Kelembutan Hatimu

Kelembutan Hatimu
Apa Aku Harus Kehilangan Pekerjaan lagi?


__ADS_3

Tak terasa sudah enam bulan Gesit, bekerja di kediaman Bu Dewi sebagai pengasuhnya.


Dan Keadaan ibunya Damar sudah kembali Seratus persen.


Terlintas pertanyaan di pikiran Gesit, apakah dia masih dibutuhkan, setelah kondisinya ibunya Damar sudah kembali pulih seperti sedia kala.


Gesit berniat menanyakan tentang kejelasan pekerjaan nya pada Bu Dewi, malam nanti setelah makan malam.


"Daripada aku galau tentang kelanjutan pekerjaanku, lebih baik aku tanyanya kan langsung ke ibu atau mas Damar nanti," batin Gesit.


Setelah selesai beberes Gesit pun turun, untuk pamit berangkat kuliah pada Bu Dewi yang sedang berada di ruang keluarga.


"Ibu, Gesit berangkat kuliah dulu, Insya Alloh sebelum Maghrib Gesit sudah di rumah,"


"Iya nak, hati hati di jalan, nanti pulang jam berapa?" tanya ibunya Damar


"Nanti Insya Allah jam sebelum Maghrib Gesit sudah di rumah," jawab Gesit.


"Damar nanti jemput kamu kan?" tanya ibunya Damar.


"Tadi sih bilangnya mau jemput Gesit mati sore, tapi gak tau juga, katanya hari ini ada ketemu salah satu koleganya, tapi ibu gak usah khawatir, biasanya mas Damar tepat waktu, kalo pun nanti gak bisa jemput, biasanya mas Damar pasti telfon Gesit,"

__ADS_1


"Gesit berangkat ya Bu, ojeknya sudah jemput Gesit,"


"Berangkatlah nak, bilang tukang ojeknya, jangan ngebut," pesan Bu Dewi.


Hari ini memang Gesit kuliah jam satu siang sampai jam jam lima sore, karena ada dua mata kuliah.


Sementara Damar sendiri, menjemput Si Gesit nya menjadi rutinitas sehari hari, selain pekerjaan kantornya. Seperti sore ini, Damar sudah stay di parkiran mahasiswa untuk menjemput Gesit.


Akhirnya yang di tunggu pun datang.


"Sudah lama mas nunggunya, maaf Gesit tadi ada keperluan sama dosen pembimbing , jadi agak lama," jelas Gesit.


"Gak kok, belum lama juga baru lima belas menit yang lalu, Oh ya nanti mas mau bicara sama kamu, lagi tidak sibuk kan?" tanya Damar.


" Mau tanya masalah apa, kayaknya urgent banget sampai mukanya tegang gitu," tanya Damar menyelidik, merasa ada yang aneh.


"Nanti aja mas, sekarang kita pulang dulu sudah hampir Maghrib," ucap Gesit dengan datar tidak ada ceria sama sekali seperti sedang galau.


"Ya udah, Damar membukakan pintu mobil. Masuklah, kita pulang sekarang," ujar Damar.


Di perjalanan Gesit yang biasanya usil suka bercanda dan gak pernah mau diam, saat hari ini seperti patung hidup, membuat Damar khawatir.

__ADS_1


"Kamu ada masalah, kalo ada masalah sekiranya tidak bisa diselesaikan sendiri, sharing sama mas, Insya Alloh mas bakal bantu cari solusi," ucap Damar.


"Bener mas bakal bantu cari solusi, mas janji," tanya Gesit penuh penekanan.


"Iya mas janji, apa sih yang gak buat Si Gesit ku," goda Damar.


Lima belas menit kemudian, merekapun sampai di kediaman Damar.


"Assalamu'alaikum, kami pulang," ucap Damar.


"Wa'alaikum Salam, kalian sudah pulang, bersih bersih dulu sana, sebentar lagi Maghrib," titah ibunya Damar.


Setelah selesai sholat Maghrib, mereka menuju meja makan, untuk makan malam.


Lima belas menit kemudian mereka semua selesai makan malam. Gesit membantu mbok Darmi dan mbok Sri membersihkan meja makan dan mencuci piring dan gelas bekas makan malam tadi.


Sesaat kemudian, Gesit menemui Bu Dewi diruang keluarga, untuk menanyakan kelanjutan pekerjaannya.


"Ibu sebelumnya Gesit minta maaf, ada yang mau gesit tanyakan pada ibu, tentang pekerjaan Gesit di sini,"


"Memangnya kenapa dengan pekerjaan kamu," jawab Bu Dewi.

__ADS_1


"Begini Bu, keadaan ibu sekarang kan sudah pulih seperti yang diharapkan, sementara tugas saya dari awal menemani dan menjaga ibu sampai pulih, artinya tugas saya sudah selesai,"


"Apakah aku akan kehilangan pekerjaanku lagi, Ya Allah, hanya padamu hamba berserah," batin Gesit.


__ADS_2