
Hari pertama memasuki semester genap, tempat duduk boleh tetap boleh berpindah, sesuka hati masing-masing.
Seperti biasa setelah sarapan aku dan kedua sahabat ku berjalan beriringan menuju gedung SMK putri.
Kami sebagai santri melaksanakan rutinitas pagi. Jama'ah Dhuha di halaman SMK di lanjut berdoa bersama.
Masih hari pertama kami sudah mulai pembelajaran meski santri putra baru kembali. Kini waktunya istirahat.
"Mbak, siapa yang ingin ke kantin" teriak Qila dari tempat duduknya.
"Aku."
"Tungguin."
"Ayo ke kantin."
Semua ke kantin, kami berjalan beriringan. Di antrian depan kami ada anak TB. Anak TB maupun BB sama hebohnya ketika santri idola mendekat.
Dari kejauhan terlihat Dhani sedang berjalan dengan Rizky. Bukannya di antar malah berjalan kaki mentang-mentang rumah dekat sekalian tebar pesona.
"Ck! Sialan punya laki suka tebar pesona" batin ku.
"Pangeran ku kembali" teriak seseorang.
"Pangeran ku kali" sarkas Marissa.
"Pacar ku woy!"
"Woy, Dhani kita."
Ku lirik sekilas cincin di jari manis ku, sehingga aku tak perduli lagi ocehan mereka. Semoga saja Dhani menjadi jodoh ku.
"Gantengnya! Potong rambut dia" Rani menyenggol lengan ku kuat hingga aku sedikit oleng.
Dhani menatap ku sambil tersenyum, aku hanya tersipu.
"I love you Rani!" Teriak Rizky yang mendapat tendangan di bokongnya oleh Dhani.
Rani hanya terkekeh, mereka pasti hanya mewakili perasaan Dhani seperti biasanya.
"Manisnya dia tersenyum pada ku" Marissa memilin ujung kerudungnya hingga berbentuk.
"Kepedean Lo" sahut Rani ketus.
"Ku peringatkan pada kalian, Dhani hanya untuk ku. Ingat itu, kamu juga Nera!" ucap Marissa tak kalah ketusnya.
"Tidak kapok-kapok ya, jangan sesekali rebut Dhani dari Marissa" timpal Mira.
"Situ ngelindur Mbak?" Kata Ida.
"Tau tuh" sungut anak BB yang lain.
"Yang rebut siapa yang di tunjuk siapa!" Kata kawan ku lagi.
"Sudahlah" ku pegang lengan Rani yang ingin mengeluarkan kata-katanya lagi.
Di Ponpes hal seperti ini wajar saja. Kita yang di deketin kita juga yang di keroyok satu Pondok. Mungkin ini sudah menjadi tradisi.
Sepeninggal anak TB dari dari kantin susana menjadi tenang lagi.
Setelah selesai membeli apa yang ingin kita makan, kami kembali ke kelas, tepatnya di teras kelas. Kami makan bersama menghabiskan waktu istirahat.
"Teman-teman aku memiliki sesuatu untuk kalian."
__ADS_1
"Oleh-oleh coy" kata Maya.
"Merapat Mbak, oleh-oleh dari Kalimantan."
"Ini makanan khas daerah Lombok. Entah khas atau bukan yang jelas aku belajar dari orang Lombok. Setiap lebaran pasti membuat makanan sejenis ini" sahut ku.
"Apa nama makanannya Ra?"
"Lidah buaya" sahut ku.
"Buaya darat."
"Iya lah, makannya saja di darat."
"Kaya apa ini membuatnya."
"Pembuatannya hanya tepung beras putih di campur tepung terigu sekitar dua banding satu di beri mentega dan sedikit air, di beri panili, dan telur beberapa butir kemudian di gilas supaya tipis."
"Setelah di gilas di beri olesan susu kental manis di campur minyak goreng kemudian di gulung. Setelah di gulung di iris dan di gilas lagi, kemudian di goreng. Setelah di goreng di taburi gula halus."
"Kaya gitulah kurang lebih, aku rada lupa soalnya aku cuma membantu."
"Renyah, bisa ya berbuku-buku begini."
"Namanya juga di gulung terus di iris, terus di gilas, ada olesan biar tidak menyatu" jelas Ida.
"Iya ya."
"Iya."
