Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
Bab 37 KSD_Jatuh Sampai Ke Hati


__ADS_3

"Sebelum pulang kita makan dulu saja ya" usul Ferdinan. "Kalian ingin makan apa?" Lanjutnya.


"Aku ingin memakan bakso merapi Kang" aku menjawab cepat.


"Yang lain?'


"Nasgor."


"Seafood" kata Rani.


"Bakso sajalah" kata Riko.


"Yang lain?"


"Ikut sajalah, lagian kalau lapar apa pun masuk hehehe" Angga terkekeh.


Jangan di tanyakan lagi berapa harga makanan berat di Jepara. Harga murah meriah porsinya super duper jumbo.


Kami menikmati pesanan masing-masing. Aku menikmati satu porsi bakso bersama dengan Angga dan Riko.


Rani sibuk memakan kerang asam manis yang masih bercangkang bersama dengan Riah. Yang lain lagi memesan nasi goreng.


"Kang, aku ingin membeli oleh-oleh untuk teman ku boleh?" Tanya ku pada Kang Jefri sedangkan tangan ku mengambil satu kerang di piring Rani, yang jelas sudah terlepas dari cangkangnya.


"Boleh, tapi uang pribadi."


"Okey" aku memesan dua bakso merapi yang di bungkus. Satu untuk Dhani yang satu lagi untuk ku dan kawan-kawan ku di asrama.


"ternyata kerangnya enak" aku mengambil satu lagi yang masih bercangkang.


"Enak dong" sahut Riah.


"Baru kali ini makan kerang berkulit, biasanya sudah bersih. Sensasinya jadi berbeda" aku mendapat lirikan aneh dari Angga.


"Kamu ini ada-ada saja" kata Angga.


"Beneran, ini tuh beda banget kaya asli gitu" celoteh ku.


"Ya udah, makan lagi gih" kata Rani.


"Sudah kenyang aku."


"Bagaimana tidak kenyang, dia makan bakso paling banyak" timpal Riko.


"Lagian baksonya menggoda banget."


"Kaya Dhani saja menggoda" ledek Angga.


"Heleh, apa kabar tu bocah sudah lama tidak melihat batang hidungnya."


"Batang hidungnya apa batang tubuhnya? Kamu tidak takut kalau Dhani datang hanya hidungnya?"


"Ada saja Kak Angga nih, aku berharap datang lamarannya."


"Cieee" ledek yang lain.


Aku yang di ledek malah tertawa, bisanya aku berucap demikian.


Setelah pesanan ku selesai dan membayar kami langsung pulang alias menuju Ponpes. Sepanjang perjalanan semua tidur kecuali Ferdinan yang mengobrol menemani Jefri yang sedang mengemudi.


Sesampainya di Ponpes kami di arahkan ke ndalem untuk matur Abah, kami memberi tahu hasil kami hari ini.


"Alhamdulillah, semangat untuk pertandingan bulan depan" hanya itu dari Abah.


"Kak Angga, aku nitip untuk Dhani" aku menyodorkan bungkusan pada Angga.

__ADS_1


"Dhani doang?"


"Kak Angga juga, Rizky juga, atau siapa saja yang mau asalkan jangan minta nambah lagi soalnya jauh tempat membelinya. Aku juga di penjara lagi setelah ini" setelah berucap aku terkekeh.


"Ada saja kamu mah."


Aku dan Rani berjalan beriringan menuju asrama.


"Ran, aku ingin membeli es krim" kata ku.


"Okey, mampir koperasi saja. Ini juga sudah sore kantin akan di buka malam hari setelah belajar."


"Iya Ran, ayo ku traktir."


"Boleh dong!"


Sesampainya di asrama aku langsung rebahan bersama Rani, beberapa menit selanjutnya jama'ah Maghrib tiba.


"Mbak jama'ah" kata Linda, piket hasduk hari ini.


"Dispen Mbak, baru pulang lomba" sahut Rani.


"Berapa orang?"


"Dua orang, sama Nera."


"Okey" kemudian Linda beralih ke kamar sebelah.


Makan malam ini kami menikmati bakso merapi saja. Meski banyak yang mencicipi masih kenyang, karena porsinya benar-benar jumbo.


Tadi juga di makan bertiga masih di bantu oleh sekelompok kucing di sana.


...***...


Pov Dhani


"Alhamdulillah, bulan depan aku berangkat di dampingi dua permaisuri" sahut Angga.


"Siapa?"


"Nera dan Rani."


"Menang banyak kamu mah."


"Hehee, ini ada titipan dari Nera."


"Apa?"


"Sepertinya bakso. Tadi aku juga makan bakso bersama Nera dan Riko."


"Ayo makan lagi."


"Sudah, untuk mu dan yang lain saja aku mau istirahat dulu. Besok sekolah lagi."


