
Sesampainya di penginapan Ferdinan memesan dua kamar yang bersebelahan. Satu kamar untuk dirinya dan Angga, dan satu kamar lagi untuk para wanita.
Hari ini kami gunakan untuk istirahat atau mencari keperluan pribadi saja karena perlombaan akan di mulai esok hari.
Setelah melempar tas ke sembarang arah aku langsung rebahan sambil memainkan ponsel ku. Aku ingin menelpon ibu untuk mengabari sekalian meminta doa restu.
Tak berseling lama telepon di angkat. "Assalamualaikum" salam Ibu di seberang.
"Wa'alaikumsalam Ibu."
"Loh, kok bawa hp Nduk?"
"Iya Bu, Nera berangkat ke Kabupaten lanjutin lomba atlit kemarin. Minta doanya ya Bu."
"Alhamdulillah sudah berangkat, iya Nduk semoga menang lagi."
"Iya Bu, semoga go nasional."
"Iya Nduk, amiin."
"Ayah dan Ibu sehat kan?"
"Alhamdulillah, berkat doa kalian" kalian yang di maksud Ibu adalah aku dan Dayat.
"Alhamdulillah."
"Nduk, Ayah berpesan pada Ibu untuk menyampaikan ke kamu, jangan pacaran dulu jauh dari pantauan Ibu. Pacaran setelah menikah itu lebih indah" tutur Ibu.
"Kalau Nera sudah punya pacar bagaimana Bu?"
"Jangan, kamu tidak boleh punya pacar" suara Ibu mulai serius, padahal aku belum berniat memberi tahu Ibu jika aku sudah memiliki pandangan masa depan.
"Loh, kenapa sih Ibu ini tidak seperti biasanya. Nera hanya bercanda."
"Alhamdulillah kalau hanya bercanda, Ibu ingatkan lagi jatuh cinta setelah menikah itu jauh lebih indah. Lagian pacaran hanya mengundang setan untuk melakukan dosa."
Entah mengapa Ibu berbicara aneh, aku bingung harus bagaimana. Aku sendiri tidak ingin orang tua ku tahu jika aku sudah mempersunting pria yang akan menjadi suami ku jika Allah berkehendak.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan nasehat Ibu hanya saja aku merasa ada yang menjanggal.
Tapi jika tanpa restu orang tua pasti akan kesulitan dalam membangun rumah tangga yang bahagia.
"Ya Allah, aku harus bagaimana ini?" Aku sedikit tidak bersemangat mendapat interogasi dari Ibu.
"Nera? Kenapa diam saja?"
"Tidak ada apa-apa Bu."
"Ya sudah Ibu masih sibuk di warung. Niatnya akan menelpon mu nanti sore, tapi kamu sudah menelpon duluan."
__ADS_1
"Memangnya ada apa Bu ini kan bukan hari Jum'at, kemarin juga kan sudah nelpon aku mulai curiga dengan Ibu, tapi aku tidak berani berfikir macam-macam.
"Ibu rindu, hehe" Ibu terkekeh di seberang, namun terdengar kaku.
"Ah, Ibu lebay. Katanya sudah?" Aku mengingatkan Ibu yang katanya sedang sibuk.
"Iya, ya sudah. Hati-hati ya Nduk."
"Iya Bu."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut ku.
Setelah mendapat sahutan salam dari ku, Ibu langsung menutup teleponnya.
Aneh sekali Ibu hari ini. Aku merasa ada yang mengganjal sejak dulu aku tidak pernah di interogasi tentang laki-laki padahal tujuh puluh persen teman ku laki-laki.
...***...
Pov Dhani
Aku kaget bercampur kesal bagaimana bisa orang tua ku menyuruh ku meminang anak orang aku sendiri belum tujuh belas tahun, bahkan enam belas tahun saja baru masuk.
Aku hanya mencintai Nera, ibarat hati ku sudah ku letakkan di teras sehingga aku tidak merasa sakit ketika Nera mencampakkan ku dengan adanya pria lain, meski sedikit kecewa, tapi sejauh ini aku masih mencintainya.
"Usia ku baru masuk enam belas tahun, bagaimana jadinya jika aku harus menikah apa tidak ada pilihan lain, apa alasan Ayah meminta ku melakukan hal sesulit ini. Andai aku harus menikah apa aku bisa memilih Nera saja?" Batin ku terus ngedumel tidak jelas, benar-benar kusut otak ku pagi ini.
"Ya Allah, apa aku harus tirakat untuk meminta sesuatu yang harus? Berikan aku petunjuk yang jelas" aku tak henti berucap di dalam hati.
