Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 12 KSD_Di Kasih Hati Minta Jenggot


__ADS_3

"Pencalonan Ketua OSIS akan berlangsung. Kandidat putri kamu bakalan milih siapa Ra?"


"Kurang tahu juga Da, aku belum melihat siapa saja kandidatnya."


"Marissa anak TKJ sama Mira anak Tata Boga."


"Oh, ya. Marissa si anak K-Pop itu? Aku salut sama dia, anaknya pendiam tapi cerdas. OSIS tidak mungkin tidak cerdas. Dia sering berbicara memakai Bahasa Korea."


"Iya, jago berbahasa. Menguasai Bahasa Inggris, Korea, sama Thailand katanya."


"Benarkah?" Aku makin antusias mendengarnya. Jadi penasaran seperti apa orang tuanya mengajari bahasa asing.


"Semoga saja dia yang menjadi Ketos, nanti supaya di adakan progam ekskul Bahasa Thailand. Kalau Arab dan Inggris kan sudah ada di sini. Sepertinya keren, hehehehe."


"Terus, kalau ada ekskul Bahasa Thailand kamu bakal ikut gitu?" Ida memicingkan mata kanannya.


"Ya maaf saja, aku akan konsisten ikut pencak silat, semoga saja bisa mengharumkan Ponpes kita."


"Amiin" Rani tiba-tiba datang langsung mengaminkan ucapan ku.


"Amiin ya Allah" Ida semangat. "Memangnya kamu sudah seleksi, dan terpilih gitu" lagi-lagi Ida memicingkan mata kanannya.


"Ya, doakan saja. Semoga saja terpilih bersama Kak Angga, supaya ada yang menjaga Kak Angga di kala jauh sama pacarnya, hahaaa."


"Memangnya Kak Angga punya pacar ya Ra, bakal patah hati berjamaah nih santri putri" Rani menatap ku penuh selidik.


"Siapa tahu saja ada yang punya. Kan aku siap jadi bodyguardnya."


"Oh, ku kira Kak Angga sudah memiliki kekasih, kan bakal banyak santri yang patah hati, hehee."


Ida hanya manggut-manggut menyimak tanpa menanggapi tentang Angga.


Hari kamis adalah hari yang sangat di nantikan bagi ku, karena nanti malam akan ada acara menonton televisi dan bisa keluar masuk asrama dengan alasan ke kantin. Akhirnya bisa menghirup udara segar di luar asrama.


...***...


Seusai ishoma, jam pelajaran kosong karena gurunya rapat menyiapkan acara untuk hari Sabtu. Pemilihan OSIS baru. Kabar sudah tersebar luas di setiap asrama.


Kandidat putri oleh Marissa anak TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) dan Mira anak TB (Tata Boga). Sedangkan SMK putra oleh Dhani anak TKJ dan Ferdinan anak TKR (Teknik Kendaraan Ringan).


Dhani siapa lagi kalau bukan Dhani bocah tengilnya Nera.



Bocah yang selalu menolak jika di calonkan Ketua OSIS. Ketika SMP malah meminta wakilnya yang berpresentasi di depan, seakan-akan memang tidak berkeinginan menjadi pemimpin. Dan itu terjadi dua kali pencalonan OSIS.


Di mana-mana posisi itu menjadi bintang sekolah, dan banyak yang mendambakan. Beda dengan Dhani yang malah lebih memilih sebagai Bendahara OSIS. Bahkan menjadi Ketua Kelas juga di tolak dan lebih memilih Keamanan Kelas yang sudah jelas-jelas aman sentosa. Entah apa yang ada di pikiran bocah itu.


...***...


Pov Ida


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga aku tidak salah menerima Kak Angga, semoga aku akan menjadi pribadi yang lebih baik."


Ku tulis surat balasan untuk Angga, semoga dia tidak salah mengirim surat. Semoga tidak salah alamat jika memang ini untuk ku.


Aku bahagia sekali mengenal Nera sebagai sahabat ku. Aku juga semoga bisa bahagia mengenal Kak Angga sebagai calon Suami ku.


