih?" Nera menyeruput jusnya.
"Ikhlas, hanya saja apa perut mu tidak penuh?"
"Tidak sih, jangan menyesal suatu hari nanti kalau porsi makan ku banyak."
"Tidak" sahut ku. Aku tidak habis pikir, ternyata Nera tidak sok imut jika dengan ku. Dia bebas berekspresi di depan ku. Itu yang membuat ku juga kagum dia tidak bermuka dua.
Setelah puas kulineran Nera duduk di kursi panjang yang di sediakan di dekat stand.
"Kamu ingin makan apa lagi?"
"Siap bos kuh!"
Aku dan Nera berjalan di trotoar kemudian menyebrang tepat di depan toko. Toko jam murah. Bahkan harganya harga tiga puluh lima ribuan saja.
Nera mengambil satu jam tangan sport imut berwarna pink dan biru yang ukurannya sedikit besar dari yang pink. Aku sudah siap ingin membayar, namun Nera mengeluarkan uang sendiri. Aku memasukkan kembali dompet ku.
Setelah mendapatkan jam tangan pilihannya Nera kembali ke penginapan, tentu saja bersama ku.
"Ini Dhan, maaf ini harganya tidak seberapa dengan kulineran yang ku habiskan tadi. Tapi aku berharap suatu saat nanti kamu bakal ingat ada aku di sini meski waktu mu akan berjalan lebih cepat. Semoga kamu akan selalu ingat bahwa ada cinta yang harus kamu tunggu di sini. Aku akan berusaha memanfaatkan waktu ku jika kamu akan keluar dari sini lebih cepat."
"Iya, terimakasih ya sayang." ku elus pucuk kepalanya yang tertutup hijab.
"Andai saja kamu tahu, jika setelah aku lulus masih di sini, dan kamu yang akan keluar lebih dulu" batin ku. Ku tersenyum mendapat tatapan dalam dari Nera.
"Woy, ada badai!" Teriak Pak Sohib dari dalam kamar. "Badai cintaaah!" Lanjutnya.
"Aishhh!" geram ku.
"Sabar, mungkin Pak Sohib ingin di sapa" Nera menenangkan ku.
"Ya sudah, sana istirahat. Aku akan setia dengan mu. Jangan bosan membuat aku terus tersenyum ya, kesayangan."
"Iya Dhan."
__ADS_1
"Sekarang kamu boleh memanggil ku Dhani, tapi suatu saat panggil lah aku yang romantis. Karena itu sunah."
"Iya, sayang" ucap Nera malu-malu.
"Begitu kalau sudah nikah saja. Sekarang aku masih nyaman di panggil Dhani, karena aku lebih muda dua bulan dari kamu."
"Astaghfirullah, ternyata pacar ku bocil."
"Hehee, sudah dulu ya. Sana istirahat."
"Iya deh."
Nera memasuki kamarnya, aku juga masuk kamar untuk istirahat.
Setelah masuk, ternyata Pak Sohib sedang memainkan ponselnya.
"Bagaiman perasaan mu wahai sang bucin" kata pak Sohib, aku hanya terkekeh tanpa menjawab ocehan beliau.
***
"Dari mana Nera?" Anissa sedang rebahan sambil memainkan ponselnya.
"Dari luar Mbak, sebentar."
"Sebentar kata mu, ini loh sudah jam setengah lima" Marissa menimpali.
"Yang benar saja, perasaan baru tadi keluar."
"Baru tadi kata mu, saking asiknya serasa dunia milik berdua, kita hanya numpang ya Mbak Nissa" Marissa berbicara panjang.
"Iya loh, kulineran tidak ajak kami, mana gratisan. Serasa jalan bersama suami kamu ini" sahut Anissa.
"Ya sudah, nanti habis maghrib kita kulineran lagi dan aku yang bayar."
"Beneran nih?" Anissa antusias.
"Ya."
"Padahal kita hanya bercanda tadi, tapi kalau kamu mau traktir aku senang deh" timpal Marissa.
"Kamu sebulan jatah dari Ibu mu berapa sih, sepertinya kamu tidak pernah kurang uang" Anissa duduk lesehan sambil memainkan ponselnya.
"Sejuta, alhamdulillah cukup sama bayar bulanan" sahut ku sekenanya.
"Bulanan saja enam ratus ribu, berarti empat ratus ribu sebulan. Mana cukup. Aku saja di jenguk dua kali setiap bulan, kalau di jenguk uang jajan tiga ratus lima puluh, berarti sebulan tujuh ratus ribu. Kadang masih minta tambahan" ujar Marissa.
"Kita kan beda, Ayah ku hanya petani. Kalau aku boros bangkrut orang tua ku."
"Hah! Ayah mu petani? Tapi ponsel mu mahal" celetuk Anissa.
"Ini kan tabungan ku."
Biarlah orang lain tahu jika Ayah ku petani, toh di Kalimantan memang petani. Tapi bukan sawah yang di garap melainkan sawit.
__ADS_1
Uang bulanan ku memang sejuta, tapi Ayah kadang mengirim lagi sejuta kadang sejuta lima ratus untuk bonus semangat ngaji dan sekolah.