Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 57 KSD_Hasil Perjodohan


__ADS_3

"Ya Allah, mengapa hidup ku engkau takdirkan seperti ini?" Batin ku, aku menunduk.


Ayah ku pindah duduk di teras rumah, Eli dan Ibu membantu di dapur. Ku sandarkan kepala ku di sofa sembari menatap langit-langit rumah.


Di luar terdengar Ayah sedang mengobrol dengan seseorang, mungkin Ayahnya tera sudah pulang.


"Assalamualaikum" salam beliau, aku mendongak menatap yang datang.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah" sahut ku, aku tak percaya dengan pandangan mata ku. "Loh, Ayah?" Aku menatap Ayahnya Tera, Pak Abdul.


"Iya, ini Ayahnya Tera" Ayah ku yang menjawab di kiranya aku berbicara dengan beliau padahal aku berbicara dengan Pak Abdul.


"Dhani?" Ujar Pak Abdul.


"Ini tidak salah alamat kan? Ini nyata?"Aku masih tak percaya dengan ini.


"Ini anak mu?" Pak Abdul tidak menghiraukan ucapan ku, beliau malah berbincang dengan Ayah ku.


Semua orang sudah duduk di ruang tamu, hidangan juga sudah tersuguh.


"Biar anak saya saja yang berbicara keputusan ada di tangannya" kata Ayah ku.


"Baiklah Nak berikan keputusannya, Ayah juga tidak akan memaksa kalian mumpung Nera belum tahu. Apa pun keputusannya Ayah akan terima karena kalian yang akan menjalaninya."


"Nera?" Ucap Ibu lirih.


"Baiklah Yah, aku akan meminangnya esok hari" kata ku mantap.


"Loh?" Ayah mengerutkan keningnya, mungkin Ayah tidak menghiraukan ucapan ku di mobil hanya Ibu yang tersenyum. Rupanya Ibu mengingat ucapan ku di mobil tadi.


"Kalau langsung nikah saja bagaimana Yah?" Aku menoleh pada Ayah membuat Ayah ku menganga.


"Belum cukup usia mu, belum tujuh belas tahun" sahut Ayah membuat pak Abdul terkekeh.


"Baiklah, jika usia ku genap tujuh belas tahun hari itu juga aku akan pulang bersama Nera."


"Memangnya kamu tahu di mana dia mondok?" Tantang Ayah, Pak Abdul hanya senyum-senyum tidak jelas karena beliau tahu aku dalam satu Pondok.


Aku jadi ingat bagaimana perjuangan mendapatkan informasi sekolah tujuan Nera, itu adalah hal paling bodoh yang pernah ku lakukan.


"Jangan di tanya lagi deh Yah, sekarang aku yang ingin bertanya. Mengapa Ayah memanggilnya Tera sedangkan ke dua orang tuanya saja memanggilnya Nera, bahkan Kakak kesayangannya juga memanggil demikian."


"Suka-suka Ayah dong, hehehe" Ayah ku dan yang lainnya terkekeh.


"Jadi Kak Tera toh yang ada di doa Kakak di sepertiga malam?" Cetus Eli membuat ku melototinya.


"Oh ya?" Sahut Ibunya Nera, Bu Sari.


"Kalian kenal di mana sih?" Tanya Ibu mulai penasaran.


"Ketemu di OSN di tingkat Kabupaten" sahut ku gamblang. "Terus pas akan go nasionalnya aku kalah di Kabupaten jadi tidak bisa mengenal lebih dekat lagi, eh malah ketemu di SMP yang sama."


"Yang penting sekarang doa Kakak sudah di ijabah, semangat lagi berdoanya biar di jodohkan sama Allah" kata Eli lagi.


"Amiin ya Allah" sahut ku dalam hati.

__ADS_1


"Semoga saja Nera tidak memiliki pacar, tapi dia bilang memiliki pandangan masa depan" ucapan Bu Sari mengingatkan ku pada kejadian setengah tahun lalu, tentang Nera yang mengungkapkan jika memiliki pria lain selain diri ku.


"Coba di pastikan lagi Bu" pinta ku pada Bu Sari.


"Iya, Ibu telepon saja kali ya?" Bu Sari meminta pendapat kami.


"Memangnya boleh malam begini menelpon ke Pondok?" Pak Abdul tidak yakin.


"Aturannya tidak boleh Yah, tapi biasanya kalau penting boleh saja sih. Sekarang Nera sedang membawa hp" jelas ku.


"Iya Yah, Nera go Kabupaten tadi mengabari Ibu" kata Bu Sari pada suaminya.


"Semoga go nasional."


"Amiin ya allah."


"Ya sudah, Ibu telepon Nera dulu ya."


Bu Sari mendial nomor Nera, tak berseling lama di angkat.


"Assalamualaikum Ibu" salam Nera di seberang, kami semua mendengar karena di loud speaker.


