Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 43 KSD_Persetan Dengan Cinta


__ADS_3

"Sayang bangun, sudah sampai di Pangkalanbun."


"Haa,,,?" Aku meregangkan otot-otot ku yang lemas. "Sudah sampai?"


"Sudah, sebentar lagi mendarat."


Aku merapikan kerudung ku yang sedikit berantakan karena tertidur. Dhani sudah melipat laptop ku dan akan memasukkan ke dalam ransel ku.


Setelah mendarat kami turun dari pesawat langsung menuju halaman paling luar di mana orang-orang sedang menunggu keluarganya atau mungkin memesan taksi di bagian loket.


Karena tidak ada yang di masukkan bagasi mempercepat langkah kita untuk keluar.


"Kok Ayah belum datang ya" gumam ku lirih namun masih bisa terdengar oleh Dhani.


"Kita tunggu saja di bawah pohon itu" Dhani menunjuk sebuah pohon yang ada potongan kayu di bawahnya sengaja di jadikan tempat duduk dan meja.


"Ini untuk mu" Dhani menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam berisi sebuah cincin putih, tersedia juga surat dari toko tempatnya membeli.


"Aku belum siap di lamar" ku sodorkan kembali kotak itu. "Sebenarnya aku memiliki seorang pria sebulan sebelum aku ke Jepara" lanjut ku kemudian tertunduk.


"Siapa yang akan melamar mu, ini hadiah dari ku untuk mu. Sudah dua tahun lalu aku membelinya, tapi belum tersampaikan" ujarnya.


Dari tatapan matanya terlintas kesedihan yang sengaja di tutup-tutupi.


"Maka dari itu aku belum memastikan cinta mu."


"Sampai kapan kau gantung cerita cinta ku memberi harapan hingga mungkin ku tak sanggup lagi dan meninggalkan diri mu huoowww~."


Dhani bernyanyi sangat lantang sehingga menjadi pusat perhatian. Begitulah konyolnya dia, dengan percaya dirinya.


"Maaf."


"Sudahlah aku tidak bodoh, aku tidak akan menghancurkan persahabatan kita hanya karena sebuah rasa cinta. Bagaimana rasa kecewanya Mahen, Risa, dan Mika jika itu sampai terjadi" sahut Dhani panjang.


"Maafkan aku."


"Aku akan menunggu mu, jika lelaki mu pantas di perjuangkan maka perjuangkan lah. Tapi jika lelaki mu bajingan pulanglah ke rumah, aku ada di rumah mu."


"Aku takut jika ini terjadi, tapi siapa sangka ini akan terjadi secepat ini."


"Persetan dengan cinta, aku akan tetap ada di pihak mu."


"Aku tidak bisa menerima cincinnya."


"Itu Hadiah bukan lamaran. Aku akan memberi mu satu set perhiasan jika aku melamar mu. Maka simpanlah untuk menghargai ku."


"Maaf, selama ini aku tidak menghargai mu."


"Sudahlah, jika memang kita berjodoh pasti akan ada jalannya. Tetaplah menjadi penggemar ku, maka aku akan selalu mencintai mu."


"Berarti kamu mencintai semua penggemar mu?" Aku sedikit tersenyum.


"Hanya kamu cinta ku, meski kamu mencintai orang lain. Hehehe, aku bodoh ya Ra sampai kamu tidak mencintai ku."


"Aku mencintai mu dari dulu, kamunya saja tidak merasa."


"Tapi kenapa kamu memiliki orang lain?"

__ADS_1


"Kamunya saja tidak peka."


Sangat nyaman jika ada di dekat Dhani, aku juga berharap akan seperti ini seterusnya, tapi bagaimana dengan Fian, semoga Allah memberi jalan yang terbaik untuk ku.


"Nera" Ayah ku berdiri di depan ku.


"Ayah" sahut ku.


"Ayah, aku nebeng ya. Hehee" Dhani kumat konyolnya.


Dhani berubah humoris lagi ketika aku mengungkapkan jika aku memiliki pria lain, tidak lagi romantis seperti ketika sedang perjalanan.


"Iya, memangnya mau pulang ke mana Le?"


"Ke bundaran saja Yah dekat taman kota."


"Ayo, kamu teman Pondoknya Nera to?"


"Saya calon mantunya Ayah, hehee."


"Ada saja kamu ini, sudah ayo kita naik biar cepat sampai rumah."


"Iya Yah."


...***...


Pov Dhani


"Yah, maaf ya saya tidak bisa menemani Ayah mengobrol soalnya ngantuk banget, badan saya minta tidur."


"Ada saja kamu ini, ya sudah tidur saja dulu. Nera juga kalau ngantuk tidur dulu."


"Iya Yah."


Jika Nera menjadi jodoh ku mungkin dia akan jujur dan setia, tapi jika Nera menjadi jodoh pria lain mungkin akan sulit menjadi jandanya.


Meski mata ku terpejam bibir ku masih tersenyum membayangkan jika Nera akan menjadi janda dengan menggendong bayinya, sangat menggemaskan.


