Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 46 KSD_Rasa Pengkhianatan


__ADS_3

Acaranya sangat meriah, sampai-sampai pintu masuknya di hias menggunakan bunga-bunga plastik seperti di acara pernikahan.


Aku dan Mika turun dari taksi, kebetulan ada Dayat. Ketika aku melewatinya aku hanya mengedipkan sebelah mata ku dan di balas dengan acungan jempol. Aku tidak perlu mengirim pesan untuknya jika aku sudah sampai.


"Kita ke mana Ka?" tanya ku pada Mika.


"Kita langsung menemui Risa saja, dia katanya datang bersama pacarnya. Di sana juga sudah ada Mahen dan Dhani" Mika menjelaskan.


"Mahen?"


"Katanya sih."


Ku buka tas selempang ku mengecek apakah cincin dari Dhani tertinggal atau tidak. Aku berencana ingin mengembalikannya saja. Biarlah ini terlalu indah di jari ku.


Aku sengaja memakai masker siapa tahu ada Fian di sini aku akan memberikan kejutan untuknya jika aku pulang. Saking seriusnya celingukan sampai tak sadar sudah sampai di mejanya Risa. Di sana juga ada Mahen dan Dhani seperti perkataan Mika.


"Maaf ya telat" ujar Mika.


"Ini siapa sih pakai masker" Mahen memperhatikan wajah ku yang tertutup masker.


"Tidak usah lebay ya" sahut ku.


"Wah, Nera pulang juga" entah apa maksudnya Mahen merangkul pundak Dhani, yang di rangkul fokus dengan ponselnya sambil cengar-cengir tidak jelas.


"Pulang dong, demi kamu ini."


"Demi aku, bukan demi sahabat ku?"


"Ya kali, tiap hari aku bersama sahabat mu."


"Wah" Mahen tepuk tangan tidak jelas, heboh sendiri. "Tapi kok pakai masker."


"Dekat kamu banyak polusi."


"Ris, mana pacar mu" ujar Mika.


"Lagi cari es katanya."


"Tidak menyangka kamu sudah memiliki kekasih, ganteng loh" Mahen paling cerewet di antara kita.


"Biasa saja, nanti bakal ku kenalin ke kalian semua. Kemarin sudah kenalan sama Dhani."


"Oh ya?"


"Iya, nanti bakal kenalan juga."


Suara emas milik Dhani masih tersimpan, ia sibuk sendiri dengan ponselnya sambil tertawa sendiri.


Aku tidak berani menyapa takut saja karena setelah kejadian di bandara dia tidak romantis lagi.


"Dhani mah sibuk membaca dari tadi. Katanya dia ngefans sama penulis di novel online."


"Oh ya?" Risa menanggapi.


"Cepat cari pacar Dhan, biar tidak baca novel terus."


"Nanti lah, nunggu pujaan hati membuka hati."


"Lebay kali."

__ADS_1


"Ra, kamu diam terus ada apa sih" Mahen menyenggol lengan ku yang berlapis lengan panjang.


"Lagian, bahasnya yang aku tidak tahu" sahut ku sekenanya.


"Eh jangan!" Dhani seperti tidak terima aktifitasnya terganggu karena Mahen mengambil ponselnya.


"Ini, biar kamu tahu" Mahen menyodorkan ponsel milik Dhani.


Rupanya sedang membaca karya ku, aku kira sedang apa dia tertawa sendiri. Aku mengira dia sudah mendapat pendamping baru.


"Hp ku mana" Dhani berusaha mengambil ponselnya namun di halangi oleh Mahen.


"Ini, semangat ya bacanya" kata ku.


Dhani terdiam lagi, fokus dengan ponselnya. Tiba-tiba mata ku tertuju pada seseorang yang sedang berjalan ke arah ku. Betapa bahagianya hati ini.


"Eh ada Dhani juga ya?" Ujar orang yang baru datang.


Aku yang tadinya ingin melepas masker, ku urungkan karena Fian mengelus rambut Risa.


"Ini Fian kan, aku tidak salah lihat, aku paham betul dengannya. Meski pertemuan dengannya baru sekali tapi aku memiliki banyak fotonya" batin ku.


"Wah, ganteng banget pacar mu" Mika antusias.


Dhani yang di sapa hanya menatap sambil senyum sekilas.


"Semoga saja berjodoh" sahut Risa.


"Brengsek, ini tidak bisa di biarkan. Tapi aku tidak boleh ceroboh. Di sini aku atau Risa yang menjadi selingkuhannya" batin ku.


Dalam waktu sekejap hati ku hancur. Seperti inikah rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintai kita.


Mahen mendadak menjadi pendiam, Dhani juga acuh, hanya Mika yang berbicara banyak.