"Okey."


Alhamdulillah Nera ku berhasil, tapi ini wajar saja lebih aneh jika dia kalah. Bakatnya memang di bidang itu lebih unggul.


"Riz aku rindu Nera, hampir dua bulan tidak melihatnya."


"Dua bulan pala mu, dua Minggu kali."


"Oh iya, aku lupa."


"Besok rapat OSIS inti kamu bisa ketemu, sebulan lagi liburan kamu habiskan saja waktu mu di asrama putri, supaya setelah liburan di nikahkan."

__ADS_1


"Iya aku juga hampir lupa kalau besok rapat."


"Nera terus yang kamu ingat, setelah rapat ujian dan liburan. Aku akan liburan di Pondok lagi."


"Memangnya kamu tidak rindu keluarga. Setiap liburan tidak pulang."


"Hari pertama saja jenguk rumah sekalian belanja. Sorenya atau malam kembali ke Pondok lagi" usul Rizky.


"Okey, aku mah bahagia saja jika ada yang menemani liburan."


"Keluarga mu kan ada di Wonosobo, kenapa tidak pulang ke sana saja?"


"Aku ingin menemani Nera."


"Sebesar itu cinta mu padanya. Lalu dia masih menjadi nomor tiga."


"Aku tidak bisa menggantikan Endang yang nomor satu, juga Eli yang nomor dua, sementara ini dia masih yang nomor tiga."


"Kalo sudah putus itu lupakan, kasihan pacar baru mu. Kasihan Nera."


"Tidak bisa."


"Terserah mu saja lah, sebegitu spesial wanita yang pernah singgah di hati mu, sampai-sampai dia takkan terlupakan dan masuk nomor absen."


"Iya, aku tidak akan menomor dua kan ibu ku, aku juga tidak akan menomor tiga kan adik ku, kecuali kalau dia sudah mendapat pendamping garis bawah pendamping yang baik. mungkin Nera bisa menjadi nomor dua atau bahkan nomor satu jika dia benar-benar mencintaiku karena Allah."


"Aw, aku terharu. Benar kata mu, ibu adalah nomor satu, dan adik adalah tanggung jawab kita. Aku kira siapa, hahaha" Rizky tertawa lepas.


"Kamu kira, aku cinta Nera sejak SD pertama kali bertemu. Inilah cinta pandang pertama jatuh sampai ke hati."


"Nera tahu tantang ini?"


"Sepertinya dia tahu ibu ku, tapi dia tidak tahu kalau Eli adik ku, dia tahu aku punya adik tapi tidak tahu laki atau perempuan" jelas ku singkat.


"Biar, biar seperti ini. Ini cinta yang romantis" Rizky menggenggam lengan ku.


"Lebay kamu mah!"


...***...


Keesokan harinya belum ada perubahan banyak pada ku, bahkan aku masih adzan subuh juga membawakan kitab setiap kali ngaos Abah selepas subuh. Aku sudah sangat terbiasa dengan ini, kitab Abah juga ku bawa kembali ke asrama.


"Le, kamu jangan berlebihan dengan cinta mu, takutnya dia bukan jodoh mu, kamu akan kecewa" Abah mengusap kepala ku.


"Kalau dia menjadi takdir kawulo alhamdulilah, tapi kalau milik orang lain pasti Allah akan mengganti yang lebih baik."


"Jika Allah mengganti yang terbaik apa akan baik-baik saja perasaanmu?"


"Insyaallah Bah."


"Kembalilah ke asrama, hari ini kamu akan sibuk."


"Nggeh Bah" Aku mencium punggung tangan Abah, telapak tangan, kemudian kembali lagi pada punggung tangan beliau.


Tangan kanan ku cium, tangan kirinya mengusap kepala ku. Aku merasa bahagia dengan ini, tapi aku takut akan menjadi kedengkian santri lain pada ku.


"Kejarlah cinta mu."


"Nggeh Bah, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut Abah.


Aku mundur tiga langkah, kemudian berbalik. Fokus kembali ke asrama persiapan sekolah. Aku terus saja mengingat perbincangan dengan Abah barusan.


"Ya Allah bukanlah pintu hati Tenera Alivia berikanlah Rahmat dan hidayah-Mu dan jadikan dia sebagai istri sholehah ku kelak. Amiin ya Allah."

__ADS_1


Benar dawuh Abah, hari ini aku akan sibuk. Hari ini semua santri menata ruang yang akan di gunakan untuk melaksanakan ujian semester ganjil, sekalian membersihkan seluruh sudut area sekolah supaya ujian berjalan dengan lancar dan nyaman.


Sedangkan inti OSIS putra dan putri akan berkumpul untuk rapat.


__ADS_2