
"Maaf ya Mbak" Mia tertunduk lesu.
"Aku sudah memaafkan mu jauh hari sebelum kamu minta maaf" aku mengelus punggungnya pelan.
"Terimakasih ya Mbak, Mbak memang baik."
"Aku masih banyak belajar Mia, aku masih jauh bahkan amat jauh dari kata baik."
"Mbak suka merendah."
Tak berseling lama perlombaan di mulai. Aku memberi semangat pada Mia. Bagaimana pun dia adalah generasi selanjutnya dari pencak silat yang aku geluti selama ini.
"Mia di perhatikan, pahami, jangan banyak bicara dulu. Kamu bisa belajar dari mereka cara menangkis dan telak. Ini pertama kalinya untuk mu" Riah mengingatkan Mia, secara tidak langsung termasuk sindiran keras untuk ku. Karena sedari tadi Mia berbicara dengan ku.
"Maaf Mbak" sahut Mia.
"Hehee" aku hanya terkekeh mendapat tatapan maut dari Riah. "Jangan galak-galak Neng" Aku masih cengengesan di tatap Riah, tapi mata ku berpaling ke arah yang lain.
Riah hanya melengos, memutar bola matanya jengah tanpa merespon ucapan ku.
Kini giliran Mia bertanding, Aku salut dengan gerakan Mia jauh lebih bersemangat dari pada hari biasanya di latihan. Meskipun terkena tendangan sekali, keberuntungan ada pada Mia. Dia tidak terkena bagian yang fatal, sehingga mudah untuk menyerang kembali.
Menit berlalu begitu saja, kami telah menyelesaikan pertandingan. Harap-harap cemas kami menunggu pengumuman sambil istirahat yang kami gunakan untuk sholat Dhuhur di lanjutkan makan siang.
...***...
Waktu yang kami tunggu akhirnya tiba, pengumuman hasil pertandingan hari ini.
Semua peserta sudah berkumpul di depan panggung yang di gunakan untuk pembukaan dan di dampingi pelatihnya masing-masing.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" salam panitia dari atas panggung.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut kami serempak.
"Oke hal ini mungkin sesuatu yang sangat kalian tunggu-tunggu sejak pertandingan usai. Bagi pemenang jangan menyombongkan diri justru beban kalian akan lebih berat di Kabupaten nantinya dan jangan pernah mengeluh" panitia menyapu pandangannya pada seluruh peserta. "Apa pun hasilnya tetap semangat."
"Bagi yang kurang beruntung hari ini tetap semangat karena kalian telah terpilih dari sekolah masing-masing. Mungkin di lain kesempatan kalian jauh lebih beruntung."
"Berhubung waktu semakin sore langsung saja kita umumkan atlit kita dari Karate. Juara tiga di tempati oleh peserta dengan nomor urut lima, harap maju ke depan." Tepuk tangan meriah dari segala penjuru.
"Juara dua di raih oleh peserta dengan nomor urut tujuh" kata panitia. "Di harap naik ke atas panggung" lanjutnya. Di raih oleh SMK yang sama.
Rani memegang tangan ku, tubuhnya gemetar. "Aku kira tujuh belas" Rani menunduk.
"Tenang Ran, semoga yang terbaik untuk mu" aku mencoba menenangkan meski tidak bereaksi apa pun terhadap Rani.
__ADS_1
"Yang kita tunggu-tunggu juara satu di raih oleh nomor urut tujuh belas" Ucapan panitia membuat Rani memeluk ku. "Di harap naik ke tas panggung."
"Alhamdulillah, aku bisa membawa pulang medali lagi." Sembari naik ke atas panggung Rani tak hentinya mengucapkan lafadz hamdallah, terlihat dari gerakan bibirnya.
Dari atas panggung Rani menatap Riko dengan senyum kemenangan, yang di tatap juga sama tersenyum sangat bahagia.
"Indahnya, cinta mereka yang selalu harmonis semoga mereka berjodoh" batin ku.
"Kita lanjut untuk atlit selanjutnya, yaitu Taekwondo, yang menempati juara ke tiga di raih oleh oleh peserta dengan nomor urut tiga, langsung naik ke atas panggung saja ya bagi yang namanya terpanggil."
"juara dua oleh peserta nomor urut empat" panitia sangat semangat memanggil urutan tiga besar untuk naik ke atas panggung.
