Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 26 KSD_Baikan Dengan Iza


__ADS_3

Sesampainya di pasar, kami berenam jalan bersamaan.


"Kesayangan, katanya minta duit Suami" Dhani menyodorkan ATM BRI pada ku.


"Ada isinya apa tidak, jangan-jangan kosong" ku ambil ATM dari Dhani.


"Ada, unlimited khusus untuk mu" sahut Dhani kemudian melanjutkan main game di ponselnya.


"Yang bener, memangnya kamu dapat duit dari mana. Sok-sokan unlimited."


"Ya coba saja dulu, di tarik tunai. Nanti kita belanja pakai uang cash saja."


"Okey Pak Su."


"Apa itu Pak Su."


"Pak Suami, hehehe."


"Amiin ya Allah" suara Rizky paling keras.


"Dunia serasa milik berdua, yang lain numpang" ucap Rizky tanpa menoleh ke belakang. Dia di barisan paling depan, karena menjadi penunjuk arah.


Dhani hanya mesem-mesem tanpa berpaling dari ponselnya. Sebegitu seriusnya ketika memegang ponsel tanpa menghiraukan aku yang berjalan di sampingnya.


...***...


Pov Dhani


Hari ini aku sangat bahagia, Dayat telah mengijinkan ku untuk berjuang mendapatkan Nera.


"Sayang, kamu mau belanja apa saja?" aku belum melihat Nera membeli apa pun, sedangkan yang lain sudah memegang keranjang yang hampir penuh, termasuk aku.


"Memangnya kamu belanja untuk mu sendiri, aku tidak di belanjakan?" Nera memanyunkan bibirnya. Ingin sekali ku cium rasanya.


"Tidak" sahut ku cepat.


"Dasar ya" Nera mencubit pinggang ku gemas. "Suami tidak tahu diri" lanjutnya, aku terkekeh mendengar ucapan Nera.


"Maaf, ayo ambil lagi apa yang kamu mau."


"Hah, menyebalkan sekali. Tidak ada romantis-romantisnya" Nera merajuk.


"Maaf cinta" ku elus puncak kepalanya yang tertutup kerudung.


"Lebay banget kamu Dhan" ucap Rizky.


"Biasa saja sih."


"Cie yang lagi kencan. Aku iri sama kamu Ra, kamu di kelilingi orang-orang baik" Iza antri di depan ku.


"Biasa saja Mbak" sahut Nera.

__ADS_1


Dari dulu memang begitu sifatnya, baik dan rendah hati. Aku juga salut dengan kejujurannya.


"Kamu sudah membeli wajan dan cobek Riz."


"Belom membeli cobek Dhan, beli di tempat orang tua arah pulang saja di sana asli dari batu" jelas Rizky.


Aku ngikut saja, lagian yang lebih tahu daerah sini kan Rizky. "Masing-masing dua ya" pinta ku.


"Banyak banget, untuk siapa saja Dhan" Nera menimpali.


"Untuk mu satu dong, di asrama mu juga pasti ada kompor yang antri pancinya panjang banget kan?"


"Iya" sahut Nera dengan tatapan polosnya.


"Besok kamu tidak perlu antri panci, cukup antri kompornya. Jangan lupa membeli toping mie yang tahan lama supaya tidak sepi-sepi amat kalau masak mie" jelas ku.


"Apa saja topingnya."


"Telur, bawang merah, bawang putih, cabai, sosis, atau apa lah."


"Okey, nanti aku akan membelinya."


"Ra, apakah kamu memiliki pacar selain aku?" ucap ku lirih.


Aku tidak bisa mengontrol ucapan ku saat ini. Kata-kata ku langsung keluar begitu saja dari mulut seperti orang membuang ingus. Tanpa berpikir atau berencana keluar begitu saja ketika kain lap menempel hidung. Seperti ucapan ku tadi.


"Kalau ada bagaimana?" sahut Nera.


"Kalau yang ngelamar orang lain dulu bagaimana?"


"Aku bisa apa" Aku masih fokus dengan game ku.


Apakah aku kuat jika Nera memiliki orang lain di sana. Tapi memang benar, aku bisa apa jika Nera memilih yang lain.


...***...


Jantung ku berdegup ketika Dhani menanyakan hati ku tentang orang lain.


"Aku bisa apa" itu kata terakhir Dhani sebelum pulang ke asrama, setelahnya dia fokus lagi dengan ponselnya.


