Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 48 KSD_Kembali Ke Pondok


__ADS_3

Maaf ya kak baru up lagi, kemarin ada sedikit kendala untuk up jadi hari ini baru bisa up lagi.


...***...


Hari berlalu begitu saja, tak terasa dua Minggu sudah di rumah. Besok pagi harus sudah kembali ke Pondok. Dayat sudah kembali beberapa hari yang lalu.


Pukul tiga dini hari aku sudah terbangun, persiapan berangkat ke Bandara. Aku kembali ke Pondok lagi bersama Dhani, kami janjian akan bertemu di Bandara.


Aku sudah memakai cincin hadiah dari Dhani, tadinya aku ingin mengembalikan cincin ini di acara reuni karena merasa cincin ini terlalu berlebihan, namun kejadiannya tak terduga membuat ku merasa menjadi wanita yang paling istimewa.


"Nera!" Dhani berlarian menuju tempat ku berdiri membuat ku tersenyum, namun dia melewati ku begitu saja dan mencium punggung tangan kanan Ayah.


"Hati-hati di jalan ya, nanti kabari Ayah" kata Ayah pada Dhani.


"Ayah ini, aku yang anaknya tidak di suruh hati-hati" aku tidak terima Ayah malah berpesan pada Dhani bukan pada ku. "Yang anak Ayah tuh Nera bukan Dhani."


"Yaelah, gitu doang ngambek" sahut Dhani.


"Kamu kan anak Ayah jadi sudah ngerti dong harus selalu hati-hati" timpal Ayah.


"Awas saja jika Dhani jadi mantu Ayah Nera di anak tiri kan."


"Iya deh, kalau gitu kalian hati-hati ya, Ayah pulang dulu."


"Iya Yah, hati-hati juga" sahut Dhani.


Aku memakai baju yang sama ketika pulang dari Pondok, takut saja jika di ta'zir karena tidak mengenakan seragam. Sama halnya dengan Dhani, karena memang aturan dari Pondok jika pulang atau kembali lagi ke Pondok harus memakai seragam dan almamater.


"Wah, pujaan hati kamu potong rambut ya?" Ku perhatikan atas telinga Dhani membuatnya semakin tampan.


"Terpesona, kamu terpesona" Dhani bersenandung.


"Terpesona lah, tapi aku jadi sedih" ku pasang wajah sedih yang jelas hanya berpura-pura saja.


"Tambah gemesin kalau cemberut gitu."


"Aku tuh sedih bukan ngambek jadi tidak cemberut."


"Aku ganteng kok kamu sedih, harusnya bahagia punya pacar ganteng."


"Pasti kamu bakal tebar pesona."


"Tidak lah, asal tidak ada lagi pacar selain aku."


"Okey, kamu juga harus setia. Aku janji tidak akan menduakan mu."


Aku merasa tidak enak hati karena setelah memiliki Fian aku juga memiliki Dhani, apa jadinya jika Dhani berfikir aku akan memiliki pria lain setelah memilikinya.


"Hay!" Dhani melambaikan tangannya di depan wajah ku. "Jangan melamun ayo cek in."


"Okey."


Sama seperti ketika pulang, aku hanya mengikutinya dari belakang. Seperti bebek yang takut kehilangan induknya.


Aku juga lupa jika KIA ku masih ada di Dhani. Jangan di tanyakan lagi tentang tiket, Dhani lagi yang membayarnya dan Ayah ku merasa biasa saja.


Sampai di sini aku merasa jika kami keluarga matre.


"Kenapa?" Dhani menatap wajah ku sekilas.


"Kamu merasa tidak jika aku matre?"


"Matre? Dengan hal apa?" Dhani menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Pulang pergi aku tidak membeli tiket, aku tidak modal, dan Ayah ku biasa saja."


"Kamu tuh ngomong apa sih?"


"Ya itu, tadi" aku tertunduk.


"Tidak sayang, ini juga uang hasil main game bukan uang orang tua ku."


"Sebenarnya aku juga ada uang hasil nulis."


"Simpan saja, aku ingin kamu bisa nabung."


"Kamu meminta ku untuk nabung, kamu sendiri menghabiskan uang mu."


"Kan untuk membahagiakan Istri."


"Istri kepala mu! Halalin Adek dulu dong Bang" ku buat nada kemayu kemudian aku berlari menjauh dari Dhani.


Dhani hanya tersenyum.


"Kenapa ya aku jadi lebay begini?" Batin ku, mengingat ucapan ku dengan nada aneh yang keluar begitu saja dari mulut ku.


Perjalanan kali ini benar-benar ku nikmati sebelum masuk lagi ke penjara suci.


Andai setiap liburan aku bisa pulang, pasti akan sangat banyak momen di perjalanan apa lagi dengan Dhani, pasti akan berbeda jika pulang seorang diri.


