Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 53 KSD_Anisa Kepo


__ADS_3

Setelah dari kantin aku langsung menuju mading asrama. Benar adanya, hasil tes sudah tertempel.


"Alhamdulillah" batin ku, bibir ku tak hentinya tersenyum.


Alhamdulillah aku mendapat urutan nomor satu meski hasilnya pas-pasan hanya selisih dua angka dari peserta nomor urut dua, dan tiga belas angka dari nomor urut ke tiga.


Untuk pelajaran fisika di wakili oleh Marisa. Padahal ia mengambil jurusan pariwisata dan pandai di fisika, bahkan nilainya mencapai sembilan. Biasanya pelajaran fisika ada di jurusan teknik, di pariwisata tidak ada sejenis fisika atau kimia.


Sungguh sayang dengan emosinya yang kadang tak terkendalikan jika menyangkut tentang Dhani, padahal pandainya masyaallah.


Mata pelajaran kimia di wakili oleh Anissa santri kelas sebelas, gadis yang memberitahu ku di kantin. Mata pelajaran IPS di wakili oleh Dhani dengan nilai yang tinggi dan terpaut jauh dengan yang lain.


"Alhamdulillah aku akan berangkat dengan cinta ku" batin ku lagi, aku benar-benar seperti mengulang masa SMP di mana seharusnya aku berangkat bersama Dhani.


Aku duduk di taman sambil murojaah alias menghafal, yang ku hafal kali ini si'ir bahasa Arab yang di susun oleh Ustadz Zubaidi Hasbullah. Hafalan si'ir ini juga termasuk syarat untuk kenaikan kelas satu ke kelas dua salafiyah. Aku sedikit santai karena tinggal beberapa bait lagi sudah hafal semua, waktunya juga masih setengah tahun lagi.


Ida dan Rani masih menikmati drakor di aula, meski sudah di putar berulang kali masih saja banyak yang menonton.


Selain drakor, mereka juga suka dengan dracin meski hanya lebih sering drakor yang mereka tonton.


Aku pribadi tidak terlalu suka sehingga tidak begitu faham dengan aktor-aktornya. Selain menulis aku lebih suka membaca dari pada menonton.


...***...


Setelah berdoa sebelum masuk ke kelas aku, Marissa, dan Anisa di panggil oleh Roha untuk menemuinya di kantor.


"Setiap sore mulai hari ini kalian wajib bimbel di sini, latihan soal untuk persiapan lomba nantinya" kata Roha to the point.


"Iya Mbak" sahut kami meski tidak bersamaan.


"Ya sudah, kalian boleh ke kelas" tukas Roha.


Kami ke kelas masing-masing. Aku sudah tidak sabar ingin mengerjakan soal-soal yang akan di kerjakan nanti sore. Ada rasa semangat yang bergejolak jika berhadapan adengan soal-soal yang berhubungan dengan matematika.


Sepulang sekolah aku duduk di teras lantai satu, dua meter dari tempat ku duduk Marissa sedang membaca sebuah buku, dia datang lebih dulu dari ku. Kali ini Marissa acuh pada ku, membuat dunia ku sedikit tenang namun juga ada rasa waspada.


Tak berseling lama Anisa juga datang dan duduk di antara kami.


"Kalian sudah dari tadi?" Tanya Anisa.

__ADS_1


"Sudah Mbak" sahut Marissa tanpa berpaling dari bukunya.


Sebenarnya Marissa baik hanya saja terlalu terobsesi dengan Dhani membuatnya terlalu sensitif jika menyangkut miliknya. Mungkin dia selalu mendapatkan sesuatu yang di inginkannya atau bahkan sebaliknya sehingga membuatnya sangat takut kehilangan Dhani.


"Kamu sudah dari tadi Nera?" Anisa mengulang pertanyaannya karena dari tadi aku hanya diam.


"Oh, tidak kok Mbak, aku baru beberapa menit duduk di sini" sahut ku.


Beberapa menit dari kedatangan Anisa, tiga guru pembimbing datang bersama Roha.


"Assalamualaikum" salam Roha.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh."


"Kalian bisa langsung memulai bimbingan belajarnya" kata Roha.


Setelah menyampaikan hal tersebut Roha kembali ke kantor. Marissa memilih belajar di dalam lab TB, sedangkan Anisa memilih belajar di teras bersama ku.


"Sa, kamu tidak ingin belajar di sini?" Tanya Anisa pada Marissa.


"Lain kali saja Mbak, lagi ingin di dalam" sahutnya.


