
"apa bisa anda mendonorkan darah untuk anak saya?"
tanya Hani
wijaya terheran kenapa dia tiba tiba memintanya untuk mendonorkan darah untuk anaknya
"tunggu apa dia juga anakku?"
batin wijaya, jika benar iya, betapa berengseknya dia, telah menghancurkan dua orang, gadis yang dia renggut kesuciannya, dan anak yang menjadi korban perbuatan berengseknya dia dulu
bunda yang melihat raut muka wijaya langsung memberikan alasannya
" darah kami tidak cocok, tapi jika anda tidak bersedia, tidak papa"
"apa dia anak saya?"
tanya wijaya saat Hani akan mengangkat kursi dan pergi dari ruangannya
"dia anak saya"
jawan Bani dengan Nada penuh penekanan
"jika dia tidak cocok darahnya dengan kalian, berarti dia anak saya?"
"dia anak kami, saya yang melahirkan dan kami yang membesarkannya"
jika anda masih ingat kata kata anda akan tadi akan melakukan hal apapun, jadi ini.
tapi jika tidak mau pum tidak masalah"
"bun"
ridwan mencegah tangan Hani yang ingin pergi
__ADS_1
"kita bisa cari yang lainnya"
Hani tak mau mengemis kepada orang yang sudah menghancurkan hidupnya
saat mereka mulai beranjak dari kursi, wijaya menghentikannya
"saya bersedia"
ucap wijaya yang menghentikan langkah Hani dan Ridwan.
" berada di ruangan mana dia?"
tanya wijaya yang tak sabar ingi menemui anaknya
"anda tak perlu tau, cukup anda jadi pendonor saja"
"tolong beritahu saya dimana dia"
Hani pergi meninggalkan wijaya.
"baiklah jika kalian tidak memberitahu, saya bisa cari sendiri?"
akhirnya wijaya menelpon seseorang, dan tak butuh waktu lama untuk dia mengetahui nama pasien dan di ruangan mana, mengingat dia adalah seorang pemilik rumah sakit ini.
seketika jantungnya berdetak kencang saat melihat seorang gadis terbaring lemah di dalam sana, tetesan air mata tak terasa menetes di matanya, kenapa dia baru mengetahuinya sekarang bahwa akibat dari perbuatannya dahulu dia memiliki seorang anak perempuan.
tak bisa dibayangkan gimana hancurnya nasib Hani sama anak perempuannya selama ini, namun kini takdir mempertemukan mereka dengan cara seperti ini, dengan kondisi Nabila yang sangat memprihatinkan.
tak ingin membuang waktu wijaya bergegas untuk mendonorkan darahnya dan dia putuskan dia sendiri yang akan mengoperasi anaknya sendiri, dia ingin menebus semua kesalahannya, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk keselamatan anak perempuannya.
"satu jam lagi Nabila akan di operasi, dan saya yang sendiri yang akan melakukannya"
ucap wijaya kepada Hani dan Ridwan
__ADS_1
"kenapa harus dia? apa tidak ada dokter lain disini?"
tanya Hani kepada perawat yang mengontrol Nabila,dia tak mau wijaya yang melakukan operasinya, selain masih kesal dia juga tak mau hal buruk terjadi pada anaknya.
"maaf bu, memang ini sudah kehendak beliau?, ibu beruntung anak ibu bisa ditangani langsung olehnya, selain dokter hebat beliau sekaligus pemilik rumah sakit ini"
jelas perawat di samping Wijaya
"ga papa bu, yang penting anak kita selamat"
ucap Ridean yang berada di samping Hani.
setelah memberitahu keluarga pasien, perawat tadi pun meninggalkan mereka bertiga.
"apa tidak bisa di ganti dokter lain? anda mendonorkan darah anda saja saya rasa sudah cukup"
ucap Hani masih berusaha supaya bukan wijaya yang melakukan operasi.
"izinkan saya menebus kesalahan saya pada anak saya, saya berjanji akan berusaha untuk keselamatannya"
"kalau terjadi apa apa sama anak saya, saya tidak akan pernah memaafkanmu"
ucap Hani sambil menunjuk wijaya
"kalau dia bisa terselamatkan apa kamu bisa memaafkan saya?"
tanya wijaya
Hani hanya diam, tak menjawab apapun perkataan Wijaya
sedangkan tidak mereka sadari tidak jauh dari mereka, Pandu berdiri dan dia bisa mendengarkan apa yang ketiga orang itu bicarakan.
Pandu nampak mengerutkan dahi, tak mengerti kenapa bundanya Nabila seolah marah dan benci kepada papa nya.
__ADS_1