
Pov Iza
Hari semakin sore, sudah sembilan puluh persen santri putri kembali ke asrama. Hampir semua santri bercerita tentang liburannya. Tidak beda dengan ku dan kedua sahabat ku, Ida dan Rani. Mereka menceritakan liburannya ke berbagai tempat wisata. Aku hanya pendengar saja.
Suasana Pondok sudah kembali seperti semula. Kompor dan gas sudah kembali ke ruang makan, ponsel dan laptop sudah kembali ke kantor pusat, aku juga sudah kembali menata hati di penjara suci. Tidak seperti ketika liburan. Semua serasa di rumah. Bebas, lepas, tanpa batas.
Menjelang Maghrib, para santri sudah siap dengan mukenanya masing-masing siap untuk berjamaah.
Semua sudah kembali seperti biasa. Kegiatan kami hanya ngaji, sekolah, jama'ah, istighosah, dan berbagai macam tugas serta ta'ziran. Hanya itu kegiatan di Pondok.
Tidak ada perubahan banyak untuk ku selain Nera yang baik pada ku. Marissa masih saja ingin bergulat dengan Nera karena mempermasalahkan Dhani. Dia masih ingin bersaing dengan cara itu.
Marissa mengibarkan bendera perang ke pada Nera meski ini masih hari pertama. Itu rencana Marissa yang di bicarakan tadi ketika akan jama'ah Isya.
"Da, ada Nera tidak?" aku menghampiri Ida dan Rani.
"Sedang ke kamar mandi Mbak, ada apa ya?" Sahut Ida.
"Tidak ada yang penting sih, aku hanya ingin memberikan ini pada Nera, untuk kalian juga" aku memberikan dua buah es cappucino pada Ida dan Rani. "Join saja ya, Ayah ku tidak membawa banyak" lanjut ku.
"Terimakasih ya Mbak" ternyata Nera sudah selesai mandi dan berdiri di samping ku.
"Ini belum seberapa dari yang kamu berikan pada ku."
"Jangan lebay deh Mbak."
"Ya sudah, aku kembali dulu."
Sekembalinya dari kamar Nera, aku ke ruang makan karena ini waktu makan malam. Nera dan ke dua temannya sangat ceria, itulah sikap mereka setiap hari. Aku jadi merasa tentram melihat keseharian mereka, seperti tidak memiliki beban hidup saja.
"Za kamu sudah baikan sama Nera, baguslah kalau begitu." Billa menyadarkan lamunan ku.
"Alhamdulillah, Nera orang baik. Aku jadi menyesal tidak baikan dari dulu."
"Lagian kamu tidak mendengar kata-kata ku."
"Iya Bil, Nera menghabiskan banyak uangnya hanya untuk mentraktir ku."
"Berapa banyak?"
"Hampir empat ratus ribu, aku memang menulis rinciannya. Bahkan dia juga mentraktir Rizky sebelum ke pasar."
"Ke pasar? Kok bisa ke pasar?"
"Iya" aku menceritakan semua yang ku alami di Pondok selama liburan bersama Nera. Tak lupa tentang Kakaknya yang juga baik hati dan bijaksana. "Katanya kalau liburan depan aku menemani liburan lagi bakal di traktir lagi."
"Baik banget ya, Apa sih pekerjaan orang tua nya?"
__ADS_1
"Mereka bilang hanya petani, petani sawit. Ada beberapa ratus hektar katanya. Kalau Ayahnya Dhani malah memiliki pabriknya."
"Itu bos namanya. Sawit loh mahal, sampai berton-ton kali ratusan hektar mah."
"Kata siapa Bil, kok kamu tahu."
"Saudara ku ada yang kerja di PT sawit di Kalimantan. Pekerja sopir saja sampai belasan juta gajinya. Apa lagi yang punya kebunnya."
"Oh ya? Jadi penasaran berapa jatah mereka satu bulan."
Tiba-tiba Nera duduk di samping ku membuat ku terperanjat.
"Sejuta lima ratus Mbak, sebulan" Nera duduk di samping ku.
"Masa, aku saja dua juta untuk traktir segitu banyak mikir dua puluh tujuh kali Ra."
"Kalau yang traktiran kemarin bukan uang bulanan, tapi rejeki tidak terduga."
"Yang bener Ra" Billa menimpali.
"Bener Mbak, tapi lain kali jangan gosip orang di sampingnya ya" Nera pergi sambil tertawa.
Aku baru sadar jika Nera duduk tepat di belakang ku ketika makan. Aku jadi merasa bersalah.
"Kena kamu Za" Bila meninggalkan ku yang masih terpaku.
...***...
Benar-benar berjubel sekali antriannya. Bahkan setiap malam Jum'at jual bakso selalu ludes tanpa sisa. sebenarnya malas sekali jika harus antri sepanjang ini, tapi hati ini ingin mencicipi bakso yang selalu ramai.
"Berapa Mbak" kata santri yang membantu membungkus bakso.
"Lima bungkus lima ribuan" jawab ku.
Mbak yang membantu terlihat sangat terampil dan cepat.
Membeli lima ribu rupiah mendapat dua belas biji pentol seukuran ibu jari kaki. Rasanya juga tidak kebanyakan tepung. Dagingnya sangat terasa. Pantas saja selalu ramai dan habis.
"Bagaimana Ra, apa kamu suka?" Tanya Rani pada ku, tapi sorot matanya tidak berpindah dari televisi.
"Bikin nagih, tapi kalau antri lagi bakal percuma" keluh ku.
Rani dan Ida membeli dua bungkus, sedangkan aku sangat menyesal membeli satu bungkus saja. Rasanya nikmat sekali.
"Nera, ini untuk mu" Iza memberikan sebungkus bakso pada ku.
"Kalau rejeki mah jangan di tolak" ucap ku sambil menerima bakso dari Iza. "Traktiran apa bayar Mbak?"
__ADS_1
"Untuk mu saja, kamu pasti ketagihan kan hanya membeli satu bungkus. Sudah tahu situ-nya doyan pentol beli satu doang" kata Iza sambil berlalu. Aku hanya nyengir menatap kepergian Iza.
Tahu saja jika aku hanya membeli satu bungkus, padahal aku tidak melihat Iza di antrian.
"Cie, Kakak baru" Rani meledek ku.
"Ini gratisan coy!" Sahut ku sambil melirik Rani sekilas.
"Sama saja lah, lama-lama juga bakal jadi Kakak."
"Tidak, aku tidak suka Kakak Adik di sini. Kalau Kakak ipar mau sih."
"Kamu mau Iza menjadi Kakak ipar mu" kata Ida.
"Bukannya tidak mau, tapi itu pilihan Kakak ku siapa saja yang cocok pasti bakal ku terima."
"Aku mau kalau gitu" sahut Ida.
"Kamu mah Adik ipar" sahut ku sambil menyenggol lengannya keras.
"Adik dari mana, yang ada kamu Adiknya. Kak Angga itu kan Kakaknya Dhani."
"Yang ada Kak Angga itu Adik sepupunya Dhani meski lebih tua."
"Kok bisa?"
"Ayahnya Kak Angga Adiknya Ibunya Dhani" jelas ku singkat.
"Pantas saja" Ida manggut-manggut.
"Makanya yang sopan sama Kakak ipar!!"
"Okey, maafkan aku ya Kak" Ida cekikikan setelah mengucapkan kata tersebut.
Aku hanya memutar bola mata ku malas. Selalu saja seperti ini jika bertemu Rani atau pun Ida. Tapi tidak pernah bosan dengan mereka.
Selesai memakan dua bungkus bakso aku bergegas ke tempat wudhu untuk cuci muka dan sikat gigi persiapan tidur. Hari ini aku malas sekali untuk melakukan apa pun selain tidur.
Andaikan tidak Ada kegiatan di hari Jum'at pagi mungkin setelah sholat subuh aku akan menghabiskan waktu ku untuk tidur.
Setelah membentangkan kasur di halaman aku langsung tertidur tanpa menunggu Ida dan Rani yang sedang menonton televisi di aula. Rasa kantuk menyerang ku begitu saja.
"Ra, kamu kok tidur duluan sih, apa kamu tidak ingin santai dulu nonton. Seminggu lagi baru ada nonton lagi" Ida membentangkan kasur di samping ku.
"Aku sudah tidak kuat, lelah badan ku."
"Okey, aku nonton dulu. Happy nice dream ya."
__ADS_1
"Hmmm."
Setelah itu aku tidak mendengar apa pun lagi selain berkelana di alam mimpi yang terlihat sangat nyata.