
Pov Dhani
"Apa kabar jantung mu, apakah baik-baik saja?" Tanya Rizky pada ku.
"Alhamdulillah, serasa mau lepas rindu ini akan terbalas."
"Lebay ah, jaga sikap saja. Tidak mungkin kan jika kamu akan tersenyum sepanjang rapat hari ini."
"Tidak begitu juga kali."
"Kita hari ini rapat di lab TB perasaan ku ada yang aneh."
"Aneh apanya sama-sama rapat, bedanya tidak bisa melihat menekin telanjang."
"Mesum kamu Dhan."
Dari depan kantin terlihat Nera memasuki lab TB bersama Rani dan yang lainnya. Marissa masih terdiam menatap ku sambil tersenyum.
"Apakah kamu melihat wanita mu?" Rizky mulai menggoda ku.
"Baru saja memasuki ruangan."
"Bukan, tapi yang sedang duduk setia menunggu mu."
"Ah, lupakan saja. Aku sebenarnya kasihan."
"Kasihan?" Rizky merasa ucapan ku salah.
"Aku merasa kasihan saja dengan Marissa, dia sudah menghabiskan tenaga untuk memperjuangkan ku namun hati ku tetap untuk Nera."
"Baguslah kalau begitu. Itu salah satu contoh pekerjaan yang sia-sia." Sahut Rizky sekenanya.
Tinggal beberapa meter saja dari tempat Marissa duduk Rizky terlihat mempercepat langkahnya dan buru-buru masuk ruangan.
"Dhani, aku memiliki sesuatu untuk mu."
"Oh ya?"
"Iya, tapi nanti saja ya setelah rapat."
"Okey."
Aku masuk mendahului Marissa dan sialnya lagi duduk di depan Rani, karena aku merasa dia bisa membaca tingkah laku ku sehingga dengan seenak udel menyindir ku secara halus.
Aku sebenarnya sedikit gemas dengan candaannya dengan Rizky, Rizky juga sangat mewakili perasaan ku.
Aku menjadi semakin nervous setelah menatap Nera sekilas tanpa sepengetahuannya. Dia tetap tenang tanpa bergeming sambil mencatat poin-poin penting yang sekiranya akan menjadi bahan proposal nantinya.
Sungguh indah, cinta yang anggun. Begitu anggunnya aku tidak pernah tahu apakah dia benar-benar mencintai ku atau memiliki orang pria lain. Secara dia terkenal luas di daerah sebelumnya, tak kalah populer di Pondok ini.
Rapat kali ini hanya tentang perlombaan, dan satu jam kemudian rapat berakhir.
Ingin sekali mengucapkan sepatah dua patah kata untuk Nera. Hari ini dia sangat santai dengan kelakuan Marissa yang selalu mengajukan pertanyaan tidak penting untuk selalu berbicara pada ku.
"Jangan keluar dulu, Marissa memiliki sesuatu untuk kita" ucap ku lantang.
"Dhani, ini hanya untuk mu."
"Oh ya?" Ku tatap semua wajah anggota OSIS yang menurut ku biasa saja. "Maaf, aku kira untuk kami semua. Kalian boleh keluar" lanjut ku.
Aku merasa tidak enak hati kepada mereka, tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah terjadi.
__ADS_1
Marissa menuju lemari es dan mengambil dua buah cup berisi es buah.
"Ini Dhan untuk mu."
"Terimakasih ya."
"Okey."
Aku ingin sekali keluar, aku merasa sangat keki dengan obrolan Rizky dan Nera yang terdengar sangat jelas dari dalam.
"Aku tidak menjual rumah!" Ucap ku sedikit ketus.
"Lagian kamunya, tidak memperhatikan di mana rumah mu" sahut Rani.
"Sudahlah, ini ada es untuk kita."
"Tidak usah, hargailah perasaannya, kamu minumlah es itu."
Deg...
Ucapan Rani seperti dentuman keras yang menghempas tubuh ku. Aku sadar aku tidak menghargai Nera sedari tadi. Aku malah sibuk dengan Marissa, bahkan aku sempat mengobrol ringan sambil menunggu Marissa mengambil es yang sengaja di buat lama.
"Sini, untuk ku satu. Panas begini memang harus minum es."
Aku sedikit lega, Rani mau menerima berharap Nera juga mencicipinya.
Tapi aku salah, Rani menikmati es itu sampai tandas. Nera malah membelikan es krim untuk Rizky. Ternyata sesakit ini jika yang terkasih lebih memperhatikan orang lain. Rindu ini bukannya terbalas malah semakin kacau.