"Kenapa kamu senyum-senyum" Dahlia duduk di samping ku.


"Kak Angga nembak aku" sahut ku berbisik di telinga Dahlia.


"Jadi itu yang diberikan Nera untuk mu?"


"Iya Mbak, aku juga sudah menerima ajakan ta'arufnya."


"Semoga kalian bahagia."


"Iya Mbak, terimakasih."


"Mana lihat suratnya."


Ku sodorkan surat dari Angga pada Dahlia. Dahlia terkekeh membacanya.


...***...


Jum'at sore di ekskul pencak silat aku duduk sembari minum air putih yang sengaja ku bawa dari asrama. Ini adalah waktu istirahat setelah melatih tendangan dan pukulan. Setelah 20 menit istirahat akan di lanjutkan latihan atlit.


Sejauh ini belum ada keputusan siapa saja yang akan mewakili perlombaan yang akan datang.


"Ra, bagaimana suratnya? Apa ada balasan, atau penolakan?" Angga berdiri tak jauh dari ku.

__ADS_1


"Ada kak, balasan."


"Apa katanya."


"Buka sendiri saja, kan kejutan."


"Awas kalau nyakitin, ku laporkan Dhani supaya kamu di ta'zir lagi."


"Jangan dong Kak, tidak sayang apa sama Adik sendiri" ya kali, karena Dhani Adiknya Angga, aku jadi ngaku-ngaku Adiknya Angga. Padahal belum jelas, Dhani hanya ngaco atau benar-benar ada aku di hatinya.


Angga pergi dengan penuh senyuman. Di waktu yang hampir bersamaan Mia datang.


"Eh, Mbak. Jangan banyak harap sama Kak Angga, dia itu milik ku."


"Oh, ya?" Sahutkl ku santai.


"Asal Mbak tahu aku sudah lama kenal sama Kak Angga."


"Oh."


"Mbak jangan sok ganjen deh, sejak kapan Mbak jadi Adiknya Kak Angga!!"


"Sejak aku di terima jadi Adiknya lah, kenapa?"


"Mbak harus sadar diri deh."


"Aku sadar, mungkin kamu yang masih tidur."


Mia tersungut-sungut, terlihat jelas emosinya. Kejadian semacam ini akan menjadi hal yang harus ku waspadai.


Bugh... Bugh....


Benar saja, Mia melayangkan dua tendangan pada perut ku. Aku yang memiliki perut sixpack tidak merasakan apa pun. Beda dengan Mia, dia nyengir kuda seperti menahan rasa sakit.


"Kenapa Ra?" Angga yang baru datang membawa minum untuk dirinya sendiri bukan untuk ku, hehehe.


"Ini Kak, Mia ingin berlatih dengan ku."


"Oh, ya? Bagus lah. Ya, kamu harus banyak belajar sama Nera, walaupun baru tapi cepat nangkap materinya."


"Iya Kak."


"Ya sudah, aku kembali dulu" Angga fokus dengan latihannya lagi begitu juga dengan yang lain.


"Kenapa Mbak bohong."


"Siapa?" Aku menatap Mia.


"Kenapa tidak bilang aku menendang mu? Jangan pura-pura baik lah Mbak!!".


"Di kasih hati minta jenggot!" Aku berlalu.


Malas sekali meladeni bocah ingusan. Kecil-kecil belagu apa jadinya jika dewasa. Sepertinya dia sangat membenci ku.


"Lihat saja aku akan membuatnya suka pada sikap acuh ku. Sabar Nera, toh kamu juga tidak memiliki rasa apa pun pada Angga. Kamu masih punya Fian yang jauh di sana" aku mensugesti diri ku sendiri.


"Ya Allah bukakanlah pintu hati Mas Alfian Wijaya, berikan Rahmat dan Hidayah-Mu dan jadikan dia sebagai Suami ku kelak, amiin ya Allah."


Hanya itu yang mampu ku ucapkan, di saat-saat aku rindu Fian. Aku tak tahu apakah dia masih milik ku seutuhnya, atau sudah bercabang.


...***...


