Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 27 KSD_Bukan Aku Untuk Mu


__ADS_3

Suasana Ponpes benar-benar sepi hari ini. Hanya ada beberapa santri yang tidak pulang dan beberapa pengurus saja.


Malam ini malam Idul Adha, suara takbiran berkumandang dari mikrofon ndalem. Dari suaranya terdengar jelas jika itu suara Dhani, dan bergantian dengan Rizky. Beberapa saat lagi berganti dengan suara Dayat yang sangat ku kenal. Tak berselang lama berganti santri lain lagi.


"Ternyata liburan di Pondok tidak sesuai yang ku pikirkan. Kita bisa keluar masuk dan bebas ke koperasi, juga boleh ke warung luar" Iza duduk di samping ku sambil mengupas bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya.


Kami bisa memasak seperti di rumah karena ide dari Dhani. Tadi siang kami juga membeli beberapa sayuran dan daging. Ku akui dia memang cerdas tapi sedikit bar-bar.


"Iya Mbak, liburan depan di sini lagi ya, nanti ku traktir lagi."


"Yang benar saja, aku juga mau kalau di traktir lagi. Uang mu banyak banget. Orang tua mu kerja apa di Kalimantan?"


"Ibu ku punya warung Ayah hanya petani saja."


"Pasti sawah milik Ayah mu lebar banget ya."


"Bukan sawah Mbak, di sana kebanyakan petani sawit bukan padi."


"Kaya apa sih pohon sawit itu."


"Mbak bisa browsing di YouTube banyak tentang sawit. Susah payahnya petani sawit juga banyak di unggah."


"Oke lah, besok katanya Ayah ku akan mengirim hp sekalian silaturahim dengan Abah."


"Iya Mbak."


Aku dan Iza bersantai ria sambil mempersiapkan masak untuk makan malam. Sebelumnya kami sudah izin ke ndalem untuk memindah kompor ke luar ruang makan selama liburan. Supaya tidak keluar masuk ruang makan yang sedikit horor.


"Kalau Ayahnya Dhani kerja apa di sana? Maaf aku kepo, soalnya di Jepara sama Kalimantan pasti beda kan, maka dari itu aku ingin tahu. Supaya jadi inspirasi untuk ku."


"Iya Mbak, tidak masalah. Tapi kalau orang tua Dhani itu aku dengar dari Si Mahen, teman kita juga ketika sekolah. Kata Mahen orang tua nya itu Bos. Aku juga tidak tahu apa yang di kelolanya."


"Oke lah, aku ingin tahu tentang sawit boleh tidak. Dari kamu langsung, bukan dari YouTube."


"Boleh Mbak, kalau aku tahu aku akan menjawab."


"Cara pengolahannya itu bagaimana sih, sawit itu di jadikan minyak kan?"


"Iya, yang mengolah itu pabrik Mbak, bukan manual. Di pabrik juga prosesnya lumayan rumit, orang yang bekerja di pabrik harus dua puluh empat jam bergantian. Memakai sistem shift.


Jadi pengolahannya seperti ini,




Pengumpulan Buah Sawit


Tandan Buah Segar (TBS) yang telah matang dan memiliki mutu baik di panen. Setelah itu, TBS yang sudah di panen di bawa ke pabrik pengolahan kelapa sawit.




Perebusan Buah Kelapa Sawit


TBS di olah dengan uap air panas bertekanan dua koma dua hingga tiga kilogram per centimeter untuk sekitar sembilan puluh menit. Proses ini di lakukan untuk membunuh enzim yang dapat merusak hasil dari minyak tersebut dan juga memudahkan proses perontokan inti buah dari cangkangnya.




Perontokan Buah


TBS yang sudah berada di pabrik, biasanya masih tertancap dengan tangkainya, dan buah perlu di lepaskan dari tangkainya. Proses sebelumnya adalah memudahkan perontokan, buah di lepaskan dengan metode bantingan yang di lanjutkan dengan mesin therser untuk memisahkan buah dari brondongnya."

__ADS_1




"Cie, brondongnya, ada tua-tua keladinya tidak?" Iza cekikikan mendengarkan penjelasan ku.


"Ada, namanya jangkos" sahut ku sekenanya.


"Apa itu jangkos?"


"Janjangan kosong, biasanya aku mencari jamur dengan si Mahen, padahal rumahnya jauh dari rumah ku."


"Boleh dong di kenalkan ke Mahen."


"Jangan, aku ingin melihatnya jomblo seumur hidup, hehehe."


"Kasihan Ra" Iza memasang wajah sedih.


"Tidak, aku bercanda saja. Aku mendoakan semoga Mahen mendapat Istri Solehah Tapi bukan Nur Sholehah, yang sayang sama Suami sendiri bukan Suami orang, menjadi Istri yang hangat dan pandai masak tapi bukan magiccom, yang pasti wanita beneran bukan wanita jadi-jadian."


