Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 29 KSD_Nomor Nera


__ADS_3

Pagi ini tinggal aku dan Iza saja di aula. Rinda sudah pergi entah ke mana. Selama liburan aku bisa tidur seenaknya di aula dengan menumpuk beberapa kasur milik santri lain yang sedang pulang.


Bisa menonton televisi sepuasnya tanpa harus memikirkan tagihan listrik, karena akses Pondok sudah di tanggung biaya bulanan.


Biaya bulanan sudah mencakup makan tiga kali sehari, air, listrik, internet, sekolah, ngaji, tempat tidur, dan masih ada beberapa hal lagi yang mungkin author tidak tahu.


"Mbak, kok sepi ya" aku menyalakan televisi.


"Iya, Mbak Rinda ke mana ya padahal masih jam lima lebih" Iza juga masih bermalas-malasan di atas kasur.


"Mandi saja yuk sambil menunggu panggilan sholat Idul Adha."


"Tapi dingin banget Ra."


"Sudahlah ayo mandi."


Seusai mandi aku sholat subuh kemudian menanak nasi, sedangkan Iza masih bermalas-malasan.


...***...


Pov Dayat


"Alhamdulillah masih di pertemukan Idul Adha tahun ini, semoga masih bisa bertemu Idul Adha tahun depan" aku menikmati udara segar dini hari.


Dhani terlihat sudah basah dengan air wudhu. Sajadah juga selalu terbentang sebelum subuh, rupanya calon adik ipar ku rajin juga kalau beribadah.


"Ya Allah semoga mereka berjodoh" batin ku.


Sambil menunggu Dhani selesai sholat Tahajjud aku menikmati keripik pisang bersama Rizky.


"Kamu memang tidak ingin pulang, padahal rumah mu dekat" ku lirik sekilas wajah segar Rizky.


"Aku ingin menemani Dhani di sini dia orang baik Kang, jadi aku rela liburan di Pondok" sahut Rizky cepat.


"Oke-oke, aku setuju saja liburan di Pondok karena banyak sekali hikmahnya."


"Iya Kang, aku baru menyadari jika liburan di Pondok itu sangat menyenangkan."


"Aku selama mondok juga selalu liburan di Pondok."


"Hebat sampean Kang" Rizky sangat antusias. "Aku ke kamar mandi dulu ya Kang" lanjutnya.


Tak berselang lama dari kepergian Rizky, Dhani sudah selesai dengan sholat sunahnya kemudian duduk di samping ku.


"Rajin sekali tirakat kamu Dhan?"


"Tidak rajin tirakat Kang aku hanya Istiqomah Dhuha dan Tahajjud saja."


"Jangan merendah, dari wajah mu saja aku bisa melihat kalau kamu rajin ibadah" ku sodorkan keripik pisang ke pada Dhani.


"Kemarin di pasar aku tidak melihat keripik pisang seperti ini" kata Dhani.

__ADS_1


"Aku membawa dari Wonosobo."


"Pantas saja, aku tidak melihat."


Sambil menunggu waktu subuh kami hanya ngemil dan menonton televisi.


Aku sangat menyukai lokasi Pondok ini, di apit oleh kali dan sawah. Suasananya juga tidak kalah sejuk dengan suasana di Wonosobo. Di sini benar-benar masih pedesaan.


"Kang aku ijin ke ndalem dulu, waktu subuh hampir tiba" Dhani berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari ku.


Selama aku di sini Dhani selalu adzan subuh, dan tidak pernah terlambat sedikit pun.


"Apa se-rajin itu Dhani di sini?" Tanya ku pada Rizky yang sudah selesai membuang hajatnya.


Bukannya menjawab Rizky malah tertawa. "Itu ta'ziran Kang" sahut Rizky setelah selesai tertawa.


"Ta'ziran? Ta'ziran apaan?" Aku terkejut dengan jawaban Rizky.


"Dia mengutarakan cinta nya pada Nera di tempat umum. Ta'ziran-nya adzan subuh sampai Abah minta berhenti" kata Rizky.


Aku jadi ikut tertawa sampai perut ku terasa sakit. Apa senekat itu mendapatkan Nera. Baru kali ini aku mendengar kasus seperti ini.


"Memangnya kapan mereka bertemu?"


"Sampean tidak tahu apa memang tidak tahu Kang? Mereka sudah kenal sejak di Kalimantan" jawaban Rizky yang membuat ku semakin terkejut.


"Hah, yang benar saja!"


"Tanyakan saja sama Dhani, dia lebih tahu detailnya."


Aku baru tahu jika mereka pernah sekolah di tempat yang sama, berarti sama dengan sekolahan ku dulu. Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini ya. Terlalu banyak penggemar Nera sehingga aku tidak tahu detail seperti apa pria yang menjadi tipenya.


Aku dan Rizky menyusul Dhani ke ndalem untuk jama'ah subuh bersama Abah.


