Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
Nera Viral


__ADS_3

Tepat pukul tiga dini hari aku sudah terjaga. Aku mengambil air untuk bersuci dan mengerjakan sunah empat raka'at dua kali salam.


Sambil menunggu subuh, aku berjalan ke luar kamar mengitari penginapan dan berhenti di teras mushola. Aku sudah membawa buku untuk belajar sekalian mukena untuk jama'ah subuh.


Aku menikmati dinginnya embun pagi. Sejuk rasanya sampai ke relung hati. Sejenak melupakan akan kepergian Dhani yang lebih cepat. Aku lupa jika akan menikmati hari-hari ku tanpa dia.


Aku membuka sekilas mata pelajaran kesayangan ini. Senang sekali sampai sejauh ini aku berjuang meski masih di kecamatan tapi rasanya indah sekali. Andai saja aku bisa membanggakan Pondok dengan berbagai prestasi. Tapi apalah daya, tubuh ini hanya mampu mengikuti lomba yang tidak bertabrakan. Alhamdulillah, aku masih bersyukur meski hanya beberapa saja dari pada tidak sama sekali.


...***...


Pov Dhani


Hari yang cukup menguras pikiran. Bagaimana tidak, aku harus benar-benar teliti mengerjakan soal.


Dari kejauhan Nera seperti mendekat bersama dengan Marissa. Anissa sendiri belum selesai dengan soal yang di kerjakan. Mungkin dia sedang menunggu waktu saja, karena aku mengintip dari jendela dia hanya membaca sambil membolak-balikkan kertas jawaban.


"Bagaimana Dhan, apa soalnya sulit?" Tanya Marissa.


"Alhamdulillah, semua pernah ku pelajari. Semoga kita lolos semua ya."


"Aku ke toilet dulu ya" ujar Nera.


"Ku antar ya?" Bukan Marissa yang menjawab tapi aku.


"Tidak usah Dhan, aku bisa sendiri" penolakan halus dari Nera. Semoga saja dia tidak cemburu dengan sapaan Marissa yang ku tanggapi.


Benar saja, tidak sampai lima menit Nera sudah kembali.


"Apa acara kita, ini masih jam sepuluh."


"Tidak ada, sambil menunggu Anissa kita bisa kulineran dulu. Aku ingin makan sosis" kata Nera.


"Di seberang ada penjual sosis bakar jumbo" Marissa menimpali.


"Gas lah!"


Benar saja, banyak sekali penjual kuliner di sini. Mungkin karena ada perlombaan dan banyak sekali peserta jadi sengaja di buat stand untuk berjualan. Kebanyakan dari mereka menjual kuliner kekinian.


"Kamu mau makan apa Dhan?" Tanya Nera pada ku.


"Makan kamu ... eh, ma-maksud ku makan seperti kamu" entah mengapa aku seperti ini.


"Makan apa, sosis atau pentol?"


"Sosis saja lah, jangan pakai mayo ya."


Sambil menunggu sosis bakar aku memesan es jeruk di samping penjual sosis. Supaya tidak terlalu terlihat rasa gugup ku. Nanti di kiranya lagi mesum gara-gara salah bicara.


Mengapa aku jadi deg-degan, nervous di dekat Nera. Apa ada yang salah dengan diri ku.


"Hay, Dhani ya?" Sapa seorang wanita di sebelah ku.


"Hmm" sahut ku. Seperti tidak asing tapi entah siapa.


"Jangan hm doang dong, kamu sudah bertemu cinta pertama mu?" ujar wanita itu, ternyata Yola.


"Kalau sudah memangnya kenapa, minta pajak jadian, atau pajak lamaran?"


"Memangnya kamu sudah lamaran?" Yola menatap ku tajam.


Tanpa menjawab aku langsung menunjukkan jari manis ku. Kemudian menarik Nera yang sedang menikmati sosisnya. Yang di tarik tidak faham.


"Selamat ya, semoga kalian berjodoh. Semoga sampai pelaminan" kata Yola lagi.


"Eh, siapa ya?" Nera menatap ku kemudian menatap Yola, mungkin bingung.


"Aku Yola, peserta di sini juga. Aku teman SD nya Dhani" Yola mengulurkan tangan kanannya, dan di sambut baik oleh Nera.


"Nera, Tenera Alivia" Nera tersenyum sangat manis.

__ADS_1


"Ayo gitaran, biar seru" ajak Yola.


Setelah mendapatkan pesanan makanan dan minuman kami duduk di bawah pohon beralaskan rumput hijau bagai permadani.


Yola mengambil gitarnya yang memang di letakkan di sana.


"Kamu masih setia dengan gitar ini?" Aku mengingat masa di mana membeli gitar dengan uang patungan tujuh orang, dan itu masih di gunakan oleh Yola.


"Iya, banyak sekali kenangan kita di sini."


