Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 24 KSD_Ijin Ke Pasar


__ADS_3

Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua santri. Semua santri sudah siap dengan packing-an barang yang akan di bawa pulang.


Aku sudah mengambil dua ponsel ku. Tanpa berfikir panjang aku langsung membuka noveltoon.


"Ra minjam hp nya dong, untuk kirim pesan pada Ayah ku. Sudah siang tapi belum di jemput" pinta Rani.


Aku mengambil hp jadul di saku baju ku tanpa menjawab pertanyaan dari Rani.


"Aku juga Ran" Ida ikut nimbrung.


Selanjutnya, jangan heran lagi. Ponsel ku di jadikan antrian oleh yang lain. Untung saja pulsanya unlimited jika hanya untuk mengirim pesan. Lagian setelah mengirim beberapa pesan, pesan selanjutnya akan mendapat voucher gratis.


Aku sudah tidak tahu di tangan siapa hp jadul kesayangan ku. Aku masih sibuk melihat isi saldo di aplikasi novel online ini. Sangat fantastis bagi ku yang masih pelajar.


Tidak ada notifikasi penarikan, berarti selama ini Dayat tidak mengambil uangnya sepeser pun.


"Mana hp ku??" tangan ku sudah siap menerima ponsel dari Iza.


"Siapa juga yang meminjam hp mu" Iza nyolot sambil pergi meninggalkanku.


"Jangan pergi dulu, aku masih ada urusan dengan hp itu" ucapanku sedikit lantang karena Iza semakin jauh.


"Ini hp nya mbak Dahlia, bukan milik mu."


"Hanya orang bodoh yang meninggalkan hp-nya ketika pulang."


"Dahlia belum pulang."


"Tidak usah mengelak lagi, mana hp ku."


Iza tidak memperdulikan ku lagi. Dia malah pergi ke depan kantor pusat entah apa tujuannya. Tapi aku masih bisa melihatnya karena asrama sudah mulai sepi.


Aku tak hilang akal, aku menelepon nomor Indosat ku yang ada di ponsel jadul ku. Aku harus berkorban sedikit, karena SIM card di ponsel yang ku pegang Telkomsel. Mau tidak mau Telkomsel menabrak Indosat.


Panggilan tersambung, Iza mengangkat telepon itu.


"Sudah apa belum hp ku, aku masih ada urusan dengan hp itu" ucapku tanpa basa-basi.


Iza menatapku, pipi dan hidungnya sudah merah menahan kesal dan malu. Tanpa berbicara sepatah kata pun Iza memberikan ponsel itu pada ku, kemudian pergi begitu saja.


"Dasar, wanita tidak tahu terimakasih" batin ku.


Setelah mendapat ponsel jadul ku, aku menelepon Dayat.


Telepon tersambung.


"Assalamualaikum Kak."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" jawaban dari seberang.


"Apa Kakak tidak butuh uang untuk keperluan? Uang di aplikasi masih utuh."


"Aku masih memiliki uang dari aplikasi ku sendiri, lagian aku tidak akan bisa mencairkan uang mu selagi ATM nya ada pada dirimu."


Ku tepuk dahi ku sendiri, bagaimana mungkin aku hilang ingatan jika kartu ATM-nya ada pada diriku. "Okey, aku akan mentransfer nanti sore."

__ADS_1


Pembicaraanku dengan Dayat usai. Ada pesan masuk nomor tidak di kenal, mungkin saja pesan dari salah satu santri yang mengantri tadi. Aku membuka pesan itu.


"Maaf Iza ta'ziran mu terlalu banyak, jadi liburan ini kamu di pondok saja. Ayah sudah bicara dengan Paman mu."


Ku lihat Iza masih memangku tas besarnya di teras kantor pusat. Kasihan juga melihat wajahnya yang sendu.


"Mbak ini ada pesan dari Ayah mu, aku tidak sengaja membukanya".


"Apa katanya?" suaranya sudah mulai rendah.


"Sampean suruh liburan di pondok karena banyak ta'ziran".


Iza berdiri tegap di hadapan ku. Matanya melotot ke arah ku, jadi bingung mau apa lagi dia.


"Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang sudah mengacaukan semuanya!!". Dia berteriak histeris.


Telinga ku mendengarkan ucapan Iza tapi mata ku tertuju pada sosok tinggi dan tampan sedang menatapku bersama kekasih gelap ku si Dhani. Si kekasih gelap karena posisinya setelah aku jadian dengan Fian. Alias selingkuhan. Maaf ya Allah.


Bughhh....


Bogeman terasa perih di bibir kanan ku. Aku baru sadar ketika Iza ingin melayangkan bogeman yang kedua, kemudian ku tangkis.


Sosok tinggi itu menahan Dhani supaya tidak mendekati ku karena Dhani terlihat ingin melangkah.


"Kamu yang mengalihkan perhatian Dhani, kamu yang suka melawan ucapan ku, kamu yang paling berani dengan ku jika aku menegur mu, aku sering di ta'zir karena ulah mu" nafas Iza memburu sangat emosi. "Karena mu aku di paksa liburan di pondok."


