Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 21 KSD_Telepon Dari Fian


__ADS_3

Waktu berlalu begitu saja, proposal kegiatan LDK sudah di ACC pihak ndalem tinggal pelaksanaan kegiatannya saja. Sesuai proposalnya, akan di lakukan selama sehari yaitu hari Sabtu.


"Ra, kamu yakin akan melakukan apa pun untuk Dhani?". Rani memicingkan matanya sambil memakai pantofelnya.


"Tidak, aku hanya ingin cinta yang tulus, bukan karena merebutkan sesuatu dengan segala cara". Sahutku mantap.


"Elaaah, maksudku itu". Rani ngeles.


"Beda, cinta tulus dan melakukan apa pun itu beda jauh".


"Iya deh, iya. Aku salah Bu pelatih".


"Huh, semua orang sudah tahu jika aku pendekar. Tapi semua orang tidak tahu bahwa aku selingkuh dari Fian hanya untuk Dhani".


"Kalau selingkuh tuh minimal ciuman. Kamu mah bertengkar terus sama Dhani".


"Hatiku sudah berpaling. Aku sedih. Aku memikirkan nasib Fian yang masih menjaga cintaku".


"Tidak usah lebay Nera. Fian memang pacarmu, tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi disana. Bukankah kamu jadian kemudian LDR an? Fian pasti mencari hiburan. Apa itu tidak selingkuh juga. Membagi perhatian pada wanita lain". Ida berucap seolah tahu semuanya.


"Jangan sok tahu ya". Aku malah tidak terima jika Fian dibilang selingkuh.


"Jangan bodoh Nera, bahkan setelah jadian pipimu di sosor, apa dia menghormatimu? Tidak!itu tidak sama sekali. Jika dia mencintaimu, dia bakal bicara pada orang tuamu meminta ijin menunggumu hingga lulus sekolah". Lanjut Ida panjang lebar.


"Memangnya Angga bilang sama orang tua mu?". Aku berusaha meyakinkan hati jika Fian tidak selingkuh.


"Tidak, tapi jauh hari Angga bicara dengan Dahlia". Sarkas Ida.


Memang benar, ucapan Ida ada benarnya. Banyak benarnya malah. Tapi mengapa setelah dicium pipiku oleh Fian aku bahagia, apa itu tipu daya setan? Aku juga tidak tahu. Aku akan membandingkan siapa yang akan ku pilih, antara Dhani dan Fian.


Lihat saja setelah aku lulus, semua akan terkuak. Mana yang di takdirkan untukku.


...***...


Pov Dhani


Aku bahagia ya Allah, Nera tidak seperti yang ku inginkan. Ternyata karena dia lupa jika Eli adalah adikku. Apa dia tidak tahu jika adikku seorang perempuan, atau tidak tahu namanya. Lupakan saja, yang penting Nera ada di pihakku.


"Dhan, ganteng amat. Nanti santriwati pada ngelabrak Nera baru tahu rasa".


"Aku ganteng dari sononya kali, dan aku yakin Nera bisa menghadapi mereka".


"Dasar, lelaki tidak punya hati. Kamu pikir Nera kelahi itu sebuah hiburan. Dia juga di ta'zir. Memangnya kamu tidak kasihan?".


"Biar ada yang diceritakan pada anak cucu".


"Gila!". Rizky menyepak bokongku.


"Sakit Riz". Aku mengaduh. "Eh, tapi kenapa kamu perhatian sama Nera, kamu suka?".


"Siapa sih yang tidak suka dengan Nera. Wajah ayu, ramah, pinter. Hati-hati sahabatmu ini bisa merebutnya".

__ADS_1


"Lakukanlah, asalkan Nera mau sama kamu".


"Idiih, ngenyek bos".


Aku mampir di koperasi membeli dua botol soft drink kesukaan Nera. Pagi ini akan diadakan LDK, pasti akan menguras banyak tenaga. Harus ada vitamin untuk Nera supaya tidak drop.


Sesampainya di gedung serbaguna, semua OSIS putra menyiapkan tempat, dan tugas santri putri menyiapkan konsumsi. Semua di tata dengan rapi dan nyaman.


Nera terlihat lebih semangat dari biasanya. Dia sedang duduk santai bersama Ida dan Rani.


Aku dengan berani menemuinya. "Ini, kesukaanmu". Kusodorkan soft drink yang sudah kusiapkan untuknya.


"Okey, terimakasih kesayangan. Oh ya, si istri keempat mu tidak diberi minum juga". Kulirik Marissa sekilas.


"Okey, jika maumu akan ku turuti. Apa kesukaannya?".


"Entahlah, aku tidak tahu dan tidak mau tahu".


Waktu acara hampir di mulai, semua santri sudah mengambil posisi ternyaman mereka. Nera selalu duduk di depan jika ada acara semacam ini, namun selalu duduk nomor dua dari belakang jika di kelas. Aku juga tak tahu apakah dia masih duduk di kursi nomor dua dari belakang atau sudah merubah kebiasaannya itu.


