
"Wuih, kamu di terima Dhan" Mahen bersorak sembari bertepuk tangan.
"Jadi kamu lihat sendiri kan, laki mu selingkuh. Jika tahu dari awal jika itu pacar mu sudah ku hajar habis di taman."
"Sudahlah" aku tertunduk lesu.
"Lalu bagaimana, rumah mu masih terbuka apa kamu ingin pulang?"
"Apa aku masih pantas setelah aku menyakiti mu?"
"Masih, masih sangat pantas. Bahkan rumah ini sengaja di bangun hanya untuk mu."
Rumah yang di maksud adalah hatinya Dhani, cintanya Dhani. Kemudian aku menggandeng lengannya yang berlapis hoodie.
"Dhan, aku belikan sosis di sana ya?" Pinta ku menunjuk deretan penjual makanan berat.
"Ayo, kita beli sepuas mu."
"Aku di kacangin oy! Nyesel ikut kalian!" Mahen memandang ke sembarang arah.
"Ayo, kamu juga cari makanan kesukaan mu, sepuasnya" kata Nera.
"Kamu yang bayarin ya" sahut Mahen.
"Dhani" jawab ku tanpa melihat Dhani.
"Kira aja kamu."
"Ya udah, ambil saja sesuka mu" timpal Dhani.
"Beneran nih, ambil yang banyak lah, rugi kalau tidak kenyang. Di bayarin Pak Bos."
"Pak Bos gundul mu, kalau habis seratus ribu ku kasih bonus deh."
Aku dan Mahen memilih makanan sepuasnya, langsung makan di tempat pokoknya.
"Wah, ada gratisan ya, mau dong" Dayat langsung mengambil sosis bakar dan memakannya.
Mahen terheran-heran melihat Dayat yang baru datang. Dhani hanya tersenyum melihat itu.
"Boleh ajak teman tidak, Dhan?" Dayat menatap Dhani membuat Mahen makin melongo.
"Asal jangan seangkatan saja" sahut Dhani.
"Dicky, Charles, kalian mau makanan gratis tidak?" Dayat memanggil teman-temannya.
"Beneran?" Yang terpanggil mendekat.
"Iya, di bayarin Pak Bos" sahut Dayat.
"Kamu kenal Dhan?" Mahen berbisik pada Dhani.
"Kakaknya Nera" sahut Dhani.
"Oh ya?" mata Mahen memperhatikan Nera yang hanya fokus makan.
"Adik Ipar laknat kalau tidak traktir kakaknya" timpal Dayat.
"Bener banget kak" kata Mahen.
"Beneran nih di traktir?" Charles memastikan.
"Iya, asal jangan seangkatan di bawa semua" sahut Dhani.
__ADS_1
"Dalam rangka apa?" Dicky menimpali.
"Tidak ada sih."
"Okey, terimakasih banyak loh."
Meski makanan gratis mereka tahu diri, memakan sewajarnya tidak membabi buta. Hanya aku yang sedari tadi melahap makanan seperti ular.
Dhani memperhatikan tingkah Nera yang baru saja di temui.
"Dhan, kamu tidak nyesel kan punya pacar banyak makan, nanti kamu tidak sanggup menafkahi" cetus Mahen.
"Hehehe" Dhani hanya tertawa, aku menatap tajam Mahen.
Ku arahkan jari telunjuk dan jari tengah ku ke mata ku sendiri, kemudian ku arah kan pada Mahen membuat ia mengalihkan pandangannya.
Yang lain sudah berhenti makan namun aku masih ingin menikmati makanan di sini, entah efek amarah ku pada Fian atau apalah. Setiap aku marah selalu ingin makan banyak.
"Dhan, ada apa dengan Nera, dia makan banyak gini biasanya marah" tanya Dayat pada Dhani.
"Mungkin suasana hatinya sedang kacau."
"Kenapa begitu, ada masalah?"
"Tadi dia melihat pacarnya selingkuh di depan mata kepalanya sendiri, dengan sahabat kita juga."
"Bukannya kamu pacarnya?" Dayat malah terkejut.
"Aku juga baru tahu kalau dia punya pacar, kemarin aku di campakkan di bandara makanya tidak mampir ke rumah."
"Kamu tidak marah, kecewa gitu?"
"Ada sih, tapi aku lupa pas tidak sengaja melihat selingkuhan pacar Nera nangis, kebetulan ketemu di taman, jadi merasa aneh saja. Sampai lupa sakit di hati. Padahal aku belum tahu kalau itu pacarnya Nera, sampai emosi ku meluap-luap."
"Sedikit, tinggal pengobatan saja. Entah ada lagi apa tidak pacar Nera."
"Sudahlah, aku tidak yakin juga. Sekarang kamu pastikan saja lagi. Aku juga tidak bisa melarang perasaan kalian."
"Iya Kak, nanti perlahan ku pastikan lagi supaya aku bisa terarah ke mana harus ku sampaikan cinta ku ini."