"Okey lah."


"Nera, cara belajar bagaimana yang kamu suka?" Tanya guru pembimbing ku, Bu Maria.


"Suka semua Bu, saya nurut saja apa yang Ibu katakan."


"Ya sudah, kamu kerjakan ulang soal tes kemarin yang salah, ini lembar jawab milik mu kemarin. Kalau ada yang kurang faham boleh di tanyakan" Bu Maria memberi satu buku paket beserta lembar jawab hasil kerja ku kemarin.


"Saya mengerjakan yang kurang faham ya Bu, sama yang belum sempurna?" Tanya ku lagi. Entah mengapa aku nervous dengan sebab yang tidak jelas, sehingga membuat ku sedikit bodoh.


"Iya, semua ada contoh soalnya di buku paket ini" Bu maria menunjuk buku paket yang baru saja di berikan pada ku.


"Baik Bu" sahut ku cepat, kemudian mulai membaca soal dan membuka buku paket untuk mencari cara yang tepat.


Bimbingan belajar kali ini aku sangat semangat, semoga saja tidak mengecewakan sekolah ku nantinya. Aku ingin lebih banyak memperoleh prestasi di sini.


Aku sangat menyesal ketika SMP lebih banyak diam dari pada aktif membanggakan sekolah. Hanya beberapa piagam saja yang ku dapat, bahkan tidak lebih dari sepuluh lembar dan sedikit piala. Kali ini aku ingin mengoleksinya lebih banyak lagi.

__ADS_1


"Semangat Nera!" Aku mensugesti diri ku sendiri.


Aku jadi rindu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku memenangkan berbagai perlombaan dari tingkat sekolah hingga nasional, bahkan guru-guru ku masih mengingat ku sampai saat ini.


Aku ingin merasakan hingga tingkat internasional, aku sangat berharap untuk ini. Andai ada olimpiade tenis meja aku juga akan mengikutinya.


Seusai bimbingan belajar, pukul tiga lebih lima puluh tujuh menit sesuai arloji di lengan ku, aku kembali ke asrama bersama Marissa dan Anisa. Namun Marissa berjalan tiga langkah di depan ku, sedangkan Anisa berjalan di samping ku sambil mengobrol ringan.


"Ra, kamu menang di ajang atlit kemarin kan?"


"Iya Mbak, sebenarnya sih tidak ada lawannya jadi menang sebelum bertanding."


"Tapi tetap saja akan berangkat ke Kabupaten."


"Iya Mbak."


"Kapan berangkatnya?"


"Empat Minggu lagi Mbak."


"Keren, kamu anak baru tapi sudah seterkenal ini" Anisa lebih banyak berbicara dengan ku, padahal di asrama dia terkenal pendiam.


Justru Marissa yang tidak ada suaranya sejak tadi, entah apa yang sedang di pikirannya dia seakan tidak menganggap ku ada dan acuh, membuat suasana makin tenang. Tapi terasa aneh jika seperti ini.


"Hehe" aku hanya terkekeh, kurang nyaman saja jika seseorang berbicara berlebihan, takut jika rasa sombong mulai menyerang diri.


"Kalau kamu ingin aktif sekalian, banyak sekali perlombaan yang di adakan loh di sini. Bahkan jika memang santrinya berprestasi akan di kirim ke luar negeri dan di jamin di perusahaan-perusahaan besar setelah lulus dari SMK" jelas Anisa.


"Iya kah, Mbak?"


"Iya, sudah banyak yang begitu."


"Jadi tambah semangat mondoknya, aku kira di Pesantren hanya ada di lingkungan asrama saja, ternyata jauh lebih keren ya Mbak."


"Iya, ngomong-ngomong kamu sampai di sini di paksa atau bagaimana?"


"Ini mah panjang ceritanya."


"Cerita dong Ra, aku juga ingin mengenal mu jauh lebih dekat. Iza yang dulunya lebih parah akhlaknya saja menjadi baik setelah berhubungan dengan mu" kata Anisa terdengar aneh di telinga ku.

__ADS_1


"Berhubungan apa toh Mbak, orang aku di ta'zir terus gara-gara dia, hehe" aku terkekeh mengingat perkenalan aneh ku dengan Iza sehingga menjadi sebuah kebaikan untuk kami berdua.


"Makanya cerita dong, bagaimana awalnya kok kamu bisa sampai di sini. Atau kamu punya kenalan di sana yang mondok di sini?" Tanya Anissa masih ingin mengetahui kronologi ku hingga sampai di sini.


__ADS_2