
"Ra kamu di suruh masak" kata Tifa.
"Di suruh siapa" sahut ku.
"Kamu mendapat ta'ziran."
"Ta'ziran yang mana?"
"Telat jama'ah tadi malam."
"Loh, bukannya telat sekolah ya" aku bersandiwara.
"Iya."
"Eh bukan, ta'ziran tidak mengaji kayanya."
"Bodo amat ta'ziran apa pun aku tidak perduli yang penting kamu masak untuk makan siang."
"Tidak sekalian untuk makan malam?"
"Terserah lah" Tifa mulai sewot.
"Ta'ziran yang mana ya Mbak" ku tanyakan pada Rinda yang sedari tadi diam.
"Kamu punya ta'ziran tidak Minggu ini."
"Alhamdulillah dua Minggu ini aku jama'ah terus Mbak, ngaji juga tidak ada yang lewat, sekolah juga berangkatnya tidak pernah kesiangan."
"Terus bagaimana ini?" Rinda menatap Tifa.
"Oh ya Mbak, kalau masak tidak boleh berturut-turut pagi siang kan Mbak, aku baru saja mendapat piket masak. Baju ku saja masih bau dapur."
"Sudahlah tidak usah alasan lagi, cepat berangkat" Rinda memerintah Tifa sepertinya sudah yang ke berapa kali, terlihat dari tatapannya yang jengah.
"Iya Mbak" tatapan tajam dari Tifa tertuju pada ku.
Ya, kali ini aku menang lagi untuk berdebat. Aku sangat bahagia jika seperti ini.
...***...
"Panggilan kepada Tenera Alivia mendapat telepon" panggilan dari depan gerbang.
Tanpa mengganti pakaian ku, aku menuju ke depan gerbang. Bahagianya mendapat telepon dari orang tua.
"Assalamualaikum" salam ku.
"Wa'alaikumsalam" sahut Ibu di seberang sana. "Apa kabar Nduk?"
"Alhamdulillah sehat, Ayah dan Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillah. Nduk kamu mendapat undangan reuni akbar sepuluh angkatan di atas mu, apa kamu akan pulang?"
"Kapan acaranya Bu?"
"Libur ujian semester ini."
"Ingin, tapi apakah ibu memiliki biaya untuk ku pulang?"
"Nanti ibu mintakan Kakak mu."
"Aku memiliki uang, kemarin ikut event mendapat lima juta Bu."
"Event apa?"
"Atlit."
"Memangnya boleh, kamu kan sudah mendapat sertifikat pelatih."
"Nyatanya boleh."
"Ya sudah, kabari Kakak mu pulang bersama saja."
"Iya Bu."
"Ibu sangat merindukan mu."
"Ah, Ibu lebay. Hehehe" aku terkekeh mendengar ucapan Ibu.
Telepon berakhir.
Aku bimbang, baru saja mengajak teman-teman ku untuk liburan di Pondok tapi aku malah memiliki acara yang ingin ku hadiri. Aku harus pulang. Kalau begini jadi merasa bersalah, ini pasti akan menjadi berita buruk bagi mereka dan akan kecewa.
Aku berharap semoga mereka memaklumi ku.
...***...
Pov Dhani
__ADS_1
Ujian sudah berlalu, cukup menguras tenaga dan pikiran.Aku merasa sedikit kesusahan di bagian praktek kejuruan. Dua hari yang akan datang tinggal setoran hafalan baik SMK maupun salafiyah. Ini yang membuat ku deg-degan pandangan pengawasnya tajam.
"Bagaimana Dhan, apakah kamu ingin liburan di Pondok lagi atau pulang menghadiri reuni akbar mu."
"Sepertinya aku pulang deh Riz."
"Coba kabari Nera, dia juga kan teman sekelas mu pasti dia juga mendapat undangan."
"Nanti lah, kalau hafalan sudah tuntas."
Sebenarnya ini sekedar alasan supaya aku bisa menemui Nera sendiri, aku tidak ingin pertemuan ini akan menjadi candaan bagi Rizky. Apalagi jika ada Rani, bukannya terbalas malah hancur sudah rasa rindu ini.
Lebih baik jika Ida yang menemani setidaknya dia lebih anggun, tapi aku sangat berharap Nera juga sendiri.
"Terkadang aku heran wajah Nera dan Ida bagai pinang di belah dua, dan mereka akan bersaudara jika aku berjodoh dengan Nera dan Ida dengan Kak Angga. Bisa jadi yang di anggap saudara sedarah malah Ida dan Nera" batin ku.
Ini versi author ya kak, maaf kalau tidak sesuai dengan imajinasi kalian.
Aku sudah berniat sore ini akan menemui Nera di asramanya, yang jelas akan membahas tentang reuni akbar ini. Dayat juga termasuk karena dia angkatan empat tahun di atas ku.
"Ah, jadi rindu Mahen apakah dia akan pulang juga, tapi sungguh keterlaluannya jika dia tidak pulang padahal hanya keluar kota" batin ku.
Setelah selesai setoran aku mampir ke asrama putri.
"Permisi, Mbak saya ingin bertemu dengan Tenera Alivia" ucap ku pada Mbak kantor alias Mbak bagian administrasi di kantor pusat kebetulan yang jaga Mbak Nana.
"Ada kepentingan apa?"
