Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 23 KSD_Dayat Akan Berkunjung


__ADS_3

Hari ini hari belajar se asrama. Santri yang biasanya membaca novel, sekarang membaca buku pelajaran. Santri yang biasanya hanya makan jajan sambil ngobrol, juga membaca buku pelajaran. Semua santri fokus dengan bukunya masing-masing.


Aku sendiri masih menulis kerangka cerita novel selanjutnya. Ibu memberi kabar jika idul adha Dayat akan berkunjung dan menginap beberapa hari di sini. Tujuan utamanya menjemput novel selanjutnya, tujuan kedua menjengukku.


Dasar kakak tidak punya hati, bukannya adiknya diprioritaskan malah di nomor duakan. Di duakan dari karyaku sendiri.


Sebenarnya Dayat bisa berkunjung kapan pun, karena posisinya sedang mengabdi di sana. bukan santri SMK lagi.


Aku paling malas jika harus belajar di malam ujian, karena tidak akan masuk semua. Cara efektif dan efisien belajar itu ketika mendengarkan guru menjelaskan, kemudian memahami. Disitulah otakku bekerja. Aku sudah hampir hafal semua inti dari pembelajaran selama ini. Itu trik yang di ajarkan oleh Dayat untukku.


"Ra kamu tidak belajar?". Ida melirik bukuku.


"Sudah".


"Kapan?".


"Ketika guru menjelaskan dan saat itu juga harus faham".


Mungkin santri lain menganggap ku bodoh, banyak tanya, tak paham-paham dengan materi. Namun aku tidak akan berhenti bertanya jika belum benar-benar paham apa inti dari pembelajaran yang sedang berlangsung. Itu modal untuk ujian.


...***...


"Apakah di pondok tidak ada hal contek-menyontek?". Aku masih terkejut dengan keadaan. Biasanya tidak ada satu pun santri yang memegang buku pelajaran. Namun sesekali memegang kitab hafalan.


Hari ini hampir semua santri memegang buku pelajaran. Untuk apa lagi kalau bukan belajar.


"Ada, hanya saja pada pelit banget. Makanya pada belajar semua". Sahut Rani.


"Kamu juga suka nyontek Ran?". Kulirik Rani yang sedang membaca buku juga.


"Kalau kepepet, hahaha".


"Dasar ya". Kali ini Ida ikut bersuara.


Setelah membaca Asmaul Husna, Al-fatihah, sholawat, dan doa belajar, setiap santri mengambil kartu ujian yang sudah di terima oleh ketua kelas dari TU SMK. Setelah mendapat kartu ujian langsung menyisir setiap ruangan mencari tempat duduk masing-masing.


Aku tidak satu ruang dengan Ida dan Rani. Namun mereka satu ruangan dan duduk berdekatan. Sebuah keberuntungan untuk mereka.


"Andai Dhani satu ruang dengan ku, pasti tidak akan susah payah berfikir". Keluhku dalam hati.


Ujian berlangsung dengan tenang, tidak ada tanda-tanda contek-menyontek. Aku telah menyelesaikan ujian pertamaku dengan lancar. Alhamdulillah.


Waktu bel istirahat kurang 15 menit lagi. Terdengar krusak-krusuk santri dengan wajah panik dan penuh harap.


Dengan bahasa isyarat yang sudah mereka kuasai mulai melempar pertanyaan dan jawaban masing-masing. Ternyata di pondok sama di sekolah umum sama saja seperti ini jika ujian.


...***...


Pov Dayat

__ADS_1


"Assalamualaikum Gus".


"Wa'alaikumsalam, ada apa Day?".


"Minta ijin Gus, idul adha Niki ijin ningali adik teng Jepara. Nek angsal tigang ndinten mawon". Aku merunduk menunggu jawaban Gus Alvi. Putra Abah nomor empat, aku mengabdi kepada beliau.


"Kok lama sekali, tidak dua hari saja?".


"Mboten Gus, Nek di paringi ijin nggeh tigang ndinten".


"Baiklah, asalkan jangan gunakan waktumu dengan hal yang tidak berguna".


"Nggeh Gus".


Alhamdulillah, aku bisa mengunjungi adikku. Apa kabar Nera, kakak akan datang. Ada kejutan besar untukmu. Bukan kedatanganku yang menjadi kejutan, karena ibu sudah menyampaikan padanya jika aku akan datang.


Adikku yang terkenal bandel, sering di ta'zir karena kelahi aku jadi penasaran seperti apa wajah Dhani yang membuat adikku jadi bar-bar seperti ini.


Aku akan membawakan beberapa kesukaannya dari sini. Aku juga membawa banyak oleh-oleh untuk Rinda. Dia kekasihku tanpa sepengetahuan Nera. Tapi apakah Rinda tidak bercerita dengan Nera?.


