Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
Sedetail Itu Cinta Mu?


__ADS_3

"Keep strong, you must be spirit!" Teriak Iza sembari mengepalkan tangannya ke udara dari aula ketika melihat ku berjalan keluar aula setelah jama'ah ashar. Aku hanya tersenyum menanggapi.


"Terimakasih Mbak" aku juga menyahuti.


"Kamu tidak pernah merasa lelah ya?" Tanya Billa ketika kembali dari tandon air minum.


"Lelah pasti ada Mbak, namun impian lebih mendominasi."


"Ya sudah, berangkat sana. Semangat ya."


"Siap Mbak."


Sesampainya di kamar aku langsung bersiap mengenakan pakaian serba hitam ku. Tak lupa membawa kitab kecil yang muat di saku untuk hafalan supaya tidak kagok ketika di setorkan selepas ujian nanti. Sebentar lagi ujian MIT semester genap akan di laksanakan.


Sesampainya di tempat latihan terlihat Riah dan Ferdian bermain dengan seorang anak laki-laki mengenakan pakaian sama seperti ku, kemungkinan putra mereka.


Dari mata dan bibir anak itu mirip dengan Riah. Aku sudah tak sabar sambil berlarian mengejar anak itu.


"Lucunya" ku angkat tinggi-tinggi anak itu. "Ganteng, siapa nama mu?" Tanya ku sambil mencium pipi chubby-nya.


"Nama atu Oksan, Kak" sahutnya, masih terbata. Mungkin usianya masih tiga tahunan.


"Keren nama mu" aku menggendong sambil berputar-putar membuatnya tertawa semakin riang.


Baru kali ini aku bisa bebas memegang anak kecil, biasanya Ayah langsung menegur ku untuk tidak menyentuh anak kecil takut jika ada persendian yang salah pegang jadi rewel.


"Ah, jadi rindu Ayah" batin ku.


Aku sudah membiarkan Oksan berlarian, tapi malah membuat ku bingung apa yang harus ku lakukan. Semenjak identitas ku terbongkar aku semakin bebas saja untuk latihan. Malah lebih sering melatihnya.


Inilah kehidupan ku sebelumnya, membuat ku rindu rumah mengingat masa-masa seperti ini.


Apakah teman-teman di sana masih mengingat ku atau melupakan begitu saja dan tak berarti apa-apa.


...***...


Hari berlalu begitu saja, dan dua hari lagi aku persiapan berangkat ke kecamatan untuk OSN.


Dari pagi sampai sore aku masih di gembleng oleh soal-soal yang hampir keseluruhan ku pahami. Kemungkinan esok akan ku jadikan sebagai hari tenang alias tidak mengerjakan soal matematika dan lebih baik ku gunakan untuk belajar di kelas supaya otak tidak bosan sebelum hari keberangkatan.


Pukul enam belas lebih lima kami kembali ke asrama karena belum sholat ashar. Aku berjalan berdampingan dengan Marissa tanpa sepatah kata pun, sedangkan Anisa masih berdiam diri di gedung SMK putri menunggu temannya yang sedang mendapat jatah piket SMK.


Hari-hari ku masih sama, Marissa masih sering memancing emosi ku, namun sebisa mungkin aku selalu abai.


"Bagaimana persiapan mu?" Dahlia sedang duduk di taman dekat kamar mandi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga saja keluar di soal besok" sahut ku penuh harap.


"Semoga menang ya, Nera" timpal Rossa.


"Iya Mbak, terimakasih. Ikut antri mandi dong Mbak" pinta ku.


"Masuk saja setelah ini, kamar mandi nomor empat" jelasnya.


"Iya Mbak, terimakasih. Makin sayang deh!" Aku masih duduk di antara Dahlia dan Rossa.


"Enak ya, serasa di sayang di mana-mana" ujar Tifa sembari berlalu.


Aku hanya memutar bola mata jengah, ada saja yang mengibarkan bendera perang. Perasaan belum genap setahun tapi perkelahian tidak dapat di hitung padahal sudah mencoba untuk tidak perduli.


Malamnya aku mempersiapkan diri untuk esok di temani oleh Rani dan Ida.


Perasaan ini sudah tak bisa di tahan lagi, sudah membuncah di hati. Sudah lama tidak melihat batang hidung Dhani, entah sibuk apa sehingga tidak pernah terlihat di luar asrama. Hanya Rizky saja terkadang, namun hanya melempar senyum dari jauh.


Satu koper besar sudah siap, aku juga sudah mempersiapkan laptop dan ponsel untuk esok. Mungkin masih di isi dayanya oleh Rinda.