"Ayo mainkan Dhan."


"Iya, kenalin dulu ini Anissa dan Marissa. Kami berempat" jelas ku.


"Hay, aku Marissa" Marissa mengulurkan tangan kanannya dan di sambut ramah oleh Yola.


"Yola."


"Anissa" gantian Anissa yang berkenalan.


"Yola."


"Senang berteman dengan mu, ternyata temannya Dhani cantik-cantik ya" ujar Marissa.


"Kamu juga cantik" sahut Yola santai.


"Ayo gih, gitarnya di mainkan" usul Anissa.


"Hmmm, bagaimana kalau kita mendengarkan suara emas dari Nera" Usul Yola.


"Aku tidak bisa" sahut Nera asal.


"Jangan bohong deh, ayo Ra. Kalau sudah di Pondok kamu tidak bakal bisa memainkan gitar" pinta ku.


"Sok tahu." sahut Nera masih bermalas-malasan.


"Okey, tapi jangan ngejek ya, aku tidak bisa menyanyi."


"Mulai saja dulu" Marissa meletakkan sosisnya dan duduk di depan Nera.


"Lagu apa ini" tanya Nera pura-pura bodoh.


"Tidak usah minta di ajari. Senior kok nanya" timpal ku.


Nera mulai memainkan senar gitar menggunakan jari lentiknya. Dengan intro musik A minor, G mayor, F mayor, E mayor. Dia mengulangnya dua kali, namun kemudian berhenti.


"Kenapa?" Dhani bertanya.


"Padahal ini enak di dengar, Sia-sia Mengharap Cinta Mu, kan?" Yola memperjelas.


"Hehee" Nera terkekeh, mungkin dia takut menyinggung perasaan Marissa.


"Apa dong yang akan kamu nyanyikan?" Marissa bertanya.


"Bagaimana kalau Merayu Tuhan Ku" Anissa memberikan usul.


"Iya, mumpung lagi viral" Yola menyahuti.


"Okey. Tapi jangan yang ori ya, soalnya susah" sahut Nera, dia langsung masuk ke intro musiknya.


"Terserah saja."


Intro:


Am Dm E Am


Am Dm F -E


Am

__ADS_1


Di saat ku menatap langit


Apa engkau juga menatapnya


Cobalah kau pejamkan mata


Gerimis jatuh bagai air mata


Ku harap diri mu bisa menunggu


Besar harapan ku ingin bertemu


Sumpah mati diri ku sangat rinduu...uuu~


Aku coba merayu Tuhan ku


Berdoa di dalam sujud ku


Jika kita di takdirkan bersatu


Betapa bahagianya aku


Memiliki kamu anugerah


Kau perhiasan yang ku punya


Ku sebut nama mu di dalam doa


Semoga kita bersama


Di saat ku menatap langit


Apa engkau juga menatapnya


Nera mengulang sekali lagi bagian reff namun hanya musiknya saja, kemudian mengakhiri lagunya.


"Kok pendek" Marissa protes.


"Iya, ganti yang lain saja. Biar Dhani yang main ya" Nera menyerahkan gitarnya pada ku.


"Keren kamu, ternyata juga bisa main gitar" puji Anissa.


"Sedikit Mbak" Nera selalu saja merendah.


Salah satu sifat Nera yang ku suka, rendah hati dan tidak sombong, rajin menabung juga di ATM bukan di warung. Kalau di lihat sekilas tabungannya sudah banyak.


"Bagaimana kalau nyanyi lagu lagi" pinta Yola.


Kali ini aku yang memegang kendali. Kami menyanyikan lagu-lagu yang lagi viral tahun ini.


Setelah puas kami kembali ke kamar masing-masing karena waktu dhuhur akan segera tiba. Sesampainya di kamar aku membuka ponsel ku, di aplikasi berlogo biru ada postingan yang lagi viral. Baru saja di unggah satu jam yang lalu namun penontonnya sudah hampir empat ratus. Aku juga penasaran, kemudian membukanya.


Caption postingannya tertulis 'Gadis cantik dengan suara emas' ternyata video ketika Nera menyanyikan lagu tadi. Ternyata banyak yang mengomentari dengan pujian.


Aku jadi ada ide, bagaimana kalau aku dan dia berkolaborasi cover lagu dan di unggah di YouTube, mungkin bisa menambah cuan untuk modal masa depan.


"Tapi, apa dia mau?" Batin ku.


"Hey, jangan melamun. Kamu mikirin apa?" Pak Sohib mendekati ku.


"Aku sedang bahagia saja."


"Bahagia ya, calon bininya viral."


"Hehee, kalau di ajak membuat cover lagu mau tidak ya?" Celetuk ku.


"Coba di ajak, kalau diem bae ya mana kamu tahu dia mau apa tidak."


"Iya juga sih."

__ADS_1


__ADS_2