
Tak terasa lima puluh enam menit berlalu, dan kini sudah landing saja. Aku mematikan mode pesawat di ponsel ku.
Ting...
Banyak sekali notifikasi dari berbagai aplikasi. Aku terpana dengan pesan WA yang masuk.
Ada pesan masuk dari Nera, tumben saja dia mengirim pesan pada ku. Biasanya tidak pernah jika bukan menyangkut pelajaran.
Tiga tahun di SMP dia menyimpan nomor ku hanya untuk sharing pelajaran. Tidak pernah mengirim pesan yang isinya sedang apa, sudah makan apa belum, atau sudah tidur belum, sekedar selamat pagi pun tidak pernah apalagi semangat pagi.
Dan kali ini dia mengirim pesan bukan yang berbau sekolah atau sebuah materi.
[Pagi menjelang siang kesayangan]
[Kenapa pulang?]
[Atau ada masalah?]
Rentetan pesan dari Nera.
[Tidak ada, hanya acara keluarga saja]
Balasan dari ku, langsung centang dua biru.
[Hati-hati di sana, aku tidak tahu harus bagaimana jika tanpa mu]
Aku sangat bahagia hanya dengan mendapat pesan seperti ini, sesederhana ini cinta ku.
[Aku akan secepatnya kembali]
[Iya]
[Aku akan cek out dari bandara, semangat tandingnya semoga go nasional. Belajar yang rajin, bulan depan kita berangkat semoga bisa go nasional bersama]
[Siap deh]
Hanya ini balasan terakhir.
Aku mengulang-ulang membaca pesan dengan Nera, baru kali ini dia chat aku bukan tentang belajar. Aku sangat bahagia.
Mungkin menurut kalian aku lebay, tapi inilah aku dengan sejuta kekonyolan hanya ingin bersama Nera.
Andai aku konyol tidak jelas di rumah mungkin aku sudah di suruh untuk membersihkan semua bagian rumah baik dalam maupun luar. Ayah selalu mengajarkan ku untuk selalu berkharisma dan bijak tidak boleh seperti aku di luaran yang lebay.
...***...
Sesampainya di rumah, aku tidak menemukan keberadaan siapa pun. Satpam juga sedang tidak terlihat, mungkin di kamar kecil atau ke mana aku tidak melihatnya.
Aku langsung membersihkan diri dan mempersiapkan hati untuk bertemu dengan Ayah. Aku ingin meluruskan masalah ini dan jangan sampai ada perpecahan dengan adanya penolakan dari ku.
Aku duduk di sofa ruang keluarga sembari menunggu Ayah keluar dari ruang kerjanya.
"Bagaimana keputusan mu?" Ayah membuka pintu dan langsung duduk merangkul pundak ku, Ayah memang paling anti dengan basa-basi.
__ADS_1
"Aku menolak Yah, aku memiliki pandangan sendiri" aku juga tidak bertele-tele karena ayah tidak suka, dan beliau mengajarkan ku sejak kecil agar tidak takut dengan keputusan yang di buat.
"Pandangan yang bagaimana?"
"Yang baik agamanya."
"Kamu juga harus cari tahu tentang keluarganya."
"Aku sudah pernah bertemu dengan kakaknya, dia masih mondok. Aku juga sudah bertemu dengan Ayahnya, beliau sangat bijak dalam bertutur kata."
"Baiklah, tapi Ayah ingin menyampaikan sesuatu."
"Sampaikan saja Yah."
"Calon dari Ayah juga anak Pondok, sedang di pesantren juga."
"Ayah" aku turun dan duduk di lantai, ku letakkan kedua telapak tangan ku di kedua lutut Ayah ku. "Dhani yang akan menjalani rumah tangga nantinya, jadi biarkan Dhani memilih wanita pendamping sendiri. Dhani mohon Yah" aku tertunduk.
"Jangan manja gitulah, Ayah geli. Hehe" Ayah ku terkekeh dengan cara bicara ku. "Jika kamu menolak kamu harus menemui kedua orang tua gadis itu. Kamu harus meminta maaf atas penolakan perjodohan ini."
"Kok bisa, bukannya Ayah yang merencanakan kenapa Ayah tidak meminta maaf sendiri? Ini kan rencana para orang tua lagian anak gadis itu juga belum tahu kan apa lagi tidak kenal dengan ku."
"Sejak kapan anak Ayah menjadi seperti ini?" Ayah menaikkan alis kananya.
"Ayah mah, ini kan perbuatan Ayah."
"Memang ini rencana kami, tapi berhubung kamu sudah ada di sini Ayah ingin memperkenalkan kamu dengan mereka. Sekalian silaturahim. Ayah tidak ingin memaksa mu menerima perjodohan ini tapi apa salahnya jika kamu berkenalan dengan kerabat Ayah" ujar Ayah panjang.
"Kapan kamu akan berkunjung?" Ayah memegang ke dua pundak ku yang masih duduk di depannya.