Kami telah sampai di Bandar Udara Internasional Jendral Ahmad Yani Semarang. Kami menuju loket taksi dan memesan hingga sampai ke Jepara.


Waktu sudah menjelang siang, untuk menyingkat waktu aku dan Dhani langsung masuk ke dalam taksi kemudian sang sopir melajukan taksinya.


"Kalau sampai Ponpes bisa tidak Pak?" Tanya Dhani kepada Pak sopirnya.


"Di tiketnya hanya sampai Jepara kota saja Le, tapi kalau mau sampe di depan pintu bisa nambah sepuluh ribu perkilometernya" jelas Pak sopir, maksudnya sampai depan pintu yaitu sampai Pondok.


"Oke lah Pak tidak masalah, asalkan Bapak saja yang menghitung kilometernya."


Hasil negosiasi dengan Pak sopir, akhirnya kami akan di antarkan sampai ke Pondok.


"Dhan, aku tidur dulu ya."


"Okey, tenangkan saja pikiran mu. Nanti ku bangunkan kalau sudah sampai" sahut Dhani.


Aku tertidur, Dhani asik lagi dengan ponselnya.


...***...


Pov Dhani


Ku elus kepala Nera sambil membaca karyanya. Ternyata sudah banyak novel yang di tulisnya sejak tiga tahun belakangan ini. Dia seterkenal ini di novel online, bahkan dari analisa ku membaca dari keuntungan hasil menulisnya sudah puluhan juta, dan aku baru mengetahuinya sekarang.


Nera juga tetap hidup dengan kesederhanaan. Aku jadi penasaran usaha apa yang di geluti oleh kedua orang tuanya, bahkan dia menggunakan mobil yang berbeda ketika di jemput kemarin.


Akhirnya sampai di Balekambang, aku membangunkan Nera.


"Ra bangun, sudah sampai" aku menggoyangkan lengan Nera.


"Oh ya, sampai mana?"


"Sampai di Pondok."


"Cepatnya" tanpa berlama-lama Nera membuka matanya lebar.


"Berapa tambahannya Pak?" Tanya ku pada Pak Sopir taksi.

__ADS_1


"Dua ratus sepuluh ribu Le."


Aku memberikan tiga lembar uang ratusan.


"Tunggu kembaliannya Le" kata sopir tadi.


"Itu rejeki Bapak" sahut ku.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak. Semoga kalian menjadi anak yang Sholeh Sholehah" Pak sopir memanjatkan doa untuk kami.


"Amiin" sahut ku dan Nera bersamaan.


"Saya permisi balik dulu ya."


"Iya Pak, hati-hati."


Beliau membunyikan klaksonnya kemudian berlalu.


Jangan di tanyakan lagi bagaimana tentang kami, sudah menjadi pusat pandangan karena taksi Bandara berjalan sejauh ini. Jarak dari Semarang ke Jepara tidak hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, tapi taksinya sampai sini.


Kami di turunkan di halaman gedung serba guna atas permintaan ku.


"Ya sudah, aku ke asrama dulu ya" kata Nera.


"Kamu tidak ingin membeli sesuatu gitu?"


"Koperasi ramai, malas antri."


"Ayo ke rumah Rizky minjam motor atau mobil belanja keluar."


"Kenapa tadi tidak berhenti di depan rumah Rizky saja" keluh Nera.


"Kelupaan tadi" ku garuk kepala ku bagian belakang padahal tidak gatal.


Rumah Rizky hanya beberapa meter saja dari area Ponpes, lima menit saja jika berjalan sudah sampai di rumahnya.


"Assalamualaikum" salam ku dan Nera bersamaan.


"Wa'alaikumsalam" sahut Rizky, dia muncul dari samping rumah. Dia masih menggunakan pakaian santai karena jadwal santri putra kembali ke Pondok esok hari.


"Eh kalian, ayo masuk" Rizky mempersilahkan.


"Iya" aku dan Nera duduk di ruang tamu.


"Ayah mu ada?" Tanya ku.


"Ayah ke balai desa ada kumpulan. Ada apa?"


"Oalah, aku ingin meminjam kendaraan untuk belanja keluar."


"Ada, tapi motor."


"Tidak masalah. Aku bawa dulu kalau begitu."


"Bawa saja."


Aku dan Nera menuju ke pasar dengan perlahan, jarak antara pasar dari rumah Rizky tidak terlalu jauh kurang lebih hanya dua kilometer saja.


"Ramai sekali ya?" Ucap Nera.


"Iya, kata Rizky di pasar ini memang selalu ramai" sahut ku.


"Kita belanja di mananya Dhan?"

__ADS_1


"Di Alfamart depan pasar saja."


"Okey, aku mah nurut."


__ADS_2