"Ya sudah, kami kembali dulu" ucap Rizky.
"Ra, maafkan aku" ucap ku tiba-tiba.
"Aku tidak marah. Sekarang kamu kembali ke asrama dan tidurlah. Belajar juga tidak perlu aku paham dengan isi otak mu. Lebih baik kamu perbanyak istirahat saja" sahut Nera panjang.
"Cinta itu tentang rasa bukan tentang siapa yang memberi makanan. Sudah sana, aku juga ngantuk." Nera berbicara sambil tersenyum kali ini, membuat ku merasa nyaman kembali.
Setelah berpamitan aku dan Rizky kembali ke asrama, begitu juga dengan Nera dan Rani.
"Eh, siniin es krimnya."
"Untuk apa, ini milik ku" Rizky berlari menjauhi ku.
"Itu milik ku" aku mengejar Rizky sambil mengambil paksa es krimnya. "Ini untuk mu" ku berikan bungkusan es buah dari Marissa.
"Huh dasar ya, makanya setelah merantau itu rumah di kunjungi bukannya di abaikan malah mampir ke rumah tetangga."
"Okey, aku akan memperindah rumah ku sebelum kau kotori."
"Aku tidak ingin membuang sampah di rumah mu, aku hanya ingin merawatnya jika kamu sudah tidak sanggup."
"Hahaha" Kami berdua tertawa lepas. Sampai di asrama juga masih di selingi oleh candaan ringan.
Sebenarnya aku sendiri malas jika harus ada tragedi orang ke tiga, namun aku sangat bersyukur Nera masih percaya dengan rasa ini.
Sesampainya di kamar aku harus istirahat, besok harus sudah mengulang kembali catatan setengah tahun lalu. Meski sudah siap menjadi yang nomor satu, aku masih jauh dari kata sempurna. Menjadi yang sempurna itu susah.
Selain ujian di sekolah, sore hari aku juga harus ujian di salafiyah, yang jelas hafalan yang harus di setorkan.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Setelah membaca doa tidur, aku mulai memejamkan mata dan tidak tahu apa yang sedang di lakukan sekeliling ku.
__ADS_1
...***...
"Ra, kamu beneran ingin tidur ini masih jam sepuluhan loh."
"Lagian tidak ada kerjaan" sahut ku.
"Kamu tidak cemburu apa, Dhani bersama wanita lain."
"Cemburu lah, tapi apa aku harus memaki atau berkelahi? Semua itu hanya membuang tenaga dan tidak akan membuat Marissa menjauh yang ada aku di samakan dengan Marissa. Elegan lah dalam bercinta" jelas ku asal.
"Keren!!" Ida tiba-tiba bangun dari rebahannya.
"Aku kira kamu sudah berkeliaran di alam mimpi" timpal Rani.
"Dunia nyata lebih indah dari mimpi, di mimpi tidak ada Kak Angga yang nyata."
"Namanya juga mimpi."
"Hehehe."
"Rani itu sepertinya tidak bermasalah dengan cintanya."
"Masalah pasti ada, tinggal kita saja bagaimana menyikapinya" sahut Rani bijak.
"Aini apa kabar ya."
"Aini mah sehat, perasaan setiap sekolah salaf selalu bersama mu."
"Iya Da, tapi sekarang jarang ngumpul."
"Dia mah sibuk di ndalem."
"Hafalan mu sudah siap belum Ra?" Rani khawatir dengan ku.
"Alhamdulillah, doakan saja semu akan baik-baik saja."
"Oh iya, nanti malam aku harus ke ndalem besok pagi aku mendapat piket jatah makan pagi. Sudah lama tidak masak."
"Ya sudah tidur saja dulu."
"Nanti dhuhur bangunin ya."
"Okey."
Aku tertidur bersama Ida. Rani masih rindu keluarga sehingga masih menatap foto kedua orang tuanya.
...***...
Malamnya setelah jama'ah Isya, di lanjut Al-Barzanji, makan malam, dan nonton TV.
Ini malam yang selalu menjadi malam favorit untuk santri di sini. Bebas olahraga dan nonton TV.
Jam sepuluh aku berangkat ke ndalem, malam ini aku tidur di sana karena pagi ini aku mendapat jatah makan pagi. Partner ku pagi ini adalah Iza.
"Sudah lama kita tidak pernah barengan ya Ra."
"Iya Mbak, aku juga sibuk dengan dunia ku sendiri."
"Sama saja, besok sudah ujian kamu sudah belajar?"
"Belum Mbak, besok saja lah."
__ADS_1
Beberapa menit saja sudah sampai ndalem.