Entahlah, yang terpenting sekarang aku akan membelanjakan mereka berdua. Semoga saja Rinda menjadi jodohku, dia wanita yang pandai dan anggun. Aku sudah terpikat dengan sopan santun, dan profesionalnya dalam segala hal.


...***...


Ujian berakhir, tidak ada hal istimewa di dalamnya. Karena aku harus berfikir keras untuk mengingat semua materi yang di ajarkan tanpa bantuan Dhani. Biasanya aku tinggal santai dan menyalin hasil kerja milik Dhani. Alhamdulillah, meski tidak ada Dhani di belakangku semua lancar-lancar saja ketika menjawab soal ujian.


Hafalan yang di anjurkan sesuai dengan tingkatannya. Dari MI, Mts, Ma, SMK, ataupun jenjang lainnya.


Minggu depan semua temanku pulang, hanya aku dan dua pengurus yang tidak pulang. Mereka mendapatkan tugas berjaga asrama.


Enaknya, kalau liburan begini bebas dengan gadget. Alhamdulillah, bisa membuka noveltoon setiap hari. Aku ingin melihat berapa pendapatan ku selama empat bulan terakhir.


"Kamu yakin bakal menjadi penunggu asrama?". Ida meyakinkanku lagi.


"Iya, kan wifi disini lancar untuk online. Atau kamu mau disini saja, nanti biar aku request Angga tidak pulang".


"Emangnya Dhani tidak pulang juga?".


"Kurang tahu juga aku, lihat saja besok".


"Pengen liburan di pondok?". Dahlia meyakinkan Ida. "Angga biasanya pulang ikut temannya. Mungkin Dhani juga ikut". Lanjut Dahlia.


"Biarlah, aku ingin online sepuasnya dengan WiFi gratis". Sahutku bangga.


"Dasar, tampang gratisan".


"Yang penting sehat, hahaha". Aku tertawa lepas.


"Oh ya Ra, kamu mau nitip apa kalau aku kembali". Rani menawarkan pendapatnya.

__ADS_1


"Belikan aku daun bawang aja, 10 ribu. Untuk toping masak mie nantinya".


"Apa lagi". Kini Ida juga ikut menawarkan diri.


"Telor satu piring. Nanti duitnya ku ganti. Aku belum ada kiriman. Apa aku transfer saja uangnya.


"Boleh Ra, lagian kalau di rumah kita paling megang uang 50 ribu saja. Itupun kalau ijin main". Ida menggerutu.


"Bersyukur, kamu kan makan dirumah bukan di warung".


"Iya, bener juga Ra".


...***...


Pov Dhani


"Riz kamu yakin liburan tidak pulang? Rumahmu loh hanya beberapa meter dari sini". Aku meyakinkan lagi tentang Rizky yang ingin menemaniku liburan di pondok. Padahal rumahnya hanya 400 m dari pondok.


"Elaaah, tidak percaya sekali".


"Lagian, orang lain ngebet banget pulang padahal rumah mereka jauh. Bahkan ada yang sehari penuh di perjalanan".


"Maka dari itu, kita bisa masak apa saja di pondok. Nanti kita ambil wajan sama perlengkapan masaknya di rumah ibuku".


"Aku ada ide, bagaimana kalau kita beli wajan saja, kamu ijin belanja keperluan kita seminggu. Kan ada freezer disini".


"Kalau beli banyak duit Dhan".


"Pakai uangku. Kita berdua ijin saja kepada Abah. Minta tolong ayahmu yang mengijinkan kami". Ini masih ide dari ku. Rizky mah nurut saja.


Lagian, di asrama ada kompor tapi antri panci untuk masak mie saja sampai berjam-jam. Lebih baik membawa sendiri, kapan pun ingin masak tinggal antri kompor saja.


"Berapa uang mu?". Rizky masih tak percaya denganku.


"Ada lah, nanti aku membelikan wajan untuk Nera juga. Di asrama putri juga mesti ada kompor kan".


"Okey lah, aku manut".


Sesuai dengan fikiranku, Rizky nurut saja dengan pendapatku.


"Dhan, kita sekalian membeli bumbu sate, biasanya di pondok ada daging kurban, nanti kita bisa nyate bersama dengan santri yang tidak pulang".


"Oh ya, asik juga tidak pulang".


"Iya, dulu juga pernah nyate terpanjang di sini. Santrinya tidak pulang".


"Andaikan momen itu bisa terjadi lagi". Aku berharap saja, padahal belum tahu apa niatku jika itu terjadi.


Tapi tidak mungkin juga jika nyate bareng santri putri.

__ADS_1


__ADS_2