
"Nak mama minta tolong putuskan hubunganmu dengan Nabila, mamah yakin pasti ada yang lebih baik dari Nabila, Mamah tak sejahat mamah di novel novel yang langsung menjodohkan paksa anaknya dengan wanita pilihan mamah, mamah cuma minta jangan sama Nabila na, kamu bisa cari wanita lain"
mamah faris tetap kekeuh minta faris untuk Nabila, sampai di rumah mereka pun dirinya tetap membahasnya.
"mah please, jangan jadikan faris anak durhaka sama mamah, biar faris memilih sendiri wanita yang akan menjadi masa depan faris,faris yakin Nabila yang terbaik buat faris"
"tapi gimana jika kamu jadi bahan omongan orang nak?"
"mah yang ngejalanin ini bukan orang lain tapi faris, faris tak butuh penilaian orang lain"
"tapi mamah orang tua kamu,mamah peduli"
"mah dengerin faris, Nabila sama bundanya hanya korban dari laki laki yang tidak bertanggung jawab, hanya korban mah, jika Bisa memilih pun Nabila juga ga mau nasibnya seperti itu, please terima Nabila"
faris terus memohon kepada mamahnya supaya mendapat izin.
"mamah tetap tidak setuju faris, mamah tunggu kabar baik kamu putus darinya"
mamah faris pergi meninggalkan faris dan suaminya di ruang keluarga.
"berjuang terus nak, papah serahkan pilihannya kepadamu, papah akan coba bujuk mamah"
beda dengan mamahnya yang tidak setuju dengan hubungan Faris dan Nabila, papahnya faris, bersikap Netral, menyerahkan semua pilihan kepada faris, karena faris sudah dewasa, dia yakin anaknya bisa memilih mana yang baik untuk dirinya sendiri.
faris tetap diam di tempatnya, sambil memikirkan cara apa untuk meluluhkan mamahnya, dirinya juga bingung kenapa sang Mamah bisa secepat ini mengetahui masalah ini. padahal yang faris tau hanya Toni dan dirinya lah yang tau masalah ini.
teringat hal ini faris langsung menelpon Toni.
"Halo bos ada apa?"
suara diseberang sana ketika telpon sudah tersambung.
"Toni jawab saya, siapa saja yang tau masalah soal keluarga Nabila?"
tanya Faris dengan nada sedikit tinggi
__ADS_1
"maksud bos?"
Toni belum mengerti
"soal Nabila dan ibunya Nabila Toni"
sedangkan faris tambah geram
"oh, hanya kita berdua bos"
cuma." Toni menjeda ucapannya
"cuma apa Toni"
tanya faris tak sabar
"cuma, waktu itu pas saya lagi ke rumah Lusi"
flash back on:
tanya Toni saat tiba tiba Lusi minta Toni datang ke rumahnya
"ini, tolong kasih undangan ini ke bang faris sama Nabila ya"
Lusi memberikan kartu undangan ke Toni
"apa lu mau Tunangan? ko ga tau gua, tiba tiba mau tunangan aja?"
tanya Toni kaget
" iya doi gua yang minta"
Lusi pun menceritakan alur tentang dirinya dan sang kekasih tiba tiba tunangan
"eh bang faris sama si Nabila gimana mereka? apa mereka jadian lagi Ton?"
__ADS_1
"entah lah Lus, bos ga pernah cerita privasinya ke gua, tapi gua lihat mereka berpelukan di ruangannya"
ucap Toni menceritakan hal yang dia lihat beberapa waktu lalu
"wah, berarti beneran mereka jadian itu, gua harap mereka bisa bersatu sih, kasihan bang faris pas ditinggal dulu sama Nabila, pas lagi sayang sayangnya itu Ton"
"iya gua juga sekarang bisa lihat dari mata bos ke Nabila, bahkan gua disuruh nyelidiki kehidupan keluarga Nabila kenapa Nabila menghilang"
"seriusan? sampai segitunya, terus gimana hasilnya"?
tanya Lusi antusias
"iya, jadi waktu itu Nabila pindah ke luar kota ke rumah neneknya yang sedang sakit, dan kebetulan ayah tirinya pindah tugas kesana"
" ayah tiri?"
lusi heran, dirinya memang tak pernah tau cerita tentang bagaimana keluarga Nabila, tapi Nabila tak pernah cerita tentang soal ayah tiri
"iya, lu tau? ternyata Nabila itu anak dari korban pelecehan Lus, kasihan ya?"
mengalir lah cerita dari Toni ke Nabila soal keluarga Nabila
sementara di ruang tengah tak sengaja mamah faris mendengarkan obrolan mereka, kebetulan mamah faris sedang berada disana.
"apa yang kamu ceritakan itu benar Toni"
mamah faris tiba tiba datang menghampiri mereka.
Toni dan Lusi pun kaget tak menyangka obrolan mereka terdengar oleh mamah faris"
"iiya tan"
jawab Toni gugup karena melihat raut muka mamah faris yang sedang tak bersahabat itu.
flash back off
__ADS_1