Di teras bawah tandon air. Air yang mengalir ke kamar mandi, bukan tandon air minum. Aku menunggu antrian kamar mandi bersama Ida dan Rani. Kalau hari Jum'at suasana sepi, karena sudah banyak yang mandi.


"Ra, sepertinya kamu sangat lelah."


"Iya Ran, aku masih merindukan pacar ku, apa dia akan baik-baik saja."


"Jika dia jodoh mu tidak akan ke mana kok."


"Iya sih."


"Titipkan saja pada Allah, semua akan baik-baik saja. Jika dia di biarkan pergi, berarti Allah sudah menyiapkan segala sesuatu untuk mu yang lebih baik."


"Amiin ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk ku."


"Amiiin" suara lantang dari Ida, wajahnya sangat berseri.


"Bagaimana Ra, apa kata Kak Angga?"


"Baik, dia bahagia. Tapi belum membuka isi suratnya."

__ADS_1


"Baiklah."


"Ada apa dengan Kak Angga?" Rani celingukan.


"Biasa, Kakak baru" sahut Ida tersipu.


"Ta'aruf sama Kakak" timpal ku.


"Pacar dong" Rani bertepuk tangan bersuka ria.


"sttt, jangan keras-keras. Jangan beritahu siapa pun" Ida menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa."


"Takut di amuk masa."


hahahaha....


Aku, Ida dan Rani tertawa lepas bersamaan. Seketika menjadi pusat pandangan.


"Jadi kemarin Nera bilang mau jaga Kak Angga itu untuk mu."


"Heheee" Ida hanya nyengir.


"Ran, Mia itu Adik mu?" Adik Pondok maksudnya.


"Iya, sebenarnya aku malas tapi bagaimana lagi. Katanya sangat mencintai ku."


"Cinta?"


"Iya, sayang banget katanya. Dia kan Adiknya Riko."


"Pantas saja."


"Kenapa sih?"


"Dia baik sama kamu."


"Manja banget dia tuh, tapi suka nyolot kalau sama orang yang tidak di suka."


"kenapa bisa."


"Namanya juga anak manja."


"Iya sih."


Ida hanya diam mendengarkan kami bicara. lagi malas tingkat akut kayanya.


...***...


Pov Angga


Rasanya sudah tidak sabar ingin kembali ke asrama. Apa jawaban Ida untuk ku. Semoga tidak mengecewakan.


"Kok bahagia gitu Ngga."


"Iya" ku buka surat balasan dari Ida. Ku biarkan Ferri melihat semuanya. Dia adalah kepercayaan ku selama ini.


"Surat Cinta coy" Ferri sangat antusias.


Aku hanya diam membaca surat balasan dalam hati.


^^^^^^***Kak Angga^^^^^^


^^^Ini asli apa palsu ya, kalau palsu aku akan membenci mu seumur hidup ku. Tapi kalau asli aku orang pertama di pihak mu apa pun yang terjadi. Dalam susah atau pun senang.^^^


^^^Terimakasih telah memilih ku. Siapa sih yang rela menolak cinta mu. Aku salah satunya, salah duanya kita bakal di ta'zir kalau ketahuan ta'aruf-an. Salah tiganya aku bakal di keroyok fans mu jika ketahuan, hahaha. Aku bakal di amuk masa.^^^


^^^Ku terima^^^


^^^by: Ida***^^^


"Dasar, bocah manis.Dapat kosa kata dari mana dia" cetus Angga.


"Aneh suratnya, tapi so sweet" Ferri berlagak alay sambil memukul-mukul lengan Angga memakai kedua tangan yang mengepal.


"Lebay!!"


"Lepas OSIS, lepas juga visi misi."


"Ya, kan bakal ganti visi-misi baru."

__ADS_1


Jadi itu yang membuat Angga jomblo selama ini. Ia memegang teguh visi misi. Untuk tidak berpacaran.


"Simak saja jalan cerita ku. Apakah semanis Sinta dan Rama apa bakal hancur seperti drama Korea" ucap ku sembari masuk ke kamar mandi.


__ADS_2