"Semangat, apa pun keputusan kalian jangan sampai merusak persahabatan kalian. Ingat, sebelum kalian mencintai kalian itu berteman, bukan musuhan."
"Oke Kak."
...***...
Pov Fian
"Sialan!"
"Sudahlah, masih ada aku" Risa menenangkan Fian.
"Tapi aku di putusin!"
"Kamu tidak bilang dari awal kalau pacar kamu itu Nera, andai bilang dari awal aku akan jaga sikap."
"Terus bagaimana cara ku balikan! Hah!"
"Ya sudahlah kalau kakak masih keras kepala ingin kembali pada Nera kita putus!" Kata Risa tegas.
"Okey, kalau itu mau mu" ku acak rambut ku frustasi.
"Selamat tinggal, kamu bakal kena karmanya!"
__ADS_1
Risa pergi begitu saja bersama Mika. Aku yang tadinya hanya menggertak saja malah di tinggal beneran. Apes sudah nasib ku, di usia ku yang sudah matang belum mendapatkan calon istri, sedangkan teman-teman ku sudah memiliki anak.
Aku sangat menyesal, aku kehilangan semuanya. Risa yang murahan saja pergi meninggalkan ku.
"Arghh, sial!"
Aku sudah tidak ada tujuan lagi di sini, andai aku tidak datang sekalian pasti semuanya akan baik-baik saja.
Aku menuju pintu keluar, namun ku urungkan ternyata Nera masih di sini bersama Dhani dan Mahen.
"Nera!" Panggil ku, namun Nera tidak merespon, malah menjauh mendekati seseorang dan bersembunyi di belakangnya.
"Sialan! Kamu bilang aku selingkuh, tapi secepat ini kamu mendapatkan pengganti ku" maki ku.
"Apa kamu bilang!" Lelaki itu membentak ku.
"Oh, jadi kamu selingkuhannya!" Ku tarik kerahnya.
"Di keluarga ku tidak menerima menantu dari keluarga besar Alfian Wijaya!" Ucap Dayat, rupanya dia Adik kelas ku dan aku mengenalnya kala itu.
"Jangan kau sentuh Nera ku, bisa-bisa mati muda jika hidup bersama mu" hardik Dayat.
"Sialan! Keluarga sialan!"
"Lalu kamu masih ingin memiliki Istri dari keluarga sialan? Dasar bajingan!" Dayat melepas tangan ku dari kerahnya dengan kuat, aku tidak menyangka Dayat akan melakukan perlawanan.
"Hey! Kamu itu yang sialan. Gara-gara kamu Nera menggantung cinta ku, jadi setelah putus dengan mu Nera akan menjadi milik ku, seutuhnya!" Dhani menimpali dan memaki ku.
"Tidak bisa!"
"Seharusnya kamu urus saja Risa, tanggung jawab semua perbuatan mu. Aku sebagai sahabat Risa tidak terima jika kamu pergi begitu saja" Dhani menceramahi ku.
"Dasar bocah bau kencur, apa buktinya!"
"Aku memiliki rekaman mu ketika di taman!"
"Dasar penguntit."
"Kamu saja yang bodoh, berkelahi di depan ku."
"Sialan kamu!" Fian melemparkan pukulan tepat di wajah Dhani membuat sudut bibirnya pecah.
"Brengsek! Bajingan! kamu pulang saja ke rumah orang tua mu! Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah mendapatkan Istri jika tidak merubah sikap mu itu!"
Aku sangat emosi, sehingga ingin sekali menghabisi Dhani. Baru maju selangkah, aku tidak sadar ada yang menendang tengkuk ku, setelah aku berbalik berapa terkejutnya jika itu Nera.
Nera menendang ku keras hingga aku tak sadarkan diri. Setelahnya aku tidak tahu apa lagi yang terjadi.
...***...
"Rekaman apa Dhan?" Tanya ku.
"Tidak ada Nera sayang, hanya menggertak saja."
"Bohong, pasti terjadi sesuatu sampai Fian begitu emosinya."
"Sudahlah, yang penting Fian sudah di antar ke rumah sakit. Ayo kita pulang saja." Dhani menggandeng lengan ku meski tidak menyentuh kulit ku.
Dia lebih suka menggandeng lengan ku dari pada telapak tangan ku, dia juga lebih suka mengelus kepala ku yang berlapis hijab dari pada menyentuh pipi ku. Aku suka itu, tidak seperti ketika bertemu Fian, dia langsung mencium pipi ku begitu aku lengah.
Aku benci itu, aku muak dengan Fian, aku ingin tidak lagi berhubungan atau pun melihatnya lagi, aku ingin hidup ku tenang tanpa dia.
Aku lelah, tidak ingin kembali ke acara meski baru separuh jalan. Di sana juga aku lebih memilih kuliner dari pada menyimak acara yang membosankan bagi ku, mungkin bosan karena tragedi tadi.
__ADS_1
Satu hal, cinta itu tentang menghormati bukan tentang menodai.