
Hari ini Keenan dan Keyla dijemput pak Ujang, karena cuaca yang tidak bersahabat, damar dan gesit khawatir terjadi apa-apa pada anak anaknya.
Pak Ujang membawa mobil yang bagasinya muat untuk dua sepeda tuan dan nona mudanya.
Pak Ujang menunggu anak majikannya di parkiran dan di dekat sepeda anak majikannya.
Jam Pelajaran pun selesai, murid murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing.
Karena cuaca buruk hari ini, para supir pribadi yang menjemput anak majikan mereka masing masing, membawa payung dan menghampiri anak anak majikannya di teras kelas mereka.
" Pak Ujang, pakai repot repot menjemput, kami bawa mantel hujan nggak dijemput juga nggak apa apa pak," ujar Keenan.
" Ini perintah Tuan dan Nyonya, Aden dan non disuruh naik mobil saja biar nggak kehujanan," ucap pak Ujang.
" Baiklah, terima kasih pak Ujang, jadi ngerepotin," ucap Keyla.
" Sama sekali nggak ngerepotin, jadi nggak usah berterima kasih sama saya non, sudah menjadi tugas saya,"
" Baiklah, kalau begitu thank you pak Ujang," ucap Keenan.
" Your welcome den Keenan, non Keyla," jawab pak Ujang.
" Aden dan non ada ada saja, saya jadi malu," ucap pak Ujang.
Pak Ujang pun geleng geleng kepala melihat tingkah anak majikannya.
" Oh ya, pak Ujang jangan terlalu kaku nanti kerutan di wajah pak Ujang makin tambah lipatannya," ucap Keenan.
" Lihatlah papa tampanku pak Ujang, rajin tersenyum, kata papa tampanku senyum itu sedekah," timpal Keyla.
__ADS_1
" Lha non kalau senyum senyum sendiri gimana non," kata pak Ujang.
" Itu namanya gule, yang suka di jual di warung sate," ucap Keenan.
" Bukan den Keenan, kalau senyum senyum sendiri itu gila namanya," ucap pak Ujang.
" Sejak kapan ganti nama pak Ujang," tanya Keyla.
Mereka pun tertawa, pak Ujang yang belum terlalu paham karakter anak majikannya seketika menjadi mulai bisa bercanda..
" Den Keenan, saya boleh nanya nggak," ucap pak Ujang.
" Boleh boleh boleh. Memangnya pak Ujang mau nanya apa?" jawab Keenan.
" Kenapa den Keenan dan non Keyla lebih suka. naik sepeda kalau pergi ke sekolah?" tanya pak Ujang.
" Pak Ujang mau tau aja atau mau tau banget," ucap Keenan.
" Memang apa bedanya den ?" tanya pak Ujang penasaran.
" Sama sih pak Ujang jawabannya," jawab Keenan.
" Jadi apa atuh den jawabannya," ucap pak Ujang.
" Kepo ," Keenan dan Keyla bersamaan.
" Bercanda pak Ujang jangan di masukin telinga ya pak, apa lagi sampai ke hati," ucap Keyla.
" Beneran pak Ujang pengin tahu alasannya," ucap Keenan.
__ADS_1
" Alasan pak Ujang pengin tau ," tanya Keyla.
" Aden dan non kan anak orang kaya, hampir semua fasilitas ada buat Aden dan non, kenapa harus pakai sepeda ?" tanya pak Ujang.
" Kami anak siapa ?" tanya Keenan
" Tuan dan Nyonya ," jawab pak Ujang.
" Terus yang kaya siapa ?" tanya Keyla
" Tuan Damar dan Nyonya, " Jawab pak Ujang.
" Nah itu sudah di jawab pak Ujang, kenapa kita lebih senang naik sepeda.
Pak Ujang berpikir keras, apa maksud anak majikannya.
" Kami naik sepeda, karena kami suka itu yang pertama dan alasan lainnya, kami ingin menjadi diri kami sendiri," ujar Keyla.
" Kami ingin punya teman yang benar benar tulus berteman dengan kami, bukan karena kami anak papa dan mama yang katanya orang kaya,"
" Lagian ya pak Ujang, lebih menyenangkan jadi diri sendiri meskipun kadang kami dihina dan direndahkan,"
" Nanti kami kena encok dan rematik akut kalau keberatan beban pikiran pak,,"
" Kok bisa den," ucap pak Ujang.
" Ya biasalah pak Ujang, pundak kami belum siap memikul nama besar papa tampanku," ucap Keyla.
" Berat pak Ujang," lanjut Keyla.
__ADS_1
" Harus banyak belajar dulu," ucap Keenan.