Ada saja pikiran ku ini.


"Ya Allah bukakanlah pintu hati Tenera Alivia berikanlah rahmat dan hidayah-Mu dan jadikan dia sebagai istri sholehah ku kelak, amiin ya Allah."


Kemudian aku berusaha untuk tidur, namun mata ini ingin selalu menatap Nera. Meski nyatanya dia memiliki pria lain, aku akan tetap kesusahan jika harus berpaling darinya.


"Maafkan aku ya Allah, semoga aku tidak menjadi orang ke tiga di dalam rumah tangga orang lain, namun jika Nera tidak berjodoh dengan prianya saat ini maka berikanlah aku kesempatan untuk menjadi suaminya. Dia sudah menjadi pilihan ku sejak lama" batin ku.


Aku terus saja bergumam memohon kepada Allah, karena hanya Allah lah tempat ku memohon sesuatu, hanya Allah yang mampu memberi segalanya yang aku inginkan. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Allah kami mengadu.


"Saya berhenti di bundaran taman kota saja ya Yah" aku mengingatkan lagi pada Ayah Nera karena jarak ke taman kota tinggal beberapa ratus meter saja.


"Tidak sekalian sampai rumah?"


"Tidak Yah."


"Atau mau mampir dulu ke rumah?"


"Tidak Yah, terimakasih. Lain waktu saya akan berkunjung."

__ADS_1


"Ayah tunggu kunjungan mu."


"Siap!"


Aku turun di bundaran taman kota, kemudian aku memilih sebuah kursi panjang untuk duduk.


Sebenarnya aku hanya tidak ingin di ketahui oleh orang lain tentang rumah ku. Tujuan ku hanya satu, ingin menemukan wanita yang mau menerima ku apa adanya bukan karena harta benda yang ku miliki. Besar harapan ku jika nantinya Nera yang akan menjadi jodoh ku.


Ku buka ransel ku, ternyata Nera hanya memakan beberapa bungkus saja cemilannya, aku kira dia suka ngemil. Biasanya wanita suka makanan ringan, tapi tidak berlaku bagi Nera.


"Eh, Dhani ya?"


"Iya, dari mana kamu Ris?"


Risa nampak berjalan dengan seorang pria, aku tidak tahu pasti apa hubungan mereka.


"Aku jalan-jalan saja mumpung liburan. Oh ya, kenalin ini pacar ku" Risa memperkenalkan pria yang bersamanya.


"Aku Alfian" pacar Risa mengulurkan tangan kanannya.


"Dhani" sahut ku sambil menerima uluran tangannya.


"Kamu dari mana Dhani?" Tanya Risa pada ku.


"Aku baru sampai dari Jawa."


"Belum ke rumah?"


"Belum, aku rindu taman ini" sahut ku sekenanya.


"Oh ya, kamu datang di acara reuni akbar tidak?"


"Insyaallah, kalau tidak ada halangan aku akan datang."


"Bakal ramai nih, sepuluh angkatan di atas kita. Termasuk pacar ku juga ternyata alumni SMP kita enam tahun di atas kita."


"Okey, aku akan datang dengan yang lain insyaallah" tidak mungkin aku bilang datang dengan Nera, takutnya Nera akan datang dengan pacarnya kan aku yang jadi kecewa, mungkin Risa hanya menertawakan ku.


"Bagaimana mas, teman ku datang semua masa kamu tidak ingin menemani ku?" Risa merengek pada Alfian.


"Lalu, bagaimana jika pacar ku juga datang?"


"Kata mu pacar mu akan pulang tahun depan" Risa masih bersikukuh ingin di temani.


Aku jadi salah tingkah, mereka berdebat hal semacam ini tepat di tempat ku duduk.


"Kalau tiba-tiba pulang bagaimana?"


"Aku tuh capek, sudah setengah tahun aku menemani mu bahkan aku sudah memberikan segalanya untuk mu, jika kamu kembali ke pacar mu lalu siapa yang akan mau menerima ku dengan keadaan ku yang seperti ini" Risa masih mempertahankan posisinya yang mungkin orang ke tiga.


"Lagian aku pakai pengaman tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Drama macam apa ini, kasihan sekali Risa hanya menjadi pemuas hasrat saja. Apakah Alfian tidak memiliki hati untuk kekasihnya yang mungkin masih setia.


Apakah aku juga sebajingan kasus ini jika memaksa merebut Nera dari pacarnya. Tapi apa dia tidak berfikir jika Ibunya seorang wanita. Apa dia tidak memiliki Kakak atau Adik seorang wanita.


Bodohnya Risa masih mau saja dengan pria seperti itu, apa tidak ada pria lain yang mencintainya.

__ADS_1


Aku memang sering mengelus kepala Nera atau menggandeng lengannya, tapi aku tidak berani jika harus menyentuh telapak tangannya meski hanya satu senti, karena itu masih berdosa.


"Ya Allah ampuni lah dosa-dosa ku. Betapa banyaknya dosa ku ini" tak terasa air mata jatuh di pipi.


__ADS_2