Apa aku sanggup jika kehilangan Dhani, apa aku tidak gila jika orang yang ku suka menghilang begitu saja, padahal rasa ini memang benar adanya meski bibir ku mengelak. Bibir ku berucap jika aku menggemari, tapi jauh di dalam hati ku, aku sangat mencintainya.


Lalu, bagaimana jika Fian melamar dahulu sebelum Dhani menemui orang tua ku.


"Ra, kok melamun? Bukannya cinta mu ada di belakang mu?" Iza menoleh pada ku.


"Aku tidak melamun Mbak, hanya berfikir saja."


"Sama saja Neng" sahut Rizky.


"Dhan kamu lagi apa sih, main hp terus" keluh ku.

__ADS_1


"Maaf, tapi aku benar-benar ingin memenangkannya. Hadiahnya satu miliar dolar. Ini sedang event besar-besaran" sahut Dhani.


"Jangan Dhan, biar aku saja yang mendapatkan bersama team ku" timpal Dayat


"Kalian membicarakan apa sih" Rizky menoleh ke belakang.


"Membicarakan uang" jawab Dayat.


"Terserah kalian saja lah, aku tidak faham" cetus ku, kemudian melihat aplikasi ku yang menghasilkan uang.


Alhamdulillah, bulan ini bisa nabung untuk rencana usaha ku ketika lulus. Dayat memang bisa di andalkan. Oh ya, tadi Dayat membicarakan hal yang sama dengan Dhani. Apa mereka memainkan game penghasil uang itu. Berarti Dhani menghasilkan banyak uang dari game.


Aku jadi penasaran setinggi apa levelnya, yang jelas sudah berapa banyak uang yang di dapat dengan usahanya main game. Lalu, ketika dia mondok siapa yang memainkannya. Apakah bisa cuti atau bagaimana. Setahu ku setiap hari harus login. Supaya tidak hangus atau berkurang pendapatannya.


...***...


Sesampainya di asrama aku langsung tidur. Dayat ikut dengan Dhani ke asramanya. Karena selama dia berada di sini akan tinggal di asrama Dhani.


"Ra bangun sudah sholat ashar apa belum, sudah jam lima lebih lima belas menit" Iza membangunkan ku.


"Iya Mbak, belum."


Aku langsung berlalu ke kamar mandi membersihkan najis, kemudian bersuci.


Seusai sholat ashar, aku mengambil ponsel ku di dekat mikrofon asrama. Banyak sekali notifikasi dari berbagai aplikasi. Yang membuat ku semakin melotot adalah notifikasi dari aplikasi novel yang sedang ku tulis. Baru selesai empat puluh tujuh bab sudah mendapat gaji sebesar satu juta dua ratus lima ribu rupiah. Ini sangat fantastis.


"Mbak, teman sampean yang biasa sama sampean itu siapa namanya?" Aku duduk berdampingan dengan Iza.


"Bila, dia orang kepercayaan ku selama ini."


"Iya, sampean kenapa sih dulu sering marah-marah, nyolot-nyolot, suka sinis sama aku."


"Maaf ya, sebenarnya aku nge-fans Dhani tapi malah Dhani nembak kamu."


"Astaghfirullah Mbak, Dhani itu teman ku yang paling konyol. Tapi ya itu, dia pandai dalam segala hal, bahkan dia selalu menjadi yang nomor satu ketika SMP."


"Oh ya, apa aku masih boleh nge-fans? Dia sudah menjadi kekasih mu."


"Silahkan, kirim coklat atau bunga juga boleh. Tapi dobel ya, untuk ku satu, hehee."


"Okey, terimakasih Nera. Kamu tidak cemburu?"


"Cemburu sih ada, tapi tergantung Dhani akan memilih siapa."


"Kamu bijak Ra" Iza memeluk ku dalam diam.


"Sudahlah Mbak, jangan terlalu di pikir. Kalau mau nge-fans silahkan asal jangan sampai membuat ku di ta'zir lagi karena ulah mu" aku tertawa lepas setelah mengucapkan hal tersebut.


Ku kira Iza akan tersinggung, tapi malah ikut tertawa bersama. Ini akan menjadi momen teraneh jika Ida dan Rani mengetahuinya.


"Mulai sekarang kita baikan ya" pinta Iza.

__ADS_1


"Iya Mbak, dari kemarin juga sudah baikan."


__ADS_2