
"Sudah matang apa belum Mbak?"
"Sebagian sudah. Tinggal menunggu Mbak Rinda membuat es serut."
"Untung saja Dhani cerdas kepikiran membeli ini itu. Kalau tidak seperti tahun kemarin, aku hanya menunggu jatah dari dapur" kata Rinda.
"Iya Mbak, berarti ini rejeki ku dong. Liburan pertama langsung ada orang yang memiliki ide emas begini."
"Iya Za, kalau setiap liburan begini aku bisa lebih semangat" timpal Rinda.
"Iya Mbak aku juga mau. Kata Nera kalau liburan depan aku di Pondok lagi aku bakal di traktir lagi."
"Oh ya?"
"Iya Mbak, liburan depan temani aku lagi ya" pinta ku.
"Oke lah, betah kalau begini mah" Rinda membawa es serut di dalam teko ke halaman kantor pusat.
Aku membawa seblak, dan Iza bertugas membawa ayam rica-rica. Tadi Dhani yang membeli ayam kampung di rumah Rizky ketika mengembalikan mobil bersama Dayat.
Dayat yang baru datang membawa pentol bakar. Pentol bakar bumbu sate, seperti pentol yang di bawa Dayat ketika aku pertama mondok.
"Banyak sekali Mas, beli berapa tuh" kata Rinda pada Dayat.
"Dua ratus ribu, di kasih bonus sepuluh tusuk terakhir dari penjualnya."
"Siapa yang akan menghabiskan?"
"Aku mengundang semua santri yang ada di sini. Tadi ayamnya di masak semua kan? Tiga ekor?"
"Iya" sahut Rinda.
"Dhan, kamu cepat sekali" kata Dayat.
"Iya Kang, tadi aku langsung ke sini setelah jama'ah isya."
"Pantas saja."
"Rizky mana?"
"Dia lagi qondil dulu, biar bisa makan banyak."
"Okey, sekalian menunggu Rizky saja" timpal ku.
"Iya" sahut Iza.
"Dhan, katanya Ayah mu Bos ya? Bos pengolah apa?" Iza menatap Dhani sambil tersenyum.
"Kata siapa? Ayah ku petani."
"Tidak usah sok merendah, Mahen yang bicara" sahut ku sarkas.
"Bos apanya. Ayah ku petani, petani sawit."
"Kebanyakan petani sawit ya" Rinda menimpali.
"Pantas saja di bilang Bos, petani sawit mah kondang kalau Harga sawit lagi mahal" kata Dayat.
__ADS_1
"Berarti Ayah mu Bos juga Ra" kata Iza.
"Bukan Mbak, Sawit Ayah ku tidak banyak."
"Oh, lah terus sawit Ayah mu berapa banyk Dhan?" kata Iza lagi. Dia seperti sangat kepo dengan Kalimantan.
"Hanya seratus lima puluh hektar saja" sahut Dhani santai.
"Banyak itu mah" timpal Rinda.
"Iya, hasilnya di bagi sama karyawan, pabrik juga sering rusak."
"Berapa sih harga sawit."
"Naik turun" sahut Dayat.
Kami sudah cukup membahas kelapa sawit, karena Iza sudah tidak bertanya lagi, Rizky sudah datang. Makan malam di mulai.
Kami juga mengundang siapa pun yang ingin menikmati makan bersama. Sekitar 47 orang yang datang. Semuanya santri dan pengurus yang tidak pulang. Seusai makan kami takbiran bersama di asrama.
Suasana nya benar-benar beda dari hari-hari biasanya di asrama.
"Inilah nikmatnya liburan di Pondok" kata Dayat.
"Sampean mondok di mana Kang" sahut Jefri.
"Di Wonosobo Kang" Dayat sangat mudah beradaptasi di lingkungan baru.
"Oalah, jauh ya. Sekarang masih kuliah atau ngabdi?"
"Biasanya santri kesayangan di jodohkan oleh pihak ndalem."
"Sebenarnya iya, tapi aku menolak karena memang tidak ada rasa di antara kita."
"Oke, oke. Paham aku."
"Iya Kang, doakan saja semoga jodoh cepat datang."
"Amiin ya Allah."
Pukul sembilan lebih lima belas menit malam hari waktu setempat, semua santri yang mendapat undangan makan malam sederhana dari kami kembali ke asrama. Dalam waktu dekat Dhani, Dayat, dan Rizky juga akan kembali.
Aku dan Iza sedang membersihkan alat-alat yang kotor, membuang sampah daun yang baru saja untuk makan bersama.
"Ra, aku cocok tidak kalau bersanding dengan Rizky?" Kata Iza.
"Cocok Mbak, aku sih mendukung saja. Tapi Mbak harus berjuang dengan Mira. Sepertinya dia menaruh rasa juga."