"Terimakasih ya Ra, kalau pulang lagi bawa yang banyak ya."
"Iya, terimakasih kalau kalian suka."
"Enak banget, baru kali ini aku makan yang beginian."
"Iya sih."
"Hehehe" kami bercanda sambil menunggu waktu belajar meski sudah masuk di dalam kelas namun bel belum berbunyi.
...***...
Hari semakin berlalu, aku dan Rani berangkat ke latihan dan harus lebih serius lagi. Lima Minggu lagi kami akan berangkat ke Kabupaten.
"Rada malas latihan kali ini" cetus ku.
"Kenapa? Lima Minggu lagi kita akan ke Kabupaten. Semangat dong Nera" Rani menggandeng lengan ku.
"Bukan masalah itu sebenarnya, aku hari ini ingin tidur, ngantuk berat" sahut ku.
"Ada saja kamu mah, apa perlu panggil sang pangeran supaya mata mu tidak ngantuk lagi."
"Usul tidak berguna. Mau lihat siapa pun kalau ngantuk obatnya cuma satu, tidur."
"Anak baru lahir juga tahu kalau ngantuk harus tidur."
"Hehehe" aku terkekeh melihat Rani cemberut.
"Beli minum dulu yuk ke koperasi."
"Ini baru sedikit bermanfaat usulan mu Ran."
Setelah menghabiskan satu botol Floridina terasa lebih terang mata ku.
__ADS_1
"Ra, kamu sudah melihat di Mading?"
"Info apaan? Aku belum ada ke Mading."
"Akan ada OSN kalau saja kamu mau daftar. Suruh temui TU SMK putri."
"Okelah, aku mau daftar" aku terasa bertambah semangat mendengar kabar ini.
Jadi tidak sabar ingin ke hari esok, aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku juga tidak ingin kecewa yang kedua kali karena tidak ikut OSN sama ketika SMP. Apa pun hasil seleksi aku tidak akan menyesal dari pada tidak mencoba sama sekali.
"Kamu daftar tidak Ran?" Tanya ku.
"Tidak, aku malas berfikir."
"Besok temani aku daftar ya."
"Okey."
Sesampainya di tempat latihan sudah ada Riah bersama dengan suaminya. Angga juga sudah standby di lokasi.
Hari ini mendung membuat suasana menjadi malas karena ngantuk.
"Lesu banget Nera!" Riah menoel pipi ku.
"Jangan pegang-pegang deh Mbak, aku ngantuk."
"Apa! ngantuk!"
"Biasa saja kali Mbak."
"Bisa ya, Nera ngantuk?" Riah menoel pipi ku lagi kemudian dengan sengaja menaiki punggung ku sambil berpegangan erat di leher ku.
"Woy! serasa tercekik tapi tidak mati! Kang, bini nya kumat!" Teriak ku pada Ferdinan, yang ku teriaki hanya terkekeh.
"Sialan! laki sama bini sama saja!" Teriak ku lagi.
Dengan susah payah akhirnya Riah terlepas dari gendongan ku.
"Masih ngantuk?" Tanya Riah pada ku.
Tanpa menjawab aku langsung rebahan di atas rerumputan.
Tak terasa waktu latihan usai, aku dan Rani kembali ke asrama. Entah mengapa karena mendung aku merasa sangat ngantuk.
...***...
Seusai jama'ah Isya kami persiapan makan malam. Aku membawa piring ke ruang makan mengantri nasi dan lauknya, Ida sedang mengisi air minum, sedangkan Rani mengantri membeli es dan gorengan.
"Ra, aku tidak makan" kata Dahlia.
"Kenapa? Diet?"
"Diet terus!" Timpal Ida.
"Diet Bapak mu! Aku sudah kenyang tadi sore ada yang ulang tahun" jelasnya.
"Tidak bagi-bagi coy!" Kata ku.
"Kami saja makannya ramai-ramai."
"Oh, begitu rupanya" Ida memutar bola matanya jengah. "Sampean mah sudah pelit dari oroknya" lanjutnya.
Terjadilah kejar-kejaran antara Dahlia dan Ida.
__ADS_1
"Sudah woy, buminya bergoyang" ketus Rani, tapi mereka tidak menghiraukan.
Seusai makan malam kegiatan seperti biasa, belajar bersama. Tempat favorit kami di halaman karena jika sambil memakan cemilan jarang ketahuan.