"Bukankah Paman mu pemilik pondok ini, lalu apa yang kamu bicarakan aku mengacaukan hidup mu?."


"Semua karena kamu."


Aku berbalik Menatap Iza tajam "terimakasih atas pukulan mu, kali ini aku memaafkan mu tapi tidak untuk selanjutnya. Dan satu hal lagi, aku sudah dekat dengan Dhani jauh hari sebelum aku menginjakkan kaki ku di Kota Ukir ini."


Ku ambil tisu yang ada di tangan Iza, kemudian membersihkan luka ku dengan lari kecil, perasaan ceria, menuju gerbang. Di sana sudah ada dua makhluk tampan sedang menunggu ku. Tidak mungkin kan kalau menunggu orang lain.


"Kak apa aku sudah bijak, hahaha" aku bergelayutan di lengan Dayat. Semua ini di tonton oleh Iza.


"Tidak, kamu belum bijak dalam hal apa pun. Bahkan kamu tidak bijak dalam memilih pasangan" kata Dayat. Aku memanyunkan bibirku mendengar ucapan Dayat.


Ku lirik sekilas wajah Dhani yang terdiam menatap datar padaku.


"Bisa-bisanya kamu memilih pria kulkas untuk menjadikan pendamping hidup. Apa kamu tidak tahu, jika bersanding dengannya kamu akan membeku" kata Dayat lagi.


"Aku tidak memilih, tapi dia yang mencintaiku" ucap ku lirih. "Cepat jelaskan Dhan" ku tatap tajam si Dhani.


Belum tahu saja si Dayat kalau Dhani orang paling lebay dan konyol sebelumnya.


Bukannya menjawab Dhani malah tersenyum simpul.


"Jangan tebar pesona, kamu bahagia aku terluka karena mu." Dhani malah tertawa mendengar ocehan ku.


"Supaya ada cerita pada anak cucu kita kelak" sahut Dhani enteng.


"Enak saja aku doang yang berjuang."


Dayat sudah duduk di teras bersama dengan Rinda. Ini momen teraneh yang pernah ku lihat pada diri Dayat.

__ADS_1


"Tapi dia sudah dekat sejak pertama aku masuk ke pondok ini" batin ku.


"Hey kesayangan, kita liburan di sini bersama" Dhani membuyarkan lamunan ku. "Apakah kamu sudah menerima cintaku seutuhnya? Kamu berjanji akan menerimaku jika aku tidak pulang Idul Adha tahun ini."


"Masya Allah kamu masih ingat? Lalu, bagaimana dengan Kakak ku."


"Dia akan tidur di asramaku."


"Oh."


"Hari ini aku ijin ke pasar, kamu mau nitip apa".


"Enak sekali, aku ikut saja kalau begitu."


Aku di bawa ke ndalem oleh Rinda bersama Dayat, Dhani sendiri kembali ke asrama.


"Assalamualaikum Bah" ucap Rinda.


"Wa'alaikumsalam" sahut Abah.


Dayat mencium punggung tangan Abah telapak tangan kemudian punggung tangan lagi. Mengharapkan ridho-nya, karena telapak tangan Abah pasti banyak menengadah memohon kepada Allah. Dari situ kami ngalap barokah dari Allah melalui jalan Abah.


"Dari mana kamu le" Abah menatap Dayat dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Saking cabang al-Asy'yari'ah Kalibeber Wonosobo Bah" Sahut Dayat tenang.


"Dekat UNSIQ ya" maksud Abah UNSIQ Wonosobo. Universitas Sains Al-Qur'an Wonosobo.


"Nggeh Bah".


Dayat sangat hormat kepada Abah, sedari tadi wajahnya hanya menatap tanah.


Abah beralih pandang kepada Rinda "Ada apa Rin?."


"Nera minta ijin ke pasar bersama Kakaknya Bah."


"Kamu ikut?" Abah balik bertanya kepada Rinda.


Rinda tersenyum simpul sembari mengangguk, Abah ikut tersenyum kemudian menatap Dayat.


"Jika memang Rinda pilihanmu, maka dia yang akan terpilih" Ucap Abah kepada Dayat.


Di sini aku baru tahu jika Dayat mencintai Rinda, begitu juga sebaliknya.


"Nera, kamu juga harus tegas dengan pilihanmu" Kali ini Abah berbicara dengan ku.


Deg


Jantungku mencuat. Apa benar Abah memiliki ilmu penerawangan, tapi tidak mungkin tidak tahu tentang ku dan Dhani. Dahulu, ketika Dhani mengungkapkan perasaannya hampir satu ponpes mendengar. Gila sih Dhani nya.


Tapi pilihan yang tegas maksud Abah pasti menyangkut tentang Fian.


"Nggeh Bah" Hanya itu jawaban ku. Dayat seperti mengintrogasi melalui matanya.


Setelah mendapat ijin ke pasar aku dan Rinda kembali ke asrama, sedangkan Dayat menuju asrama SMK putra menemui Dhani.

__ADS_1


Sesampainya di asrama, Iza sedang duduk di pojok aula meratapi nasib liburan di pondok. Apa sesakit itu liburan di pondok sehingga Iza sangat murung, atau hanya Iza saja yang lebay.


__ADS_2