Aku menjadi orang asing di depan pacar ku sendiri, aku jadi risih dengan tatapan sekilas yang Fian lakukan berkali-kali. Aku merasa jijik dengan tatapan menggoda itu. Lihat saja jika kamu tahu ini aku. Tidak ada kata maaf untuk pria sialan seperti mu.


"Silahkan di minum" rupanya membeli es buah.


Aku melihat dengan kepala ku sendiri, pacar ku romantisan dengan orang lain. Sungguh hancur berkeping-keping rasa ini.


"So sweet banget sih, pasti sudah lama kalian berpacaran" tanya Mika lagi.


"Hampir enam bulan" sahut Risa gamblang, segamblang selingkuhan ini.


"Sialan!" Batin ku, ingin rasanya ku hajar saat ini juga.


Tidak salah jika dia kesepian, tapi dia tidak komitmen dengan perjanjian yang selalu menjaga hati. Apa ini karma untuk ku karena aku memiliki Dhani? Tapi aku jujur dengan Dhani jika aku memiliki kekasih.


"Senang bertemu dengan teman-teman Risa, kenalin aku Fian" Fian mengulurkan tangan kanannya pada Mika, dia tidak sadar jika di tatap oleh Fian dengan tatapan aneh bagi ku.


"Mika" sahutnya sambil menerima uluran tangannya.


Tidak sadar aku mencubit paha Mahen.


"Aw, apaan sih" Mahen menatap ku sekilas, aku hanya diam.


"Apa kabar Dhani" Fian mengulurkan tangannya, dan di terima oleh Dhani.


"Alhamdulillah, aku masih waras" Dhani menatap sekilas kemudian kembali fokus ke ponselnya lagi.

__ADS_1


"Halo" kini giliran Mahen.


"Hai, aku Mahen."


Sesampainya dia mengulurkan tangan pada ku, aku hanya menangkupkan telapak tangan ku di depan dada, kemudian Fian menarik uluran tangannya dan melakukan hal yang sama dengan ku.


"Maaf, kenalkan aku Fian. Dari tadi kamu tidak bersuara" rayuannya untuk ku, terlihat jelas dari matanya tatapan penggoda.


Ku buka masker ku. "Salam kenal, aku Nera" Fian terkejut, aku tersenyum sekilas. "Semoga bahagia" aku pura-pura tidak mengenal saja.


"Seger banget es nya, di coba deh Ra" Mahen mengambilkan satu untuk ku.


"Dhani meminum esnya sedikit."


Aku meminum es yang di ambilkan oleh Mahen, Fian masih bingung ingin melakukan apa, dia hanya diam sambil tertunduk.


"Kok rasanya aneh ya?" Ujar ku.


"Aneh bagaimana, ini manis" Mahen meminum esnya lagi.


"Sini aku coba" ku minum sedikit milik Mahen. "Rasanya kok kaya gini ya?"


"Kaya apa sih, punya ku biasa saja" Dhani menoleh pada ku.


"Masa sih, coba punya mu."


Dhani memberikan esnya pada ku, tanpa pikir panjang ku minum sampai tandas.


"Kok di habiskan sih?" Protes Dhani.


"Punya mu enak."


"Perasaan di tempat yang sama" kata Fian.


"Beda, punya Dhani rasa kasih sayang, yang lainnya rasa pengkhianatan" sarkas ku, Fian tertunduk lagi.


"Aku mau pulang, siapa tahu rumah ku masih terbuka" ku bawa tas selempang ku dan beranjak.


Fian mendekati ku. "Nera, ini tidak seperti yang kamu lihat" Fian berdiri di depan ku.


"Terus seperti apa?"


"Aku... aku..."


"Sudahlah, aku sudah melihat dengan kepala ku sendiri. Aku juga memiliki rumah untuk kembali" aku pergi begitu saja.


"Terus bagaimana hubungan ini?"


"Kamu tanya bagaimana hubungan ini?" Aku berbalik. "Kita putus."


"Aku tidak memiliki ruang hati untuk pria brengsek sepertimu, sialan!"


Aku berlari meninggalkan mereka. Dhani sudah bangkit dan berdiri di samping ku, di ikuti Mahen yang sedang bersiap.


Aku berjalan cepat takut air mata ku keluar.


"Jadi ini kamu mencubit paha ku?" Mahen manggut-manggut. "Tidak sesakit pengkhianatan sih" lanjutnya.


"Rumah mu masih terbuka" kata Dhani sambil merentangkan lengannya. Tanpa pikir panjang aku memeluknya, aku sudah tidak memikirkan dosa untuk memeluk Dhani. "Menangislah" katanya.

__ADS_1


Fian juga tidak mengejar ku lagi, apa yang terjadi padanya aku tida perduli.


__ADS_2