"Alhamdulillah, meski juara dua aku tidak sia-sia jauh-jauh ke sini" ucap Riko sambil menuju ke atas panggung.
"Sepertinya panitianya tidak bernafas" cetus Angga.
"Kok bisa?" Aku mendadak bego.
"Dari tadi tidak berhenti manggil pemenangnya, hehehe" Angga terkekeh.
"Juara satu di tempati oleh peserta nomor lima" ucapan panitia selalu di iringi tepuk tangan yang sangat meriah dari sudut manapun.
"Selanjutnya atlit PSHT, juara tiga di tempati oleh peserta nomor empat."
"Alhamdulillah aku juara tiga Mbak" Mia memeluk ku erat kemudian naik ke atas panggung.
"Juara dua di tempati oleh peserta nomor satu."
"Juara satu di tempati oleh peserta nomor tujuh."
"Alhamdulillah" kata Angga, dengan gagahnya ia menempati juara satu.
Inilah para atlit yang membawa pulang medali periode ini, jangan lupa bersyukur kepada Allah.
"Ra, kok kamu tidak di panggil ya" Riah mulai cemas.
"Mungkin tidak ada lawan tidak ada medali" sahut ku datar.
"Ada, biasanya ada Ra" Riah masih bersikukuh dengan pendapatnya.
Seharusnya memang mendapat medali, aku menjadi pendamping juga sudah lima tahun, aku terjun di dunia atlit sudah delapan tahun lebih dari peserta hingga menjadi pelatih.
Tiga tahun sebelumya aku menjadi peserta dan tidak hanya sekali menang sebelum bertanding.
"Meski tidak mendapat medali tapi tetap ke Kabupaten kan?" Ferdinan ikut bicara.
__ADS_1
"Coba nanti kita tanyakan lagi."
"Tadi sudah di daftarkan apa belum?" Ferdinan menatap istrinya.
"Sudah kok, tadi juga panitianya bilang menang sebelum bertanding dan mewakili bulan depan, karena kami daftarnya terakhir" kata Riah lagi.
"Tunggu saja dulu" Ferdinan menenangkan istrinya sambil mengelus pucuk kepalanya.
Sungguh romantis para pasangan yang ada di dekat ku. Selain Riko dan Rani, Riah dan Ferdinan juga begitu manis.
Apa kabar antara Nera dan Dhani? Aku tidak merasa ada kemanisan di hubungan ini. kalau antara aku dan Fian, dia tidak selingkuh sudah Alhamdulillah. Tapi aku saja memiliki Dhani mungkin dia juga memiliki yang lain.
"Sebelum membagikan medali kepada peserta pemenang, saya akan mengumumkan sesuatu yang sangat jarang. Hari ini kita kedatangan tamu spesial, peserta dengan predikat memang sebelum bertanding."
"Langsung saja naik ke atas panggung kepada atlit kita, Tenera Alivia. Saudari Tenera akan mewakili kecamatan kita bulan depan. Sekalian pengumuman untuk para pemenang periode ini, untuk juara satu bulan depan akan mewakili bertanding di kabupaten, di mohon latihan lebih giat lagi."
Tepuk tangan sangat meriah dari sebelumnya.
"Yang terakhir, juara umum periode ini di raih oleh Ponpes Balekambang. Perwakilannya langsung saja oleh saudari Tenera Alivia."
"Alhamdulillah" batin ku.
setelah mendapat medali kami turun dari atas panggung.
Di bawah, kami berpelukan khususnya santri putri. Aku sangat bahagia bahkan aku sempat menitikkan air mata.
"Aku akan membanggakan Ayah Ibu ku di sana" batin ku lagi.
"Alhamdulillah, kita mendapat juara umum" ucap Rani.
"Bagaimana tidak juara umum, kita semua mendapat medali" sahut Angga.
"Keren kamu Ra, menang sebelum bertanding" kata Riko.
"Kalian juga keren, kalau aku ada lawan belum tentu ikut ke kabupaten bulan depan" sahut ku.
"Ah, merendah mulu" kata Riah.
"Apaan sih Mbak."
"Ya, secara seorang pelatih atlit ikut bertanding lagi" bisik Riah.
"Nanti kalau ketahuan di diskualifikasi loh, jangan keras-keras" kata ku.
"Di dis kalau tandingnya di Kalimantan, di Balekambang kan kamu peserta" timpal Ferdinan.
__ADS_1
"Iya juga sih."