
Dua hari setelah kepulangan ku Dayat pulang. Hari ini aku akan ikut Ayah untuk menjemputnya. Ibu tidak ikut karena ingin memasak untuk kita setelah pulang dari bandara.
Setelah jama'ah subuh dengan Ibu, aku menyiapkan sarapan sebelum berangkat sambil menunggu Ayah pulang dari masjid. Ibu sendiri sibuk membuat gorengan yang akan di jual.
Menu kita pagi ini tumis kangkung goreng lele. Panen kangkung sisa empat ikat belum terjual. Satu ikat di masak sendiri tiga ikatnya di taruh ember berisi air di teras warung Ibu siapa tahu ada yang akan membeli esok.
Sepulang dari masjid Ayah langsung menghidupkan mesin mobil, dan di tinggal sarapan.
"Sudah siap belum Nduk?" Ayah memasukkan bekal minum dan beberapa makanan berat Ibu yang menggoreng sekalian untuk di jual.
"Yah, jemput Kakak pakai truk saja bagaimana?"
"Kenapa pakai truk, tidak memakai ini saja" Ayah menunjuk mobil yang akan di pakai.
"Nera ingin mencoba nyetir di jalan raya, Nera kan baru belajar di sini-sini saja."
"Yakin, sudah siap kalau bersimpangan dengan mobil-mobil besar?"
"Insyaallah Yah."
"Tapi janji sama Ayah harus hati-hati ya."
"Siap! Komandan" aku memperagakan hormat di depan Ayah.
Akhirnya Ayah menyetujui permintaan ku. Aku ingin melancarkan mengemudi truk. Sudah sejak lama aku ingin mengemudi di jalan raya namun belum di ijinkan oleh Ayah, baru kali ini mendapat ijin.
Aku sudah pamit dengan Ibu dan duduk di kursi kemudi, saking semangatnya sampai tidak membantu Ayah memindahkan bekal dari mobil sebelumnya.
"Bagaimana, sudah siap melaju?"
"Bismillahirrahmanirrahim, siap Yah."
"Ayo jalan."
Ku lambaikan tangan ku pada Ibu, kemudian melaju dengan perlahan. Aku sangat bahagia di ijinkan membawa truk di jalan raya. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Kapan lagi mengemudi truk keluar kota selain hari ini, seusai liburan aku juga akan kembali lagi ke Pondok.
"Nanti setelah sampai di padepokan menepi sebentar ya."
"Iya Yah."
Lima menit kemudian, sampai di padepokan yang di maksud oleh Ayah dan aku menepi.
"Sudah sampai Yah."
"Gantian dulu sama Ayah, takutnya nanti ada razia karena kamu belum cukup umur dan tidak memiliki SIM" jelas Ayah.
"Oh iya Yah, tapi nanti pulangnya Nera yang nyetir lagi ya Yah."
"Iya."
Dari padepokan hingga masuk ke bandara Ayah yang mengemudi. Ayah melewati jalur lain karena membawa truk.
Sesampainya di bandara bertepatan dengan Dayat yang baru saja menghentikan langkahnya berdiri di depan loket taksi.
"Kakak" aku berlari kemudian memeluk Dayat, dia mengelus pucuk kepala ku yang berlapis pashmina sederhana sambil meniupkan doa di dahi ku.
"Ayah" ucap Dayat kemudian mencium punggung tangan kanannya.
"Ayo langsung pulang saja, Ibu sedang memasak untuk kita. Kalau lapar Ayah tadi membawa gorengan buatan ibu."
"Wah, ada pisang gorengnya tidak Yah?"
"Ada dong, kemarin Ayah menyempatkan membeli pisang sekalian membelikan petai untuk Adik mu."
__ADS_1
"Memangnya di belakang rumah tidak ada?"
"Masih muda, dua Minggu lalu Ayah baru saja panen pisang dan petai jadi masih pada muda sisanya" jelas Ayah.
Kamu berbincang sambil menuju mobil.
"Loh, Ayah membawa truk?" Dayat terkejut dengan kendaraan yang kita naiki.
"Adik mu yang meminta, ingin merasakan membawa truk di jalan raya."
"Hehehe" aku hanya terkekeh.
"Adik sudah pandai membawa mobil tapi masih belum cukup umur untuk memiliki SIM, jadi Ayah yang membawa setelah di padepokan."
"Dayat kira adik yang menyetir sampai sini."
"Tidak."
"Oh ya, kemarin Dhani mampir rumah tidak Yah."
"Tidak, dia hanya berhenti sampai di taman kota saja."
"Oh" sahut Dayat, kemudian menatap ku dengan alis bertaut.
"Kenapa Kak?"
"Apa kalian ada masalah, kemarin Kakak berpesan agar Dhani mampir ke rumah."
"Tuh kan benar apa kata Ayah, kalau Adik tuh ada sesuatu dengan Dhani" Ayah menimpali.
"Amiin" kata Dayat.
"Apanya Kak yang amiin."
"Terserah saja lah."
...***...
Pov Dhani
Uhuukkk... uhuuuukkkkk...
Di tempat yang berbeda ada yang tersedak padahal hanya bernafas.
"Abang, apa kabar dengan tenggorokannya?" Adik ku menatap intens.
"Ada yang membicarakan Abang mungkin."
"Wah, ada yang sedang rindu Abang nih."
"sstttt..." Ku letakkan jari telunjuk di bibir ku sendiri.
"Lagian, Abang juga aneh. Suka sama orang tapi diam saja."
"Tidak apa-apa asalkan tidak merugikan orang yang kita sukai."
"Iya deh, setuju."
Aku memang konyol di luar rumah, namun aku tidak seperti itu jika bersama keluarga ku, aku lebih pendiam dan belajar bijaksana. Ibu akan marah jika aku bertingkah laku aneh, bertindak konyol dan kepedean. Semua itu ku lakukan hanya untuk menghibur dan mencairkan suasana saja.
"Bang, ada yang datang" Ibu memanggil ku.
"Siapa Bu?"
__ADS_1
"Mahen."
"Mahen? Mahendra Dirgantara?" Tanya ku memastikan Ibu.
"Iya" sahut Ibu.
Aku menuju ruang tamu, benar saja Mahen sedang duduk sambil menikmati teh susu yang di suguhkan oleh Ibu. Itu salah satu kebiasaan Ibu, jika ada yang bertamu pasti menghidangkan minum dulu baru menanyakan apa keperluannya.
"Mahen" panggil ku.
"Dhani" sahutnya, kemudian kami berpelukan.
"Aku kira kamu tidak akan pulang ada acara reuni."
"Malah aku mengira kamu yang tidak akan pulang Dhan, kamu kan sekolah di Jawa."
"Iya alhamdulillah, di pertemukan lagi dengan mu."
"Bagaimana kabar mu sekolah jauh?"
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat saat ini."
"Alhamdulillah" Mahen mengucap hamdalah kemudian memeluk ku lagi.
Sejauh ini hanya Mahen yang mengetahui rumah ku, karena Ayahnya menjadi tangan kanan Ayah ku, dan Ibu yang memegang semua keuangan baik keuangan rumah tangga atau pun uang hasil kebun, jadi jika akan memberi gaji para karyawan memang Ibu yang sibuk sendiri. Maka dari itu Ibu ingin cepat pulang ketika mengantarkan ku ke Pondok.
"Apa kamu sudah mendapatkan cinta mu?"
"Belum, aku harus masih berjuang dan bersabar. Nera memiliki pria lain sebulan sebelum ke Pondok, dia bilang aku tidak peka."
"Kamu juga selalu memikirkan penolakan dari pada harus mencoba terlebih dahulu."
"Ya, dan aku sangat menyesal tidak mencoba dari dulu."
"Perbanyak lagi doa mu, jika memang dia jodoh mu pasti kamu akan mendapatkannya" Mahen seyakin itu.
"Semoga saja Allah memberi semua yang menjadi cita-cinta ku."
"Amiin ya Allah."
...***...
Hari ini adalah hari di mana membuat ku ingin sekali pulang. Aku sudah siap dengan gamis yang ku lapisi celana panjang sebagai dalaman, ku padukan dengan kerudung segi empat ukuran sedang.
"Dik, nanti Kakak berangkat bareng teman, kamu mau sekalian atau bareng sama siapa?" Dayat sedang memakai sepatunya.
"Aku berangkat dengan Mika saja lah, sudah janjian kemarin."
"Ya sudah hati-hati, nanti kalau sudah sampai kabari Kakak ya biar Kakak tidak khawatir."
"Okey."
Setelah berpamitan bersama kedua orang tua, aku berjalan kaki menuju rumah Mika. Dayat sendiri sudah berangkat.
Hanya memakan waktu tiga menit saja sudah sampai di halaman rumah Mika.
"Assalamualaikum" salam ku di depan rumah Mika yang terbuka sedikit pintunya.
"Wa'alaikumsalam" sahut Ibunya. "Mika sedang memakai kerudung, duduk dulu Nak di minum teh nya" lanjut Ibunya sambil menuangkan teh yang ada sedari tadi di meja ke gelas dan di berikan pada ku.
"Terimakasih Bu" ku terima gelas uluran dari Ibunya Mika tanpa pikir panjang langsung ku minum sampai tandas, kebetulan masih hangat.
"Nanti hati-hati di jalan ya anak-anak Mama" aku dam Mika mencium punggung tangan kanan ibunya Mika.
__ADS_1
Kami berpamitan karena taksi yang di pesan oleh mika sudah parkir di halaman rumah.