
Semenjak hamil, Gesit. terkadang merasa aneh dengan perubahan sikapnya dan juga emosinya.
"Maafkan aku, selalu saja merepotkan mu, mas,"
"Sayang, jangan salah paham, sahabat ku. tadi hanya mengatakan kalo perempuan hamil itu emosinya suka berubah berubah,"
Damar sangat memahami perasaan istrinya, meskipun terkadang dia merasa kesal karena keinginan istrinya yang di luar nalar.
"Ayolah, jangan sedih lagi, aku yang seharusnya minta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sehingga istriku yang cantik ini merasa terabaikan,"
Gesit pun merasa bahagia karena suaminya sangat perhatian dan juga memahaminya.
"Bisakah kota pulang sekarang, aku sudah capek," ucap Gesit.
Seharian di kantor suaminya Gesit hanya duduk dan membaca buku-buku yang ia bawa.
"Pekerjaanku tinggal sedikit lagi selesai, istirahatlah dulu di kamar pribadiku,"
Gesit pun menuju kamar pribadi suaminya untuk istirahat.
"Jangan lupa,. di minum susunya, aku sudah membuktikannya untukmu,"
"Iya mas pasti aku minum, terima kasih,"
Damar segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, karena drama istrinya yang menggemaskan tadi.
Setelah Damar menyelesaikan pekerjaannya, kemudian dia menyusul istrinya di kamarnya yang sedang tertidur pulas.
"Maafkan aku sayang, yang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu," sambil mengelus rambut istrinya.
"Sayang, sudah saatnya kita pulang, ayo bangun dulu,"
__ADS_1
"Aku masih ngantuk mas,"
"Ibu pasti sudah menunggu kita di rumah, kita pulang ya,"
"Tapi, gendong....,"
"Baiklah, aku akan gendong kamu, asal kamu nyaman," ucap Damar.
"Koperku bagaimana?"
Gesit teringat dengan barang bawaannya.
"Tenanglah, semua aman asisten ku sudah menaruh di bagasi mobilku,"
Damar pun turun kelantai bawah menggunakan lift khusus petinggi perusahaan sambil menggendong istrinya.
Tidak perduli dengan pandangan staf dan karyawan, Damar tetap berjalan menuju mobilnya di parkiran.
"Beruntung sekali istrinya, aku saja yang naksir bertahun-tahun hanya bisa melihat nya dari jauh," ucap salah satu staf nya Damar.
Mobil Damar pun melaju membelah jalan ibu kota, menuju salah satu kompleks perumahan elit di ibu kota, untuk kembali ke rumahnya.
Setelah sampai, Damar pun memanggil satpam untuk membawa barang bawaannya masuk kedalam rumah.
sementara Damar menggendong istrinya yang tertidur pulas menuju kamarnya, dan dibaringkannya sang istri di kasur king size nya agar lebih nyaman tidurnya.
Kemudian Damar istirahat sebentar sebelum mandi dan bersih bersih. Damar tersenyum melihat istrinya yang masih tertidur pulas.
"Berbahagialah selalu istriku, aku menyayangimu,"
Setelah bersih bersih , Damar membangunkan istrinya, karena waktu sholat ashar sudah mau habis.
__ADS_1
"Sayang , bangun dulu , waktunya sholat ashar sudah hampir habis,"
"Aku udah siapin air hangat di bathub, cepetan sayang, nanti ketinggalan waktu sholat ashar,"
Sang istri pun beranjak bangun kemudian menuju kamar mandi untuk bersih bersih.
Setelah selesai bersih bersih, Damar dan Gesit melaksanakan shalat ashar berjamaah.
"Apa kamu masih capek?, istirahatlah sayang kalo memang masih capek,"
"Mas mau turun dulu, ada yang harus mas kerjakan dihalaman belakang,"
"Aku udah gak capek lagi, kan udah istirahat tadi, kalo baringan terus gak baik buat ibu hamil, " ucap gesit.
"Memang mas mau ngapain dihalaman belakang?"
"Ikutlah nanti kamu akan tau sayang,"
Mereka jalan bergandengan menuju halaman belakang, dan ternyata di sana sudah ada Mbok Darmi dan mbok Sri juga tukang kebun.
"Mas, mau bikin kebun sayuran organik , biar. kamu gak capek capek ke pasar,"
Dari dulu memang Damar suka berkebun, bahkan taman bunga dan kebun sayuran dia yang buat dibantu tukang kebun dan ART kalo lagi senggang.
"Iya Non, taman bunga dan kebun sayuran organik, ini semua tuan muda yang bikin kalo lagi ada waktu senggang,"
Melihat suaminya yang antusias mengurus kebunnya, ada rasa bangga tersirat dibenaknya.
"Suamiku memang luar biasa," gumam Gesit.
melihat sisi lain suaminya.
__ADS_1