Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 58 KSD_Saringan Dari Kecamatan


__ADS_3

Keesokan paginya di Kabupaten Jepara tepatnya di sebuah penginapan tiga wanita sedang antri untuk mandi.


"Haduh! Lama banget sih Mbak Riah" Rani sudah mulai menggerutu.


"Sabar saja, mungkin sedang berendam" sahut ku sekenanya.


"Berendam di gayung? Ini sudah jam lima lebih loh keburu aku malas mandi nih. Tahu bakal begini mandi tadi pagi, aku."


"Kalau malas mandi ya tidur lagi saja gih!" Sahut Riah yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Mandi lama juga suaminya Ayang Ferdinan, tidak mungkin jadi suaminya Raffi Ahmad" ku putar bola mata ku malas.


"Ya kali, mandi lama jadi istrinya Ayah mu, kamu jadi merasakan bagaimana kejamnya Ibu tiri kalau begitu!" Riah nyelonong begitu saja.


"Idih! Ibu tiri macam Mbak mah aku tidak takut, yang ada Mbak bakal jadi mangsa anak tirinya setiap hari."


"Hehe" Riah terkekeh sembari melihat tampilan dirinya di cermin, ia menyisir rambutnya yang panjang.


Seusai mandi kami di kumpulkan di sebuah ruangan yang sengaja di gunakan untuk mengambil jatah makan.


Aku hanya mengambil secentong nasi putih dan ayam balado di tambah sedikit sambal.


"Kak Angga apa kabar hubungan kalian?" Aku sengaja duduk bersama Angga di bawah pohon mangga.


"Alhamdulillah, Ida anak yang baik, dia juga tidak pernah menuntut apa pun sejauh ini selain kebaikan."


"Alhamdulillah, semoga berjodoh."


"Amiin ya Allah" Angga mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Kamu sendiri apa kabar?"


"Alhamdulillah Kak" hanya itu jawaban ku.


"Ya sudah yuk, kami berkumpul dulu sudah di tunggu Mas Ferdinan di teras" Angga mengingatkan pesan dari Ferdinan. "Beri tahu yang lain."


"Iya Kak, aku belum selesai makan keasyikan ngobrol dari tadi" buru-buru aku menyelesaikan makan.


Setelah makan aku menghampiri Riah dan Rani di seberang. Mereka memilih makan di teras, tidak mengikuti ku makan di bawah pohon bersama Angga.


Tak berselang lama Ferdinan datang. Dia membawa Aqua botol dan beberapa cemilan.


"Aku sudah melihat papan informasi. Rani di ruang tiga nomor urut lima, ini nomor mu" Ferdinan memberikan nomor urut pada Rani.

__ADS_1


Ternyata Ferdinan sudah meminta nomor urut ke panitia terlebih dahulu. Pantas saja Abah mempercayakan semua ini pada Ferdinan, selain disiplin dia juga cekatan dan cerdas pastinya.


"Makasih Mas" Rani menerima nomor urut dari Ferdinan.


"Nera di lantai dua ruang tujuh nomor urut sembilan" Ferdian memberi ku nomor urut dan langsung ku pasang di baju bagian bawah.


"Angga di ruang nomor empat di lantai satu juga. Ruangannya di sebelah ruangan Rani, kamu nomor urut dua puluh satu."


"What! Jauh amat ini Mas!" Dalam keterkejutannya Angga menerima nomor urut dari Ferdinan. "Bisa masuk tiga besar sudah syukur ini mah" lanjutnya.


"Iya, kebetulan banyak pesertanya jadi kamu harus lebih serius dan jangan lengah, semua sudah saringan dari Kecamatan."


"Iya Mas."


"Ya sudah kamu ke lantai dua menemani Nera, biar Angga dan Rani menjadi urusan ku, lagian ruangannya bersebelahan" Riah hanya manggut-manggut mendengarkan ucapan suaminya kemudian mencium tangan kanannya. Tangan kiri Ferdian mengelus pucuk kepalanya yang tertutup hijab.


"Bagaimana perasaan kalian para lajang atau yang sekedar berpacaran" Ujar ku setengah berteriak membuat Riah merangkul leher ku dan setengah menyeret ke lantai dua.


"Bagaimana perasaan mu? Hm?" Riah menatap ku dengan ekor matanya.


"Ada sih, deg-degan sedikit, lalu bagaimana perasaan sampean yang di elus kepalanya, tidak sekalian di tiup doa dan unboxing?" ku naikkan alis kanan ku, membuat Riah semakin erat merangkul leher ku sehingga aku sulit berjalan dengan benar.


