
Di luar yang Gesit tahu, Damar suaminya adalah seorang arsitek dan kontraktor hebat.
Ternyata Suaminya juga seorang agri bisnis men, hal yang bertolak belakang dengan profesinya yang selama ini Gesit ketahui.
Selesai berkebun, Damar mengajak istrinya untuk masuk, dan bersih bersih lagi.
"Mas Damar, kamu hutang penjelasan pada ku," ujar Gesit.
"Memang si mbok Darmi cerita apa sama istri ku yang cantik ini,"
"Agri bisnis men,...," jawab Gesit.
"Oh, hanya usaha sampingan, karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti kedepannya, kalo kita bisa dan ada kesempatan kenapa gak kita lakukan,"
"Kok bisa, mas terjun di agri bisnis, secara mas itu seorang arsitek,"
"Cerita nya panjang sayang, gak cukup sehari kalo mas mau cerita,"
"Insya Alloh kapan kapan mas cerita ya,'
__ADS_1
"Oh ya mas, ibu bilang kemarin ada urusan diluar kota, katanya cuma sebentar, kok belum pulang, padahal ini sudah satu bulan lho,"
"Sebenarnya ibu itu, setengah tahun, sayangku dan itu paling cepat,"
Karena memang ayah dan ibunya yang mengurus bisnis pertaniannya, dan hampir setahun lebih ibunya Damar di ibu kota, karena trauma akibat kecelakaan yang menimpanya, dan setelah sembuh total, ibunya pun kembali ke rumah utamanya di kota P, untuk mengurus bisnis Damar.
"Kan, kita bisa bulan madu tiap hari, gak perlu sungkan sama ibu, lagian ibu itu pulang ke rumah kami yang dulu kami tempati,"
"Tuan, nona, makan malam sudah siap ,"
"Terima kasih, mbok. Sebentar lagi kami turun,"
Setelah makan malam Gesit ikut merapikan dan membersihkan meja makan bersama mbok Darmi dan mbok Sri, sambil ngobrol santai dengan mereka.
"Sudah lama non, dulu ikut ibu di rumah utama di kota P, setelah Tuan Damar beli rumah di sini , saya ikut Tuan muda sudah sekitar enam apa tujuh tahunan,"
"Kalo mbok Sri, udah lama juga?" Gesit pun bertanya.
"Saya baru lima tahun non, mbok Darmi yang ngajak saya ke sini," jawab mbok Sri.
__ADS_1
Kemudian mbok Darmi bercerita awal mula bisa bekerja di keluarga Damar, dan juga bercerita tentang bisnis pertanian Damar di kota P.
"Saya dulunya bukan ART nya tuan muda, tapi bekerja di kebon sayuran nya tuan Damar yang waktu itu baru satu hektar non, itupun mereka menyewa pada salah satu juragan di sana,"
"Kalo Tuan besar dulu pensiunan perwira, kebetulan rumahnya di kota P dekat dengan lahan perkebunan juga pertanian, kemudian Tuan besar, menyewa salah satu lahan untuk di tanami berbagai jenis sayuran,"
"Tapi kok kelihatanya mas Damar seperti sudah terbiasa mengolah lahan untuk di jadikan kebon sayuran dan juga buah buahan," ujar Gesit.
"Ya iyalah non, orang dulu Tuan Damar juga ikut mengurus langsung kebon sayuran nya , makanya sudah tidak asing lagi kalo liat tuan pegang cangkul, menyiangi rumput, dan hal hal yang berhubungan dengan tanamannya,"
Gesit dan mbok Sri tertegun, mendengar cerita mbok Darmi.
"Hasil kebun sayuran nya siapa yang memasarkan, atau ada yang pengepul yang datang langsung membeli hasil panennya?" tanya Gesit.
"Kalo itu, urusannya tuan Damar, walaupun waktu itu Tuan masih duduk di bangku SMA, tapi udah printer jualan, karena sayurannya yang tuan tanam jenis sayuran organik jadi kalo jualan di pasar tradisional agak susah, jadi tuan waktu itu ambil contoh beberapa jenis sayuran untuk di bawa ke supermarket atau pedagang yang memang khusus menjual sayuran organik,"
"Wah, tuan Damar hebat ya," ucap mbok Sri.
"Masih banyak non, kelebihan tuan Damar, kalo mbok Darmi cerita tidak cukup sehari,"
__ADS_1
"Sayang, sudah malam kok masih disini, udah selesai bersih bersih nya?"
Kedatangan Damar, menghentikan obrolan mereka, dan mereka kembali ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat.