
"Bagi sedikit ceritanya dong Ra" Anisa kini menggandeng lengan ku menuju ke ruang makan, sedangkan Marissa sudah masuk ke asrama.
"Awalnya aku ingin sekolah di SMA favorit tapi Ayah ku kurang setuju dengan pilihan ku. Ayah menginginkan ku mondok sambil sekolah dan harus mengambil jurusan tata busana. Aku bingung tidak ada tujuan."
"Terus?"
"Pas aku browsing aku melihat Ponpes Balekambang di beranda ku. Aku jatuh cinta pandang pertama dengan sarungnya."
"Wah, keren. Besok kalau kamu menang atlit lagi ku belikan sarung deh, dua kalau begitu. Tapi kamu harus menang."
"Siap kalau begitu. Dua ya" aku memastikan Anisa tidak salah bicara.
Aku bahagia mendapat satu kawan baru lagi. Meski di asrama ada sekitar empat ratus santri terkadang hanya saling sapa, bahkan hanya saling berpapasan tanpa sapaan.
Awalnya aku heran, di pesantren tidak menggunakan bahasa Arab seperti yang ada di novel-novel.
Tapi memang pada dasarnya banyak dari mereka yang di paksa kedua orang tuanya dan di iming-iming sesuatu supaya mau berangkat ke Pondok.
Aku juga sadar, seseorang yang menuntut ilmu tidak semua dari kalangan Pesantren tapi juga dari luar kota, bahkan dari metropolitan. Aku sendiri tidak bisa berbicara bahasa arab sebelum ke Pondok, alhamdulillah sekarang bisa meski hanya sepatah dua patah kata.
Di bandingkan dengan yang di paksa, lebih banyak yang istiqomah mondok dan membuahkan hasil yang memuaskan.
Sesuai informasi yang sudah-sudah ada yang menjadi desainer muda, aku membacanya di majalah Balekambang yang setiap tahun rilis. Di Ponpes sini tidak hanya menjadikan alumni Pesantren tapi meluluskan santri unggul yang intelektual.
...***...
Bimbingan belajar berjalan lancar, bahkan sudah satu bulan lamanya. Aku juga sibuk dengan latihan atlit ku sehingga sekolah salaf hanya berangkat jika ada hal penting saja. Sisanya aku menyalin dari buku santri Mts yang menjadi ketua kelas di kelas salafiyah ku.
Dengan bantuan santri MA seangkatan ku yang sudah kelas empat salafiyah. Sore ini aku sedang belajar bersama dia, Wilda namanya.
"Cepat sekali kamu nyantelin materi di otak" puji Wilda pada ku.
"Emang jemuran?"
"Maksudnya cepat paham."
"Ini juga berkat kamu yang telaten membimbing ku."
"Ini juga hasil kerja keras mu."
"Hehe" kami terkekeh, padahal tidak ada yang lucu.
"Tunggu sebentar ya" aku berlalu meninggalkan Wilda di taman, aku ke kamar mengambilkan sesuatu untuk Wilda.
"Ini untuk mu" aku memberikan sebuah hadiah untuknya.
"Wah, kamu ini ada saja ya, padahal aku belajar dengan mu juga ikhlas."
"Ini hadiah untuk mu, terimakasih sudah sabar dengan ku yang menjadi pengemis ilmu di Balekambang."
__ADS_1
"Okey lah, aku terima ya. Terimakasih Nera."
"Sama-sama."
Aku bahagia jika Wilda mau menerima hadiah dari ku,pernah sekali aku memberinya uang dan dia menolak mentah-mentah sampai aku takut jika dia tidak mau mengajari ku lagi. Jadi aku berinisiatif memberi hadiah saja sebagai tanda terimakasih ku.
Dari sini kita bisa belajar, bahwa semua yang ada belum tentu bisa di bayar dengan uang, tapi jika tidak ada uang kita belum tentu mendapatkan semuanya.
"Ra, dua hari lagi kamu berangkat ke kabupaten kan?"
"Iya."
"Kalau kamu menang aku akan mentraktir mu bakso Pak Bas sepuluh ribu."
"Beneran!" Aku meyakinkan Wilda, sepuluh ribu di Pondok mendapatkan dua porsi. Satu porsinya berisi dua belas biji pentol sebesar jempol kaki, masih ada mienya. Belum lagi pelengkap seperti saus, kecap, dan sambal sepuasnya jika belum kehabisan.
"Iya, tapi kamu harus menang" kata Wilda lagi.
"Okey, aku akan berusaha supaya aku menang."
"Dil" Wilda menjabat tangan ku. "Nanti sekitar tiga bulan dari sekarang mendekati kenaikan kelas biasanya ada lomba Pramuka, kamu harus daftar ya, siapa tahu kita bisa menjadi anggotanya."
"Siap deh!" sahut ku lebih semangat.
