Kembalinya Sang Mantan

Kembalinya Sang Mantan
37


__ADS_3

ayah Ridwan sudah menghubungi rumah sakit di Bandung tempat dia bekerja, namun nihil, persediaan golongan darah O kosong, dia juga sudah meminta rekan rekannya untuk mencarikannya.


sampai pagi ini belum didapatkan donor darah untuk Nabila.


Pandu juga sudah berusaha bertanya sama teman bahkan karyawannya namun hasilnya nihil.


"om, tante lebih baik kalian istirahat dulu, kalian bisa pulang terlebih dahulu untuk mandi dan istirahat sebentar"


dari mulai Nabila masuk rumah sakit bunda tak hentinya menangis, matanya sudah terlihat lelah akibat menangis dan capek karena tidak tidur sama sekali, tak jauh dengan ayah Ridwan, sedangkan Pandu dia sempat beristirahat di ruangan Wijaya.


"tidak papa nak, lebih baik kamu yang istirahat"


jawab ayah Ridwan


"saya cukup istirahat tadi malam di ruangan papa saya om, jadi lebih baik sekarang om dan tante pulang dulu untuk sekedar bersih bersih dan istirahat beberapa waktu, biar nanti saya yang tunggu Nabila, jika ada apa apa sama Nabila saya akan hubungi om"


apa yang dikatakan Pandu benar, dirinya dan istri harus bersih bersih, karena badan mereka juga cukup lengket.


setelah berhasil membujuk istrinya, mereka pulang ke kosan Nabila


"nak tante titip Nabila ya, tante akan segera kembali"


"baik tante"


sedangkan di kantor faris nampak gelisah soalnya dia belum melihat Nabila, sementara dia harus pergi meeting ke Bandung bersama Toni selama dua hari ke depan.


faris sudah berusaha menghubungi Nabila, namun tak satupun yang mendapat jawaban.


dia berpikir mungkin Nabila sedang menghindar darinya.


"bos kita harus berangkat sekarang, keburu siang nanti terlambat"

__ADS_1


faris pun dengan terpaksa melangkah meninggalkan kantor.


Caca langsung pergi ke rumah sakit saat tau dari orang tua Nabila bahwa sahabatnya mengalami kecelakaan.


seperti biasa Caca yang akan menjemput Nabila ke kosan, namun yang ada hanyalah kedua orang tua Nabila, dan mereka menceritakan apa yang terjadi kepada anaknya.


"Pandu"


panggil Nabila saat dirinya sudah hampir sampai ke ruangan Nabila


"dimana Nabila?"


"di dalam sana"


jawab Pandu sambil menunjuk ruangannya Nabila


"Bila, kenapa bisa seperti ini?"


setelah beberapa menit Caca pamit ke Pandu karena dirinya harus berangkat kerja.


"apa pak Faris sudah tau keadaan Nabila?"


batin Caca saat sampai di kantor,


akhirnya dia memutuskan untuk menemui Faris ke ruangannya, namun belum sampai dirinya ke ruangan Faris terdengar suara suara karyawan yang berpapasan dengannya bahwa faris sedang pergi ke Bandung untuk dua hari ke depan.


" permisi mba mau tanya apa benar pak faris sedang tidak ada di ruangannya?"


tanya Caca kepada salah seorang karyawan di sana


"iya mba, pak faris ada meeting di Bandung buat dua hari"

__ADS_1


"terimakasih infonya mba"


"jadi pak Faris belum tau keadaan Nabila? ga mungkin kan kalau dia tau terus dia tega tidak menengok Nabila sama sekali dan malah pergi ke Bandung?"


batin Caca


"terimakasih loh nak Pandu sudah jaga anak kami, beruntung Nabila punya teman seperti kamu"


ucap ayah Ridwan, sedangkan istrinya sedang pergi ke toilet.


bruk..


isi tas bunda jatuh saat bertabrakan dengan seseorang


"maaf bu saya tidak sengaja"


ucap pria itu


"iya ga papa"


bunda memungut semua isi tas yang jatuh.


deg


saat bunda mengangkat kepala dan melihat wajah pria itu, sekilas dia seperti pernah melihatnya tapi tak tau dimana.


saat dirasa sudah selesai bunda langsung pergi meninggalkan pria itu.


sambil mengingat siapa pria itu? dan kapan mereka pernah bertemu, namun dia tak mau ambil pusing, sekarang yang ada di pikirannya adalah kondisi sang anak.


tak sadar ada satu benda yang tertinggal di lantai rumah sakit, kemudian Wijaya mengambil dan melihatnya.

__ADS_1


ya pria yang menabrak bunda adalah Wijaya pemilik rumah sakit ini papa dari Pandu.


__ADS_2