
Hampir setiap hari mereka menghadapi cibiran sebagian teman temannya, tapi mereka menanggapinya dengan biasa saja.
Bagi mereka nggak mempengaruhi prestasi prestasi mereka, yang terus mereka peroleh setiap lomba yang mereka ikuti.
Baik di bidang akademis maupun bidang bidang lain seperti bela diri, renang, dan juga karya ilmiah dan masih banyak lagi prestasi yang sudah mereka raih.
" Huh, hari ini sungguh melelahkan, " ucap Keyla.
" Kenapa key, apa ada masalah kok kelihatanya lesu gitu," ucap Keenan.
" Nggak apa apa kok, Keyla baik baik saja. Oh ya nanti kita mampir ke warung makan mang Ucup Keyla lapar kak," ucap Keyla.
Keenan dan Keyla pun mengayuh sepedanya dengan lebih cepat agar segera sampai di warung makan mang Ucup.
Sesampainya di sana, mereka langsung masuk ke warung dan memesan makanan pada mang Ucup.
" Eh, ada den Keenan dan non Keyla. Sudah lama nggak ke sini," ucap mang Ucup.
" Iya mang, biasanya kami bawa bekel makanan tapi karena terburu-buru kami bekel kami ketinggalan," ucap Keyla.
__ADS_1
" Aden sama non kan anak orang kaya, kok mau makan di warung makan sederhana milik saya, biasanya orang kaya suka makan di restoran atau apa itu namanya den, kape atau kopi yang lagi terkenal," ujar mang Ucup.
" Itu cafe namanya mang, sama juga jualan makanan dan minuman sama kayak mang Ucup," ucap Keenan.
" Kami nggak pernah mempermasalahkan di mana kami makan, hanya saja tempat makannya harus bersih," ucap Keyla.
" Ya sudah Aden dan juga non silahkan dinikmati makanannya," ucap mang Ucup.
" Terima kasih mang, " Keenan dan Keyla bersamaan.
Setelah selesai makan Keenan dan Keyla pun segera membayar makanan yang sudah mereka makan
" Dua puluh ribu den," ucap mang Ucup.
Keenan mengeluarkan uang seratus ribuan untuk membayar makanan mereka.
" Kembaliannya ambil saja mang, dan ini saya tambahin untuk membayar makanan kakek dan nenek yang duduk di pojok itu mang," ucap Keenan.
Keenan menunjukkan sepasang kakek nenek lansia yang kelihatanya sudah repot dan kesusahan.
__ADS_1
" Terima kasih banyak den, semoga Aden dan juga non, selalu dalam lindungan Allah," ucap mang Ucup.
Keenan dan Keyla melanjutkan perjalanannya dengan mengayuh sepeda mereka pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan mereka selalu memperhatikan kanan kiri jalan, mencari orang orang yang sekiranya perlu mendapatkan bantuan.
" Kenapa mereka harus mengemis, padahal kalau mereka mau bekerja pasti akan mendapatkan upah dan tidak memanfaatkan kebaikan orang lain," batin Keenan.
" Kasihan sekali, anak anak kecil itu, harusnya mereka bersekolah dan menggapai impiannya, bukan berada di lampu merah dengan mengemis dan juga jadi pengamen," gumam Keyla.
Ada rasa kasihan ada juga rasa kesel, kalau melihat kondisi miris yang mereka saksikan sepanjang jalan yang mereka lewati.
" Mungkin mereka seperti yang sudah sudah hanya di manfaatkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab untuk memeras hasil keringat mereka atau mungkin bisa juga karena mereka malas bekerja dan pasti mereka punya alasan tersendiri kenapa sampai seperti ini, menistakan diri sendiri," ucap Keenan pads saat mereka berhenti sejenak sebelum sampai rumah mereka.
Keenan sudah menghubungi orang orang suruhannya untuk mengumpulkan informasi tentang orang orang yang pengemis, pengamen dan juga para tuna wisma yang mereka lihat sepanjang perjalanan tadi.
"Bekerjalah dengan giat seolah kita akan hidup selamanya dan beribadahlah dengan tekun seolah kita akan mati esok pagi.
" Janganlah menzolimi diri sendiri dengan melakukan hal hal yang Tuhan benci,"gumam Keyla.
__ADS_1