"Banyak sekali perlombaan yang di adakan di Pondok ini, tidak menyesal jauh-jauh dari Kalimantan ke Balekambang banyak ilmu dan kegiatan-kegiatan yang menjadi prestasi di ajang nasional, yang jelas bonus surganya Allah jika istiqomah. Semoga kami di masukkan ke dalam golongan orang yang ikhlas.
...***...
"Sudah, soalnya nanti malam aku akan istirahat penuh" sahut Rani. "Memangnya kamu belum packing?" lanjutnya.
"Belum, aku membawa beberapa baju saja. Malas bawa banyak, aku membawa secukupnya saja lah."
"Alat mandi dan yang lainnya?"
"Cari di sana saja nanti, di koperasi tidak ada yang kecil."
"Nera mah sultan!" Ida ikut nimbrung.
"Sultan gundul mu! Ibu ku masih harus menjaga warung coy! Bukan hanya rebahan untuk biaya sekolah ku."
"Tapi kamu boros, suka traktir orang. Tidak kasihan apa dengan Ibu mu?" Rani menimpali.
"Itu bukan boros, tapi rejeki kalian!"
"Hehe" kami terkekeh dengan candaan yang tidak ada lucunya sama sekali.
Keesokan paginya, aku dan Rani persiapan menuju ke ndalem matur Abah. Semua barang bawaan ku tinggal di teras kantor pusat.
Sesuai konfirmasi dari Angga semua sudah berkumpul di pojok asrama Pondok Kuno.
__ADS_1
Pondok kuno adalah asrama yang di tempati oleh santri MI dan salafiyah putra.
Sebelum berangkat ke ndalem aku sudah mengambil ponsel ku, Rani juga sudah membawa ponsel. Kemarin sore Ayahnya datang mengirim ponsel namun tidak boleh bertemu dengan Rani karena bukan jadwal tingali (jenguk).
"Lama banget, ngapain saja sih?" Ucap Riah begitu kami sampai di hadapannya.
"Bukan kami yang lama, tapi sampean yang ke pagian" sahut ku sekenanya, karena santri lain juga belum berangkat sekolah, masih waktunya sarapan.
"Ya sudah, ayo ke ndalem dulu debatnya nanti lagi" tukas Ferdian.
Kami menuju ndalem untuk matur Abah, sesampainya di halaman Abah sudah duduk di sofa teras yang sudah menjadi tempat ternyaman beliau.
"Assalamualaikum" salam kami.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut Abah. "Sudah lengkap ini?" Abah menatap kami bergantian, di barengi Ferdinan dan Angga yang mencium tangan kanan beliau.
"Sampun Bah" Ferdinan mewakili.
"Hati-hati di luar sana. Ferdinan, kamu harus bertanggung jawab penuh atas santri ku."
"Nggeh Bah."
"Semangat, berikan yang terbaik yang kalian mampu. Menang Alhamdulillah kalo kalah berarti belum rejeki dan harus sabar."
"Nggeh Bah" sahut kami.
"Sudah itu saja, semoga berhasil."
"Amiin."
Kami berangkat ke Kabupaten di antar oleh pihak Pondok, untuk pulang nantinya juga di jemput dari Pondok lagi.
Kami akan berangkat menggunakan mini bus yang sudah terparkir dari tadi di halaman madrasah.
Aku duduk di bawah pohon mangga sambil menunggu Ferdian memanggil Jefri. Aku sengaja menaiki bus dari sini, nanti mampir di kantor pusat mengambil barang. Walau pun jalan kaki ke kantor pusat nantinya juga akan lewat sana, jadi sekalian numpang saja.
Dari gerbang SMK Dhani berjalan seorang diri, setelah dekat rupanya ia ke ndalem menggunakan seragam batik. Sekarang hari Sabtu, harusnya menggunakan seragam Pramuka, tapi kenapa dia juga menggunakan seragam batik sama seperti ku. Apa dia akan bepergian atau kemana?
"Dhani kok memakai seragam batik, bukannya ini hari Sabtu ya" ujar Rani. "Atau pulang?" Lanjut Rani.
"Pulang ke mana memangnya?" Aku balik bertanya.
"Iya, ada kepentingan mendadak katanya. Kemarin sore mendapat telepon dari Ayahnya" Angga menjelaskan.
"Kepentingan apa ya Kak?" Tanya ku pada Angga.
"Tidak cerita, hanya bilang di suruh pulang, begitu."
Aku manggut-manggut, sebenarnya banyak sekali pertanyaan di benak ku namun ku tahan. Padahal belum dua bulan dari kepulangannya, sudah di suruh pulang lagi.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, kami meluncur ke Kabupaten, di sana akan menghabiskan waktu lima hari jika ada yang memasuki babak final. Jika tidak ada yang memasuki babak final akan dua hari saja di sana. Seusai lomba sorenya langsung pulang.