
Seminggu kemudian, hari yang di tunggu tunggu Gesit pun tiba.
Hari dimana dia akan di Wisuda menyandang gelar sarjananya.
"Sayang, bumil ku sudah siap apa belum," ucap Damar sambil berjalan mendekati sang istri.
Kemudian sang istri berdiri merapikan kebaya yang dipakainya.
"Sudah dong," ucap Gesit.
" Gesit cantik kan mas?" ujar Gesit
"istrinya mas, selalu cantik seksi lagi, " Damar menggoda istrinya.
"Ayo buruan berangkat, takutnya nanti macet," Damar mengajak istrinya untuk turun, dan segera berangkat karena ibunya sudah menunggu di bawah.
Damar melajukan mobilnya menuju kampus istrinya, dan di sana sudah banyak terparkir mobil peserta Wisuda.
Damar membukakan pintu mobil, untuk istri dan juga ibunya.
__ADS_1
Merekapun berjalan menuju ruang auditorium kampus istrinya tempat untuk melaksanakan acara Wisuda.
Tibalah saatnya acara dimulai, semua undangan sudah duduk rapi dan tenang di tempatnya masing masing begitupun Damar dan ibunya yang mendampingi Gesit, sementara istrinya duduk di barisan mahasiswa yang akan di Wisuda.
Satu persatu peserta wisuda dipanggil berdasarkan urutan nya, tibalah giliran Gesit maju ke depan, untuk disahkan menjadi sarjana.
Dan Gesit dinyatakan menjadi mahasiswa dengan nilai cumlaude, membuat Damar sang suami dan ibu mertuanya bangga dan terharu , melihat perjuangan Gesit yang luar biasa.
"Gadis berhati lembut dua tahun lalu datang ke rumahku, menjadi cahaya kebahagiaan dan membawa kedamaian di rumahku, kini menjadi menantuku, teruslah menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu menyayangi kami keluargamu," batin Bu Dewi sambil menyeka air matanya.
"Selamat sayang, suamimu ini sangat bangga pada mu," Damar memeluk dan mengecup pucuk kepala istrinya.
"Dan terima kasih karena kamu selalu sabar, lembut, dan melayani suamimu yang tampan , keren, baik hati dan ..., perkasa ini," bisik Damar di telinga istrinya, membuat istrinya melotot, dan mencubit pinggang suaminya.
"Em Sakit ya sayang, kasihan suamiku ini," Gesit meledek suaminya sambil terus mengelus pinggang suaminya yang di cubit tadi.
"Tapi jangan lama lama mengelusnya, nanti yang di bawah bangun," goda Damar.
"Mesumnya kumat lagi deh," kata Gesit sambil berjalan menghampiri ibu mertuanya.
__ADS_1
Damar hanya tersenyum, melihat istrinya salah tingkah, dan selalu saja malu kalo bicaranya sedikit mengarah ke hal hal yang sensitive suami istri, padahal sudah satu tahun lebih mereka menikah.
"Selamat ya, menantuku sayang, kamu memang luar biasa, dan istri idaman buat Damar, semoga cucu cucu Oma kelak sama geniusnya seperti mamanya, jangan seperti papanya,"
"Kok ibu ngomongnya gitu, Damar kan juga pinter, tampan pula, semua mengakui itu," Damar tidak terima dengan ucapan ibunya.
"Tapi kayaknya istrimu belum mengakui kalo kamu itu, tampan apa lagi pinter, setau ibu dulu kamu lima tahun baru lulus S1, lihatlah istrimu sudah cantik , lembut, Sholehah dan hebatnya lagi dua tahun kuliah bisa jadi sarjana,"
"Sayang, memangnya kamu belum mengakui ketampanan ku, oke, aku akui kamu lebih pintar. dari suamimu," Damar pun merajuk pada istrinya.
"Suamiku itu paling tampan , tapi buat aku aja tampannya, jangan di bagi bagi buat yang lain," kata Gesit sambil menepuk lengan suaminya.
"Lagian sudah berumur, masih juga suka merajuk, ingat sama adonan yang sudah jadi di perut Gesit, mas," ujar Gesit mengingatkan suaminya.
"Memang istri aku paling pengertian, dan sangat tau suamimu ini luar dalam," ujar Damar membalas perkataan isterinya.
Merekapun berjalan menuju tempat parkir mobil, untuk segera pulang karena acaranya sudah selesai.
Kemudian Damar melajukan mobilnya ke salah satu resto untuk memberikan kejutan ulang tahun sekalian tasyakuran Wisudanya Gesit.
__ADS_1
"Mas, ini kan bukan arah ke rumah?" Gesit mengingatkan suaminya.
"Ikut saja, nanti kamu pasti suka sayang," ucap Damar yang masih merahasiakan maksudnya.