
Sebelum benar-benar berangkat kami matur Abah dulu ke ndalem.
"Hanya berdua terbangnya?" Tanya Abah pada kami.
"Bertiga dengan Kang Dayat."
"Dayat Kalibeber?"
"Nggeh Bah" hanya Dhani yang sedari tadi menjawab pertanyaan Abah, aku hanya diam.
"Sampaikan salam ku ya."
"Nggeh Bah."
"Ya sudah hati-hati di jalan."
"Nggeh Bah."
Dhani salim pada Abah, aku hanya menangkupkan telapak tangan ku di depan dada pada Abah.
Sebelum memasuki mobil aku meminta ijin ke pada Kang Jefri untuk menunggu ku sebentar, aku ingin ke asrama BN terlebih dulu.
"Dhan, ayo ikut" kata ku.
"Aku?" Dhani menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, ini tentang penggemar mu."
"Kok bisa?"
"Makanya, tidak usah banyak tanya dulu."
"Okey, ayo" Dhani mendahului ku berjalan.
Tak perlu menunggu lama Retno dan Mia keluar dari asrama kebetulan ingin berangkat sekolah.
"Loh, sampean mau ke mana Mbak?" Retno terkejut dengan kehadiran ku.
"Mau pulang, liburan ini aku tidak jadi liburan di Pondok. Ada acara mendadak."
"Yaah, tidak bisa kenalan sama Kang Dhani dong" Retno terlihat kecewa.
"Ini ada" Dhani tiba-tiba muncul di samping ku sambil melambaikan tangan kepada Retno dan Mia. "Hay."
"Lebay ah, biasa saja kenapa tidak usah narsis."
"Ya maaf" sahut Dhani.
Kebetulan sudah sepi karena sudah jam setengah delapan. Kebetulan sekali Mia dan Retno sedang piket hasduk karena di lehernya ada hasduk yang di kenakan. Jadi tidak perlu menitip salam ke pada pengurus.
Seketika mata Retno berbinar. "Waah, ini nyata kan, tidak mimpi" Retno mencubit lengannya sendiri, kemudian kesakitan. "Ini sakit."
"Iya ini nyata. Semoga lain waktu bisa liburan di Pondok ya" Dhani berucap.
"Iya Kang."
"Semangat ngajinya" Dhani menyemangati Retno.
"Aku tidak di semangati?" Timpal Mia.
"Kalian berdua para penggemar ku semangat dong."
"Aku lebih menggemari Kak Angga, dia lebih elegan. Hehee" Mia terkekeh.
"Iya deh, iya" Dhani pasrah.
Mia dan Retno memeluk ku erat.
"Oleh-oleh ya Mbak."
"Okey."
"Hati-hati di jalan semoga selamat sampai tujuan, dan balik lagi ke Pondok."
"Iya."
"Bay!" Dhani melambaikan tangan ke pada mereka yang di balas senyuman sangat manis oleh Retno. Mia hanya terkekeh geli melihat tingkah Dhani.
"Ada saja kamu tuh" ku lirik sekilas Dhani yang berjalan di belakang ku.
"Namanya juga jumpa fans."
"Lebay."
...***...
__ADS_1
Sepanjang perjalanan aku hanya mengamati rumah-rumah, toko, gedung-gedung yang menjulang beberapa lantai, dan masih banyak lagi berbagai tugu. Sampai aku tak sadar jika aku sudah tertidur.
Entah berapa lama akhirnya sampai di Bandara.
"Ra, Neraa... Bangun. Sudah sampai" Dhani mengguncang lengan ku.
"Huaam..." Aku meregangkan otot-otot ku yang lemas setelah tidur. "Sampai mana?"
"Sampai Bandara."
"Oh ya!" Aku terperanjat.
"Ayo bangun, satu jam lagi pesawatnya lepas landas."
"Masih satu jam juga."
"Iya, tapi apa kamu mau kembali lagi ke Pondok?"
"Iya deh, iya. Aku bangun."
Akhirnya dengan mata masih mengantuk aku keluar mobil dan duduk di kursi tunggu sambil menunggu Dhani yang sedang berbicara dengan Kang Jefri, mungkin pamitan.
Setelah kang Jefri melesat menjauh, aku berjalan mengikuti Dhani ke mana pun ia pergi. Mata ku benar-benar masih berat.
"Aduh, kesayangan. Kamu mau ikut ke toilet pria?"
"Aku masih ngantuk."
"Selesaikan hajat mu, jangan lupa wudhu biar tidak ngantuk."
"Iya."
"Nanti kalau sudah selesai tunggu di sini sampai aku keluar."
"Iya."
Seusai dengan hajat ku, aku duduk di kursi yang di maksud oleh Dhani tadi. Sambil menunggu aku membuka ponsel ku sekilas melihat-lihat berita hari ini.
"Sudah selesai?" Dhani berdiri di depan ku.
"Sudah."
"Ayo cek in, Kakak mungkin sudah ada di dalam."
"Oh ya?"
Kami jalan beriringan menuju antrian untuk cek in.
Entah dari mana Dhani mendapat tiketnya, sejak kemarin dia hanya membawa KIA ku.
Sepanjang cek in aku selalu berdiri di belakang atau di sampingnya. Kalau berdiri di depannya takut jikalau di tinggal atau sembunyi.
Kan tidak lucu kalau aku kebingungan mencari bocah tengil kesayangan seperti Dhani.
Setelah melewati beberapa pengecekan data akhirnya sampai juga di ruang tunggu. Aku hanya mengikuti langkah Dhani dari tadi.
"Assalamualaikum" Dhani mengangkat panggilan.
...
"Oh, okey. Tidak masalah."
...
"Iya, wa'alaikumsalam" Dhani menutup panggilannya.
"Ra, Kakak tidak jadi pulang hari ini katanya membantu kepindahan Gusnya."
"Hmm ..."
"Ya sudah, kamu sudah siap terbang berdua dengan ku hari ini?"
"Banyak kok penumpang lain."
"Sini duduk" Dhani membuka ranselnya.
Aku kira Dhani membawa pakaian satu tas besar ternyata isinya hanya cemilan dan dompet saja. Pantas saja tidak merasa berat dengan ransel yang gemuk.
"Iya, berapa tiketnya aku belum bayar."
"Sudah lunas."
"Ternyata uang mu banyak juga ya."
"Insyaallah cukup untuk hidup dengan mu dan empat anak."
__ADS_1
"Kacau sekali pikiran mu."
"Beneran, aku ingin memiliki empat anak nanti dari mu."
"Sudahlah, cari maharnya saja dulu."
"Sudah ada kalau masalah mahar mah."
"Terserah mu saja lah."
Aku masih enggan memikirkan rumah tangga, karena masih belum siap meski hanya memikirkannya saja.
Pikiran ku kali ini hanya tentang belajar dan mengaji saja untuk bekal di masa depan saja masih baru mulai.
Sambil menunggu pesawat landing, aku menghabiskan banyak cemilan dari ransel Dhani. Sang pemilik ransel hanya fokus dengan ponselnya.
Dari jadwal penerbangan waktu landing pesawat yang akan kami tumpangi masih tiga puluh lima menit lagi. Dari pada bosan aku mengeluarkan laptop dan sebuah buku gelatik yang berisi satu novel tamat.
Aku mulai mengetik.
"Mana, aku saja yang mengerjakan" Dhani mengambil alih pekerjaan ku.
"Tidak usah, aku bosan jika hanya duduk."
"Habiskan jajannya, aku sengaja membawa banyak hanya untuk mu."
"Terimakasih deh, kamu memang yang terbaik."
"Baru sadar?"
"Baru kerasa baiknya."
"Jadi ini hasilnya, selama kamu bertelur di perpustakaan. Sudah lama rupanya menjadi penulis."
"Bertelur pala mu botak."
"Iya kan, kamu memang hobi bertelur di perpustakaan bersama Risa dan Mika. Sudah berapa banyak hasil jual telur."
"Hmmm..." Aku memutar bola mata ku jengah.
"Kecepatan mengetiknya lumayan juga, dua puluh menit mendapat tujuh bab. Tidak rugi kalau mempekerjakan mu."
"Cukup kamu bayar dengan kasih sayang mu saja. Aku rela begadang tiap malam hanya untuk mu."
"Lebay."
"Landing kurang sebelas menit lagi, mendingan siap-siap. Apa lagi yang perlu di beli?" Dhani mengingatkan ku.
"Sudah, cemilan mu juga masih banyak."
Kami hanya memainkan ponsel masing-masing.
...***...
Pov Dhani
Pengumuman untuk memasuki pesawat sudah di sampaikan, aku berdiri kemudian menggandeng lengan Nera yang terbalut almamater Pondok.
"Ayo cepat, sebentar lagi kita akan mengudara."
"Pelan sedikit kenapa, kalau pakai sarung itu harus elegan jalannya."
"Iya, Nanti selama penerbangan biar aku yang melanjutkan novel mu."
"Terserah kamu saja lah."
Sampai masuk ke dalam pesawat sepertinya Nera masih belum tahu di mana ia duduk karena tiket masih ku pegang, nyatanya dia tidak protes.
"Duduk di belakang tuh lewat pintu belakang lebih cepat. Sudah tahu kursi nomor tiga dari belakang masih saja lewat depan" Nera menggerutu.
Aku sengaja melakukan hal ini supaya Nera cemberut, karena dari awal keberangkatan dia masih belum kesal karena ulah ku.
"Lega rasanya" bukannya menjawab aku malah mendaratkan bokong ku di kursi sesuai tiket ku.
"Ih, kamu ini!"
"Sampai Bandara siapa yang menjemput?"
"Ayah."
"Aku nebeng ya sampai bundaran. Ayah mu pakai mobil kan?"
"Emang tidak jauh dari bundaran?"
"Banyak yang mau mengantar nanti."
__ADS_1
"Okey."
Setelah memberikan laptop dan buku sebelumnya, Nera langsung tertidur.