"Nera, bagaimana persiapan mu?" Nissa mendatangi ku yang sedang membentangkan kasur di halaman. "Sudah packing?" lanjutnya, sembari duduk di kasur ku dengan wajah merasa tak berdosa padahal tubuh ini ingin segera di rebahkan.


"Alhamdulillah, sudah Mbak."


"Kamu tidak buka-buka buku lagi?"


"Apalagi mau ketemu yang terkasih" celetuk Ida sembari terpejam.


"Jangan perang dengan saingan mu" timpal Rani.


Aku tidak bisa berkata-kata dan bagaimana harus bersikap. Biar esok pagi berjalan sesuai rencana Allah.


...***...


"Bagaimana rasanya setelah sekian lama tidak bertemu dengan Nera?" Rizky tiduran sembari membuka buku tanpa di baca.


"Baik. Aku hanya bingung bagaimana esok, apa yang harus ku katakan jika aku ke mana selama ini."


"Say I Miss you, toh."


"Pasti si lampir bikin ribut."


"Lampir?" Rizky menyangga dagunya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Marissa."

__ADS_1


"Oalah, kirain. Kamu fokus saja sama OSN sama cinta, tidak usah lebay menghadapi lampir."


"Masalahnya Nera belum tahu jika aku sudah meminangnya. Apalagi sempat salah paham dengan cincin ini" ku pandangi cincin di jari manis ku, berharap Nera juga akan memakainya kelak.


"Semoga saja dia tidak keberatan untuk itu. Sejatinya Nera selalu memakai dua cincin sejak dulu. Satu di jari manis kanan dan satu lagi di jari tengah kiri. Dan sekarang jari tengah kirinya di tempati oleh cincin dari ku kala itu. Gara-gara emas dia sering adu argumen dengan Kepsek" ucap ku tanpa sadar, yang jelas Rizky mendengar semuanya.


"Sedetail itu cinta mu?"


Jadi teringat dua tahun lalu.


Flashback On


"Nera, Lagi!" Bentak kepala sekolah.


"Iya Pak, saya" sahutnya tenang.


"Kenapa hobi mu selalu saja membuat tensi saya naik. Kamu kurang puas dengan dua cincin mu membuat saya hipertensi. Sekarang dengan gelang besar mu itu!" Kepsek selalu saja memakai nada tinggi.


Pandangan Kepsek jatuh pada lengan kiri Nera. Yang di pandang hanya mendengus.


Aku hanya melintasi sembari memicingkan mata. Ingin menegur tapi tidak nyaman ingin menyatakan cinta juga takut. Karena apa, karena dia pendekar yang memiliki banyak penggemar dari kalangan adik dan kakak kelas. Takutnya di tolak dan di jauhi. Apalagi sekarang sedang mode tegang. Terutama kepala sekolah, karena Nera tetap tenang.


Tapi siapa yang tahu, di balik kegarangan kepala sekolah kepada Nera, orang tua Nera bestinya Kepsek.


"Gelang kamu saya sita!" Kepsek menengadahkan tangannya, dengan malas Nera menyerahkan gelangnya kemudian keluar gerbang. Kepsek membiarkan karena waktu masuk belum tiba. Beda lagi kalau jam istirahat keluar gerbang, sudah beda lagi aturannya. Karena kalau pagi hitungannya masih belum berangkat jika belum memasuki area sekolah.


"Ke mana kamu?" Tanya Ami teman Nera.


"Sarapan dulu lah, Kepsek nguras isi perut ku apalagi aku belum makan apa pun. Kan sudah kosong, melompong" sahut Nera asal.


"Oke lah, hati-hati"


"Siap!"


Aku masih bisa mendengar samar percakapan mereka.


Aku duduk di bangku panjang teras kelas sembari menunggu Nera datang lagi. Rasanya belum tenang jika Nera belum ada di lingkungan sekolah. Takut kalau dia pulang lagi kelas jadi hampa.


Setelah bel masuk pun belum ada tanda-tandanya Nera datang. Berhubung kelas kami jam kosong aku hanya menulis puisi sambil menunggu Nera datang dan mengeluarkan buku nya dan di tulis tanpa henti. Itu kebiasaan kami yang hampir sama. Bedanya Nera menulis panjang aku hanya menulis puisi pendek. Entah apa yang di tulis mungkin kisah hidupnya.


Sudah dua puisi ku tulis Nera tak kunjung masuk, ku pandang pintu yang tertutup kemudian di buka buru-buru oleh Mahen.


"Doi kena semprot Kepsek, telat masuk" bisik Mahen begitu sampai di meja sebelum duduk di kursinya, setelah berbisik baru duduk.


"Pantas lama."

__ADS_1


"Nunggu nih?"


"Hehee" aku hanya terkekeh mendengar ledekan Mahen.


__ADS_2