Seusai jama'ah Rizky kembali ke asrama untuk mandi, sedangkan Dhani entah pergi ke mana aku tidak tahu. Sambil menunggu waktu sholat Idul Adha aku duduk santai di gazebo ndalem.


Alhamdulillah, baru sehari di sini sudah di terima dengan baik. Semoga saja Nera bisa membalas budi ke pada Abah. Semoga saja Nera mampu mengharumkan nama baik Ponpes ini. Amiin ya Allah.


"Ini Mas kopinya" Rinda mengantarkan dua teko kopi dan beberapa piring pisang goreng.


"Makasih ya."


"Iya Mas."


Alhamdulillah, Allah telah memberikan ku calon Istri di Ponpes ini melalui jalannya Nera. Aku sudah memikirkan matang-matang tentang Rinda. Aku juga sudah sholat istikharah sebelumnya. Semoga saja Rinda akan menjadi jodoh ku kelak.


"Kenapa senyum-senyum sendiri Kang" kata santri yang kebetulan melewati gazebo.


"Tidak, ingin saja tersenyum."


"Ada saja Kang ini" santri itu cengengesan sambil pergi.

__ADS_1


Suasana pagi ini sangat mendukung, cerah. Insyaallah akan menyembelih empat ekor kambing dan dua ekor sapi. Abah sudah memerintahkan pengurus putra atau pun putri untuk saling membantu. Semua pengurus yang liburan di Pondok menjadi panitia termasuk aku.


...***...


Pov Dhani


Pukul dua lebih dua puluh tiga menit dini hari waktu setempat, aku terbangun. Tujuan ku langsung ke kamar mandi. Setelah mandi dan bersuci aku selalu Istiqomah memohon ke pada Allah untuk menjodohkan ku dengan Nera.


Dayat terlihat kelelahan, Rizky masih tertidur di samping Dayat. Aku membentangkan sajadah dan mulai bermunajat ke pada Allah.


"Ya Allah bukakanlah pintu hati Tenera Alivia berikan Rahmat dan hidayah-Mu dan jadikan dia sebagai Istri Solehah ku kelak. Amiin."


"Ya Allah apa aku sanggup jika Nera memiliki pria lain dan apa aku sanggup jika ada pria lain yang memilikinya sebelum aku sukses. Ya Allah aku tidak berani membawanya hidup dalam kesengsaraan. Aku ingin sukses sebelum Nera mendampingi ku."


Sebelum selesai bermunajat terlihat sekilas Dayat sedang memperhatikan ku. tak berselang lama Rizky juga datang. Sebelum aku bertemu mereka, Rizky sudah pergi entah ke mana. Aku menghampiri Dayat.


Aku sedikit canggung jika berhadapan dengan Dayat. Dia sangat bijaksana dan terlihat berwibawa.


Hanya terjadi obrolan ringan saja dengan Dayat sambil menikmati keripik pisang dari Wonosobo. Hanya sebentar saja, subuh akan tiba.


"Kang aku ijin ke ndalem dulu, waktu subuh hampir tiba" aku pamit pada Dayat.


"Okey, semangat ya."


Seusai jama'ah subuh aku langsung pergi ke asrama putri untuk menemui Nera. Sedikit di beri celah untuk keluar masuk asrama putri selama liburan.


"Nera sayang aku datang!" Nera sedang memainkan ponselnya, rambut panjangnya sudah basah berarti dia sudah mandi.


Iza masih santai dengan tumpukan beberapa kasur dan menutup kepalanya menggunakan selimut ketika aku datang.


"Apaan sih, pagi-pagi begini sudah bikin ribut" sahut Nera.


"Di sapa bukannya bahagia malah marah-marah, lagi apa sih sampai tidak mau di ganggu."


"Lagi baca novel online."


"Rambut mu kok sepanjang itu, padahal gosipnya rambut mu pendek" rambut Nera sangat panjang, sampai ke pangkal paha. Selain itu juga lembut, halus dan sangat tebal. Sangat jelas jika dia merawatnya.


"Aku memang sekali saja memiliki rambut pendek, ketika lulusan pencak silat."


"Oalah, bagus banget rambut mu."


"Kamu ada keperluan apa ke sini?"


"Rindu, lagian kamu main hp terus tidak pernah chat aku."


"Dhani pintar apa Dhani bego sih, aku tidak memiliki nomor mu."


"Iya juga ya" ku garuk kepala ku padahal tidak gatal.


Ku ambil ponsel Nera kemudian mengetik nomor ku dan ku telepon, otomatis nomor Nera masuk ke ponsel ku.

__ADS_1


"Terimakasih sayang" ku kembalikan lagi ponsel Nera.


Hanya ada notifikasi dari noveltoon tempat Nera membaca novel online. Aku juga tidak begitu detail melihatnya notifikasi tentang apa, yang terpenting mendapatkan nomor ponselnya.


__ADS_2