"Membahas kepulangan Mbak" sahut ku asal semoga saja boleh bertemu.
"Jangan lama-lama nanti yang lain iri. Minta tolong Mbak jaga gerbang suruh memanggil" perintahnya.
"Panggilan kepada Tenera Alivia di harap ke depan kantor" tanpa basa-basi langsung di panggil.
Dalam waktu dekat Nera datang seorang diri menemui sang pemanggil.
"Ada apa?"
"Ada Kang Dhani di sana" si penjaga gerbang menunjuk ku menggunakan ibu jarinya.
Dengan penuh senyuman Nera menghampiri ku.
"Assalamualaikum" salam dari Nera untuk ku.
"Ada apa, di ta'zir lagi nanti" Nera mengingatkan ku.
"Tidak, aku sudah meminta ijin pada Mbak Nana."
"Ada apa sih?"
"Reuni akbar kamu pulang tidak?"
"Ingin, kamu pulang juga?"
"Insyaallah, pulang bersama bagaimana?"
"Okey."
"Ambil dulu KIA mu, biar ku pesankan sekalian tiketnya."
"Tunggu sebentar ada di kamar."
Beberapa menit kemudian Nera datang lagi membawa KIA. Karena usia kami masih enam belas tahun belum memiliki KTP hanya KIA yang kami gunakan. Sebenarnya ada kartu pelajar, namun aku lebih nyaman menggunakan KIA saja.
"Kapan pulangnya" tanya ku lagi.
"Dua hari lagi."
"Memangnya kita tidak ikut lomba, padahal aku susah payah membuat proposalnya."
"Terserah, yang jelas dua hari lagi aku terbang kalau mau pulang sendiri juga tidak masalah."
"Ih, Ketos macam apa ini" Nera menggerutu.
"Kan ada wakilnya, lagian perlombaan ini bukan yang menentukan nilai rapot."
"Iya deh, iya" Nera cemberut membuat ku ingin mencubit pipinya.
"Siapkan satu ransel saja, bawa yang penting saja, jangan lupa di kunci lemarinya."
"Iya."
"Jangan cemberut dong nanti cantiknya hilang."
"Aku sudah cantik dari oroknya juga kali."
__ADS_1
"Iya deh, makanya aku jatuh cinta."
"Hushh, jangan pacaran masih ingusan juga" ujar Nana di balik meja kantor.
"Sudah jadi upil Mbak" sahut Dhani sekenanya.
"Hehee, maaf Mbak" Nera tertunduk sambil berucap.
"Hafalan mu sudah beres kan?"
"Alhamdulillah sudah."
"Ya sudah sana kembali, dua hari lagi kita otw."
"Iya."
Ku tatap Nera hingga memasuki gerbang asramanya, kemudian tak terlihat lagi.
"Terimakasih ya Mbak" ucap ku pada Nana.
"Iya sama-sama."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh."
Aku berjalan santai hingga ke asrama sambil memainkan KIA milik Nera.
...***...
"Apa lagi yang akan kamu bawa?" Ida mengingatkan barang bawaan ku.
"Sudah semua" sahut ku mantap, aku juga sudah mengambil semua alat elektronik ku di kantor pusat.
"Padahal aku baru berniat akan liburan di Pondok" ucap Arum sedih.
"Kan bisa liburan tanpa aku Mbak" sahut ku.
"Tapi beda, pasti hambar. Ibarat sayur asem tidak ada asemnya" Iza menimpali.
"Sama saja ada aku atau tidak. Sama-sama liburan di Pondok."
"Tapi beda Ra" Iza bersikukuh.
"Ya sudah, lain waktu kalau tidak ada acara akbar begini aku liburan di Pondok deh" aku menenangkan Iza dan Arum yang terlihat sangat kecewa.
"Ya sudah, tidak apa-apalah."
"Semangat dong Mbak."
"Iya."
Paginya aku sudah standby di depan kantor pusat bertepatan dengan santri SLTA berangkat sekolah meski jam kosong persiapan lomba nanti jam delapan.
Aku di suruh menunggu jemputan di kursi depan kantor pusat.
Sambil memainkan game di ponsel aku tak sadar jika Dhani sudah berdiri di depan ku.
"Mana mobilnya?"
"Di ndalem, aku di suruh menjemput mu ke sini."
"Lagian kenapa sih bukan mobilnya yang ke sini atau aku di antar santri putri saja ke ndalem."
"Sudah, ini juga perintah Abah."
"Tapi kan jadi pusat pandangan begini."
"Tapi perintah Abah. Sebenarnya aku di suruh memberi tahu piket jaga gerbang untuk mengantar mu, tapi kamu sudah siap ya ayo jalan bareng saja."
"Aku tidak mau, biar aku di antar Ida sama Rani."
"Ya sudah, ku tunggu di ndalem."
"Okey."
Aku langsung ke gedung SMK putri menemui Rani dan Ida. Untung saja mereka belum berangkat ke gedung SMK putra.
"Rani...Ida..." panggil ku pada mereka.
"Ada apa?"
"Antar aku ke ndalem yuk, mobilnya ada di sana."
"Ayo." sahut Rani menggandeng lengan kanan ku, di lengan kiri ku ada Ida.
"Sekalian ke gedung SMK putra" timpal Ida, sebagian santri sudah ada yang berangkat ke gedung SMK putra.
__ADS_1