"What!! Aku baru tahu" mata Iza melotot, tapi bukan melotot menantang ku seperti biasanya. Ini melotot karena terkejut. "Setiap aku nge-fans seseorang pasti orang itu di miliki orang lain. seperti aku nge-fans Dhani" lanjutnya.
"Sabar Mbak, lagian kan belum tentu Rizky menyukai Mira. Mbak harus berjuang, apa aku perlu menjadi Makcomblang untuk hubungan kalian?" Tawar ku pada Iza.
"Bolehlah, aku ingin memiliki kekasih" raut wajah Iza terlihat sendu. "Tapi apakah ada yang ingin menerima ku apa adanya?"
"Banyak, Mbak kan cantik, manis, anggun."
"Kamu masih memuji ku setelah aku memusuhi mu."
__ADS_1
"Memang kenyataannya begitu, di tambah lgi kulit Mbak putih."
"Iya, tapi aku ini janda."
"Apa!!" Kali ini aku yang terkejut luar biasa. "Yang benar saja Mbak, berarti Mbak sudah punya anak?"
"Belum, mantan Suami ku meninggal setelah acara akad nikah. Kami kecelakaan ketika akan pindah rumah. Ini luka ku yang paling membekas di hati" Iza menunjukkan bekas jahitan di siku kananya. "Aku masih perawan, tapi KTP ku sudah janda" lanjutnya.
"Memangnya umur mbak berapa?"
"Aku sembilan belas tahun, aku telat masuk sekolah karena koma."
Flashback On
"Iza, apa yang sedang kamu lakukan di sini! Siapa pria itu!!" Ayah sangat marah ketika melihat ku berada di kamar bersama dengan Roni.
Roni yang sedang duduk di ranjang tergagap melihat kedatangan Ayah ku.
Aku yang sedang duduk di depan Roni tepatnya sedang mencari buku catatan milik Roni yang terselip di meja belajar di samping ranjang langsung bangkit dari duduk ku.
"Kalian sedang apa! Bukan mahram berada di dalam kamar yang sama!!"
"Ayah salah paham, ini tidak seperti yang Ayah pikirkan" sahut ku keras.
Tak berseling lama Ibu datang. "Kenapa Ayah marah-marah" tanya Ibu pada Ayah.
"Ayah salah ..."
"Ibu tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar? Bukan mahram tapi berduaan. Itu dosa besar! Ayah tidak mau tahu secepatnya kalian menikah!" Sarkas Ayah memotong ucapan ku.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mencintai Roni. Aku tidak mau" tangis ku pecah. "Ibu, aku tidak mau" ku peluk kaki ibu.
Tiba-tiba bibi keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar ku.
"Maaf Tuan, ini salah paham. Mohon mengerti Nyonya, ini salah paham. Saya tadi menemani Non Iza, tapi saya ke kamar mandi" Bibi ART tergagap.
"Kenapa kamu membawa masuk pria ini ke kamar, sebaiknya menunggu di ruang tamu saja!" Ayah ku pergi dari kamar ku.
"Maaf Nyonya, tadi Non Iza terlalu lama mencari buku milik Den Roni, makanya Den Roni menyusul ke kamar. Karena terburu-buru ingin ke luar kota" Bibi menjelaskan pada Ibu.
"Iya Bu, benar kata Bibi" kali ini Roni membela ku, tidak hanya diam.
"Tidak! Kalian harus menikah. Ayah tidak mau jika terjadi sesuatu pada mu Iza! Sekarang ada dua pilihan, kamu menikah atau Bibi keluar dari rumah ini!"
Inilah ancaman terbesar Ayah, pilihan terberat bagi ku, Bibi taruhannya padahal Bibi tidak bersalah. Aku sadar, berduaan dengan lain mahram itu mang dosa. Benar kata Ayah.
Bibi adalah orang yang merawat ku bersama Ibu Bibi adalah bagian dari keluarga ku, Bibi tidak boleh keluar dari rumah ini.
Tidak ada pilihan lain, aku harus menikah dengan Roni.
Seusai selapan di rumah ku, aku ke rumah Mertua yang tak lain rumah Roni. Di situlah aku hancur, harus menjadi janda setelah ke salah pahaman ini.
Flashback Off
..."Aku sudah mati rasa dengan cinta. Mereka semua nge-fans Angga pun aku tidak menghiraukan. Tapi setelah kedatangan Dhani, aku ingin memiliki penyemangat."...
Iza curhat sampai ke akar-akarnya. Kalian pasti tidak percaya dengan Iza, setelah berbagai macam ta'ziran karena berkelahi tapi kini malah berbagi. Semua kebersamaan dalam ta'ziran ada hikmahnya untuk sebuah persaudaraan.
__ADS_1