"Amiin" suara berat dari belakang ku.


"Bikin merinding saja" ketus ku.


"Lagian masih ingat saja dengan Mahen, aku jadi rindu dia. Apakah dia masih hidup atau masih jomblo. Ingin ku kabarkan padanya aku sudah memiliki mu Nera, hahaha."


"Heleh, lebay kali. Kamu lupa sama teman karib mu."


"Tidak juga sih. Lagi pada ngapain kalian."


"Ini loh Mbak Iza sedang kepo, ingin tahu cara pengolahan sawit menjadi minyak goreng" sahut ku sambil melanjutkan memotong sawi.


"Sudah tahu?"


"Iya, silahkan lanjutkan" tukas Dhani.


"Okey, tadi sampai brondongnya ya. setelah itu pemerasan daging buah, bukan pemerasan duit Suami.




Pemerasan Daging Buah


Sebelum buah dapat di peras, ia akan di beri tekanan uap delapan puluh sampai sembilan puluh derajat untuk melepaskan daging buah dari biji buahnya. Setelah itu daging buah akan di masukkan ke dalam mesin pengompres yang akan memeras daging buah tersebut dan akan menghasilkan minyak kasar atau minyak yang masih tercampur dengan daging buah atau ampas.




Penyaringan Minyak Kasar


Minyak kasar yang di hasilkan oleh mesin pengompres akan di saring dengan cara memasukkannya ke dalam crude oil tank. Di situ akan di pisahkan antara minyak dan ampas. Ampas yang terkumpul pada saringan akan di olah lagi menggunakan mesin Depericarper untuk mendapatkan minyak yang masih terkandung di dalamnya.




Pemisahan Minyak Dengan Air


Minyak yang tercampur air dari uap akan di pisahkan. Memisahkannya juga ada urutannya, mengikuti fase minyak dan sesuai kadar minyak yang ada. Pada fase ringan, minyak, air dan massa jenis minyak di tampung pada continuous setting tank kemudian akan di bawa ke oil tank.



__ADS_1


Fase berat berisi minyak, air, dan massa berat akan di tampung pada sludge tank, kemudian di bawa ke sludge separator untuk memisahkan minyak dari airnya."


"Lama juga prosesnya, pantas harganya mahal. Kapan jadi minyaknya?"


"Ini proses terakhir, pemurnian minyak.



Pemurnian Minyak


Minyak yang sudah terpisah dengan airnya belum murni bebas air seratus persen, dan masih membutuhkan proses pemurnian lagi. Minyak akan di masukkan ke dalam vacuum dryer untuk membuang kandungan air yang masih ada hingga volume minyak minimal atau di bawah ambang batas.



Minyak yang sudah melewati vacuum dryer sudah bisa di anggap minyak murni dan di masukkan ke dalam oil storage tank untuk di bawa ke bagian pengemasan.


Pemurnian minyak umumnya akan di lakukan dua kali penyulingan supaya menghasilkan minyak yang lebih jernih.


Itulah panjangnya proses pembuatan minyak, makanya harganya sekarang selangit. Aku juga tidak tahu apa sebabnya."


"Kamu cerdas juga ya mengingat semuanya" kata Dhani.


"Makanya punya otak jenius itu di pelihara bukan untuk merayu setiap wanita yang datang" ku lirik Dhani sekilas, teringat dia yang suka tebar pesona.


"Tapikan cintanya cuma sama kamu."


"Cinta doang di besarin, pasti kamu lupa siapa pembibing dari pabrik waktu seminar."


"Lupa, hehehe" Dhani nyengir kuda.


Ku jitak pelan kepala Dhani. "Professor Marthin Simanjutak S.P. beliau yang memimpin jalannya seminar."


"Dosa tahu pegang kepala Suami" Dhani mengelus kepala yang terkena jitak.


"Lagian Suaminya bego" aku memutar bola mata ku, malas.


"Bego gini juga kamu sering nyontek. Kenapa dulu sering nyontek padahal punya otak jenius."


"Otaknya tidur, malas berfikir."


"Makanya jangan kebanyakan begadang."


"Profesi."


"Begadang kok profesi, profesi dari mana?"


"Dari begadang aku dapat uang."


"Kok bisa, tapi uang halalkan?"


"Dasar otak mesum, halal lah. Aku loh masih perawan ting-ting!"


"Boleh di cek? Hahaha."


"Gila, Halalin dulu dong."


"Kan uangnya halal."


"Itu uang untuk ku, bukan aku untuk mu."


Hahaha


Dhani tertawa lepas, aku malah makin kesal. Di tambah lagi Iza sudah pergi setelah penjelasan ku sampai pada penyulingan dua kali.


"Sialan" maki ku pada Dhani sebelum aku berlalu ke kompor yang sudah di pindah dari ruang makan ke samping tandon air. Di sana sudah ada Iza dan Rinda.

__ADS_1


__ADS_2