Pagi ini aku berjalan ke ndalem seorang diri, aku tidak ingin orang lain mengetahui tentang ini.
Dari kejauhan terlihat Nera dan rombongannya akan berangkat ke Kabupaten, saking kalutnya aku tidak tahu harus bagaimana di hadapan Nera, sekedar tersenyum pun terasa kaku bibir ini.
Di hati ku hanya ada Nera dan takkan terganti. Aku hanya ingin Nera yang menjadi istri ku kelak, aku tidak ingin yang lain, tapi aku tidak bisa melawan takdir Allah.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Nera jika aku memilih wanita lain. Aku tidak ingin Nera merasakan hal yang sama ketika Nera memilih pria lain dari pada aku, aku tidak ingin melakukan itu.
Sesampainya di halaman Abah sedang duduk di teras.
"Assalamualaikum" ku cium tangan kanan Abah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut Abah. "Ada apa?"
"Minta ijin pulang Bah" aku tidak memiliki bahasa lain karena hati ku sedang berkecamuk, aku terus tertunduk tidak berani menatap Abah.
"Pulang lagi, ada masalah apa?"
"Ada acara keluarga Bah, tidak bisa di wakilkan" aku tetap tertunduk.
__ADS_1
"Acara apa?"
"Saya di suruh meminang gadis Bah" aku sangat malu, karena ilmu ku belum tuntas tentang pernikahan.
"Kamu mampu?"
"Belum siap kehilangan Nera Bah, maka dari itu saya meminta ijin pulang untuk meluruskan masalah ini" selama di Pondok ini Abah menjadi tempat terbaik ku tempat ku menenangkan hati jika gundah mengenai Nera. Abah tahu semua yang ku alami di sini.
Alhamdulillah sedekat itu aku dengan Abah maka dari itu aku masih istiqomah adzan subuh karena di sana aku mendapat banyak sekali ilmu dari lisan Abah.
"Ya sudah, tiga hari saja, jangan lama-lama di rumah."
"Nggeh Bah."
"Wanita biasanya di nikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (ke islamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi. (HR, Bukhari no. 5090 Muslim no. 1466)"
"Nggeh Bah."
"Ya sudah, hati-hati di jalan" tukas Abah.
"Nggeh Bah, saya undur diri" kucium lagi tangan kanan Abah.
Alhamdulillah aku mendapat ijin meski hanya tiga hari, semoga saja tidak ada halangan untuk meluruskan masalah ini.
Aku di jemput langsung oleh orang kepercayaan Ayah dari Kalimantan. Sebenarnya sedikit risih dengan hal-hal yang berlebihan seperti ini.
Aku berjalan menyusuri asrama Pondok Kuno, Nera dan rombongannya sudah berangkat. Sekitar tiga ratus meter sampai di tempat yang di maksud Pak Bambang.
Beliau menginap di warung kopi karena sudah datang tadi malam. Aku menatap lurus warung kopi yang di maksud, sebelum aku sampai di depan pintu Pak Bambang sudah berdiri di sana.
"Mas Dhani, saya di sini."
"Iya Pak, kelihatan kok hehehe" aku terkekeh dengan ucapan Pak Bambang, begitu sampai di hadapannya aku mencium tangan kanan beliau.
"Mas Dhani ini selalu saja mencium tangan saya" Pak Bambang menepuk punggung ku pelan. "Tidak salah orang tua mu mendidik mu."
"Ayo Pak, langsung pulang saja. Saya hanya di beri ijin tiga hari saja."
"Oh, siap Mas, saya ambil tas saya dulu."
Setelah mengambil tas dan perlengkapan lainnya kami langsung pulang di antarkan oleh Bapak pemilik warung sampai ke bandara. Kebetulan sedang tidak repot.
Aku tidak banyak bicara dengan Pak Bambang, beliau terus saja bekerja menggunakan laptopnya. Aku hanya mengikutinya saja dari belakang.
Setelah cek in di ruang tunggu juga sama, hanya diam. Beliau masih sibuk dengan laptopnya. Aku tidak berani bertanya takut mengganggu. Meski beliau bawahan Ayah ku, sejatinya aku hanya bocah yang harus menghormati beliau sebagai orang tua. Itu salah satu contoh akhlak yang mulia yang di ajarkan Ayah ku sejak kecil.
Tak menunggu waktu lama pesawat yang akan kami tumpangi sudah landing dan persiapan akan masuk ke dalamnya.
Penerbangan kali ini di tempuh dengan waktu lima puluh tujuh menit, di dalam pesawat aku hanya mendengarkan musik dan akhirnya tertidur.
__ADS_1