Kesempatan duduk dibelakang karena dia suka ngemil ketika pelajaran. Anehnya, tidak ada guru yang menegurnya jika mengetahui hal itu.


Acara berjalan sangat lancar. Acara ini hanya sebuah materi. Prakteknya akan dilakukan secara pribadi terutama anggota OSIS. Bagaimana mereka mengaplikasikan setiap detail materi yang telah di jabarkan.


...***...


"Ra, kamu sudah baikan sama Dhani?". Rani berjalan menjajariku meninggalkan Ida yang jauh di belakang bersama partnernya.


"Tapi kemarin kamu cuek gitu".


"Aku hanya memberi kesempatan kepada Marissa apakah dia mampu mengalihkan perhatian Dhani dariku".


"Lalu?".


"Dhani konsisten denganku". Sahutku puas. Bahkan aku tidak pernah memikirkan nasib Fian yang ku selingkuhi di sana. Aku juga tak yakin jika dia setia.


Aku akan mampir ke koperasi membeli soft drink dan cemilan sebelum kembali ke asrama. Aku juga membeli mie instan dan berbagai macam topingnya. Persediaan jika malam lapar.


"Ran mau ice cream tidak, aku membeli lima".


"Banyak duit, mau dong". Rani mengambil rasa coklat. "Sisanya untuk siapa?".


"Untuk Ida dan Dahlia, jatahku dua". Sahutku.


"Berapa sih jatah mu sebulan".


"Satu juta".


"Banyak banget Ran, aku mah cuma enam ratus".


"Enam ratus jajan doang. Aku sejuta tapi bayar bulanan, bayar LKS, untuk kebutuhan praktek jika kurang, belum lagi fotocopy apapun, semua kebutuhan sebulan. Kamu dikirim jajan dari rumah, aku harus pakai uang sejuta itu". Jelasku panjang lebar.

__ADS_1


"Ya Allah, segitu banyak keperluanmu. Tapi cukup saja, dan tidak kurang jajan".


"Alhamdulillah".


Setelah menghabiskan dua buah Cornetto aku bersiap untuk mandi. Karena jam 2 nanti aku harus sekolah salafiyah. Alhamdulillah lancar-lancar saja aktivitasku sejauh ini. Tapi untuk ta'ziran aku tidak pernah absen. Hanya karena hal sepele aku mendapatkannya.


Tak terasa Jum'at datang lagi. Dua bulan lagi akan diadakan event pencak silat. Hubunganku dengan Mia juga mulai membaik setelah tahu jika aku tidak merebut posisinya. Kami akan berangkat bersama dengan Angga. Kami hanya bertiga karena belum ada yang mewakili tingkat warga untuk putra.


"Mbak, sampen keren. Kenapa tidak bilang dari dulu kalau sampen sudah warga. Mungkin aku juga nge fans sama sampean". Mia mulai ingin mengambil hatiku.


"Di benci juga asik kok". Jawabku singkat.


"Kenapa begitu?".


"Tidak apa-apa, lebih baik kita seperti dulu lagi saja. Lebih seru".


"Mbak kok sombong sih".


"Aku hanya teringat setiap katamu yang mengancamku. Serasa lucu saja kalau sekarang kamu nge fans sama aku".


"Lagian ya mbak, aku sudah berusaha keras masa orang lain yang dipilih".


"Tapi kamu juga tidak boleh egois, kalau orang lain lebih kompeten bagaimana?". Ucapanku sudah lebih tenang.


"Ya, tapi aku sangat berharap mbak, aku juga ingin mewakili pondok ini".


"Sama kalau begitu".


"Tapi sekarang kan kita bisa berjuang bersama".


"Terserah kamu saja lah". Aku berlalu meninggalkan Mia dan menyusul Rani yang sudah siap untuk kembali ke asrama.


Baru saja sampai di depan kantor pusat, aku dihentikan oleh penjaga gerbang.


"Mbak, di tunggu sebentar ya. Setengah lima bapak sampean mau menelpon. Tadi sudah menelpon dua kali sampean belum pulang".


"Okey". Hanya itu sahutanku, kemudian duduk di teras kantor pusat. Rani langsung ke asrama karena tidak ada kepentingan.


Heran saja, perasaan bapak tidak pernah menelpon. Hanya ibu yang menelpon dan bapak mendengarkan saja tanpa berkata apa pun.


Tak berselang lama ada suara telepon. "Tenera Alivia, ada telepon dari bapakmu".


Terkejut, penasaran, juga heran saja. Apa ada sesuatu yang sangat penting atau terjadi sesuatu di rumah.


"assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam sayang. Apa kabarmu di sana?".


Oh my God, ini suara Fian. Dapat dari mana akses pondok kalau bukan dari orang tuaku, atau dari website. Bisa-bisanya dia meneleponku.


Semakin kacau rasa di hatiku. Campur aduk, antara shock, rindu dan bahagia. Apakah ini namanya rindu yang terpendam atau hanya menyikapi suasana.

__ADS_1


__ADS_2