"Nanti malam saja lah, besok aku akan langsung ke Pondok lagi."
"Okey, istirahatlah."
"Terimakasih Ayah."
Malamnya aku berangkat ke rumah kerabat Ayah bersama keluarga inti saja. Aku duduk di samping kemudi, sedangkan Ibu di belakang bersama Adik ku yang hanya diam. Bahkan dia tidak menemui ku sejak kepulangan ku tadi, wajahnya terlihat murung.
"Yah, siapa gadis yang Ayah pilih untuk ku?"
"Nah loh, penasaran juga kan?" Ayah melirik ku sekilas.
"Namanya juga belum tahu Yah."
"Tera, dia anak yang hebat."
"Ayah kenal?"
"Kenal dong, dia sering menemani Ayahnya bepergian bahkan setiap bertemu dengan Ayah dia selalu ikut."
"Dia tahu kalau ada udang di balik batu antara Ayah dan Ayahnya?"
"Ya jelas dong" ayah tersenyum. "Jelas tidak tahu. Dia juga tidak pulang di acara lamarannya, padahal Ayah sangat berharap jika kalian menyetujui tapi jika penolakan yang menjadi jawaban mu Ayah tidak akan memaksa lagian kalian juga yang akan menjalaninya nanti" lanjut Ayah.
__ADS_1
"Dasar para orang tua, bikin rencana saja. Kalau memang Tera juga punya pacar bagaimana?"
"Kamu mau kalau Tera tidak punya pacar?" Ledek Ibu.
"Tidak Bu, aku hanya ingin memiliki Nera" aku keceplosan.
"Nera?" Ibu melihat wajah ku sampai bangkit dari duduknya.
"Iya Bu, Aku sudah punya pacar aku mengaguminya sejak OSN kelas lima SD dulu."
"Kapan-kapan bawa main ke rumah ya" Ibu antusias.
"Tidak Bu, nanti aku di hajar Ayah" ku lirik sekilas Ayah, rupanya tersenyum.
"Kalau memang dia kriteria mu tidak masalah, asal baik agamanya."
"Lihat saja nanti."
Adik ku belum juga tersenyum, dia malah asik dengan ponselnya. Tidak ingin menegur ku atau bagaimana padahal biasanya dia yang paling ingin selalu di dekat ku.
"Kenapa wajah mu di tekuk mulu, memangnya tidak kangen dengan Kakak?" Ku tatap wajah kusut Eli.
"Aku juga menyukai kak Tera, dia cocok dengan Kakak."
"What! Kamu tidak mendukung Kakak?"
"Tidak, aku suka Kak Tera, dia baik akhlak dan agamanya."
"Huh" ku hembuskan nafas kasar.
Semalam jawaban dari istiharah ku juga sama sebenarnya, namun aku masih ingin mempertahankan Nera. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, nanti malam aku harus istiharah lagi supaya aku tidak salah dalam memilih.
"Ya Allah aku harus bagaimana, aku juga tidak ingin kehilangan Nera. Beri aku petunjuk Ya Allah" aku tertunduk.
Bukan niat hati menduakan, namun menimbang akhlak dan agamanya.
"Astaghfirullah, maaf ya Allah" aku tersadar jika ini bukan niat menyakiti Nera namun aku penasaran dengan orang yang sanggup membuat Eli mengacuhkan ku.
Tak berseling lama aku sampai di halaman rumah yang sederhana, terlihat jika ada sebuah ruko. Ayah langsung membawa kami ke pintu belakang warung. Rumah dua lantai yang elegan dan terkesan mewah namun tidak mencolok.
Aku takjub, berbagai sayuran ada di halaman samping rumah.
Sesampainya di pintu utama kami di sambut oleh wanita paruh baya kata Ayah beliau Ibu dari Tera.
"Mari duduk dulu, Suami saya masih di masjid sedang ada kumpulan. Mungkin sebentar lagi akan pulang."
Ayah dan yang lainnya sudah masuk aku sendiri masih ingin di luar. Aku terpana dengan kebun sayur di halaman samping rumah, berbagai teknik dan berbagai sayuran tumbuh dengan segar. Jadi betah lama-lama di sini.
"Kak, masuk dulu" Eli memanggil ku.
Aku hanya mengikutinya masuk tanpa menjawab ucapannya. Aku duduk di samping Ayah, mata ku tertuju pada sebuah bingkai foto enan orang anak kecil sedang berdiri di pantai.
Aku tidak salah, itu foto yang sama dengan milik ku. Itu foto ketika aku pulang dari Kabupaten saat OSN, ada Nera juga di dalamnya. Apa jadinya jika perjodohan ini tidak bisa di batalkan aku tidak sanggup jika Nera tahu aku lebih memilih yang lain dari pada dirinya. Aku tidak tahu yang mana yang bernama Tera, yang jelas salah satu di antaranya adalah Nera.
__ADS_1