Aku hanya terkekeh melihat Riah membesarkan bola matanya.


...***...


Pov Ida


Di asrama putri.


"Da, kamu kok cemberut gitu apa kamu kurang amunisi?" Dahlia mengagetkan ku yang duduk termenung sambil antri mandi.


"Apa aku terlihat sangat menyedihkan?" ku lirik sekilas wajah Dahlia.


"Kamu tidak mau aktif sama seperti Nera gitu biar tidak sendiri jika ada perlombaan."


"Aku nyaman seperti ini, lagian Kak Angga hanya ingin aku menjadi Ibu yang baik" aku teringat pesannya yang selalu meminta ku untuk memahami ilmu agama untuk mendidik anak-anak nantinya.


"Tapi kamu kok diam terus begitu?"


"Ya kali, aku pendiam harus di umumkan" ku putar bola mata ku malas.

__ADS_1


Tidak mungkin kan aku juga bilang jika Kak Angga juga yang meminta ku untuk tidak bicara berlebihan karena lidah lebih tajam dari sembilu jika salah bicara.


Entah mengapa dengan dekatnya aku dengan Kak Angga aku jadi mengerti banyak sekali ilmu kehidupan yang sebenarnya sederhana namun bermakna luar biasa.


Aku jadi lebih sabar dan lebih suka berzikir. Kak Angga juga meminta ku hanya cukup menjadi Ibu rumah tangga yang baik, karena setelah lulus Kak Angga harus ke Kalimantan mengurus kerjaan di sana.


Aku jadi sangat bahagia hanya sekedar membayangkannya saja. Aku akan hidup dekat dengan Nera, tapi di sisi lain aku sedih harus meninggalkan kedua orang tua ku.


"Tidak juga kali, tapi kamu banyak berubah. Apa kamu suka dengan perubahan mu ini? Semoga apa pun yang kamu lakukan menuju hal positif."


"Iya, semoga saja Allah meridhoi."


Aku masih terdiam menunggu antrian mandi, sedangkan Dahlia sudah masuk ke kamar mandi antriannya.


Aku tidak tahu setelah ini Kak Angga lulus dan langsung ke Kalimantan, sedangkan aku masih dua tahun lagi menyelesaikan sekolah ku. Andai aku tidak memikirkan nasib ilmu anak-anak ku kelak mungkin aku lebih memilih ke Kalimantan bersama Kak Angga.


...***...


Pov Dhani


Aku sedikit gugup dengan pakaian semi formal ku. Aku dan keluarga ku akan menuju kediaman Pak Abdul untuk meminang putri satu-satunya, karena saudara kandungnya seorang putra. Ya kali aku meminang Kak Dayat.


Aku duduk di sofa sambil memperhatikan tetangga yang membantu di rumah mempersiapkan seserahan yang sudah di rangkai indah.


"Sudah siap kah, jagoan Ayah?" Ayah duduk di samping ku sambil menatap ponselnya.


"Insyaallah, semoga saja sukses" sahut ku mantap.


"Apakah Tera tahu tentang ini?" Tanya Ayah membuat ku menggelengkan kepala.


"Baiklah jika kamu tidak ingin memberitahukan padanya" Ayah masih duduk di samping ku namun pandangannya masih berfokus pada layar ponselnya.


Aku melihat ponsel ku yang sepi, mungkin Nera sedang menunggu pengumuman pertandingannya. Aku sangat berharap dia bisa go nasional. Betapa bangganya anak-anak ku nantinya memiliki Ibu yang hebat. Aku akan menceritakan pada anak cucu ku nantinya.


"Ayah bagaimana sih, bukanya persiapan malah duduk santai di sini" Ibu datang sambil menjinjing tas tangannya, di susul oleh Eli yang baru saja keluar kamar.


"Yang penting kan sudah mandi, lagian ke rumah Abdul" kilah Ayah.


"Iya ke rumah Abdul, tapi pakai kemeja atau apa kek. Ini acara lamaran loh bukan sekedar nongkong, ngopi, dan baca koran."


"Iya Bu, Ayah tuh tinggal memakai jas saja kok tidak usah pakai ribet kaya make up segala" pungkas Ayah sembari menyambar jas yang sedari tadi di taruh di meja.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo berangkat" Ibu berlaku ke mobil.


Kami di antar oleh tetangga yang membantu sedari pagi. Meski tidak semua ikut karena mereka memiliki kepentingan masing-masing.


__ADS_2