"Wa'alaikumsalam" sahut Bu Sari, yang lainnya hanya menjawab pelan.


"Ada apa Bu?"


"Tidak ada, Ibu rindu."


"Ibu mah lebay, perasaan tadi pagi telepon, kemarin juga telepon masa rindu terus. Oh ya, Ibu sedang apa?"


"Loh, kok bahas itu lagi sih Bu?"


"Lagian Ibu penasaran."


"Ayah juga penasaran loh" Pak Abdul menimpali.


"Tumben Ayah bersuara?"


"Apa teman mu yang pulang bersama?"


"Hm, Ayah ini. Ada apa sih, Nera jadi curiga. Jangan sampai ada perjodohan yang tidak jelas itu ya Yah dan sekarang bukan jaman Siti Nurbaya lagi."


"Tidak ada nak, sekarang sudah modern" Pak Abdul menatap Ayah ku kemudian berganti menatap ku sembari mengangkat kedua alisnya meminta pendapat.


Ku ambil ponsel Bu Sari dari Pak Abdul. "Hey, kesayangan! Kamu punya pacar lagi selain aku?"


"Loh!" Nera sepertinya terkejut. "Kamu jangan macam-macam ya aku masih ingin sekolah. Nanti di kiranya apa-apa lagi sama Ayah ku" ucap Nera panjang.


"Memangnya aku kenapa?"


"Kenapa di rumah ku, katanya acara keluarga. Jangan bilang kamu melamar ku."


"Kalau iya kenapa? Kamu tidak jadi menjadi Ibu dari anak-anak ku?" Seketika semua yang di sini memandangi ku dan banyak sekali pertanyaan di pikiran mereka.


"Woy, kita masih sekolah kali" Nera masih tidak terima dengan ini.

__ADS_1


"Ya kali, tapi apa salahnya kalau aku kenalan sama orang tua mu, siapa tahu dapat restu. Kan tidak sia-sia aku mencintai mu! Hahaha!" Aku tidak sengaja tertawa sambil memegangi lutut ku di depan keluarga ku terutama Ayah yang langsung heran.


Aku yang sadar di tatap aneh oleh Ayah ku langsung diam.


"Aduh! Repot ini nanti."


"Kenapa sih?"


"Tadi pagi Ibu melarang ku pacaran atas perintah Ayah, sekarang kamu malah menemui mereka."


"Memangnya kenapa?"


"Kenapa terus, masih tanya lagi kenapa? Aku bakal di marah habis-habisan nanti, kamu tidak tahu Ayah ku kalau bicara tidak bisa di bantah!"


"Tapi kamu tidak ada pria lain kan?"


"Tidaklah, gila kamu ya!" Nera masih belum sadar jika perdebatan ini di dengarkan oleh keluarga ku dan keluarganya, mereka semua menahan tawa Ayah ku sampai memegangi perutnya. Dan sempat-sempatnya Eli mengambil video.


"Ya sudah, aku mau tidur dulu sudah malam. Besok aku akan lelah" nada bicara Nera sudah merendah.


"Semangat ya! Jangan cari laki-laki lain."


"Bukannya semangat go nasional malah cari laki-laki lain. Awas saja kamu bicara aneh-aneh sama orang tua ku, ku kubur hidup-hidup kamu."


"Iya, tapi jangan cari pria lain."


"Iya deh, iya."


"Assalamualaikum kesayangan."


"Wa'alaikumsalam" setelah Nera menjawab salam ku langsung ku matikan. Aku sampai lupa jika Bu Sari atau yang lainnya ingin bicara lagi.


"Maaf Bu, malah ku matikan" ku kembalikan ponsel milik Bu Sari.


"Tidak apa-apa."


"Jadi fix ya, kalian menerima perjodohan ini" Ayah ku memastikan.


"Di terima lah Yah."


"Tadi sok-sokan tidak, coba terima dari tadi sudah selesai acara kita."


"Lagian Ayah manggilnya Tera, ya aku tidak mau lah. Sedangkan orang tuanya saja memanggilnya Nera. Kan asing bagi ku."


"Iya, itu hanya Ayah yang memanggil begitu, Ibu dan Adik mu ikutan" jelas Ayah.


Ku hembuskan nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu."


Setelah makan Ayah mengobrol dengan Pak Abdul di luar sembari menikmati udara malam. Adik ku dan Ibu membantu Bu Sari membersihkan sisa makan. Aku sendiri rebahan di sofa sambil menunggu Ibu selesai.


Aku sangat lelah hari ini.


Alhamdulillah, semoga saja aku tidak salah dalam keputusan ku kali ini. Rumah tangga adalah hal jangka panjang, semoga saja aku mampu menjadi nahkodanya.


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh lima menit, kami undur diri dari rumah Nera.

__ADS_1


__ADS_2